Aku berbaring di atas tempat tidur, menatap lekat-lekat langit-langit tanpa glow-in-the-dark tertempel di atasnya, sesekali melirik ponsel yang tergeletak di sampingku. Sudah ku-charge sampai penuh, menanti pesan darimu masuk, mengucapkan selamat tidur seperti biasanya, meski sepertinya hari ini harus berakhir dengan kekecewaan.

Aku berusaha berpikir kalau kau hanya tertidur di atas meja belajar dengan tumpukan PR, yang menguras tenagamu, bukan karena kau menemukan gadis lain untuk dikirimi SMS dengan emoticon yang lucu di akhir pesan.

Aku berusaha berpikir bahwa ini semua hanyalah mimpi; ketika aku membuka mata, yang muncul di hadapanku hanyalah wajah tidurmu, masih mengerang untuk tidak dibangunkan.

Aku berusaha berpikir kalau aku sama sekali tidak merasakan sepi.

Aku berusaha berpikir bahwa kamarku sama sekali tidak dingin.