| I wanna be an idiot like you |

Pair: 0514

Author: 28

Rate: T

Category: Romance

Disclaimer: This story belongs to Shinobi Famiglia! But Tenma and Saga belongs to each other. For real! Fiction only (though I hope it could turn into real)

Warning: boy x boy

Don't like, don't read! I'll kill you if you dare to bash this awesome pairing!


Menjadi seorang jenius dengan tingkat intelejensi di atas rata-rata mungkin di satu sisi memang membanggakan. Tapi bagi Saga, tingginya tingkat intelejensi yang dimilikinya itu justru menggiringnya menuju masalah-masalah bodoh yang sekarang membuatnya frustasi tinggi.

Sekarang sang tuan jenius tengah duduk sembari menopang dagu dengan sebelah punggung tangannya. Mata hijau emeraldnya (tentu saja kontak lens) mengamati sesosok makhluk yang menjadi objek observasinya belakangan ini. Makhluk itu—atau lebih sopannya, orang itu, telah menjadi teman serumahnya (atau sekamar?) kira-kira kurang lebih selama seminggu. Dan selama tinggal bersamanya, barulah Saga menyadari bahwa orang itu, anggota kelima Shinobi yang bernama Tenma, benar-benar sebuah anomali yang jarang ia temui. (Jangan salahkan Saga apabila ia baru menyadari hal itu sekarang, salahkan keberadaan Tenma yang sangat mudah dilupakan.)

Dengan segala intelejensi tinggi yang dimilikinya, cukup mudah bagi Saga untuk memprediksi tindakan orang lain.

Ia senang mengamati, menganalisis lalu memprediksi apa yang terjadi selanjutnya. Baginya itu sangat menarik, (walaupun menurut orang lain itu mungkin sungguh sangat kurang kerjaan) apalagi ketika ia mendapat respon keheranan dari orang yang berhasil ia prediksi. Ia akan nyengir lebar bagaikan seorang bocah lalu berkata dengan puas, "Karena kamu mudah diprediksi."

Tapi sayang sekali, kemahirannya dalam memprediksi segala sesuatu itu tidak berlaku pada Tenma. Entahlah, seberapa kerasnya pun Saga berusaha memprediksi apa yang dipikirkan oleh sahabatnya itu, analisisnya lebih sering membawanya pada sebuah konklusi yang salah—dan itu membuatnya menarik satu konklusi baru bahwa Tenma adalah sebuah anomali yang tidak bisa ia prediksi. Jujur saja, itu membuatnya frustasi.

Beberapa kali tindakan Tenma yang menurutnya terlalu serampangan membuatnya berfikir, benarkah sahabatnyasebodoh itu? Atau ia hanya ingin terlihat bodoh di hadapannya? …Namun untuk apa? Saga sendiri bahkan tidak bisa menemukan jawaban atas pertanyaannya. (Ini membuatnya frustasi kuadrat.)

Beberapa saat yang lalu ia mencoba memprediksi apa yang sedang dipikirkan oleh Tenma saat mereka berdua duduk santai sambil menonton televisi. Saat itu Tenma berkata pelan padanya—mengeluh manja padanya seperti biasa dan tentu saja tidak lupa memamerkan cengiran bodoh yang sepertinya sudah menempel permanen di wajahnya, kalau ia kelaparan.

Disinilah masalah tingginya intelejensi seorang Saga dipermasalahkan.

Normalnya, tanpa perlu memutar otak, orang akan dengan enteng merespon: "Mau makan apa?" atau "Mau pergi makan kemana?" bukan?

Namun tidak untuk Saga. Kebiasaannya berfikir dua kali lebih keras daripada orang lain membuatnya mentransformasi satu pernyataan simpel yang dilontarkan sahabatnya menjadi sebuah pernyataan multitafsir yang membuatnya harus memutar otak dua kali sebelum memberikan respon.

Benarkah Tenma lapar? Ataukah itu hanya alasan untuk pergi keluar saja?

Benarkah Tenma ingin makan siang? Atau ia justru ingin memakannya?

Oke, cukup.

Saga tahu ia berfikir terlalu jauh dan harus diakui tindakannya mencoba memprediksi segala tindakan Tenma barusan justru membuatnya lebih pantas menyandang titel idiot ketimbang titel seorang jenius.

Menarik kesimpulan bahwa Tenma benar-benar ingin makan siang, sekarang Saga ganti mencoba memprediksi menu makan siang yang diinginkan oleh Tenma. Hasilnya? Tebakannya meleset. Saga, sang jenius yang mahir memprediksi orang lain, gagal memprediksi sahabatnya sendiri.

Yang menjadi masalah selanjutnya adalah lagi-lagi masalah tingginya intelejensi Saga kembali dipermasalahkan. Hal itu terjadi ketika Tenma dengan tanpa sadar menyatakan perasaannya.

Pada saat itu, Saga hanya memberikan respon minim seadanya—bahkan tidak syok mengingat bahwa mereka sama-sama laki-laki. Alasannya? Tidak lain karena sirkuit otak keturunan jenius yang dimilikinya langsung membentuk variasi pertanyaan yang dimulai dengan kata "Benarkah?" dan diakhiri oleh jawaban: "Tidak mungkin."

Pada intinya, pangeran Shinobi yang memiliki kepintaran di atas rata-rata ini menyangkal kenyataan yang ada dengan dalih kejeniusan yang ia miliki. (Mungkin juga sebenarnya ia hanya melarikan diri dari kenyataan karena syok. ...Ah, coret itu. Tidak mungkin.)

Benar, awalnya Saga mengira bahwa sahabatnya itu hanya mempermaikannya saja.

Bukan dengan tanpa alasan, pasalnya, hei, mana ada orang yang seidiot itu?

Membeberkan rahasia yang disimpannya selama 5 tahun dengan alasan keceplosan? Tanpa motif apa pun? Hah, bercanda!

Ketimbang memikirkan kenyataan bahwa sahabatnya (yang nantinya akan menjadi pacarnya) telah menyatakan perasaan padanya, Saga, dengan segala intelejensi yang ada padanya, justru mencoba menerka motif dari Tenma.

Mempermaikannya? Iseng? Mencoba merebut perhatiannya dengan cara tak wajar? Coret semuanya… karena memang tidak ada motif. Tidak ada sama sekali. Sebut Tenma idiot, tapi ia benar-benar hanya keceplosan.

Lihat, kalau saja ia tidak sepintar itu, ia tidak akan perlu capek-capek memutar otak ratusan kali untuk menebak motif Tenma dan akan langsung menelan bulat-bulat pernyataan cinta dari sahabatnya itu.

Masalah serupa dimana tingginya intelejensi yang dimiliki seorang Saga kembali menjadi masalah adalah ketika ia dengan setengah bercanda mengajak Tenma untuk pindah jurusan—semula jurusan teknik menjadi jurusan kedokteran, yang langsung disetujui oleh Tenma. (Meski belakangan ia mengeluh karena harus mengikuti tes dimana ia harus kembali mempelajari pelajaran biologi yang dibencinya.)

Saga yang semula mengajak Tenma dengan motif iseng, kaget bukan main—oh tapi tentu saja, karena ia stoic, ia tidak menunjukannya dan Tenma terlalu bodoh untuk menyadarinya. Atas dasar apa sahabatnya (atau pacarnya) itu menyetujui ajakannya? Saga menemukan ribuan alasan bagi Tenma untuk menolaknya dan hanya menemukan beberapa alasan bodoh mengapa sahabatnya itu menyetujuinya.

Kembali ke setting awal dimana sekarang ia tengah duduk sembari mengamati—atau lebih tepatnya mengawasi, sahabatnya yang sedang mengerutkan kening dan berkutat dengan segudang pertanyaan buatannya.

Kebiasaan buruk Saga yang tidak senang membiarkan otaknya menganggur barang sekejap pun menyebabkannya secara tak sadar membentuk beberapa analisa di kepalanya. Ia berusaha menebak apa yang sedang dipikirkan Tenma saat ini.

Apakah soal buatannya terlalu sulit sehingga membuat kerutan samar di kening Tenma?

Ah, tidak. Mungkin ketimbang memikirkan sulitnya level soal buatannya, Tenma justru sedang menyesali keputusannya untuk pindah jurusan bersamanya hingga berakhir membuatnya mengerutkan kening tanpa sadar. Atau mungkin ia sedang berfikir keras mencari alasan untuk menarik kembali kata-katanya dan memilih menetap di jurusan teknik—toh dari awal ia memang berbakat di bidang itu.

Dalam durasi waktu yang tidak lama, Saga telah membuat spekulasi yang cukup banyak; Mungkin Tenma mengerutkan kening karena tengah bersumpah serapah mengutuknya (karena ia membuat soal yang luar biasa sulit) dan pelajaran biologi (karena telah membuatnya harus membaca barisan tulisan yang luar biasa membosankan.). Atau mungkin juga Tenma sudah lapar. (Ditambah lagi ia masih harus berkutat segudang pertanyaan dengan tingkat kesulitan tinggi, pantaslah keningnya sampai berkerut). Atau mungkin bekas pukulannya (yang merupakan hukuman apabila Tenma salah menjawab pertanyaan yang diberikan) masih terasa sakit hingga membuat anggota kelima Shinobi itu mengerutkan keningnya. Atau mungkin Tenma tengah berfikir keras untuk menyiapkan rencana balasan atas latihan sparta yang diberikan padanya. (karena Tenma tidak terbiasa berfikir keras, itu membuat kerutan di keningnya muncul secara otomatis.). Atau mungkin—

Sebelum dilanjutkan, Tenma menyadarkan Saga dari alam bawah sadarnya. Dengan segala kepolosan (keidiotan) yang dimilikinya, ia bertanya pada sang sahabat (kekasih), "Kok pertanyaannya susah banget ya?"

Saga diam. Berkedip satu kali, dua kali dan tetap diam.

Baiklah, segala spekulasinya meleset (lagi). Ternyata tebakan pertama yang melintas di kepalanya—yang bahkan muncul begitu saja tanpa harus berfikir, memutar otak dan mencoba menggabungkan analisa, justru merupakan tebakan yang benar. Hal itu perlahan menyadarkan Saga, sahabatnya ini mungkin bukan terlalu sulit untuk diprediksi tapi justru ia terlalu mudah untuk diprediksi. Namun kebiasan otaknya yang selalu mentransformasi sesuatu yangmudah menjadi sesuatu yang rumit sukses mengatarkannya pada masalah: 'selalu-salah-menebak-jalan-pikiran-Tenma.'

Saga menatap mata bulat Tenma yang mengedip-ngedip tak sabar menunggu jawaban darinya.

Lalu tuan jenius kita hanya bergumam pelan, "Benar-benar idiot."


Ketika lewat tengah malam, tepatnya 2/3 malam, Tenma sudah mengibarkan bendera putih dan mengaku takluk atas soal biologi yang masih tersisa di hadapannya. Setelah meminta izin (tentu saja dengan susah payah) dari Saga, ia pun pamit tidur dan langsung berguling nyaman di balik selimut setelah sampai di atas kasur.

Sepeninggalan sahabatnya, Saga termenung sendiri di ruang tamu apartmentnya. Menyalakan televisi hanya untuk memecahkan keheningan ruangan sementara pikirannya melayang pergi.

Ini mungkin momen dimana Saga bersyukur diberkahi kepintaran di atas rata-rata dan memori super kuat. Ia dengan mudah mengingat semua kejadian yang ia lalui bersama Tenma secara akurat, tanpa melupakan kejadian apa pun. Tanpa cacat sedikit pun.

Ia ingat saat pertama kali Tenma mengajaknya bicara dan sekonyong-konyong mengajaknya untuk berteman. Saat itu yang terlintas pada benaknya adalah Tenma tidak beda dari mereka, dari semua orang yang pernah berkata serupa, sang anggota kelima Shinobi itu tidak lebih dari parasit yang hanya berusaha memanfaatkannya saja.

Namun untung sebelum pikiran bodoh itu melesat masuk meracuni otaknya, sejenak ia berfikir bahwa Tenma benar-benar tulus berteman dengannya. Alangkah bodohnya ia tidak percaya pada pikiran awalnya dan membiarkan otaknya teracuni pikiran busuk untuk jangka waktu yang tidak sebentar. Padahal mudah saja untuk melihat kejujuran Tenma, cukup lihat saja jauh ke dalam matanya. Apakah mata yang menatapnya lurus itu merupakan mata seorang pendusta? Apakah ia sama dengan parasit yang berusaha memanfaatkannya? Tidak kan?

Ia juga ingat betapa perasaannya berkecambuk saat ia mendapati kabar bahwa Tenma terluka parah karena menjadi sasaran balas dendam dari musuhnya. Saat itu tentu ia merasakan kecemasan yang luar biasa, namun jauh dari itu, ia lebih merasa tersakiti... lebih tepatnya terkhianati. Ia merasa tidak mendapatkan kepercayaan dari sahabatnya itu, mengingat Tenma sama sekali tidak berusaha menghubunginya untuk meminta bantuan saat kecelakaan itu berlangsung.

Selintas ia tahu bahwa sahabatnya itu mungkin hanya tidak mau membuatnya cemas.

Tapi hei, tolong garis bawahi: Apakah seorang idiot seperti dia memiliki otak untuk berfikir sebijak itu di saat yang terdesak?

"Tentu saja tidak! Dia hanya tidak mempercayaiku!"

Itulah yang semula diyakini oleh sang pangeran jenius kita.

Namun sekarang ia tahu bahwa memang itu yang dipikirkan oleh Tenma. Sahabatnya itu hanya tidak mau membuatnya cemas, takut, merasa bersalah atau perasaan yang diselimuti pikiran negatif lainnya. Ketimbang memikirkan takut mati karena dihajar segerombolan manusia tak bermoral yang haus akan balas dendam, nyatanya Tenma lebih takut kalau harus membuat Saga khawatir.

Setelah Tenma (dengan sangat bodohnya) tidak sengaja keceplosan menyatakan perasaannya, Saga kembali memanfaatkan tingginya intelejensi yang dimilikinya. Menarik garis bahwa Tenma tidak mau menghubunginya saat diserang oleh musuh dengan alasan tidak mau membuatnya khawatir, kenyataan bahwa Tenma sama sekali tidak mempermasalahkan tangan kiri dan kaki kanannya yang patah juga wajahnya yang terluka parah akibat kecelakaan itu, dan pernyataan Tenma sekarang membuat Saga menarik satu kesimpulan: Perasaan sahabatnya ini tidak main-main. Tenma sungguh-sungguh menyukainya.

Ah, sebenarnya sudah sejak lama ia menebak itu. Tenma sering memberikan afeksi kasat mata yang terkadang berlebihan padanya, ditambah lagi terkadang sahabatnya itu tidak malu-malu mengungkapkan kalimat (yang menurut Saga menjijikan) berisi pujian yang menyanjungnya. Saga sudah bisa menebak, hanya saja ia memilih untuk tidak meyakininya.

Sebenarnya sungguh mudah menebak isi otak Tenma. Manusia yang satu itu benar-benar tidak mengenal istilah lain di mulut lain di hati. Apa yang dirasakannya akan langsung ia katakan tanpa repot-repot difilter dan apa yang ia katakan adalah memang yang dirasakannya. Lihat, Tenma benar-benar manusia yang simpel bukan? (Masuk kategori idiot kalau menurut Saga.)

Dan oh, tuhan. Yang namanya manusia itu memang tidak pernah puas.

Saga yang telah diberkati segala anugerah intelejensi lengkap justru berharap diberikan otak simpel (atau lebih tepatnya idiot) seperti sahabatnya, Tenma. Menurutnya, mungkin segala sesuatu akan lebih mudah jika begitu.

Seperti Tenma yang dengan mudahnya mengungkapkan perasaannya padanya—entah itu dalam bentuk afeksi, sanjungan, atau bahkan pernyataan cinta, Saga terkadang berharap dapat melakukan hal itu. Namun berbagai pertimbangan seperti tingginya harga diri membuatnya mengurungkan niatnya itu.

Namun tetap saja, terkadang (dan walau terbilang amat sangat jarang), Saga merasa harus mengungkapkan perasaannya lewat kata-kata karena menurutnya Tenma terlalu idiot untuk mengerti arti pesan kasat mata atas semua tindakan yang ia lakukan pada sahabatnya itu. Namun sudahlah, urungkan saja niat itu. Saga Masamune kan tidak pandai mengungkapkan perasaanya dengan kata-kata. Ungkapan rasa sayang yang bisa ia tunjukan bukanlah dalam bentuk kata-kata, melainkan lewat afeksi.

Cukup, ia lelah memikirkan semua itu.

Saga menghela nafas lalu menyandarkan punggungnya yang mulai kaku pada bantalan sofa empuk di belakangnya. Tidak lama otaknya kosong sampai akhirnya lagi-lagi ia berharap diberkahi keidiotan seperti Tenma hingga ia tidak perlu repot-repot menimbang-nimbang berapa banyak harga diri yang harus hilang untuk mengungkapkan perasaanya serta tidak perlu repot merangkai kata-kata yang pas agar pasangannya itu mengerti perasaannya.

Namun sudahlah, tidak usah dipikirkan lebih jauh. Seberapa lama pun ia memohon agar keidiotan Tenma menular padanya tidak mengubah kenyataan bahwa kejeniusannya tidak terbantahkan. Terima nasib sajalah sebagai seorang jenius dan mulailah sedikit bersyukur tanpa meminta yang macam-macam.

Merasa cukup muak memikirkan hubungan jenius-dan-idiot di otaknya, Saga beranjak bangun dari sofanya dan melangkahkan kakinya ke arah satu dari tiga kamar yang ada di apartmentnya—dimana ia berbagi kamar dengan Tenma.

Ia membuka pintu perlahan dan melihat ke dalam sana. Ah, Tenma sudah tidur dengan pulas disertai dengkuran samar karena terlalu lelah belajar hari ini. Saga tersenyum kecil sebelum akhirnya melangkahkan kakinya mendekat.

Saga duduk di pinggir tempat tidur, tepat di sebelah Tenma yang sepertinya sudah bertualang seru melawan mr. krab yang berubah menjadi monster kepiting di dalam alam mimpinya. Ia mengamati lekat-lekat wajah Tenma.

Dengan sebelah tangan, ia mengelus rambut Tenma yang tersibak berantakan akibat beberapa kali

berguling di kasur untuk mencari posisi tidur yang nyaman. Kemudian ia mendekatkan wajahnya ke arah telinga Tenma dan berbisik pelan, "Harusnya aku jadi idiot sepertimu." lalu mengecup kening Tenma.

Dalam tidurnya, Tenma tersenyum dan Saga pun balas tersenyum melihatnya.


End.