aku duduk dengan manis
gadis zaman victoria di kursi pribumi
poni dijepit dengan pita
supaya mata tetap terpaku di papan tulis

kusingkirkan headset
melawan hasrat untuk mendengar lirik cantik
dan fokus pada
kata-kata besar yang jatuh dari bibir guru

aku berusaha
memakan seluruh perkataan guru
dan tetap kenyang akan pengetahuan
tidak haus maupun lapar

tapi tetap saja
seluruh ilmu itu
masuk di telinga kanan
keluar di telinga kiri