Valuable Dream

RUMAH pohon adalah tempat favorit Rara, seorang gadis kecil berumur 6 tahun ketika sedang bertengkar dengan kakak laki-lakinya. Di rumah pohon ini, Rara juga menempatkan barang berharganya. Ia menyimpan barbie-barbie cantiknya, sepatu favoritnya, dan barang-barang lainnya yang menurutnya adalah barang yang penting. Dan pastinya barang-barang ini tidak boleh disentuh kakaknya, Kak Febri.

Seperti sekarang, Rara menangis karena Kak Febri telah mengusirnya dari kamar mama, hanya untuk menelpon temannya. Katanya itu sangat penting. Rara yang sedang bermain berbie hanya bisa terdiam ketika di'usir' oleh kakaknya.

"Kamu ngapain sih di sini?! Ngapain kamu main di sini? Udah sana, keluar! Aku lagi nelpon nih, penting!" Bentak kakaknya

Rara hanya terdiam. Melihat ini, kakak lelakinya makin membentak.

"Rara! Kamu dengar kakak kan? Sana, keluar!" Kak febripun melempar barbienya ke pintu

Rara pasrah. Ia menangis sambil memeluk barbie bergaun pink kesayangannya. Ia berlari ke arah rumah pohonnya sambil berteriak, "Kakak jahat! Rara sebel sama kakak!"

Ketika sudah sampai di rumah pohonnya, tangis Rara jebol lagi. Ia sedih, mengapa Kak Febri selalu bersikap seperti ini kepadanya. Mungkin karena Kakak sudah besar? Pikirnya. Rara masih menangis, memikirkan bagaimana sakitnya kepala barbie ketika tadi dilempar ke lantai. Tangisnya makin pecah. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah pohon itu

Tok tok tok...

Rara segera bangkit, lalu membuka pintu rumah pohon itu. Yang ia temukan di depan pintu adalah seorang lelaki kecil yang mendribble bola basket kecil. Sepertinya lelaki kecil ini baru sadar kalau pintunya sudah dibuka.

"Oh, hai. Siapa namamu?" Lelaki kecil ini berhenti mendribble bolanya, lalu menjulurkan tangan ke Rara.

Rara ingat pesan mamanya seminggu lalu "kamu jangan mau berbicara pada orang asing ya!" Dan Rara hanya membiarkan tangan itu terhenti di udara. Ia hanya diam sambil membersihkan sisa tangisnya tadi.

"Hei, aku ngomong sama kamu? Kok kamu diem?" Lelaki kecil ini memiringkan kepalanya ke kanan sambil agak menunduk untuk melihat wajah gadis kecil yang ada dihadapannya sambil memegang barbie ini.

"Oooh kamu nangis ya? Tenang aja, aku engga bikin kamu nangis, kok. Namaku Thomas. Nama kamu siapa?" Tanya Thomas tenang

Mendengar kata "aku engga bikin nangis", Rara berbicara

"Aku Rara" Ujarnya dengan aksen cadel sehingga namanya terdengar seperti "lala"

"Namamu bagus. Kamu mau main bola oren ini sama aku?" Tanya Thomas sambil menunjuk bola basket kecilnya

Rara mengangguk antusias ketika melihat Thomas mendribbel bola itu, dan bolanya memantul di lantai kayu. Thomas pun menggiring Rara ke lapangan di sebelah rumahnya. Ternyata di sana sudah ada ring basket yang pendek sekali. Dengan semangat Thomas menjelaskan ring ini ke Rara.

"Ra, ini adalah tempat kesukaan ku kalo main bola ini. Dan ini, adalah tempat kita melempar bola ini. Kata papaku, kita gaboleh ngelempar bola ini selain ke papan yang ada bolongannya ini. Karena, katanya kalo kena ke orang lain akan berbahaya"

Rara manggut-manggut mendengarnya. Lalu dengan ceria ia bertanya, "Boleh aku nyoba ngelempar bolanya, Thomas?"

Thomas pura-pura berpikir dengan mengerutkan dahinya. "Tentu boleh! Kata papa, kalau kamu bisa masukin bolanya ke bolongan, kamu jago!"

Iapun memberikan bolanya pada Rara. Rara mencoba berkonsentrasi melihat ke arah bolongan di tengah papan yang ada di depannya.

HAP! Bola itu hanya mengenai sisi bawah papan ring. Rara terlihat agak kecewa. Namun Thomas menghiburnya. "Kamu gausah sedih. Kata papa, gabisa masukin gapapa. Soalnya entar kita pasti bisa masukin bola itu! Kamu harus semangat Ra!" Thomas tersenyum lebar.

Senyum yang sama pun mengembang di wajah Rara. "Iya, Thom. Aku yakin aku bisa"

"Ayo, kita latihan lagi!" Ajak Thomas dengan bersemangat.

Di lapangan itu, Rara tidak ingat lagi perlakuan Kak Febri ke barbienya tadi. Sejak hari itu, Rara dan Thomas berteman baik.

"Thomas, oper!" Teriak Rara dari sisi kanan lapangan.

Thomas yang sudah capek melakukan taktik ketika di block menuruti permintaan Rara untuk mengoper bolanya pada gadis berambut kecoklatan itu.

Rarapun menangkap bola operan Thomas dengan baik. Ia segera mendribble bola menju ring, tapi saat melakukan lay-up, sebuah tangan menepuk lengannya yang sudah melayangkan bola.

PRITTT! Wasit peniupkan peluit lalu berteriak, "Foul!"

Rara tersenyum puas. Lay-up nya tadi masuk. Dan, bila dua kali free thrownya kali ini masuk, ia akan menghasilkan 4 point. Ya, foul tadi memberi free throw pada timnya. Di sekitar Rara sudah ada Thomas, Reky, dan Abhim yang sudah siap untuk rebound. Wasit pun melemparkan bola ke arahnya. Rara berkonsentrasi pada ring di depannya. Ayo, Ra lo bisa! Batin Rara di dalam hati.

Dan... masuk! Bola yang Rara shoot tadi benar-benar masuk secara mulus. One more.. batinnya lagi. Wasit pun melempar bola lagi ke arahnya sambil berkata "yang lain siap rebound" Ketika Rara melempar bola, orang-orang yang mengelilingnya langsung bersiap rebound. Tapi ternyata... bolanya masuk! Jadi orang-orang itu kembali ke posisi offense (menyerang) dan defense (bertahan) Tapi baru mereka siap di posisi masing-masing, wasit membunyikan 3 kali pluit tanda quarter 4 sudah selesai.

Rara langsung meloncat girang dan langsung tos ke Thomas. Tos ala mereka selalu mengundang perhatian karena unik.

"Keren lo Ra!" Komentar Thomas sambil melempar handuk kecil berwarna kuning ke Rara

"Thanks, Thom. Lo juga koook. Kalo lo ngeblock orang, orang yang lo block pasti langsung kaya batu! Ngestuck! Hahaha"

Napas Rara masih memburu. Untuk meredakannya, ia meminum air minum di botol 1L kuningnya.

"Hai, Rara" Tiba-tiba seseorang menyapanya sambil melambaik. Ketika melihat orang itu, Rara langsung memuncratkan semua air yang sedang ia tahan untuk di telan. Melihat lantai di kakinya basah, Rara berbicara dengan suara rendah, "Eh, maaf Jar! Tadi kaget. Gue kira siapa! Ternyata elo"

Fajar, orang yang tadi memanggil Rara tersenyum, "iya gapapa kok Ra. Gue Cuma mau bilang permainan lo tadi keren. Selamat ya bisa lolos dari block-ingan gue tadi" Ujar Fajar bercanda

"Yaampun Jar, lo udah ngagetin gue bikin gue muncratin 75 mili-liter air, terus lo Cuma mau bilang itu ke seorang Adzra Binandra?" Tanya Rara pura-pura kaget.

"Hehehe.. tapi bener deh. Lo keren banget Ra! Eng, ra gue balik duluan ya!" Dengan begitu saja Fajar ngacir pergi membuat Rara terbengong-bengong.

"Tuh, kan Ra. Kapten sekolah kita yang keren itu aja muji lo," Ujar Thomas tiba-tiba. Lalu perkataan Thomas tadi berlanjut ke tertawaan ngakak yang tidak bisa ia tahan. Rara –yang baru sadar- setelah tadi bengong bertanya-tanya.

"Lo gila, ya Thom?" Tanyanya polos.

"Hahahahahaha lo tadi bengong lucu amat! Posisi lo tuh gini nih" Thomaspun mencontohkan posisi Rara tadi. Mulut terbuka, keringet segede biji jagung, dan megang botol berkapasitas 1L. Dan dibawah botol itu ada air yang menggenang.

"THOMASSSS! AWAS LO YAAA!" Teriak Rara mengejar Thomas yang duluan kabur sebelum tertangkap.

Mind to R)