| Why did I falling in love with you? |

Pair: 0506

Author: 12

Rate: M

Category: angst

A/N: wild imagination of Fujoshi every time seeing their intimate moment! :3

Disclaimer: This story belongs to Shinobi Famiglia! Unfortunately (ups) Tenma belongs to the prince :D poor Mao, but that's okay… You've got sex here! Te-he! :D

Warning: boy x boy, Lemon (Yes, this mean S-E-X.), a little bit SM? cause Mao is such a sweet sadistic boy :D

Don't like, don't read! (Just click exist prince if you think that you cannot take it. :D)


Believe me, I know how it feels…


Mao datang menghampiri seorang laki-laki sepantarannya yang sedang duduk membelakanginya. Laki-laki bernama Tenma, teman sepermainanya juga orang yang menduduki peringkat teratas sebagai orang yang ia sayangi. …Koreksi, bukan hanya sekedar orang yang ia sayangi, tapi merupakan orang yang paling ia sayangi.

"Oi," panggil Mao dengan suaranya yang hampir setiap saat selalu terdengar datar. Ia menepuk pundak Tenma pelan dari belakang lalu duduk di sebelahnya. Tenma tidak menoleh, ia bahkan tidak merespon Mao.

"Lo udah makan belom?" tanya Mao sambil mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celananya. Dengan satu gerakan cepat ia mengambil pematik lalu menyalakan rokok yang kemudian langsung dihisapnya. Ia kembali melirik ke arah Tenma. "Tadi Midou bilang di rumahnya lagi ada acara. Mau kesana?"

Tenma hanya menggelengkan kepalanya perlahan.

Mao terdiam sebentar. "Atau lo mau pergi ke diskotik? Kalau mau, gue temen—"

"Mao," suara Tenma menghentikan kelanjutan kalimat Mao. "Gue pengen sendiri."

Seketika Tenma menatapnya, Mao tidak lagi berupaya untuk bernegosiasi. Ia mengalihkan pandangannya lalu menghabiskan rokok di tangannya dan pergi sesuai dengan permintaan Tenma.


To feel hurt and lost… To feel like you're about to lose the light of your life.


"Te-chan nggak mau dateng?" tanya Midou di sela-sela keramaian pesta di rumahnya. Ia memberikan segelas vodka kepada Mao. "Lo bujuk dia nggak? Beneran deh, dia tuh butuh hiburan. Kalau dia depresi kayak gini terus bisa-bisa dia gila nanti."

"Lo tahu kan kalo dia itu nggak bisa dibujuk?" balas Mao enteng. "Gue udah coba, tapi kalau dia nggak mau percuma aja gue bujuk kayak gimana pun juga."

Midou menghela nafas panjang lalu menyandarkan tubuhnya ke tembok.

"Saga udah koma hampir setengah tahun, terus sekarang Te-chan terus-terusan gini." ujar Midou lirih. "Gila, gue kangen dulu kita selalu ngumpul sama-sama."

Mao tidak menyahut dan hanya ikut menyandarkan tubuhnya ke tembok tepat di sebelah Midou. Tanpa perlu berkata, Mao sungguh sangat setuju dengan perkataan Midou.

Entah kapan terakhir kali mereka berenam berkumpul dan tertawa bersama? Kapan terakhir kali ia melihat Tenma tertawa?

Ia ingat bagaimana cengiran bodoh Tenma dulu selalu menghiasi harinya. Ia ingat betapa ceria suara Tenma saat memanggilnya: "Nae dongsaeng!". Ia ingat tawa khas Tenma yang tidak ada duanya di dunia. Ia ingat bagaimana Tenma tersenyum padanya, bagaimana suara Tenma saat memanggil namanya. Bagaimana sentuhan tangan Tenma saat menepuk lembut kepalanya.

Mao meletakkan gelasnya di atas meja lalu melangkahkan kakinya pergi.

"Eh, woi! Mau kemana lo?" tanya Midou namun tidak digubris oleh Mao. Anggota Shinobi ke 6 itu tetap melangkahkan kakinya pergi tanpa menoleh ke belakang.


Believe me, I feel exactly the same…


Mao melangkahkan kakinya di koridor Shinobi basecamp, menuju ke satu ruangan yang terletak di lantai 2. Ya, menuju kamar Saga. Tempat dimana Tenma hampir selalu menghabiskan waktunya belakangan ini.

Perlahan ia membuka pintu dan benar saja, ia menemukan Tenma sedang duduk di atas ranjang dengan pandangan kosong seperti ikan mati.

Mao hanya memandanginya sesaat lalu berjalan mendekat. Ia berhenti tepat di depan Tenma. Anggota Shinobi ke 5 itu tidak menggubrisnya. Ia bahkan tidak menghiraukan keberadaan Mao. Seakan Mao tidak ada di matanya.

"Tenma," panggil Mao pelan. Tidak ada sahutan. "Tenma," ulangnya.

Tenma tidak menyahut, ia hanya mengangkat wajahnya dan mengamati sosok Mao yang berdiri di depannya. Sosok Mao memang terpantul di kedua mata Tenma, tapi Mao bersumpah, ia tahu betul kalau sebenarnya ia terlihat transparan di mata Tenma.

Mao menggertakkan giginya lalu mendorong Tenma ke atas kasur. Karena tidak ada perlawanan berarti dari Tenma, sekarang Mao menindih tubuh Tenma di atas tempat tidur.

"Sampai kapan lo mau gini terus hah?!" tanya Mao. Kali ini tidak seperti biasanya, intonasi suara Mao meninggi. "Lo mulai harus terima kenyataan! You gotta move on! Gue tau lo sedih ngeliat Saga kayak gini, but for fuck sake, bukan berarti lo harus ngerusak hidup lo kayak gini!"

Tenma tidak menyahut, ia hanya menatap lurus Mao.

"Saga nggak akan seneng lihat lo kayak gini. Dia bakalan kecewa sama lo. Lo harus belajar terima kenyataan dan balik kayak lo yang biasanya. Balik kayak lo yang dulu!" seru Mao. "Lo nggak bisa terus-terusan gini, lo depresi, lo berhenti kuliah… Lo nggak anggep hidup lo berguna. Lo nggak bisa gini!"

Tenma menggenggam tangan Mao yang mencekal kerah bajunya.

"Kalau gue balik jadi gue yang dulu, lo bisa buat Saga bangun?" tanya Tenma dingin. "Kalau gue ngehargain hidup gue, gue balik kuliah, gue semangat hidup lagi, lo bisa jamin Saga bisa bangun? Saga bisa sembuh?"

Mao tidak menyahut, ia hanya memandangi mata Tenma lekat-lekat.

"Kalau nggak, mendingan lo diem dan nggak usah ngurusin gue lagi. Ini hidup gue, nggak ada hubungannya sama lo. Ngerti?"

"Dan ngebiarin lo kayak mayat hidup gini? Lo pikir gue—!"

"Gue udah mati. Gue udah nggak bisa hidup lagi tanpa Saga. Anggep aja sekarang gue udah mati. Jadi lo nggak usah repot-repot ngurusin ato mikirin gue lagi."

Mao menarik dagu Tenma lalu menatapnya tajam, "Anggep lo udah mati, lo bilang?" tanyanya sambil mendesis berbahaya. "Oke, jangan nyesel sama kata-kata lo barusan."

Mulanya Tenma berfikir ia berhasil membuat Mao menyerah dan pergi meninggalkannya, namun ia salah besar. Bukannya malah angkat kaki dari tempat ini, nyatanya Mao tidak bergeming dan malah membuka satu-persatu kancing kemeja Tenma.

Mata Tenma membelalak kaget. "Mao! Lo apa-ap—mmh!"

Mao tidak membiarkan Tenma untuk protes, ia mencium bibir Tenma—nyaris melumatnya utuh. Ia bahkan tidak membiarkan Tenma untuk mendapatkan pasokan oksigen yang cukup.

Tenma tentu saja berontak. Namun Mao lebih kuat darinya. Orang yang sehari-hari kerjanya hanya duduk termenung tentu lebih lemah daripada orang yang masih rajin melatih diri di gym kan?

Sembari masih mencium dan sesekali menggigit bibir Tenma, sebelah tangan Mao kembali melanjutkan pekerjaannya: melepaskan kancing baju yang membalut tubuh Tenma.

"Mmmph—Ma-Mao, st—nngh!"

Mao menarik diri, namun bukan dengan niatan untuk berhenti. Ia menatap Tenma tajam dan berkata perlahan, "Lo bilang lo mau gue nganggep lo udah mati kan? Lo mau gue nggak mikirin lo lagi kan? Fine, you got what you want. I don't fucking care anymore, I'll do what exactly I wanna do since a long time ago."

Mao mendekatkan wajahnya dengan wajah Tenma lalu berbisik dengan suara seduktif. "And believe me, I won't stop even though you ask me to stop. Now it's time to you to at least know how I feel about you."


Just like you that always look up for him, I always look up for you…


"M-Mao, stop it." ritme nafas Tenma sudah semakin tidak teratur. Ia berbaring di pojokan tempat tidur dengan tangan terikat, mata tertutup dengan blindfold, dan Mao di atasnya. "I said: stop it already!"

Mao tidak menggubrisnya. Ia mengambil sebotol lubricant lalu menumpahkan cairan putih itu ke atas dada bidang Tenma yang sudah terekspos. Tenma tersentak kaget seketika cairan dingin itu mengalir turun ke arah perutnya.

Mao menjilat bibirnya lalu mulai menciumi jenjang leher Tenma. Sesekali menjilatnya, naik ke daerah telinga lalu kembali ke leher dan meninggalkan bekas kemerahan disana.

"Nngh, Mao, S-Stop."

Mao benar-benar tidak menghiraukan setiap kata yang Tenma ucapkan. Ia menanggalkan celananya juga pakaian dalamnya, mengambil cairan di atas perut Tenma dengan jarinya lalu memasukan jari-jari yang basah itu ke lubang anusnya.

Suara erangan Mao terdengar sinkron dengan gerakan jari di anusnya.

"Aahn, nngh… Aaah… Te-Tenma."

Tidak ingin menikmati semua ini seorang diri, Mao kembali mencium bibir Tenma lalu menyelusupkan lidahnya untuk beradu lidah dengan Tenma. Awalnya Tenma masih memberontak dan menggerak-gerakan kepalanya untuk menghindari Mao, dan karena kesal, Mao menggigit bibir Tenma hingga darah mengalir.

"Nngh… Ah."

"Stop resisting if you don't want to get hurt."

Perlahan Mao pun menggerakkan tangannya dan membuka resleting celana Tenma. Tak perlu menunggu lama, celana serta pakaian dalam Tenma pun berhasil ditanggalkan. Mao mencium bibir Tenma sekejap lalu lidahnya turun menyelusuri dagu, leher, dada, perut hingga sampai pada alat vital Tenma.

Ia mengecup ujung kejantanan Tenma hingga membuat anggota Shinobi ke 5 itu secara refleks menahan nafas. Puas melihat reaksi Tenma, Mao menjilat kejantanan Tenma dari atas hingga bawah. Jilat, hisap, kecup, jilat lagi, lalu hisap lagi.

"Aahn… nnggh, s-stop."

"Like I said, I won't give a damn anymore. It's your own fault."

Mao menambah gerakan tangan di sela-sela aktivitas: jilat-kecup-hisap pada kejantanan Tenma. Sukses membuat yang bersangkutan mengerang kenikmatan.

Setelah kejantanan Tenma menegang, Mao langsung memposisikan dirinya di atas Tenma. Dengan satu dorongan paksa dari Mao, penis Tenma pun menembus lubang anusnya.

"Aaaaahn! Aah! Ahn! Nngh… mmh."

Tidak hanya Mao yang tenggelam dalam kenikmatan seks mereka, meski tak mengakui, tubuh Tenma mulai menikmati 'servis' yang diberikan oleh Mao. Oh god, berada di dalam Mao sungguh terasa nyaman. Dinding rektum Mao yang sempit serasa menghimpitnya dan memberikan sensasi nikmat yang tak tertahankan lagi.

Mao membiarkan tubuhnya membiasakan diri dengan kehadiran penis Tenma di dalamnya. Setelah mulai sedikit terbiasa, ia mengatur nafasnya dan mulai bergerak dengan ritme yang teratur. Perlahan sedikit bertambah cepat dan cepat.

"Aahn! Aahn… aaah!"

"Nngh… M-Mao."

Mao menjilat telinga Tenma, mengecup pipinya lalu kembali melumat bibir Tenma. Kali ini mulai ada sedikit respon positif dari Tenma. Sesekali tanpa sadar Tenma membalas ciuman Mao hingga membuat Mao makin menjadi-jadi.

Anggota Shinobi ke 6 itu berbisik pelan di telinga Tenma, "Feel me."

Mao makin mempercepat ritme gerakannya: naik-turun-naik-turun. Gerakan yang semula merupakan gerak lurus beraturan pun berubah menjadi gerak lurus berubah beraturan.

Seketika Mao semakin mempercepat ritme 'permainan liar' mereka, tanpa sengaja penis Tenma pun mengenai titik ternikmat di dalam tubuh Mao, mengenai prostatnya.

Mao menjerit penuh kenikmatan. "Aaaaaaaaah! Aaaahn! Nnggh… Ah!"

Mao menggerakkan pinggulnya semakin cepat dan berusaha mengenai tempat yang sama. Terkadang berhasil, terkadang tidak. Namun setiap kali ia berhasil membuat penis Tenma mengenai prostatnya, ia mengerang nikmat.

"Aaahn! Aaah, Tenma! Tenma! Aaahn!"

Tenma pun mulai tak kuasa menahan desahannya. Setiap kali penisnya mengenai prostat Mao, dinding rektum Mao terasa semakin sempit menghimpitnya.

Walaupun ia sama sekali tidak menyimpan rasa apa pun pada Mao dan ia bersumpah bahwa ia tetap setia pada Saga, tubuhnya perlahan mengkhianatinya. Kenyataan bahwa udah lama ia tidak berhubungan seks dengan siapa pun membuat tubuhnya bereaksi hebat pada setiap tindakan yang dilakukan Mao padanya.

Seketika kejantanan Tenma kembali mengenai titik ternikmat Mao untuk kesekian kalinya, Mao mencapai klimaks. Ia menumpahkan spermanya di atas perut Tenma lalu mengerang keras dan memanggil nama Tenma.

"Aaaaaaaaah! Te-Tenma! Tenma! Aaahn!"

Tak lama setelah Mao mencapai klimaks, Tenma pun menyusul. Ia mengeluarkan spermanya di dalam tubuh Mao.

Keduanya sama-sama kehabisan nafas. Mao pun menjatuhkan diri ke atas tubuh Tenma.

Dengan sisa tenaga yang tersisa, ia membuka blindfold Tenma dan menatapnya dalam-dalam. Ia tersenyum puas, akhirnya sosoknya terpantul di mata Tenma.

"I love you Tenma, I really do."


But I cannot change the fact or re-write the past… You're not belong to me.


Mao bahkan tidak sadar kapan tepatnya ia tertidur karena ia terlalu lelah. Tak terasa matahari sudah kembali menyapanya. Ah, rasanya permainannya dan Tenma semalam benar-benar menguras tenaganya.

Ketika sadar, ia melihat sekeliling namun tidak menemukan Tenma dimana pun. Tali yang semalam ia gunakan untuk mengikat Tenma sudah terlepas dan tergeletak di atas kasur bersama dengan blindfold.

Mao meraih blindfold itu dengan sebelah tangannya.

Mungkin Tenma akan berakhir membencinya dan tidak menutup kemungkinan kalau Tenma mungkin akan berakhir menghindarinya. Namun Mao sama sekali tidak peduli. Ia tidak merasa bersalah pada Tenma apalagi menyesali kejadian yang terjadi tadi malam.

Tenma boleh menolak untuk mengakui apa yang terjadi tadi malam. Ia berhak untuk melupakannya dan mengganggapnya sebagai mimpi buruk.

Tapi Mao tidak akan pernah melupakannya.

Ia tidak akan pernah lupa bagaimana rasanya menyentuh bibir Tenma, menjilat tubuhnya, mendengar suara desahannya dan terutama bagaimana rasanya saat ia bersetubuh dengan Tenma.

Mao tidak menyesal, sungguh. Ia bersumpah ia merasa puas dengan apa yang sudah ia lakukan dengan Tenma tadi malam. Tak ada lagi penyesalan. Ia sudah mendapatkan apa yang selama ini ia mimpikan.

Namun entah kenapa air mata perlahan menetes turun dari mata Mao. Hatinya sakit.

Mungkin Mao salah, mungkin memang ada satu penyesalan yang ia rasakan, dan penyesalan itu adalah karena ia tidak berhasil melihat senyuman Tenma kemarin malam. Satu hal yang membuatnya sadar kalau Tenma bukan miliknya dan tidak akan pernah menjadi miliknya.

Mendadak ia teringat senyuman Tenma yang dulu sering dilihatnya, bagaimana suara ceria Tenma memanggil namanya dan bagaimana tawanya. Dan mengingat semua itu, rasanya apa yang semula membuatnya puas terasa tidak ada harganya.

Mao sadar bahwa hanya Saga yang ada di dalam hati Tenma. Hanya Saga seorang.

Namun tidak bisakah Tenma memberikan satu kenangan manis untuknya? Membiarkannya merasa memiliki Tenma walaupun hanya untuk satu malam?

Mao tersenyum lirih lalu menghapus air matanya, menggenggam blindfold di tangannya lalu memejamkan matanya.

"But still… I love you, Tenma."


And if you're not belong to me… Why did I falling in love with you?