Boleh Aku Mengingatnya?

Rating: G
Language: Bahasa Indonesia
Status: Oneshot, Complete
Genre: Family, Hurt/Comfort

don't like, don't read.


Akhir itu tidak selamanya indah. Aku tahu karena aku pernah merasakannya. Dan aku terlalu lelah untuk menghadapinya lagi. Tidak, tidak, tidak. Hal yang sama tak boleh menimpaku dan membuatku terpuruk untuk ke sekian kalinya. Aku tidak peduli lagi. Aku tidak mau menangis hanya karena perpisahan pahit tak adil seperti waktu itu. Tidak boleh. Aku tidak mau melihat siapapun terluka mulai saat ini. Cukup aku saja yang terluka. Karena aku—aku ini…-eh aku jadi lupa mau bilang apa. Duh lupa terus nih.

Aku terdiam di kelas karena melamun, bahkan aku tidak mengerti apa yang kupikirkan. Menghela nafas dalam, tangan kanan menopang kepala. Tatapan kosong entah kemana, bahkan aku tak menghiraukan suara berisik anak-anak kelas. Sampai-sampai aku tidak peduli dengan siapapun yang memanggil namaku berulang kali.

"...o?"

"...eo?"

"...Reo?"

"Hmm..." gumam pelan.

"Reo!"

"!" aku terkejut karena merasa ada tepukan ringan di bahuku. Menoleh, ah, rupanya itu temanku, Afrizal. Astaga, kenapa aku sama sekali tidak sadar? "Astaghfirullah, kok daritadi nggak jawab, sih? Hampir aja ditinggalin sendirian di kelas. Udah bel pulang, tau!" terlihat sosoknya mengangkat sebelah alis dan mimiknya tampak kesal.

Aku segera mengerjapkan mataku, "E-eh, maaf tadi melamun sebentar. Sorry, sorry." aku terkekeh pelan. Namun tampang kesal sekaligus heran itu belum terhapuskan dari wajah Afrizal. Umm, apakah ada yang salah denganku?

"Yasudahlah, cepat, biar kita pulang bareng."

Aku mengangguk dan merapikan buku kemudian membawa tasku dan beranjak keluar kelas. Terdengar omelan super panjang yang sama sekali tak terlalu kuperhatikan karena malas. Walau dia marah, aku percaya bahwa dia takkan mau meninggalkanku sendirian di kelas. Aku tersenyum sendiri mengingat wajah paniknya ketika aku tersadar dari pingsanku tempo hari, dia menanyakan pertanyaan berturut-turut sampai aku sendiri bingung menjawabnya. Hahaha, dasar Ical-itu adalah panggilan dariku untuknya.

"...Ngomong-ngomong, udah ngerjain tugas belum?"

Sekali lagi, aku sempat terbengong, "Eh?" butuh beberapa detik untuk mencerna pertanyaan itu, "Ah, tugas... tugas apa ya?" aku ling lung.

Lagi, wajah pemuda disebelahku berkedut, "Ya ampun, tugas Matematika. Aduh, kau ini, biasanya paling rajin kalau pelajaran Matematika. Kok bisa sampai lupa sama pelajaran favorit sendiri?"

"Akh! Aku benar-benar lupa!" Menepuk dahi adalah kebiasaanku. Aku memang orang yang pelupa—baru-baru ini. Masa aku sempat lupa 7 x 9. Padahal aku suka sekali matematika. Bukan hanya itu, aku bahkan sempat juga—lupa penjumlahan satu ditambah satu. Hebat sekali. Aku—yang merupakan juara 1 Olimpiade Matematika—kalah dengan anak Taman Kanak-kanak! Memalukan.

Kadang-kadang aku juga sering menderita rasa pusing, kadang terasa berkunang-kunang pandanganku. Oh iya, namaku Reo—atau Leo, sama saja sih. Nama lengkap—uh, lupa lagi. Maaf ya, aku memang pelupa. Hal ini kudapat setelah terjatuh dari tangga karena didorong anak-anak kelas yang memang membenciku. Aku tahu, mereka sebenarnya hanya iri padaku yang selalu peringkat 1. Walau aku tak pernah menyombongkan hal itu, lagipula tak ada gunanya membanggakan gelas—ups maksudnya piala yang kosong itu. Tak berarti bagiku.

"Ah, kurasa aku harus banyak latihan soal-soal." Iya, aku memang maniak matematika alias ilmu hitung dan ilmu pasti. Kerjaanku di rumah selalu belajar, dan beribadah tentu saja.

"Jangan kecapaian. Besok 'kan hari Jumat. Yah, kau tahu lah itu hari apa." sedikit lirih. Aku yang mendengarnya hanya tertawa lemah. Sedikit catatan, aku baru-baru saja tertimpa musibah—lagi. Kedua mataku terpaksa buta karena—entahlah, ada yang melakukan ilmu guna-guna. Biasalah, ada orang syirik padaku. Kuucapkan alhamdulillahkarena kebutaan itu hanya pada hari tertentu saja, yaitu hari Jumat.

"Eh, sorry. Baru ingat hari ini lagi nggak ada orang di rumah. Gue duluan, ya!" secepat kilat si pemuda yang tadi ada disebelahku sudah melesat pergi. Aku hanya melambai kecil kepadanya. Namun itu tak membuatku berhenti melangkah untuk menyebrang jalan. Masuk ke dalam gang, dan yak, sebentar lagi sampai.

Aku bukannya tidak suka hari Jumat. Memang, pada hari itu aku harus pakai tongkat, atau Afrizal membantuku jalan. Walau nggak enak juga sih harus pakai tongkat. Mungkin ini balasan karena sikap dan perkataanku yang—mungkin—terdengar menyombongkan diri. Aku sudah tak ada urusan dengan itu. Lagipula ini bukan hari Jum'at dan aku tidak buta. Jadi aku bisa bergegas pulang kerumah. "Assalamu'alaikum." Tak ada jawaban, oke langsung saja ke kamar setelah melepas sepatu, terus berjalan menuju kamar. Aku ingin istirahat.

Dan, kepalaku terasa nyeri lagi. Menghempaskan diri di atas tempat tidur yang tak terlalu besar, tanganku meraih bantal dan memendamkan belakang kepalaku. Kurasa kondisiku tak terlalu memungkinkan. Kini nafasku tersenggal-senggal, ini akibat kalau berlari sambil bawa beban berat seperti tas. Jemariku terselip diantara helai rambutku yang hampir menempel dahi. Mencengkramnya erat dan berharap semoga saja sakit kepala sialan ini pergi dari hidupku.

Pagi hari yang kelabu. Kenapa kusebut begitu? Karena ini adalah hari Jum'at. Hari dimana aku takkan bisa melihat selama seharian. Aku bersungut, perlahan membuka mata. Gelap, gelap gulita. Aku tak bisa melihat, kukira mati lampu. "Kok gelap? Kenapa—" gumamku, "Ah iya, sudah Jum'at ya?" menepuk jidat lagi. Aku memang pelupa. Padahal baru saja aku sadar kalau hari ini Jum'at, dan dalam waktu singkat aku bisa lupa dengan kata-kataku sendiri. Ada-ada saja.

Terdengar langkah kaki mendekat, dan suara yang sangat merdu di telingaku, "Reo sudah bangun? Masih sakit kepala?" oh, rupanya ibu. Aku seraya tersenyum ketika terasa tangan yang hangat membelai rambutku. Membuatku nyaman, "Nggak, kok. Reo sudah mendingan. Ibu istirahat saja, Ibu 'kan sedang sakit." ucapku seraya tersenyum. Orang biasa akan melihat pandanganku entah kemana. Tentu saja, aku kan tak bisa melihat saat ini. Aku tak tahu bagaimana ekspresi ibuku saat ini. Yang jelas, suara merdu itu terdengar lembut dan membuatnya luluh, "Ibu juga tidak apa-apa kok. Reo nggak perlu khawatir tentang seragam hari ini. Tadi Ibu sudah gantikan ketika kamu tidur."

Aku tersenyum, "Terima kasih, Bu. Sekarang Ibu istirahatlah, Reo akan bersiap-siap."

Walau aku berkata seperti itu, tetap saja ibu memaksaku untuk tetap di tempat tidur dan membiarkan Ibu mempersiapkan semuanya. Buku-buku, perlengkapan seragam seperti dasi dan ikat pinggang, sarapan pagiku, sepatuku, sampai menyisiri rambutku. Aku ingin menolak, sayangnya Ibu terlihat bersikeras untuk melihatku rapi karenanya. Bahkan Bapak yang biasanya selalu memarahiku sepertinya berbeda sekali, aku sampai diantar ke sekolah. Kali ini, aku menolak dengan halus, dan seperitnya Bapak menerimanya.

Semuanya telah siap, aku berpamitan dengan kedua orang tuaku. Mengecup punggung tangan mereka, dan Ibu—sepertinya menangis ketika ia memelukku erat, begitu erat sampai aku tidak bisa berpikir. Oh, kepalaku sedikit meriang. Tidak, kau tidak boleh sakit. Kau harus tetap ke sekolah, Reo. Ah—aku merasa tetes airmataku mengalir begitu saja. Teringat dengan semua kejadian yang sempat kulalui. Dulu aku sering dikasari teman-temanku, sampai akhirnya begini—sudah lama sekali.

"Baiklah, Ibu, Bapak. Reo pergi dulu." Pamitku, "Assalamu'alaikum."

Samar terdengar isak tangis Ibu, "Wa'alaikumsalam. Hati-hati di jalan ya, Nak."

Aku tersenyum pahit walau tak bisa melihat rupa kedua orangtuaku saat ini, sesaat ayahku bertanya kembali untuk meyakinkan, "Reo, kamu benar tidak mau diantar?" dan aku tersenyum, kemudian menggeleng. "Tidak usah, Pak. Reo bisa berangkat sendiri." Dengan rasa berat hati, aku melangkah pergi meninggalkan rumah dengan tongkat di tangan kanan. Berjalan seorang diri ke sekolah.

Kepalaku kembali meriang, tidak. Aku tidak boleh tumbang di saat seperti ini. Aku harus tetap berjalan, dan sebaiknya aku tidak usah memikirkan sakit kepalaku. Ahh, tidak bisa. Rasanya terlalu berat. Aku sudah tak sanggup lagi menahan rasa ini, "Ya Allah, kuatkanlah hambamu. Izinkan hamba melewati hari ini walau hanya sebentar." Batinku, aku hanya tersenyum pedih. Aku sudah tak bisa lagi menahan ini semua. Namun—aku merasa, aku harus melewati hari ini dan tersenyum esok pagi.

Kakiku melangkah lagi, menghilangkan keraguan di dalam dada. Aku percaya bahwa Dia akan selalu melindungiku di setiap kaki kurusku melangkah. Aku percaya kalau Dia ada, dan aku percaya—

CKIIT. BRAK.

…sial, aku tak ingat apa lanjutannya. Oh, tubuhku terasa ringan. Aku merasa seperti tertidur di perjalananku. Aku tak tahu apa yang terjadi saat ini. Samar-samar aku tahu bahwa banyak orang berteriak histeris. Kenapa? Apa yang terjadi? Sudahlah, aku tak mau ingat lagi…

Wah, sekarang aku tahu kenapa aku selalu pusing dan lupa. Ini semua karena penyakitku. Penyakit yang akan menggerogoti tubuhku. Dan sekarang aku tahu, inilah saat dimana semua beban yang kuderita hilang. Aku ingat juga, aku sempat tersenyum…

…sebelum aku pergi tertabrak mobil.

...

Izinkan aku mencatat tanggal ini, 26 Agustus 2011. Oh, 3 hari menjelang ulangtahun ke 17 yang seharusnya takkan pernah perlu merayakan, bagiku ini adalah hadiah terindah dari-Nya. Terimakasih.


Yak, ini sangat, sangat, sangat abal. Maaf banget. Fiksi yang dikutip dari kehidupan teman terbaik saya bernama Reo, saya persembahkan fiksi ini untuknya yang sudah...begitulah. Cerita sebenarnya tidak persis dengan yang ada di fiksi itu kok. Kecuali nama aslinya, dan tanggal yang tertera disana. Menyinggung privasi? Maaf kalau begitu.

Thanks for reading this fiction. :D