Fake of Test © MizunaRaira

Warning : AU, typo(s), (miss)typo(s), Gaje, alur kecepetan, dll

Don't like? Don't read. Jangan paksakan kalian untuk membaca fic ini. tombol close di pojok atas sangat menawan untuk di-klik. Ingat itu! #plak/dor/dibunuh

.

.

~Fake of Test~

.

.

"Perwakilan dari kelas IPA 1 kan?" tanya seorang sensei beriris hazel ketika ia melihat dua orang anak didiknya berjalan mendekat ke arahnya.

Ia menghentikan aktivitas mengobrol dengan sensei di sebelah tempat duduknya. Kedua tangannya bertopang dagu dengan tatapan tajam khasnya—sangat mencirikan ia salah satu dari daftar gulu killer di Kirin High School.

"Hn," jawab salah seorang dari mereka. Walaupun jawaban tersebut ambigu namun dapat diartikan sebagai jawaban 'ya' karena ia sertai dengan anggukan kecil.

"Jam pelajaran sekarang saya tak bisa masuk ke kelas. Saya hanya akan menugaskan kalian untuk membuat presentasi dari kerajaan-kerajaan Jepang. Untuk itu, pilih salah satu dari gulungan kertas ini," papar Narumi—nama sensei itu—sembari mengambil dua buah gulungan kertas yang telah disediakan sebelumnya. Tanpa pikir panjang lagi lelaki beriris crimson mengambil salah satunya disusul oleh gadis pirang di sebelahnya.

Mereka membaca beberapa kata dalam kertas tersebut lalu menaruhnya kembali di atas meja Narumi.

"Kalian paham kan? Jam pelajaran minggu depan akan dipresentasikan. Persiapkan dari sekarang."

Dua buah anggukkan dari orang berbeda gender mengakhiri percakapan antara sensei dan muridnya. Keduanya mohon pamit dengan sedikit membungkukkan badan. Mereka berdua melangkah pergi dari ruangan bertuliskan Teacher's Room di atas pintu masuknya.

Jarak dari ruangan guru ke kelas XI IPA 1 cukup jauh. Melewati lapangan upacara, aula, dan lapangan basket. Namun, keheningan melanda keduanya. Tak ada yang memulai percakapan. Desiran angin sedikit terasa di tengah panasnya mentari yang menyengat.

Entahlah, mereka selalu saja bergulat dengan alam pikirannya masing-masing. Mereka adalah dua orang bertipikal sama—pendiam. Pantas saja sangat sulit untuk memulai suatu pembicaraan. Sementara itu, tiba-tiba terpetik sebuah ide dari Sang pemilik rambut hitam pekat. Seringai penuh makna terlukis di wajah stoic-nya.

Tanpa disadari oleh Ryu, gadis di sebelahnya sedikit mengangkat alis kanannya. Ia heran dengan Ryu yang tiba-tiba menunjukkan sebuah seringai. Ia memutar otaknya. Memikirkan apa yang akan Ryu perbuat. Masalahnya, ia tahu sikap Ryu. Saat ini pasti ada sesuatu yang sedang dia rencanakan. Tapi rencana apa?

Beberapa meter telah mereka lewati. Saat ini mereka berdua berjalan beriringan melewati tengah lapangan basket—jalan memotong untuk menghemat waktu karena kelas XI IPA 1 tepat berada di sebrangnya.

Tatapan dari sebagian siswa IPA 1 terlempar ke arah mereka berdua dari jendela lebar kelas. Mungkin mereka bertanya-tanya kenapa Narumi-sensei menyuruh dua orang perwakilan kelas untuk menghadap ke arahnya. Bahkan ada yang menyangka mereka di sana ulangan secara lisan—seperti kebiasaan Narumi menggunakan sistem ulangan seperti itu. Namun beberapa kali pun pernah ulangan secara tulis—.

Tap tap tap

Ryu menaiki tiga anak tangga mendahului Ami. Saat ia masuk terlebih dahulu ke dalam kelas, pertanyaan-pertanyaan langsung memburu mereka berdua.

"Hei Ryu, tadi bagaimana?"

"Narumi-sensei memberi tugas atau apa?"

"Guru killer itu tak akan masuk kan?"

"Bla bla bla."

Begitu banyaknya pertanyaan namun diacuhkan olehnya. Kelas menjadi riuh dengan argumen-argumen sehingga Sang Ketua Kelas berdiri. "Diamlah! Biar mereka yang berbicara sendiri!" titah Sang KM yang langsung dituruti oleh seluruh siswa. Mereka semua mengunci mulut mereka untuk menyimak sebentar—walau masih ada saja yang berbisik-bisik.

"Narumi-sensei mengatakan sekarang akan ada ulangan tes tulis. Lima belas menit dipakai untuk menghapal dan ia akan kembali lagi ke sini," paparnya dengan nada tegas dan datar—seperti biasa. Ia berjalan ke arah bangkunya—di samping lelaki berambut coklat jabrik.

Ami tak langsung beranjak. Ia terdiam sebentar lalu berjalan pelan ke arah bangkunya sambil menatap ke arah Ryu. Ia bingung. Bukankah Narumi-sensei tak berkata demikian?

Seolah dapat membaca apa yang ada dipikiran lelaki itu, ia menyunggingkan senyum tipisnya—namun tak terlihat dengan jelas. Ia berjalan ke tempat duduknya.

Kelas menjadi gaduh. Tak percaya apa yang dikatakan oleh Ryu. Namun, banyak juga yang percaya dan langung membuka lembaran buku sejarah.

"Ini tak mungkin. Kau bohong kan Ryu?" Suara penyangkalan dengan nyaring reflek keluar dari mulut sahabat karibnya.

"Hn," jawab Ryu singkat tanpa mengalihkan pandangnnya pada buku paket sejarah yang saat ini ia baca. Ia bisa saja memasang ekspresi sedatar itu walau di hatinya ia tertawa.

"Iya atau tidak?" tanya Kozo kesal. Ia begitu gusar saat ini. Masa ulangan lagi? Setelah dua minggu lalu ulangan lisan dengan nilai di bawah standar.

"Terserah kau mau percaya atau tidak. Bukan urusanku." Ryu menjawab begitu acuh. Seolah ia tak ingin diganggu saat ini.

"Oh tidaakk...," erang Kozo frustrasi. Ia mengacak-acak rambut coklatnya—membuat beberapa pasang mata melirik ke arahnya.

Tak beda jauh dengan Ryu. Saat Ami duduk di tempat biasanya, langsung saja teman sebangkunya bertanya. "Benarkah itu Ami-chan? Jangan bilang kalau Ryu tak berbohong."

Ami mengangguk pelan dan menatap ke arah gadis bersurai kuning pucat di sampingnya. "Iya. Narumi-sensei berkata tak jauh beda dari Ryu."

Ami, kau juga ikut ke dalam sandiwaranya eh?

"Jadi itu memang benar. Oh my God!" tanggap gadis bermanik aquamarine di depannya. Ekspresinya begitu terkejut. Setelah itu ia berbalik arah menghadap mejanya dan mengeluarkan buku paket sejarah dari dalam tas.

Waktu terus berjalan. Semua siswa di kelas sangat sibuk. Ada yang membaca dalam kesunyian—seperti Ryu dan Ami. Membaca dengan menggerakkan bibirnya, membaca nyaring, atau bahkan ada yang mencatat di lembaran-lembaran kertas mungil.

Lima belas menit telah berlalu. Suasana kelas yang sempat hening beberapa menit kembali gaduh. Mereka semua gelisah.

Satu menit

Dua menit

Tiga menit

Narumi-sensei tak juga datang. Keheranan melanda seluruh siswa. Biasanya guru killer tersebut selalu on time. Tidak ngaret lebih dari semenit.

"Kenapa Narumi-sensei belum juga datang?" tanya Sang KM. Ia sendiri percaya-percaya saja dengan kabar dari Ryu. Sehingga materi yang saat ini ia pelajari telah masuk ke dalam berkas-berkas di memori otaknya.

"Iya. Dia biasanya suka on time tuh," celetuk salah seorang siswa menanggapi.

Desas-desus mulai merebak di seluruh siswa. Ryu sendiri membalikkan tiap lembar buku sejarah. Sebenarnya dia ingin sekali tertawa melihat tingkah-tingkah dari reaksi keterlambatan Narumi—yang sebenarnya memang tak akan datang.

'Dasar bodoh. Sampai jam istirahat pun dia tak akan datang,' inner-nya bersorak.

"Gempar! Gempar! Kita telah dibohongi!" Tiba-tiba Kozo berteriak bak toa hingga suaranya terdengar oleh seluruh murid.

Semua mata langsung saja tertuju padanya. Tentu saja mereka heran. Dibohongi dalam hal apa?

"Apa maksudmu heh Baka-Kozo?" tanya salah seorang temannya.

"Tentu saja tentang ulangan itu. Narumi-sensei jelas-jelas tak akan datang! Dia hanya menugaskan kita untuk membuat presentasi kerajaan Jepang." Kozo berdiri dari duduknya untuk membuat pandangan semua temannya tertuju padanya dan memperhatikan hal penting yang ia sampaikan.

"Kau tahu dari mana itu?"

"Benarkah Ami?"

"Ryu berbohong?"

"Dari kelas lain. Mana mungkin ia mau mengaku. Kau jahat Ryu. Kau juga Ami. Susah payah aku membaca lembaran buku paket, eh malah dikibulin." Kozo berusaha meyakinkan teman-temannya yang belum memercayainya.

"Ryu, Ami, benarkah itu?" Akhirnya Ketua Kelas yang melontarkan pertanyaan langsung kepada duo utusan kelas. Semua pasang mata menatap tajam ke arah mereka.

"Hn." Seperti biasa, ia memberikan jawaban khasnya.

"Sampai kapanpun kau tanyakan padanya, hanya kata ambigu itu yang keluar, Shihiko." Teman sebangkunya yang merasa kesal ikut menanggapi. Bibirnya sedikit mengerucut.

"Ano. Tapi tugas itu untuk minggu depan. Jam sekarang Narumi-sensei tidak akan datang." Dengan susah payah ia berusaha menjelaskannya. Arah pandangannya ia tundukkan karena tak berani menatap berpuluh pasang mata yang saat ini menatap tajam dirinya.

"Wah wahhh~ kalian sekongkol yaaa~ tak kusangka loh, Ami-chaann~" ucap teman sebangkunya dengan nada menggoda. Ia mengangkat dagu Ami pelan untuk menatap iris jade-nya.

"Ti-tidak, bukan begitu." Ami merasa gelagapan. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dan menyingkirkan tangan temannya itu dengan pelan dari dagunya.

"Atau jangan-jangan... ada sesuatu nih di antara mereka." Rupanya Kozo malah ikut menanggapi. Ia menatap ke arah Ryu lalu ke arah Ami.

"Kyaaa..." Beberapa fans girl Ami terkejut mendegar hal itu dan menjerit histeris.

"Suit suit..."

"So sweeet~"

Ryu yang tadinya diam kini melirik ke arah teman-temannya yang memandang ke arahnya—sebagian mengarah pada Ami. Bagaikan menginginkan sebuah kepastian. Berbeda dengan Ami. Rona merah mulai menjalar ke pipinya. Jantungnya mulai berdetak tak karuan. Ia penasaran, apa yang akan Ryu jawab?

"Tidak," jawab Ryu dengan nada sedatar mungkin—karena memang kondisi sekarang ia agak sulit untuk membuat ekspresi dan intonasi yang datar—.

"Bohong! Kau berbohong kan Ryu~?" Kozo terus saja menggoda dirinya.

"Sudah aku katakan tidak!" tegas Ryu. Nadanya sedikit meninggi dari biasanya.

"Sudahlah Kozo, kau jangan terus menggodanya!" seru salah seorang siswa yang duduk di belakang bangkunya.

"Huh, ya sudahlah. Lebih baik aku pergi ke kantin." Ia beranjak dan pergi ke luar kelas. Suasana kelas yang sempat heboh kini mulai seperti biasa.

Ami menanggapi itu dengan tersenyum simpul—namun tipis. Ya, hubungan mereka tak perlu ada yang tahu. Sudah cukup untuk dia, Ryu, dan Kami-sama yang mengetahuinya. Lagipula, cinta hanya perlu saling memahami hati dan pikiran masing-masing.

.

.

.

.

.

.

_OWARI_

A/N :

Buahahaha, fic ini gaje banget. Ini dari pengalamanku loohh *gak nanya*. *Ini juga sebenarnya aku publish di FFn*. Cuman ada yag bedanya. Perwakilannya itu tiap banjar. Jadi 4 orang deh. Nah, pas di tengah-tengah lapang basket, salah seorang dari kami (sebut aja si A) tiba-tiba bilang "Eh bilang aja ulangan. Tapi disuruh menghapalkan dulu lima belas menit." dan kami semua setuju. Pas masuk ke kelas, temanku si B yang nyampeinnya dengan wajah cukup serius. Tapi tampak olehku ia mati-matian nahan ketawa. Wkwkwkwk. Aku sih langsung duduk ke kelasku dan ketawa. Untung aja gak pada nanya ke aku, malah ke tiga orang temanku itu yang banyak ditanyain. Eh sayang, rencana gagaaall... si A malah membocorkannya! Dia ngaku tuh. Jiaahh... padahal seru liat orang-orang pada panik, xD. Akhirnya malah pada ngelakuin hal-hal gaje deh...

Lho? Malah curcol. Wkwkwk... gak papa lah... *ditimpuk reader*

Umm~ udah ah, gak mau banyak cincong lagi. Review pleaaassseee... *puppy eyes*

Sign,

Abendstern Scheint a.k.a MizunaRaira

[Finished : 10 September 2012]

[Published : 10 September 2012]

Sum : Saat jam pelajaran sejarah, Kurenai-sensei menyuruh dua orang perwakilan XI IPA 1 untuk menghadapnya. Ia menugaskan untuk membuat presentasi tentang kerajaan Jepang. Tapi, Sasuke merencanakan hal lain. Hinata pun ikut andil di dalamnya./AU/a little bit of romance/ONE SHOT/RnR?