"Baiklah, daah ibu… Sampai jumpa liburan natal nanti," Seorang gadis berambut hitam lurus menenteng kopernya keluar dari mobil sedan ibunya. Ibunya, seorang wanita yang sedang menyalakan sebatang rokok di dalam mobil, hanya tersenyum tipis. Wanita itu meng-gas mesin mobilnya.

"Okay, dear. See you soon," dan semenit kemudian, mobil sedan berwarna hitam itu telah meluncur meninggalkan gadis tadi.

Akina Hitomi–nama gadis itu— menghela napas, dan, dengan segenap kekuatan yang ia miliki, ia mengangkat koper besarnya memasuki pelataran "Atarashi no Shibusawa Gakuen", sekolah berasrama yang tersedia dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, yang akan ditempatinya…


LyssStillDoll Present

AniSa Gakuen

LyssStillDoll

AniSa Gakuen=Atarashi no Shibusawa Gakuen


"Ahh, permisi. Apa kau tahu di mana kamar nomor 17.508? Aku murid baru di sini dan—"

"Ahh, murid baru rupanya," seorang senior perempuan berambut hitam jabrik –seperti lelaki, yeah, Akina menyadari itu—menyela. Pandangan mata onyx-nya menyiratkan keangkuhan.

"Kau mungkin bisa diantar oleh adikku. Dia juga baru disini, tapi sudah hapal beberapa denah ruangan sekolah ini. Sebentar ya. CISSY!" Akina menunduk begitu senior yang lebih tinggi darinya itu berteriak memanggil seseorang yang –sepertinya—adiknya. Kini, Akina dapat merasakan keberadaan seorang lagi di depannya. Akina segera menengadahkan kepalanya dan menjumpai satu sosok baru. Seorang gadis –yang lebih pendek darinya—berambut hitam-ikal menyapanya dengan cengiran ceria.

"Siapa dia, 'Rin?" gadis –yang Akina duga bernama Cissy—itu bertanya pada senior tadi.

"Tolong tunjukkan kamar asrama nomor 17.508, dia murid baru sepertimu dan—"

"Oke, aku mengerti. Ayo, silahkan ikuti aku," Cissy berkata layaknya seorang pegawai hotel.


Kini, Akina telah merebahkan diri di kamarnya. Rupa-rupanya, ia sekamar dengan Cissy dan seorang senior. Sedikit-banyak hal yang kini ia ketahui tentang Cissy. Cissy mempunyai nama asli Chissiana Rosea, dan senior perempuan berambut jabrik tadi itu adalah kakak sepupunya, yang bernama Miyuki Asabuki, dan terkenal sebagai pembuat onar bersama sepasang kembar jahil dari kamar lainnya.

Akina memejamkan matanya, mencoba merilekskan tubuhnya, dan selanjutnya, alam mimpi telah menguasai Akina sepenuhnya.


Di depan gedung aula Atarashi no Shibusawa Gakuen, ada sebuah kolam air mancur yang lumayan luas, yang dikelilingi oleh taman. Taman inilah yang disebut taman utama di Atarashi no Shibusawa Gakuen. Dan, di sinilah seorang Keystar Ferencia berada. Ia mengenakan kemeja putih polos serta berdasi biru gelap lalu ditutupi oleh sebuah blazer berwarna biru abu-abu, di dada blazer itu lambang huruf A besar, huruf n kecil terbalik, huruf S besar yang mirip seperti gambar ular, dan dibawahnya ada logo sekolah itu, dengan tulisan gakuen melingkar di bawah logo itu—dan tidak lupa sebuah syal manis yang menyelimuti dirinya di musim dingin ini.

Gadis kelas 2 SMA ini merapatkan syalnya, dan mulai menggosok-gosokkan kedua tangannya, ketika kemudian seseorang berada di sebelahnya. Dia—

"Ohayou, Ferencia-san! Wah, namamu susah diucapkan yah," cerocos Imut Atiet, teman akrab Keystar. Keys tersenyum, meski tampak terpaksa karena bibirnya yang memucat kedinginan.

"Ahh, ohayou juga, Imut, dan—berapa kali kubilang? Panggil aku Keys saja. Kau membuatku tak enak hati, tahu," Keys membalas ucapan Imut dengan ramah.

"Hei semuaa! Kalian bagaimana kabarnya? Kemarin liburan pergi ke mana? Aku kemarin pergi ke Inggris, tahuu~" Sebuah suara tanpa diundang menyeruak di antara percakapan kecil mereka, membuat Imut mengerutkan keningnya kesal, dan Keys yang tertawa kecil.

"Keira, kau yakin kau hanya ke Inggris? Weh, aku shopping di Perancis!" Imut berkata agak berang—dengan nada menyindir, sementara Keira Naph, gadis tadi, membelalakkan matanya—seolah menganggap jawaban Imut adalah tantangan untuk pamer.

"Hei, satu-satu ceritanya, oke?" Keys menyela dengan nada santai, berusaha menengahi, meskipun dalam hati sudah takut bila mereka akan berkelahi seperti tahun lalu.

"Dan, Keira, kemarin saat liburan aku hanya di rumah. Well, menghabiskan waktu liburan dengan keluarga itu tidaklah buruk," lanjut Keys dengan ramah. Keira memasang wajah ganas terhadap Imut.

"Oh, begitu. Kemarin, selain ke Inggris, aku juga pergi ke Sapporo. Di sana menyenangkan. Aku juga pergi ke—"

"Aku pergi Australia, kalau kau mau tahu, Ferencia-san. Kau tahu bahwa ada sanak saudaraku—"

"Aku kemarin juga di ajak ibu pergi ke Canada. Aku suka kota—"

"Ahh, aku kemarin juga pergi—"

"Aku mengunjungi nenekku yang ada di Belan—"

Keys memutar bola matanya bosan. Beginilah bila Imut dan Keira bertemu. Saling tengkar dan saling membual—tentang hal apapun—dan itu membuat Keys pergi dari antara mereka dan memutuskan untuk memasuki asrama SMA.


Zero Bound melirik malas junior yang ada di depannya, Rein Yatoshi, yang sedari tadi merengek-rengek padanya. Oke, Zero seorang prefek, dan itu haknya untuk menyita sebuah komik bila adik kelasnya membaca komik di saat yang tidak tepat.

"Kumohon, kak… Komik itu ku sewa dengan mengumpulkan uang sakuku sendiri… Kumohon kak," Rein setengah menangis, membuat pemuda kelas 2 SMA itu ingin memutar bola matanya.

"Kh… Menyebalkan," gumamnya sangat pelan. Raven William, prefek yang menjadi rekannya hari ini, malah sudah memutar bola matanya dengan bosan berkali-kali. Sejujurnya, Zero sangat ingin menyita komik itu, supaya komik itu dapat dibacanya. Raven juga sependapat, namun, tentu saja dengan alasan yang berbeda. Tapi, mendengar Rein yang merengek-rengek dari lima belas menit yang lalu, membuatnya sebal karena Rein ini sangat berisik –dan sejujurnya, ia tak menyangka bahwa juniornya segigih itu untuk meminta komiknya kembali.

"Zero, serahkan saja kalau begitu," bisik Raven, dengan nada jengah. Zero melirik Raven sekilas, kemudian mendecih keras-keras. Dengah berat hati, ia memberikan –melemparkan, tepatnya—komik milik Rein kepadanya, dan langsung berlalu secepat mungkin menuju Aula, meninggalkan Raven di belakangnya.


"Permisi, kak? Apa tahu di mana letak perpustakaan? Temanku ini ingin ke sana dan, kuharap, kalian sebagai prefek, mau mengantar kami ke sana," suara lemah seorang gadis menyapa pendengaran Akina dan Cissy ketika di kantin, membuat keduanya mau tak mau menoleh ke sumber suara. Meja nomor 12, seorang gadis cilik beserta seorang bocah lelaki, sedang berusaha berbicara pada kedua cowok bertampang dingin yang menempati meja itu.

"Pergi ke meja nomor 11, disana ada prefek perempuan bernama Keys yang akan menunjukkan jalannya," seorang dari mereka mencoba menjawab ramah, sementara yang satu lagi memasang tampang ingin membunuh, membuat Akina dan Cissy merinding.

"Terima kasih, kak," dan kedua bocah itu pergi menghampiri seorang gadis cantik di meja nomor 11.

"Zero, kau bisa beli komik seperti itu akhir minggu besok," suara membujuk tersirat dari lelaki yang menjawab pertanyaan kedua bocah tadi. Sementara pemuda yang dipanggil Zero melirik dengan tatapan membunuh, membuat Akina dan Cissy lagi-lagi merinding.

"Tapi komik edisi itu terbit terakhir besok, dan akhir minggu masih lima hari lagi, Rav," bantah Zero, masih mengeluarkan aura membunuh. Raven menghela napas mendengar tanggapan sahabatnya, dan segera menyeruput jus jeruknya, ketika kemudian dia beradu pandang dengan Akina. Buru-buru, Akina terlihat sangat berkonsentrasi dengan lunch-nya.

"Hei, Cissy," bisik Akina, nyaris tak terdengar. Cissy menoleh, meninggalkan sushi-nya sejenak. "Apa mereka prefek?"

Cissy melirik meja nomor 14, dan setelah melihat sesuatu berkilat di dada mereka, Cissy mengangguk pada Akina. "Yeah, lencananya begitu silau," ujar Cissy dengan nada mencibir.

"Halo," sebuah suara bening menyapa Akina dan Cissy, dan sekali pandang saja, mereka tahu itu siapa. Prefek cantik yang menempati meja nomor 11.

"Boleh aku minta sausnya?" gadis tadi berkata ramah sekali, membuat Cissy membeo dan Akina mengangguk sadar-tak-sadar. Setelah menuang saus, gadis tadi langsung bergabung di meja mereka.

"Murid baru ya? Perkenalkan, aku Keystar Ferencia, prefek SMA. Ku harap kalian enjoy di sini. Memang murid-murid SMA agak dingin dengan murid SMP atau SD, tapi, sebenarnya mereka baik kok," Keys menyerocos dengan nada ramah dan senyum menawan, yang sekali lagi membuat Cissy dan Akina membeo kagum.

"Ah!" Akina menyeletuk kaget, setelah sadar dari bengongnya. "Aku Akina Hitomi, salam kenal kak," Akina dengan segera menampilkan senyum terbaiknya, yang ia yakin selama sepersekian detik membuat Keys terkesan.

"Aku Chissiana Rosea, dan cukup panggil aku Cissy. Salam kenal kak," Cissy berkata pendek, nadanya terdengar tidak antusias, membuat Keys gatal sekali ingin menjitak adik kelasnya yang baru.


Hari ini senin. Inilah waktunya para siswa kembali sekolah setelah liburan musim dingin mereka yang –sepertinya—seru. Seperti di sekolah berasrama lainnya, tidak ada waktu bagi mereka untuk pulang kerumah menemui keluarga, kecuali saat liburan sekolah atau bila ada tanggal merah, dan yah—itu sangat jarang terjadi.

Hari pertama masuk sekolah tidak ada jadwal pelajaran, walaupun memakai seragam sekolah tapi hari ini para siswa habiskan untuk istirahat atau bertemu teman-teman. Ada pula yang sibuk mendekam di perpustakaan, hanya untuk mengerjakan tugas mereka –meskipun itu tugas tahun lalu.

"Siang kak!" Rein Yatoshi melambai-lambaikan tangan kirinya di depan wajah seniornya, Imut Atiet. Imut Aiet menengadahkan wajahnya, melepaskan pikirannya sejenak dari rumus-rumus rumit fisika miliknya.

"Ya? Ada apa?" Imut menaikkan sebelah alisnya. Rein tersenyum lebar.

"Aku Rein Yatoshi. Aku ingin bertanya pada kakak, apa kakak tahu di mana buku komik Detective Kindaichi? Komik lama yang—"

"Coba tanya Madam Alicia," sela Imut dengan nada jengah. Dapat dilihatnya wajah Rein memerah malu. Rein membungkuk dalam-dalam sambil berseru "Terima kasih, kak!" dan berlari keluar dari ruang baca.

"Huh," Imut mendengus kecil. Dan saat ia akan kembali berkonsentrasi, pintu ruang baca terbuka, dan menampilkan sosok urakan seorang gadis bernama Miyuki Asabuki.

"Hei. Bagaimana kabarmu?" Miyuki menyeringai. "Tumben-tumbenan kau mau menanyaiku duluan, Imut? Apa kau kehilangan egomu?" Miyuki bertanya dengan nada menyindir, membuat Imut ingin sekali memutar kedua bola matanya.

"Eh, tahu tidak. Barusan, Rein Yatoshi –atau siapapun namanya—mengunjungi ruangan ini hanya untuk menanyaiku. Cara pe-de-ka-te nya jelek banget yah?" Tawa Imut membahana, membuat Miyuki mendengus menahan tawa.

"Rein Yatoshi yang kelas 6 sd itu. Hahaha, dia masih bocah sekali ya. Tingkahnya itu lucu, buat aku ingin tertawa," kata Miyuki.

"Eh, ya, omong-omong, madding di depan perpus dikerubungi banyak orang ,loh. Sudah tahu beritanya belum?" Gossip session, begin.

"Belum," jawab Imut pendek, sambil berusaha kembali membaca buku fisikanya.

"Well, katanya aka nada ball gown, sebenernya bukan pesta dansa betulan sih menurutku, soalnya anak sd juga boleh ikut," Miyuki berbicara pelan. Imut menoleh pada Miyuki.

"Kau serius?"


TO BE CONTINUED


Pojok LyssStillDoll:

Aloha! :D Saya buat ori baru, dan ini terinspirasi dari salah satu fp di facebook. Fp ini baru, jadi kalo mau daftar chara/mau bergaje disini juga oke oke saja #diinjek adminnya#

Nah, sesuai janji di fb, ini udah jadi prolognya, meskipun prolognya masih gaje dan kurang panjang

Nah, well, mind to RnR? :D

Smile,

LyssStillDoll