A Bestfriend

QINA masih termenung di jendela kamarnya. Hujan masih turun, malah semakin deras yang disertai angin. Napasnya menghembuskan uap yang menandakan suhu di sana rendah. Tetapi Qina tidak memperdulikan masalah suhu itu, walaupun ia hanya memakai celana pendek dan kaus tipis. Sekarang yang ia pedulikan bukan tentang dinginnya udara, melainkan pada hp yang sekarang ada di tangannya.

"Kebohongan yang mudah ditebak," Gumam Qina sembari tersenyum sinis setelah membaca sms dari Gerry.

Gerry Sadiarto Amir, alias Gerry adalah sahabat baik Qina sejak mereka kecil. Gerry mengenal sifat Qina. Begitupun sebaliknya. Tetapi, baru saja Qina tidak yakin ia 'benar-benar mengenali' Gerry setelah membaca sms tadi. Gerry adalah bintang futsal yang kalem dan baik. 'Baik? Hmmm... baik sih. Tapi itu dulu hahaha' batin Qina sambil tertawa garing.

Mengapa? Karena seminggu –lebih tepatnya sepuluh hari- yang lalu ortu Gerry bercerai. Gerry sangat terpukul karena bagi Gerry keluarga adalah segalanya. Tidak terima orang tuanya bercerai, Gerry pun memberontak. Qinapun merasa Gerry tidak se'baik' dulu. Sekarang, Gerry cuek sekali pada Qina. Dan sekarangpun Gerry merokok. Beberapa minggu yang lalu ia adalah anti rokok yang sangat kekeuh. Tapi entah mengapa sekarang dinding ke-keukeuhannya telah runtuh

Ohya, isi sms Gerry ini:

Qin, sori gue gabisa dateng ke selametan rumah baru lo. Adek sepupu gue rese nih

HEELLLOOOOOOOO? Sejak kapan Gerry punya adek sepupu? Kedua ortu Gerry anak tunggal, begitupun Gerry. Qina merasa aneh aja Gerry punya adek sepupu. Lagian selametan ini sudah direncanakan sejak pertama kali ia pindah ke rumah ini. Dan Gerrypun langsung ia beritahu. 'mungkin Gerry sedang tidak ingin ketemu gue. Atau dia belum siap kalo gue tanya tentang masalahnya? Sudahlah, mungkin suatu saat ia akan cerita'

Gerry masih memainkan Hpnya dengan gerakan random. Entah itu diputar, dilempar lalu ditangkap kembali, atau diketuk-ketuk dengan jari. Ia masih menunggu. Ia tau Qina pasti tidak akan percaya dengan SMSnya. Sebenarnya ia ingin mengirim sms yang isinya adalah alasannya tidak bisa datang ke Qina. Tetapi, Gerry merasa bukan sekarang saatnya Qina melihat dirinya seperti 'ini'

'dia bakal marah ga ya? Pasti dia gabakal percaya sama sms gue. Hmmm gue bilang apa dong kalo entar ketemu di sekolah?' Batin Gerry.

Tiba-tiba ada seseorang yang mengganggu pikiran Gerry. "Gerr! Ayo cepet, lelet amat!"

"Iya Wan!Bentar!" jawab Gerry

Akhirnya, Gerry pun mengirim SMS ini ke Qina:

Oke. Gue akui gue tadi bohong. Sebenernya gue mau ngumpul sm anak2. Bsk gue tunggu ya di Kaliya Cafe. Mungkin besok gue akan cerita semuanya ke elo. Kelamaan mikir masalah gue sendirian emg berat ya qin.

"Hp udah, tissue, dompet udah. Apalagi ya? Hmmm.."

Qina mengecek isi tasnya sebelum ia berangkat pergi. Ya, malam ini ia telah janjian dengan Gerry di Kaliya Cafe. Setelah merasa tidak ada yang tertinggal, Qina langsung turun ke bawah karena taxi sudag menunggunya.

"Bi Sum aku berangkat ya Biii!" Pamit Qina sabil menuruni tangga

Lalu terdengar Bu Sum membalas pamitnya Qina "Iya non! Ati-ati!"

Perjalanan malam itu macet. Mungkin karena di pertigaan di depan ada mall yang baru buka, jadi orang-orang berebut masuk. Saat sedang memikirkan apa yang akan dikatakan Gerry nanti, secara tidak sengaja pikiran Qina melayang ke kejadia 3 tahun lalu...

Tak biasanya Qina pulang agak malam. "UGH! Gara-gara Caca nih! Kenapa ga bilang coba mau kerja kelompok?! Tau gini kan minta duit buat naik taxi ke mama dari kemaren-kemaren! Nanti kalo minta uang terus Bi Sum ga pegang uang gimana?. Hhh... malaes banget, deh kalo harus bongkar tabungan. Kalo nilai kerja kelompoknya jelek awas aja niiih!" Qina menggerutu.

Ternyata tadi, Caca temannya mengadakan kerja kelompok dadakan. Katanya besok Caca mau ke Bandung. Jadi besok ia tidak bisa mengerjakan tugas kelompokm ini. Menurut Qina, itu hal yang menyebalkan, karena Caca ga bilangdari kemaren kalau hari ini bakal ada kerja kelompok. "Yaelah, ini taxi pada kemana ya? Udah capek nih!" gerutu Qina lagi. Tiba-tiba, dari arah kiri datang dua oran g(yang sepertinya) preman. Salah satu dari mereka menunjuk-nunjuk Qina. Lalu preman yang disebelahnya mengangguk-angguk. Dua preman itupun berjalan cepat ke arah Qina. Qina pun panik. Refleks, dia berlari sekuat tenaga. Tapi karena panik, lari Qina tidak maksimal. "Kok gue larinya gini sih? Biasanya ceper!"

Qina pun menambah kecepatan larinya. Saat ia sudah merasa aman, Qina pun duduk di sebuah bangku taman. "Gi... la... it... u... p... rem... an... se... rem... ba... nget..." Qina ngos-ngosan sambil mengipas-ngipasi wajahnya dengan tangan. Ketika merasa sudah tidak terlalu capek, iapun melihat ke sekitar. Ternyata Qina tidak tau ia sedang ada di mana. Setelah melihat papan di depan taman, iapun tau sekarang ada di mana. Ia ada di... Eh? Sebuah perumahan? Tadi Qina sadar sudah memasuki komplek perumahan ini. Iapun segera mengunjungi satpam yang ada di pos.

"Maaf Pak, kalau ingin mencari taxi dari sini saya harus belok kanan atau kiri ya pak?" Tanya Qina

Satpam yang sedang bermain catur dengan tukang nasi goreng pun menoleh. "Oooh kalo dari sini ke kiri, dik. Tapi masih jauh kalo mau nyari taxi, harus ke jalan raya"

"Jalan rayanya jauh, Pak?"

"Iya dik. Adik mau cari taxi ya? Hmm... kalo mau sih jalan dik dari sini"

"Hah? Ga ada ojek pak?"

"Wah, di sini ga ada ojek dik. Kalo saya ada motor mah udah saya anter"

"Gitu ya? Yaudah pak, makasih ya"

Qina berjalan keluar pos dengan langkah gontai. 'kalo jalan ke jalan raya kayanya gue gakuat! Mama ke luar kota pula. Coba ada mama, minta jemput,deh' pikirnya. Qinapun segera mengeluarkan hpnya dan menekan tombol dial.

"Halo?" ujar orang disebrang.

"Gerry, lo dimana?! Duh, bisa jemput gue gak? Gue capek banget Ger tadi lari dikejar preman. Lo dimana? Deket ga sama tempat gue sekarang?"" kata Qina.

"Pelan dikit dong, kalo ngomong. Jangan cepet-cepet. Emang lo dimana Qin?" Tanya Gerry enteng

"Ck! Lo tenang banget sih?! Gue... gue di..." Qina celingak-celinguk melihat ke sekitarnya. Ia pun melihat nama kompleks perumaha ini, lalu melanjutkan kalimatnya tadi. "Gue di komplek Warta nih Ger! Lo bisa jemput gue di pos satpamnya? Please banget Ger..."

"Dasar elo, ye. Gapernah ga ngerepotin gue. Untung aja gue lagi di komplek yang lo bilang. Kalo engga... abis lo sekarang."

"Sori deh... Gue ga maksud, Gerr. Thanks ya Gerrr"

Klik. Telepon ditutup. Qina pun mengamati keadaan sekitar. Untung ada pak satpam , jadi kalau ada preman ia aman. Tapi tiba-tiba Qina teringat cara preman menghipnotis korbannya dari berita yang tadi pagi ia tonton, yaitu pundaknya di sentuh. Dan ternyata, saat Qina memikirkan ini, ada tangan yang menyentuh pundaknya.

"Ampun! Ampun! Jangan hipnotis saya," Qina langsung menutup muka dengan kedua tangannya sambil menunduk

"Hahaha, lo ngapain coba?"

"AMPUN MAS! Saya ga bawa duit mas! Percuma kalau dirampok!" Qina masih diposisi yang sama.

"Yaelah Qinn, ini gue! Gerry si ganteng! Hehehe..."

Qina yang mendengar itupun mengubah posisinya ke posisi semula. Berdiri, tidak menutup mata.

"Elo Ger! Gila lo, gue kira preman! Sial! Hhh..."

"Udah cepet naik! Malah bengong!" ujar Gerry. Diapun tertawa geli melihat wajah Qina yang terlihat panik. Diatas motor, Qina cerita kejadian tadi panjang lebar. Dimulai dari kerja kelompok dadakan di rumah Caca, sampai ia bisa di komplek ini karena berlari dikejar preman

"Gitu Ger ceritanya! Hufft... Gue beruntung banget dateng. Kalo engga gue pingsan deeh. Hufftt..." Ujar Qina menutup ceritanya

"Yaelah, lebay amat," Gerry berkomentar.

Dikomentari seperti itu, Qina agak bete. Gimana engga? Dia udah cerita puanjang luebar tapi reaksi Gerry gitu doang? Akhirnya ia mengalihkan pembicaraan.

"Kok lo bisa cepet Ger nyampenya?"

"Tadi gue lagi ada di rumah tante gue. Begitu lo telpon terus nyasar di komplek tante gue ini, ya gue jemput aja. Kalo gue lagi di rumah nih, abis lo Qin. Bener deh"

"Ya... sorry deh sorry" Qina garuk-garuk kepala.

Lalu hening sejenak. Qina menikmati angin malam yang membuatnya agak mengantuk.

"Qin, mau gue turunin di mana?" Tanya Gerry yang membuat ina tersentak. Ternyata Qina sudah hampir tidur

"Emm... Di depan aja Ger gue naik taxi," Jawab Qina setengah sadar

Motor pun berhenti di pinggir jalan raya yang cukup ramai.

"Oke Qin, bentar ya gue cariin taxi"

Sembari Gerry mencari taxi, Qina duduk di atas motor yang sudah dipakirkan. Ternyata taxi pada saat itu sudah penuh semua. Qina udah hopeless. Tapi tiba-tiba taxi yang lampunya menyala –yang berati kosong- berhenti di depan mereka.

"Akhirnyaa... Gerr gue balik yaaa! Thank's tadi udah nolong" Ujar Qina sambil tersenyum

"Udah ada ongkosnya, Qin?" Tanya Gerry perhatian

"Eng... Gue nanti minta Bi Sum sih. Cuma kalo Bi Sum lagi ga ada uang ya gue harus buka ce..."

Omongan Qina terputus. Tiba-tiba selembar uang 50 ribu sudah ada di tangannya. Qina agak kaget

"Eeh, makasih ya. Besok gue gan..."

Omongan Qina terputus lagi, kali ini diputus oleh perkataan Gerry. "Gausah diganti, anggap aja uang jajan"

Qina pun melambaikan tangannya dari jendela taxi. Lalu taxi pun melaju menembus ramainya jalanan.

Sejak saat itu, Qina menganggap Gerry 'the hero who saved my life'.

"Mba! Mba!"

"Gerr, gue..." ucapan Qina terputus, Ia sepertinya masih membayangkan kejadian heroik Gerry itu. Dan ,ternyata Qina sedang berbicara dengan supir taksi.

"Eh, maaf pak. Ini udah sampe ya?" Qina buru-buru mengeukluarkan uang untuk membayar ongkos. "Kembaliannya ambil aja ya pak" lanjutnya

Malam itu Kaliya Cafe cukup ramai. Mungkin karena baru buka. Katanya sih, live musiknya bagus. Trus katanya (lagi) pelayannya cakep-cakep.. Heheh

Cling cling... Suara lonceng diatas pintu berbunyi. Qina mencari kesekitar. Mencari batang hidung Gerry. Oh! Itu dia! Gerry ada di meja paling pojok disebelah jendela. Suasana cafe yang terang benderang membuat Gerry langsung menengok saat melihat 'bayangan' Qina. Gerry tersenyum tipis. Kaku.

"Hai Ger," sapa Qina.

"Hai Qin. Apa kabar?" Gerry basa-basi.

"Baik. Lo?"

"Baik dong... Kan tiap hari minum susu" Gerry membuat lelucon –yang sayangnya tidak membuat Qina teratawa-

Suasanyapun menjadi agak kaku.

"Ger,"

"Qin,"

Gerry dan Qina sama-sama memanggil lawan bicara mereka secara bersamaan.

"Lo duluan" Dan lagi-lagi mereka berbicara bersamaan. Keduanya terkikik.

"Okeoke gue bakal ngomong duluan. Ehm... Sepertinya pertanyaan gue bakal menyinggung elo Ger. Uhm... Gue mau nanya, kenapa sih lo berubah banget ke gue?"

Tawa Gerry langsung menghilang begitu mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Qina. "Gue... bingung mau mulai dari mana Qin."

"Bingung? Kalo gitu lo mulai aja dari 'Kenapa lo menghindar dari gue ketika ketemu,sms, dan telpon' ," sahut Qina jutek.

"Jutek banget sih? Ehm.. Gue belom siap aja Qin kalo lo nanya-nanya ke gue tentang masalah gue. Gue gamau keliatan lemah Qin di hadapan lo" ujar Gerry

Qina mendengus agak kesal, bingung mau berkata apa. Lalu perhatiannya tertuju pada penampilan Gerry saat itu. Kaos polo putih, jeans biru dongker, dan handband hitam. Yang berbeda dari hari-hari kemarin hanyalah batang tembakau yang terselip diantara dua jarinya.

Qina tersenyum sinis, mempertanyakan apa yang membuat Gerry merokok.

"Udah hebat lo jadi jagoan Ger," sindir Qina.

Gerry menaikkan alis. "Hm?" tanya Gerry. "Nyindir nih?"

"Yaiyalah gue nyindir. Sejak kapan Ger lo ngerokok?" Suara Qina melunak

"Sejak..." Gerry bingung apa yang harus dia katakan.

"Sejak ortu lo cerai?" tanya Qina hati-hati.

Wajah Gerry menjadi agak keruh. "Udah ga usah dibahas, ga penting."

Hening.

Benar-benar hening sampai akhirnya pelayan datang. "Satu milkshake coklat, milkshake vanilla, dan dua feetuchini?"

"Iya mba. Makasih. Ternyata lo masih inget makanan dan minuman favorit gue, Ger" Ujar Qina sambil tersenyum

Hening kembali. Sedetik... dua detik... tiga detik...

"Qin, gue mau minta maaf. Gue tahu gue salah. Gue tahu gue salah bohong ke elo. Lo terlalu 'tahu' gue," ujar Gerry.

Qina hanya tersenyum tipis.

"Mungkin kemaren-kemaren gue salah udah bohongin lo, jutekin lo, jauhin lo, dan lainnya. Maaf. Gue hanya ingin jauh sebentar dari orang-orang penting di hidup gue. Gue gamau gue keliatan lemah di depan lo saat ortu gue cerai. Dan gue gatau gue malah kaya' gitu ke elo. Oke, gue akui gue egois. Maaf ya.."

'Orang penting di hidup gue?' batin Qina mengulang kata Gerry tadi.

"Iya, gue tahu kok. Maaf juga ya kemaren-kemaren. Gue sensitif banget. Abis lo ngejauhin gue, terus gamau cerita pula! Kan dulu kita udah janji..."

"Always tell the truth?" tebak Gerry.

"Yap, exactly. Tuh tahu. Tapi gapapalah. Udah lewat ini. Tapi itu pelajaran buat lo, oke? Jangan ngumpet dan gamau cerita ke gue lagi, ya my bestie.." Qina menepuk-nepuk bahu Gerry.

"Iya, my lil' princess. Itu bakal jadi pelajar buat gue nanti"

'WHAT?! PRINCESS?' batin Qina sambil menampakkan muka bingung.

Gerry hanya tersenyum penuh arti.

*tamat*