"Aku mau ke tempat yang lebih tinggi. Lebih tinggi, lebih tinggi, lebih tinggi."

"Tapi ini gedung tertinggi di kota ini. Lantai dua puluh. Kau masih tidak puas?"

"Nope."

"Memangnya kau mau bangunan berapa lantai?"

"I don't know. Lima puluh? Berapapun deh, asalkan mencapai bulan."

"Ya ampun. Kau tidak pergi ke tempat terapismu, ya?"

"Tidak. Di sana membosankaaaan. Lagipula suaranya Bu Rina menjengkelkan."

"Oh. Pantas kau tambah gila."

"Hei! Aku ini normal!"

"Yeah, yeah."

"Kau menjengkelkan."

"Aku memang menjengkelkan."

"Babi."

"Terserah deh."

"Baaaabiiiii."

"Ya Tuhan, stop. Kalau kau terus begitu, aku tidak akan memberimu bir."

"Kau bawa bir?! Gimme, gimme!"

"Aku akan memberimu bir kalau kau pergi ke kantor Bu Rina, oke?"

"Oke."

"...Hei. Apa kau sudah merasa duduk di tempat yang tinggi?"

"Yep. Bir memang satu-satunya hal yang membawa kita ke angkasa."

"Damn right."