Valuable Dream

Chapter 8

The Last Chapter

Rara mengepung musuh yang sekarang sedang dribble bola dibantu oleh Sashi. Prina tak tinggal diam. Ia juga mengepung Rara, suapaya teman se-tim nya bisa lolos. Rara tak terima ia 'kalah' pas diblock oleh Prina. Dengan sekuat tenaga, ia berusaha keluar dari block Prina yang ternyata kuat itu. Saat sedang mengeluarkan tenaganya, Prina justru melepas blockingnya ke Rara.

Detik itulah Rara terjatuh. Ia benar-benar tidak siap dengan pelepasan block Prina tadi. Seketika saja hidungnya sukses 'mencium' lapangan. Sebagian penonton berteriak "HUUU CURAAANG!" Wasitpun meniupkan peluit untuk menghentikan permainan sejenak.

2 orang tim medis menghampiri Rara. Keadaannya masih sadar, tapi hidungnya mimisan. Dari pinggir lapangan, Ricky ingin menghampiri temannya itu. Tapi ditahan oleh Kak Surya, "Sudahlah, Ricky. Dia sudah ditolong oleh tim medis. Kamu gak punya hak buat nyamperin dia," Ujar Kak Surya tegas.

Rarapun terduduk perlahan, bangun dari posisi 'sukses-mencium-lapangan-nya'. Ia menghapus darah segar yang keluar dari hidungnya menggunakan kostum timnya yang berwarna biru muda. Darah langsung tercetak dengan jelas. Sedetik kemudian ia bangkit lagi, meskipun agak oleh. Ia melihat kea rah Prian yang sekarang sedang membela diri di depan wasit dan juga pelatihnya.

"Pak Wasit, lanjutkan Pak!" Teriak Rara.

Sang Wasit yang sedang berdebat menoleh ke arahnya. Sebelum meniupkan kembali peluitnya, ia menatap tajam ke arah Prina, "Mari kita lanjutkan!"

Pertandingan pun berlanjut kembali. Seseorang di sudut lapangan memicingjan mata setelah melihat kejadian tadi, "Kasian Rara…" Bisiknya.

.

.

.

Pertandingan berjalan seperti biasa, walaupun Rara sering diganti oleh pemain lain. Setelah kejadian tadi, banyak pemain dari tim Rara yang menatap sinis Prina. Bahkan, ada beberapa orang yang mendorongnya, dan menciptakan foul.

Score sekarang 20-16 untuk tim Rara. Di pertandingan ini Rara mati-matian mengejar bola yang selalu lepas. Kejadian mimisan tadi benar-benar menguras tenaganya. Tiba-tiba ia merasa lemas setelah kejadian tadi.

2 menit terakhir, pemain di tim Rara mengeluarkan semua tenaga yang mereka punya. Score cuma beda 2 bola. Satu kesalahan, bisa-bisa timnya kalah. Sekarang bola di tangan Rara. Prina memblock. Langsung saja bola itu ia pass ke Hanna. Hanna, yang memang jago dribble-pun memulai 'aksi'nya. Dribble kanan, kiri, kanan, kiri. Saat musuh terkecoh, ia mangsung masuk ke daerah pertahanan kubu musuh. Hanna melakukan lay-up. HAP! Masuk! 22-16!

Prina terlihat kewalahan menghadapi Rara yang ternyata masih 'cukup kuat'. Ide licik selanjutnya tergambar di kepalanya. Prina tersenyum sinis. Saat ingin menjalankan misinya, tiba-tiba wasit meniupkan peluit, tanda pertukaran pemain.

"Prina, kamu keluar!" Seru sang pelatih.

Prina bengong. What?! Batinnya. Saat sampai di bangku cadangan, dia ngomel-ngomel, "Kak, gabisa gini dong! Aku kan masih mau main,"

Sang pelatih berbicara acuh-tak acuh karena sedang memerhatikan anak didiknya yang lain sedang bermain, "Yang pelatih itu saya atau kamu?"

"Tapi….."

"Sudahlah, diam saja kamu Prina!" Tegas Sang Pelatih.

Mau tak mau Prina diam. 2 orang teman di sebelah cekikikan melihat kejadian barusan. Prina melototi mereka. Salah satu dari orang ini berkata, "Makanya, kalo main tuh yang fair, jangan kasar,"

10 detik terakhir…..

"10…. 9…."

Rara ngos-ngosan. Baru aja tadi dia ditabrak oleh salah satu musuh. Sekarang ia sedang di posisi untuk melakukan free throw (tembakan bebas dari garis khusus bila salah satu pemain lawan melakukan pelanggaran tertentu)

Dribble 2 kali….. shoot! Masuk!

"8…7….6…"

Shoot yang ke-2…. Dribble 2 kali….

Shoot! KURANG BERUNTUNG!

Tapi karena bola memantul di ring, bola itu kembali lagi ke Rara.

"5…4….3…."

Dengan siap, Rara langsung shoot bola yang ada di tangannya.

"2…1… PRIIIT!"

25-16! Tim Rara langsung berkumpul di lapangan, berebutan untuk memeluk Rara. Rara merasa terharu. Tim mereka masuk ke final! Fantastis!

Setelah tim berpelukan di lapangan, mereka berkumpul di luar GOR untuk briefing.

Setelah memilih duduk di bawah pohon, Kak Surya membuka briefing sore itu, "Selamat Sore. Saya mau bilang selamat atas kemenangan kalian hari ini. Sebelumnya saya mau berterima kasih untuk kalian semua, yang sudah menyempatkan diri datang ke sini. Yaah, walau ada yang telat," Kak Surya melirik ke Rara. Yang dilirik cuma mesem-mesem.

"Kalian keren banget hari ini. Meidina, bagus kamu udah berani untuk steal bola lawan. Hanna, kamu makin bagus dribble-nya. Sashi, bagus kamu udah berani buat nge-shoot, walaupun gamasuk. Rara, kamu bagus punya stamina kuat hari ini. Saya gabisa nyebutin semua skill kalian semua. Yang jelas saya bangga sama kalian. Tos dulu, yuk!"

Mereka semuapun berdiri dan melakukan tos tim bersama-sama. Setelah ini, Rara berniat mengirim surat untuk Thomas.

.

.

.

Selesai berganti baju, Rara menemukan Ricky menunggunya di depan mobil Ricky. Begitu menyadari kedatangan Rara, Ricky langsung menoleh, "Hei, Ra. Selamat ya, lo masuk final!" Ricky memeluknya.

Rara merasa deg-degan. Belom pernah ada cowok yang meluk dia selain papanya, serta Kak Febri. Tubuh Rara rasanya kaku. 2 detik kemudian, Ricky melepas pelukannya.

"Kenapa, Ra?" Tanya Ricky begitu melihat muka temannya ini memerah.

"Ha? Oh, gapapa kok hehehe. Yuk, pulang," Ajaknya.

Sebenernya sih Ricky tau kenapa wajah Rara memerah. Tadi cuma basa-basi doang, hehehe…

Di mobil, Rara senyum-senyum sendiri. Ricky heran juga sih sebenernya. Baru kali ini dia ketemu cewek yang suka senyum-senyum sendiri.

"Kenapa, sih Ra? Tadi mukanya merah, sekarang senyum-senyum. Gara-gara liat muka gue yang ganteng kayak Taylor Lautner ini ya?"

Senyum Rara langsung hilang, "Heeeh enak aja muka lo mirip Taylor! Taylor mah ganteng. Lo? Aduuh, pokoknya jauh deeh, hahahaha,"

Mau tak mau Ricky ikutan ketawa. Taylor Lautner memang idola Rara dari SMP. Sebenernya sih muka Ricky emang mirip Taylor, Pikir Rara.

"Ra, hape lo bunyi tuuuh," Ricky mengagetkan pikiran Rara.

Rara segera mengecek hapenya. Ada sms.

Ra, besok kan libur. Bisa ketemu di café deket komplek rumah lo ga? Ada yang mau gue omongin. Jam 8 gue tunggu. Prina.

"Siapa, Ra?" Tanya Ricky ketika melihat dahi Rara mengekrut membaca sms itu.

"Ini, si Prina tiba-tiba ngajak ketemu. Besok. Kira-kira dia mau ngapain, ya Rick? Gue takut dia mau bales dendam, nih," Jawab Rara sambil menunjukkan hapenya. Karena lagi lampu merah, jadi Ricky bisa membaca sms tersebut.

"Bales dendam? Emang lo ngapain dia? Adanya juga lo yang bales dendam. Dia tadi udah bikin lo mimisan,"

Rara menggelengkan kepalanya, "Kalo kejahatan dibalas kejahatan, berati gue jahat juga dong? Kapan dunia bisa damai?"

"Iya juga, sih. Gini deh, kalo lo penasaran, besok gue bisa anterin lo ke sana, terus gue temenin 15 menit. Gimana?" Ricky memberikan penawaran.

"15 menit?" Rara memastikan.

"Iya, besok gue ada acara keluarga,"

"Hmm… boleh, boleh. Itu bagus. Tapi apa ga ngerepotin? Dari rumah lo, ke rumah gue, ke café, terus ke rumah lo lagi,"

Ricky tersenyum. Senyuman khasnya, "Enggalah, tenang aja, Ra,"

"Okeoke. Makasih, ya Rick. Ohya, masa semalem gue mimpiin Thomas, Rick!" Rara bercerita dengan berapi-api.

"Hm? Terus dia bilang apa di mimpi lo?"

"Dia bilang gini: 'Ra, gue bener-bener makasih lo udah mau usaha sejauh ini. Kalo lo mau nerusin, boleh. Kalo enggak juga gapapa. Makasih banget ya buat semuanya!'"

"Kok kayanya horror banget, sih Ra?"

"Iyanih. Tapi untungnya sekarang ga ada tanda-tanda aneh kayak dulu lagi. Besok pagi gue mau ke makam Thomas. Udah lama gue ga ke sana,"

"Ikut dong!" Ricky antusias.

"Lho? Mau ngapain?"

Ricky tersenyum penuh arti, "Engga, ga ngapa-ngapain. Mau ikut aja,"

Rara cuma manggut-manggut

.

.

.

Hari Rabu. Hari ini libur nasional. Cuaca di pagi hari adem, sehingga membuat siapapun tertidur lebih lama. Kecuali Rara. Sejak pukul 5.30 tadi ia udah sibuk menulis sesuatu di kertas warna kuning. Ia menggunakan jeans hitam dan cardigan hitam.

Begitu selesai menulis sesuatu itu, ia langsung turun ke bawah untuk sarapan. Terlihat di sana mamanya sedang mengoles selai.

"Papa mana, ma?" Tanyanya.

"Masih tidur, Ra. Semalem abis nonton bola sama kakakmu," Jawab mamanya sambil mengoles selai kacang, selai favorit Rara.

"Ooh gitu. Mah, aku izin ya mau keluar sama Ricky. Mau ke makam Thomas, abis itu mau ketemu temenku. Boleh, kan ma?"

"Kamu ini, jalan-jalan terus, sih? Yasudah, boleh. Sarapan dulu, ya. Nih rotinya," Mama menyodorkan roti yang sudah dilapisi oleh selai kacang itu.

"Yeey makasih maa,"

10 menit kemudian Ricky datang. Ia datang dengan baju hitam-hitam, sama seperti Rara. yang membedakan adalah Rick pake kacamata hitam, hehehe…

Rara yang buka pintu terpana sesaat, "Rick, kita mau ngelayat, bukan mau ke pantai!"

Ricky cekikikan, "Hahaha, tau, kok Ra. Kan biar keren, hehehe. Tapi gue udah keren dari sananya, sih,"

"Idiiiiih geer banget deh! Yuk berangkat. Nanti keburu siang,"

Merekapun masuk ke mobil. Karena masih pagi, jadinya jalanan sepi. 15 menit kemudian mereka sampai di pemakaman. Rara merasa agak merinding. Tiba-tiba saja Ricky menggenggam tangannya, "Yuk, Ra,"

Rara hanya bisa diam sambil mengatur detak jantungnya yang lagi berdetak tidak teratur.

Langkahnya pun berhenti. Rara langsung berjongkok di sebelah makam, lalu diikuti Ricky. Mereka sama-sama berdoa untuk yang terbaik buat Thomas. Setelah itu, Rarapun menaburkan bunga yang warnanya merah muda. Setelah itu, ia meninggalkan sepucuk surat di atas pemakaman Thomas. Rara berjalan duluan, sementara Ricky berbisik, "Gue minta izin jagain dia ya, Thom. She's cute,"

"Ricky, ngapain siiiiiih? Ayooo Prina udah nunggu nihhhh!"

Mendengar suara itu, Ricky berbisik lagi, "Tuhkan, lucu kan?" Sedetik kemudian ia berlari mengejar Rara yang sekarang sudah ada di samping mobil.

Angin yang cukup kencang berhembus, membuat sepucuk surat itu terbang.

Dear, Thomas

THOMAAAAAAAS! GUESS WHAT?! Tim gue masuk FINAL! F-I-N-A-L! YIPPEYYYYYY keren kaaaaaan? Kemaren malem gue mimpi lo berkata sesuatu pad ague. Apakah itu lo? Apakah itu lo yang nulis di buku menu? Apa bener yang di bilang Rino tentang lo ada di belakang gue?

Tenang aja, Thom. Pokoknya gue bakal berusaha bikin mimpi yang sangat bernilai lo itu terwujud. Lo sahabat yang terbaik buat gue, Thom. Banyak pengorbanan yang udah lo kasih ke gue. Inget pas lo berantem sama Bobi gara-gara Bobi gangguin gue? Hasilnya? Lo babak belur. Hahahaha lo lucu banget deh kalo memar-memar gitu :3

Baik-baik Thom!

Your bestfriend,

Adzra Binandra

.

.

.

Ketika sampai di café, Rara langsung mencari keberadaan Prina. Tidak susah mencarinya karena café pagi itu sepi. Lagipula Rara memang hapal ciri-ciri fisik musuhnya itu. Gimana enggak? Kalo dia melihat Prina sekilas di sekolah, pasti dia langsung cari jalan lain biar ga papasan sama cewek itu.

"Itu Prina, kan? Yuk, samperin,"

Mau tak mau Rara merasa deg-degan juga. Deg-degan karena bakal ngomong serius sama Prina, juga karena Ricky. Eh?

"Hai, Ra," Prina menyapanya ketika mereka sampai di meja yang di duduki Prina.

Rara hanya tersenyum kaku, "Hai, Prin,"

"Langsung aja, ya. Sebenernya apa sih tujuan lo ajak gue ketemuan di sini?" Tanya Rara to the point.

Prina terlihat gelagapan menjawabnya, "Uhm.. sebenernya gue mau buat pengakuan. Kemaren itu gue sengaja bikin lo jatoh. Sekarang gue mau minta maaf, Ra. Seterah sih lo mau maafin gue atau engga,"

Prina berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "Gue iri Ra, sama lo. Lo punya sahabat kayak Dian dan Thomas. Lo cantik, lo pinter, jago basket pula. Lo tau kan, gue itu gapunya temen, Ra! Gue…. Gue bener-bener mau punya kehidupan kayak lo. Akhirnya gue bersikap jahat sama lo, suapaya lo ngerasain apa yang gue rasain. Gue…" Air mata mulai membasahi pipi Prina.

Rara merasa kasihan. Iapun duduk di sebelah Prina dan memeluk musuhnya itu, "Iya, gue ngerti Prin. Gue ngerti. Gue maafin lo, kok. Udah lama, malah,"

Prina melepaskan pelukannya, "Tapi gak pantes banget gue kayak gini. Gue jahatin lo, lo ga bales. Eh tiba-tiba gue minta maaf. Gak pantes banget ya?"

"Udah, gapapa. Yang berlalu biarlah berlalu, Prin," Ujar Rara, bijak.

"Jadi kita sekarang temenan nih?" Tanya Prina penuh harap.

"Yaa… kalo lo gabakal kayak dulu lagi gapapa kok. Hahaha, gadeeeng,"

Merekapun berpelukan. Lagi.

Setelah itu, Prina dan Rara bertukar cerita layaknya 2 orang sahabat lama. Di tengah obrolan, Ricky menyela, "Ra, bisa ngomong sebentar di luar?"

Rara yang sedang cekikikan langsung terdiam, "Oh, okeoke. Bentar, ya Prin,"

Di luar, matahari langsung terasa di kulut mereka. Ricky garuk-garuk kepala.

"Uhm….. Ra," Panggilnya.

Rara yang sedang mencoba melindungj wajahnya dari sinar matahari menoleh, "Ya?"

Hening sesaat. Mereka memilih duduk di bangku yang berpayung, supaya sinar matahari tidak terlalu terasa.

"Gue….."

Rara menoleh ke Ricky. Sorot mata Ricky terlihat malu-malu.

"Gue sayang sama lo, Ra,"

Kata itu membuat Rara membeku. Kata-kata yang selalu ia impikan keluar dari Pangerannya di Negeri Dongeng. Dan sekarang, mimpi itu terjadi dengan sungguh-sungguh?

"Ap.. apa, Rick?" Rara memastikan.

Sepertinya Ricky terlalu malu untuk mengucapkannya lagi, "Ah, enggak. Gue cuma boongan, kok, hehehe," Ricky salting.

"Sayang beneran juga gapapa, kok Rick," Ujar Rara, sambil tersenyum

Ricky menoleh, bengong sesaat.

"Serius?" Tanyanya, setelah bengongnya selesai.

"Ngapain gue boong?" Tanya Rara balik.

Ricky langsung memeluk Rara dengan lembut, "Thank's, Ra,"

"Urwell, Rick. Eh, lo udah mandi belom sih?" Tanya Rara tiba-tiba. Ia langsung melepas pelukannya.

Ricky nyengir kuda, "Hehehe, abis lo minta jemputnya pagi doang sih,"

"Jawab dooong, udah mandi atau belom?" Rara mulai menutup hidungnya.

"Belom hehehe. Tenaaang, udah pake parfum yang banyak, kok!"

"Hiiii dasar Kyba!" Rara berlari menjauhi Ricky.

"Apaan, tuh Ra?" Ricky memicingkan matanya.

"RICKY BAUUU! HAHAHAHAHA,"

"Awas, ya Ra! Gue ceburin ke got, loh! Hahahaha,"

Merekapun kejar-kejaran di jalanan. Dari dalam café, seseorang tersenyum sambil berkata, "Ada-ada aja sih,"

Sementara itu, di suatu tempat yang tidak di ketahui keberadaannya, seseorang berkata, "Ternyata cinta itu bisa diraih di tengah usaha meraih mimpi, ya,"

.

.

.

7 tahun kemudian…..

Di sebuah rumah, seorang pemain basket professional wanita terlihat sedang memandikan bayinya.

"Andi, nanti kalo kamu udah gede, kamu harus raih mimpi kamu dengan sungguh-sungguh ya!" Ujar pemain basket wanita tersebut.

Sang bayi –yang bernama Andi– hanya tersenyum mendengar apa yang dikatakan ibunya.

"Raraaa, cepet dong mandiin Andi-nya. Aku kebelet niiiiiih!" Teriak seseorang dari dalam kamar.

"Kamu pipis di botol aja, Rick! Hahahaha," Canda pemain basket wanita yang dipanggil 'Rara' itu.

Tidak tahu kenapa, Andi –sang bayi– ikut tertawa.

"Mana mungkin bayi yang umurnya 1 bulan ngerti candaanku? Wah, aneh, nih.." Bisik Rara.

"Ra, kamu sarapan dulu, deh. Yang mandiin Andi aku aja. Oh, ya tadi pas kamu masih tidur ada telepon dari Pak Ketua. Katanya kamu di undang main di pertandingan internasional itu," Tiba-tiba seseorang yang tadi berteriak dari kamarpun masuk. Ia adalah Ricky, suami Rara.

"Yaudah, nih. Tinggal dibilas kok. Inget, ya jangan kena mata. Aku mau makan dulu, yah," Sang pemain basket wanita ini pun menggendong bayinya dan menyerahkan kepada Ricky.

"Selamat mandiin Andi, Kyba! Alias Ricky Bau! Hihihihi,"

Sekarang quote life is beautiful bener-bener gue rasakan. Gue punya keluarga bahagia, dan gue udah raih mimpi lo, Thom! Batin Rara.

THE END

YEAAAAAAY AKHIRNYA SELESAI JUGAAAA \=D/ TERIMA KASIH SUDAH

MEMBACAAAAAAAAAAAAAA:D

*sebenernya bingung mau endingnya gimana. Setelah dipikir, akhirnya jadilah ending seperi ini heheheheeh*