Bukan Suatu Kebetulan

Rating: PG-13
Language: Bahasa Indonesia
Status: Oneshot, Complete
Genre: Romance, Hurt/Comfort


Semua orang terkadang bingung atas tingkahku, keterbelakanganku di lingkungan sekolah semakin membuat dadaku sesak. Terkadang, aku bingung dengan diriku sendiri, mengapa aku dianggap gila oleh mereka? Aku tidak gila, hei! Aku hanya merasa tertekan karena kehidupanku yang serba kacau balau. Ayah ibuku terus saja bertengkar, bahkan aku hampir tidak diterima oleh mereka. Bagi mereka, uang adalah segalanya. Dan aku? Hanya bisa melakukan kegiatan yang hampir menjadi rutinitasku, menyayat pergelangan tanganku.

Tentu saja aku tidak menancapkan pisau yang kugunakan pada tanganku. Aku hanya menyayat tipis, dan darah mengalir bersamaan dengan bulir air mata yang tak kunjung berhenti. Aku merasa sakit, sakit karena orangtuaku yang tak mau akur, sakit karena luka ini, dan sakit karena dadaku selalu sesak dihantui dengan rasa kesepian.

Lagi-lagi aku membalut tangan dengan perban setelah melakukan pengobatan sederhana. Perih, perih sekali ketika kurasakan obat merah menyentuh lukaku. Aku berharap, ada yang berhasil menyinari hidupku.

Dan menarikku dari lubang gelap bernama 'kesepian'.

Kelabu, ya, kelabu. Hari begitu mendung dan hujan telah membahasi bumi sejak 30 menit yang lalu, menurut perkiraan jamku. Tuhan memang hebat, ia menciptakan malaikat-malaikat yang selalu taat menyembahnya dan tak pernah mengeluh melakukan tugasnya. Tidak seperti manusia yang selalu saja melalaikan ibadah, selalu saja mengeluh hanya karena suatu masalah. Aneh, kenapa bisa begitu ya? Termasuk aku, sih. Kalian bisa sebut aku tidak pernah mau peduli dengan hidupku. Kuterima ejekan kalian yang menganggapku aneh. Justru, aku berterima kasih karena kalian telah menganggapku aneh. Karena aku memang aneh.

Hujan sudah mulai mereda. Taman ini selalu sepi, karena ini adalah taman yang hanya orang-orang sekitar daerah sini saja yang tahu. Kebetulan, aku tengah berjalan menyusuri taman dengan payung. Menghela nafas berat, udara cukup ekstrem untuk bulan ini. Pergantian cuaca yang tidak menentu, angin kencang dan panas terik, mungkin ini yang namanya musim peralihan.

Aku belum menghentikan langkahku sampai melihat seorang gadis berbaju terusan putih selutut ditutupi oleh jas hujan, berputar di atas rerumputan basah dan dikelilingi oleh bunga warna-warni beraneka ragam. Terlihat ceria sambil bergumam lagu yang tak pernah kudengar. Surai pirang sepunggung dan kulit putih pucat. Hah, orang asing sepertiku rupanya. Eh benar tidak ya?

Senyum manis di bibir kecil yang merah, iris biru safir yang terlihat sayu, dan apa itu? Apakah itu penutup mata? Uh, hatiku seakan berdebar-debar melihat sang dara yang begitu mungil. Kenapa ia tega hujan-hujanan seperti ini tanpa ada yang menemani?

Ehm, berdehem sebentar. Kakiku melangkah mendekatinya yang terdiam, terlihat polos melihatku, "Maaf, lagi ngapain ya?" bertutur kata halus dan lemah lembut. Yah walau aku kurang suka cara bicara seperti itu, seakan dibuat-buat, sih. Kira-kira-dia mengerti bahasa Indonesia tidak ya? Kalau tidak, waduh-

Gadis itu terdiam sesaat, kemudian ia terkekeh pelan. "Aku? Hujan-hujanan." Kemudian ia menatap langit, tudung jasnya turun karena bulir hujan, segera aku payungi sang dara sebelum air hujan membasahinya. Kabar baik, dia bisa berbahasa Indonesia. Detik berikutnya kami terdiam, kemudian terdengar tawa tak jelas dari kami. Entah apa yang kami tertawakan saat itu. Aku mengajaknya berkeliling taman dengan payung. Serasa ojek payung, haha.

Aku bertanya, "Oh, nama gue Stevan-yah sekarang Alfrizky, sih. Yah, sekedar tanya, nama lo siapa?"

"Giovanna, dibilang Gina juga boleh." Gadis itu tersenyum manis, "Ngomong-ngomong, kenapa nama lo ada dua?" Terlihat tatapan polosnya yang tertuju ke arahku. Aku sebenarnya paling malas menanggapi hal seperti ini, "Yah, maklum gue orang Belanda, pindah kesini, masuk Islam juga. Makanya ganti nama," gumamku agak malas. "Lo sendiri orang mana? Kok kayaknya pernah lihat, ya?"

"Belanda juga. Lho, lihat dimana?" tanggap Gina seraya mengernyit.

"Mm… Di mana aja boleh~" kekehku lagi. Wah wah, menggoda gadis ini memang cukup menyenangkan. Selain itu, percakapan kami juga seru sekali. Ah, mungkin inikah yang namanya sahabat? Aku-baru tahu, sih. Hehe. Habis, selama ini, 'kan aku dijauhi orang-orang.

Ya Allah, terima kasih kau telah mempertemukanku dengan gadis ini. Ia adalah-gadis terbaik yang pernah kutemui. Dan kuharap, dia akan selalu berada di sisiku, selamanya...

Sudah 7 bulan aku bersahabat dengan Giovanna, ia juga sering bermain denganku. Kami bercerita, atau cerita masalah pribadi, dan yang membuatku salut padanya-ia rela menghabiskan waktu untuk mendengarkan semua masalahku ketimbang bergosip dengan anak-anak kelas. Kebetulan, ia sekelas denganku dan kami sebangku.

Sejak aku bersahabat dengannya, lama kelamaan keberadaanku disadari oleh beberapa anak di kelas. Bahkan mereka sudah tidak segan lagi menyapa atau mengajakku bercanda. Ah, aku senang menghabiskan sisa waktu SMP yang baru saja kumulai tepat 7 bulan yang lalu.

Kadang aku agak malu ketika berjalan dengan Gina. Kami dikira sebagai sepasang kekasih, yah jujur saja, aku menyembunyikan perasaan ini darinya karena aku tak berani mengungkapkannya. Yah, lebih tepatnya sih-takut ditolak. Lagipula, Gina adalah gadis manis yang jadi sasaran hampir semua murid laki-laki kelas 7, 8, dan 9. Gila juga, eh?

Tapi aku tak merasa kalah, karena aku tahu semua tentang Gina. Lebih dari yang mereka tahu.

"...Gina," gumamku pelan setelah kami duduk di bangku taman yang memang biasa kami duduki. Kami berdua terdiam cukup lama, karena hubungan ini terasa semakin canggung setiap harinya.

"Ya, Ki?" terdengar lembut dan agak ragu. Aku dapat melihat dirinya yang agak gugup ketika membalas sahutanku, kugenggam tangannya tanpa melihat sosoknya. Tertegun, kemudian aku terkekeh, "Tangan lo dingin banget, kayak mayat." menyelipkan candaan untuk mencairkan suasana. Sekedar selipan, lah.

Tawa kecil terdengar, "Sial, tangan lo kali yang kepanasan kayak habis dipanggang."

Detik berikutnya kami tertawa seperti biasa yang telah kami lakukan. Aku melepas pegangan tangan itu, sesaat kami terdiam lagi. Aku mulai memantapkan hati untuk menoleh ke arahnya, "Gin, kenapa sih lo suka ke taman tempat biasa itu?"

"Melihat ciptaan Allah yang gue sukai." Jawaban sederhana, kemudian bertanya balik kepadaku, "Elo sendiri?"

Menghela nafas dalam, "Gue tuh, setiap kali ke taman itu pasti mendapat pencerahan untuk gue menulis. Atau membuat semacam kutipan yang bisa memotivasi seseorang untuk tetap bertahan hidup, kadang juga membuat orang bingung. Itu yang pertama."

"Oya?" Gina mengernyit penasaran, "Gue mau tau salah satu kutipan asli bikinan lo." gumamnya penasaran.

Malah membuatku semakin tak tahan untuk mencubit pipinya itu. "Lo tau kan dunia ini seluas apa, dan seindah apa." jawaban Gina hanya mengangguk, ia malah asyik mendengarkanku, "Keindahan dunia itu, bagaikan lo terbang di laut dan berenang mengarungi langit biru yang cerah." Perlahan bangkit dari sana dan menatap langit. "Yah gue rasa cuma itu," ucapku dengan suara yang agak serak.

"Hee, gue jadi penasaran sama karya tulisan lo yang selalu lo bangga-banggain itu." Kekehan Gina terdengar manis di telingaku. Aku jadi malu karena dituduh narsis secara tidak langsung begitu. "Ngomong-ngomong, gue boleh tahu—kenapa mata kanan lo…" meliriknya dari ekor mataku. Gadis itu terdiam.

Suasana mendadak hening.

A-apa aku salah bicara? Aku membatin, takut-takut salah kata dan malah menyinggung perasaan orang. "E-eh, kalau gamau cerita juga—" Gina menghela nafas dalam, "Nggak apa-apa. Mungkin terdengar miris, tapi memang beginilah yang terjadi."

10 tahun lalu…

Aku ingat, ketika itu—aku, ibu, ayah, dan kakak tengah bertamasya bersama.

Hari itu sangat menyenangkan, kami tertawa sepanjang perjalanan.

Namun…

nasib berkata lain.

CKIIT. BRAK.

Mobil kami tertabrak pohon, kami memang selamat semua, hanya saja pecahan kaca itu…

iya, pecahan kaca sial itu…

Membuat sebelah mataku rusak.

Membuat sebelah mataku hilang.

Membuat sebelah mataku buta.

Membuatku harus menjadi cacat tanpa sebelah mata.

"Singkat cerita, begitulah."

Aku tertegun mendengar setiap kata yang ia tuturkan. Terasa seperti aku di posisinya, dimana aku harus kehilangan mataku, dan… "Lo gadis yang tegar ya." Komentarku lirih.

Gadis itu—gadis pemilik satu mata itu tersenyum, "Nggak juga kok. Gue Cuma menerima apa adanya hidup gue. Lagipula… Bagi gue, suatu keindahan di dunia itu-adalah suatu hal yang mustahil bila kita tak mau melihat semuanya."

Terlihat Gina menghampiriku, ia tersenyum sambil menggenggam tanganku erat, "Walau gue cuma punya satu mata, dan gue emang nggak tahu apa-apa..." diam lagi, "Gue rasa, dengan keberadaan kita yang terlalu rapuh ini-bakal susah terbang di laut." Ah, ia tertawa pelan, "Ikki, Ikki. Dasar elo ini, bikin kutipan ada-ada aja, ah."

Senyum itu, senyum yang kutunggu-tunggu. "Gina, lo tau gak alasan kedua gue?"

"Hm?" Ia menatapku dengan iris birunya, dan kejadian berikutnya terjadi begitu cepat. Sekejap kedipan mata, aku berhasil menciumnya tepat di bibir. Rona pink menjalar di pipinya yang putih porselen. Setelah beberapa detik, aku melepasnya, "Karena elo, gue tetap hidup sampai saat ini. Bagi gue, elo adalah-segalanya."

Semburat merah semakin ketara, kontras dengan pipi mulus putihnya itu. Kuraih sejumput rambut pirangnya dan mengelus wajahnya lembut, "Gue suka sama lo, sejak kita pertama kali bertemu."

Gina masih terdiam, ia menunduk. Kuanggap dia mendengarkan semua tutur kataku.

"Elo tahu, gue seseorang yang hampir bunuh diri karena gue gak kuat menghadapi kejamnya dunia. Tapi, semenjak elo hadir dalam kehidupan gue, semuanya berubah. Gue menyadari, kalau gue-sangat, sangat, sangat tertolong karena lo." Menarik nafas dalam, "Lo udah berhasil menyinari hidup gue yang kelabu ini, memberi warna tersendiri." Aku mengulas senyuman, meraih tangan kanannya dan mencium punggung tangan itu. "Giovanna, mau gak-jadi pacar gue?"

Gina benar-benar tak bergeming. Duh, apalagi ia terlihat sangat terkejut, yah-ditolak...?

"T-tapi, Ki... Gue punya cacat yang walaupun bukan bawaan lahir," gadis itu memalingkan muka, "Gue cuma punya satu mata, Ki. Nanti bagaimana kalau lo diejek-ejek karena gue?"

"Gina," sial, hari mulai mendung dan bulir hujan turun tak terbendung. Kalau begini pasti akan jadi hujan yang sangat deras. Sebaiknya aku menghentikannya sebelum terjadi apa-apa.

"Gue takut kalau lo jadi menyesal karena memilih gue… Maaf—"

"Gina!"

"Gue takut kalau gue akan membuat keberadaan lo di mata orang-orang semakin buruk, hanya karena gue cuma punya-"

"GINA!" pekikku keras ditengah derasnya hujan, membuat kami terdiam dengan nafas tersenggal-senggal. Kupegang kedua bahunya yang gemetar, "Dengerin gue dulu!" entah karena teriakan itu atau apa, Gina terdiam membisu-tak mau mengelak. Matanya membulat, terus menatap iris cokelatku.

"Gue gak peduli dengan fisik lo yang cuma punya satu mata. Toh, bagi gue gak berarti! Asal lo bisa disamping gue, gue akan bahagia!" jeritku lagi dengan nada yang pasti. Aku tidak mau melepaskannya. Aku ingin dia jadi milikku.

...hujan, ya. Titik-titik hujan mulai turun lagi. Sama seperti waktu pertama kali aku dan Gina bertemu. Di tengah-tengah taman, hanya berdua, lagi.

"Gue cinta sama lo, karena elo adalah yang paling gue sayangi."

Aku memberinya tatapan. Lama kami terdiam di bawah hujan. Kami tak peduli tubuh harus basah kuyup karena tak ada yang bawa payung saat ini. Aku sempat bersin, namun-pelukan hangat terasa ketika tangan mungil Giovanna meraih tubuhku. Terasa panasnya wajah Giovanna, "...gue mau kok, sama Ikki-bukan, Alfrizky."

...ah, indahnya dunia. Di tanggal yang sama dengan hari pertemuan kami, dan di hari itulah perasaan kami akan berkembang...

2 tahun kemudian…

17 April.

Sehari sebelum ulangtahunku yang ke 17,

peringatan 2 tahunnya hari jadianku dengan Gina,

sekaligus hari ini adalah—…

…hari yang paling menyakitkan dalam hidupku.

Peringatan 1 tahunnya kepergian orang yang amat kucintai.

"Ki, yang tabah. Gue ngerti ini terlalu berat buat lo. Gue—turut berduka…untuk ke 32 kalinya buat lo yang nangis mulu kalau ke sini. Serius deh. Jangan nangis la—"

"Berisik!" teriakku kesal sambil mengernyit.

"Et dah, iya deh gue diem… Tapi, please. Sebentar lagi hari ulang tahun lo, masa lo nangis melulu sih. Nanti Giovanna sedih lho."

Aku terdiam mendengar ucapan saudaraku Adhnan. Walaupun sudah satu tahun berlalu, namun setiap kali kukunjungi tempat gadis itu berbaring untuk terakhir kalinya, selalu—air mataku tak bisa berhenti. Namun tidak kali ini, mataku sudah sembab karena aku sudah menangis 2 jam yang lalu. Aku hanya bisa menatap sendu setelah tadi mengirimkan doa untuknya.

"…Hei, kalau mau nangis… Nangis aja deh. Gapapa, ada gue kok."

…terpikir dalam benakku, bagaimana kalau Giovanna jadi sedih karena aku selalu menangis jika mengunjunginya? Apakah dia akan marah padaku? Apakah dia akan membenciku? Apa yang harus kulakukan sekarang—

Adhnan menghela nafas, "Senyum, Ki. Kalau lo nangis terus, kasihan Giovanna nantinya. Ayolah… Kalo nggak nanti gue dandanin lo jadi banci nih."

"Huh? Lu mau nyari ribut sama gue?" pikiranku langsung teralihkan mendengarkan kata-kata ejekan Adhnan. Aku meninju lengannya, "Sial, elu aja sana jadi banci." Aku sedikit tertawa. Sekilas, saudaraku itu tersenyum, "Nah, gitu dong. Gina pasti bahagia ngeliat Pangerannya senyum."

"Apasih," aku terkekeh. "Udah yuk. Kita balik. Eh tapi gue mau ke taman dulu. Elo pulang aja."

Adhnan terheran, kemudian ia mengerti apa alasannya, "Ah… oke. Gue duluan ya." Dari kejauhan aku masih bisa melihatnya pergi. Kemudian, aku melirik pemakaman yang sempat terabaikan olehku, "Aku pergi ya." Dan kemudian beranjak dari sana. Ke mana? Ke suatu tempat yang paling kusuka, tentu saja.

"Hm, sepi… Seperti biasa." Kakiku melangkah menelusuri jalan menuju taman sepi, tempatku menenangkan diri sekaligus tempat yang penuh kenangan manis antara aku dan Gina. Sempat sesekali senyum sendiri ketika teringat kenangan-kenangan indah yang terlalu pedih untuk dikenang.

Hujan, lagi.

Kehujanan, lagi.

Sendirian, lagi.

Kali ini aku tidak bawa payung. Jadi kubiarkan hujan membasahi pakaian dan tubuhku. Aku berdiri di tengah-tengah taman itu, mendangah dan memejamkan mata. Tak peduli tetes air mata mengalir membasahi pipi, tak bisa dibedakan dengan air hujan. Aku tersenyum miris, teringat akan kejadian setahun yang lalu di tanggal yang sama, 17 April. Yah, sebaiknya kulepaskan semua kesedihan itu saat ini juga… Sebaiknya begitu…

"Pertemuan kita bukanlah suatu kebetulan.

Semua kenangan kita bukan suatu kebetulan.

Tidak ada yang namanya kebetulan.

Takdirlah yang telah mempertemukan kita."

end


Fiksi yang disini begitu lebay menurut saya (rofl). Nama karakter diambil dari nama teman IRL saya, ini hanya fiksi belaka. Makasih banyak buat semua pemilik nama dalam fanfic ini sudah mengizinkan saya menggunakannya (chuckle) Maaf banget kalau lebay. Iya, saya nggak bakat bikin fanfic begini :")

Thanks for reading this fiction! :D