| Listen to the heart beat |

Pair: 0506

Author: 09

Rate: M

Category: General (A little bit of angst perhaps? :| )

A/N: Because Mao is too adorable to be ignored! :D

Disclaimer: This story belongs to Shinobi Famiglia! Unfortunately (ups) Tenma belongs to Saga so it will be unrequited love between Mao and Tenma!

Warning: boy x boy, OOC Mao! XD

Don't like, don't read! (With all respect prince, this is just for fun. XD)


Wajah dapat berpura-pura, bibir dapat berdusta... Tapi debaran jantung? Kurasa tidak.

Mao duduk di sudut ruangan di Shinobi basecamp sambil menghisap putung rokok terakhirnya. Hari ini ia sudah menghabiskan sekotak penuh rokok berfilter merk kesukaannya. Stress? Tidak juga. Ia hanya menghabiskan waktu saja.

Di sudut ruangan yang lain duduk beberapa anggota Shinobi yang lain; Midou, Tenma dan Saga. Seperti biasa, trio yang selalu kompak. Midou yang humoris, Tenma yang idiot dan Saga yang cool sebagai penyeimbang ketiganya. Hampir pada setiap kesempatan mereka bertiga selalu menghabiskan waktu bersama.

Mao bukannya terasingkan atau dikucilkan, sama sekali tidak. (Hei, ayolah, dia kan juga merupakan salah satu anggota inti Shinobi!) Namun hari ini ia memilih untuk tidak bergabung bersama tiga sekawan itu.

Tidak, ia sama sekali tidak bertengkar dengan salah satu atau dengan ketiganya.

Hanya saja…

"Mao!"

Deg!

Suara nyaring yang berasal dari seberang membuat anggota Shinobi nomor 6 itu secara spontan menoleh. Suara yang sangat familiar di telinganya, suara Tenma.

"Apa?" tanya Mao datar, masih dengan seputung rokok di tangannya.

"Buset, ngapain madesu banget sendirian disitu?" tanya Tenma setengah meledek. Tak lupa ia memamerkan cengiran bodoh yang seperti tertempel permanen di wajahnya. "Sini gabung sama kita!" ajaknya.

"Bentar, ngehabisin rokok dulu." jawab Mao seadanya.

Tenma hanya nyengir tipis lalu kembali melanjutkan kembali obrolannya dengan Midou dan Saga. Mereka bertiga sedang berdiskusi heboh tentang hasil Shinobi Polling tahun ini. Seperti biasa, Saga menang dalam kategori Most wanted seme dan membuat Tenma dan Midou tak habis pikir.

"Makanya, tampangnya udah uke gini kok masih ada yang ngevote jadi most wanted seme?" sambung Tenma mulai kembali protes. "Gue nggak ngerti lagi deh sama yang ngevote. Entah buta, entah tolol."

"Sewot aja sih lo!" umpat Saga sambil melempar bantalan kecil di sofa yang tak jauh darinya. Strike, tepat mengenai wajah Tenma. "Sirik aja lo nggak pernah menang."

"Hih! Bukannya sewot! Kenyataan tahu!" protes Tenma tak terima. "Nih ya, coba lo pikir. Setiap kali lo di pair, kapan lo jadi semenya? Sama gue: 0514, sama bang midou: 0314, sama bang shidou: 1314, sama leader: L14, sama Sasuke: S14. Tuh kan, 14 stand for uke for god sake!"

Satu jitakan gratis dihadiahkan oleh Saga pada Tenma dan tawa Midou kembali meledak memenuhi ruangan.

"Hadoh! Najis nih ah, pacaran nggak ada mesra-mesranya sama sekali lo berdua." ledek Midou di sela tawanya. "But seriously, with all respect, Tenma got a point."

Deathglare dari Saga untuk Midou.

"Seriously, bro. You have a natural talent to be an uke." ujar Midou sambil nyengir.

That's it. Saga kali ini melempar bantal ke wajah Midou. Dan mereka bertiga kembali heboh lagi. Tenma kembali ngotot, Midou sedikit sependapat dengan Tenma namun berusaha untuk menjadi pihak netral agar tidak kena amukan Saga dan Prince of Shinobi yang keras kepala berusaha tetap pada pendapatnya.

Mao dengan tenang mengamati semuanya. Namun entah ia memang kelewat cool atau ada sirkuit yang lepas dari kepalanya, ia sama sekali tidak tertawa melihat tingkah bodoh tiga sekawan itu. Jangan tertawa, tersenyum simpul saja tidak.

Matanya menatap lurus hingga bola matanya hanya memantulkan sosok seorang—sosok Tenma. Mao kembali menghembuskan nafas yang bercampur dengan asap rokok.

Mao sendiri heran, mengapa sosok Tenma sangat mudah tertangkap oleh matanya. (Padahal jelas-jelas dari segi mana pun—terutama apabila dinilai dari segi wajah, seharusnya Saga-lah yang lebih mencolok.)

Suka? Apakah ia suka pada Tenma? Pada seorang Tenma?! Oh, itu mimpi buruk. Bahkan lebih buruk daripada harus puasa rokok selama lebih dari seminggu. Tidak adakah kandidat yang lebih berkualitas selain makhluk bodoh yang takut kepiting itu?

Mao kembali menghisap putung rokok terakhirnya lalu menyundutkan putung rokok itu ke asbak yang terletak tak jauh darinya.

Tidak seperti janjinya pada Tenma, ia malah tetap duduk dan mengamati dari kejauhan.

Mao kembali memutar otaknya, kalau dipikir kenapa Tenma begitu menarik di matanya ya? Apakah tipikal orang idiot sepertinya memang memiliki feromon khusus untuk orang cool seperti Saga dan Mao?

Ia ingat, sebelumnya ia tidak merasa seperti ini pada Tenma.

Saat pertama kali keduanya bertemu di Arch, Tenma belum berevolusi menjadi natural idiot seperti sekarang. Dulu Tenma jauh lebih tenang dan cool. Jujur saja, Mao sempat sangat menghormati sosok Tenma pada waktu itu.

Namun tak lama setelah Saga bergabung dan Shinobi terbentuk, perlahan sikap Tenma berubah dan voila! Jadilah Tenma yang idiot seperti sekarang. (Setelah itu ia baru tahu kalau Tenma sengaja berevolusi menjadi idiot untuk menarik perhatian Saga.)

Sejak Tenma turun derajat menjadi idiot, bukannya Mao malah ilfil, nyatanya Tenma malah terlihat lebih menarik daripada sebelumnya. Semua yang ada di dalam diri Tenma berhasil mendapatkan nilai plus dari Mao untuk segala aspek. Termasuk cengiran bodohnya yang tulus dan semua kebodohannya.

Tapi kalau ditelusuri, mungkin memang semenjak itulah Mao mulai memperhatikan Tenma. Oh iya, Mao ingat. Puncaknya adalah saat terjadi insiden di apartement Saga dimana keduanya sama-sama mabuk hingga saling bercumbu dan berakhir oral sex. Semenjak saat itulah Tenma tidak pernah bisa lepas dari pikirannya. God dammit.

Kalau bicara soal oral sex yang mereka lakukan waktu itu, sejujurnya… Mao tidak segitu mabuknya sampai kehilangan kesadaran. Namun ia tidak bisa menolak Tenma. Ia ingat bagaimana Tenma menyentuhnya, bagaimana sentuhan tangannya, lidahnya, dan saat kenikmatan membawa mereka bersama.

"Nae dongsaeng!"

Deg!

Nafas Mao tertahan seketika ia mendengar suara Tenma. Seketika Mao sadar, Tenma sudah berada di belakangnya. Ia memegang pundaknya dengan posisi berlindung. Di depannya ada Saga yang sudah siap 'menghajar' Tenma dengan bantal yang dipegangnya.

"Nae dongsaeng! Save me!" seru Tenma heboh sembari tertawa terbahak-bahak.

Oh, haruskah Mao dilibatkan dalam pertengkaran bodoh ini?

"Apaan sih lo," ujar Mao datar, berkebalikan dengan detak jantungnya. Rasanya ia bahkan dapat mendengar detak jantungnya sendiri. Apakah cukup keras hingga bisa terdengar oleh Tenma?

"Ah, tolongin gue nae dongsaeng-ku sayang!" pinta Tenma sembari memeluk Mao dari belakang. "Gue mau dimakan sama monster Saga, takut!"

Tawa idiot menyerupai gagak khas Tenma mulai meledak memenuhi ruangan.

Tenma dan Midou tertawa terbahak-bahak, Saga mulai emosi, sementara Mao? Ia sibuk sendiri dengan debaran jantungnya. Ah, tapi tentu saja, junior stoic Saga itu terlalu jaim untuk menunjukkannya.

Mao menepis tangan Tenma menjauh. "Udah sana jangan ngelibatin gue."

Tenma menurut dan kembali melanjutkan kejar-kejarannya dengan Saga dan meninggalkan Mao sendiri.

Laki-laki yang lahir pada bulan Desember itu menarik nafas panjang dan berusaha menenangkan dirinya. Dari kejauhan ia memandangi Tenma, mengamati senyumnya, gerak tubuhnya… semuanya.

Di saat Mao tengah asik memandangi si idiot dan si jenius yang masih kejar-kejaran, Uri hime datang dengan sepiring fortune cookies di tangannya.

"Siapa yang mau kue?" tanya Uriel menawari.

Layaknya anak-anak kelaparan, Midou dan Tenma langsung menghampiri sambil berjingkrak-jingkrak. "Fortune cookies! Fortune cookies!"

Keduanya buru-buru mengambil satu cookies dari Uriel dan membaca kertas yang ada di dalamnya. Tawa duo bodoh itu langsung meledak memenuhi ruangan.

"I got: 'run for your life'!" seru Tenma sambil tertawa ngakak. "Goddamn right!"

"Gue dapet: 'Orang bijak menjauhi masalah'!" seru Midou tak kalah heboh. "Sori Te-chan, gue nggak mau ikut-ikutan kena masalah kalo terus-terusan ngeledekin Saga. Selamat berjuang sendiri, bro."

Mereka berdua makin heboh ketika Saga datang lalu mendapatkan fortune cookies yang berisi: "Don't fuck with me."

Uriel datang menghampiri Mao lalu menawarkan cookies itu. "Mao, mau?"

Tidak enak hati untuk menolak permintaan Uriel, Mao menggangguk dan mengambil satu cookies dari Uriel. Sama seperti ketiga sekawan yang telah mendahuluinya, Mao pun mendapatkan satu kertas di dalamnya.

Mao membuka kertas itu lalu menahan nafasnya sejenak.

Tenma yang menyadari kalau Mao juga mengambil fortune cookies pun langsung datang menghampirinya. "Dapet apa isinya?" tanyanya penasaran.

"Bukan apa-apa."

Mao beranjak bangun, memasukkan tangannya ke dalam saku celana lalu melangkahkan kakinya pergi. Sebuah kertas bertuliskan: "Listen to your heart beat." ia remas di dalam sana.


End.