di suatu tempat hutan belantara,

Seorang pemuda tengah teresat,

Sambil membawakan sepucuk surat,

Ia disambut hangat di sebuah mansion…

...tanpa tahu apa yang akan terjadi selanjutnya."

Based on Hitoshizuku-P's song.

Plot © Hitoshizuku-P
Remake version © Aszche
8 PHRPF Characters © Respective Owners

Warning:
Agak OOC mungkin, AU (untuk status yang disandang).

Featuring

Village Boy – Aszche
Girl Doll – Violetta W. Thentysle
Boy Doll – Geovanni As Thentysle
Master – Faye R. Enrion
Lady – Felline A. Faron
Daughter – Maria F. Illenon
Maid – Anya M. Faron
Butler – Ashura I. D. Sevastian

Bad ∞ End ∞ Night

Let's the story begin.


gulp.

Tertegun dengan pemandangan yang ada di hadapannya, tangannya perlahan menurunkan tudung lusuh yang telah berjasa melindungi kepalanya dari hujan tadi sore. Ah, sekarang hari sudah malam—dan…iya, dia tersesat. Tak tahu jalan pulang, lagipula ia harus mengantarkan surat entah dari siapa untuk seseorang yang—tidak tahu juga siapa. Lihat, sekarang di depannya adalah mansion tinggi dengan suasana yang sangat, sangat, sangat tidak mengenakkan. Hawa dingin membuatnya berjengit, ada perasaan tidak beres disini.

Rasa penasaran dan takut bercampur aduk jadi satu. Terselip di pikirannya untuk mengetuk pintu itu, namun sebagian besar dirinya terlalu takut. Padahal, si pemuda ini bukanlah orang yang bisa dibilang—mudah takut. Namun entah mengapa, hati kecilnya menjerit-jerit segera pergi dari tempat ini berulang kali.

Sayang, ia lebih suka mengikuti pikiran daripada hatinya.

Tersenyum getir, ia berkata, "Haha, ini hanya mansion biasa—eh…" memberi sugesti, sial, tak ada gunanya. Jemari jenjang itu agak gemetar, ia mulai menggertakkan gigi. Memberanikan diri sedikit.

Tok, tok, tok.

Berhasil, pemuda bertudung lusuh itu sedikit lega. Perlahan membuka pintu… "Permisi, adakah orang disini?" melangkah masuk kedalam sana dengan waspada.

Mendadak ada suara datar nan dingin yang membuatnya agak kaget, "Apa yang kau lakukan disana?" terlihat sosok seorang pria tinggi surai hitam berpakaian layaknya orang kelas atas—tidak, bukan seperti pemilik rumah. Melainkan—butler, bisa jadi, 'kan?

Membuat kaget saja, batin sang pemuda. "Tidak, aku hanya—"

"Selamat datang…" suara yang manis namun terdengar sendu.

"…di mansion antah berantah ini." dan suara anak lelaki yang agak sedikit rendah.

Kemudian, suara kekehan.

Terlihat dua sosok lainnya, yang satu gadis manis surai cokelat pudar, dan satu lagi pemuda yang agak lebih tinggi surai cokelat. Tapi—seperti bukan manusia tampaknya. Mengapa? Menurut penglihatan sang pemuda, kedua sosok itu… Lebih menyerupai—boneka?

"Hm, aku hanya—" Lagi-lagi terpotong oleh suara seorang gadis berpakaian maid. "Silahkan, tehnya " sang maidini bersikap sedikit—aneh. Senyumannya, menyiratkan sesuatu…

"Ah, tidak, tidak perlu." Tolak si pemuda surai kemerahan itu halus. Ia sendiri tidak mengerti kenapa harus disambut demikian. Tudung lusuhnya ditanggalkan oleh sang Maid, entah sejak kapan. Kemudian ia ditarik oleh dua remaja tadi menuju suatu ruangan luas—seperti ruang tamu, namun juga bukan ruang tamu. Atmosfir disini sedikit…

Aneh.

"Nee, nee, siapa namamu?" tanya seorang remaja lelaki tadi, "Beritahukan namamu!" disambung oleh—entah, kembaran perempuannya? Tidak tahu.

Menggerlingkan mata, "Aszche."

Mereka yang bertanya langsung bertatapan, "Aszche ya…" gumam keduanya, "Nama yang bagus." Ia yakin ada sedikit nada penekanan dengan kata-kata 'bagus' tadi.

"Ayo kita beritahu yang lainnya!" kedua—tidak tahu sebutnya apalah—anak itu menyeringai senang, mengajak sang tamu beranjak dari sana.

"dan ketika semuanya berkumpul,

sang tamu akan "dinilai" oleh mereka."

"Kau tahu, ini pasti takdir karena bisa menemukan mansion ini. Kau beruntung, Nak."

Huh, siapa lagi sekarang?batin sang pemuda. Tiba-tiba muncul seorang pria yang lebih tinggi darinya dengan surai panjang warna—entah, tidak terlalu kelihatan karena pencahayaan sebatas lilin—juga berkacamata. Seringai tipis yang membuat dirinya semakin curiga.

"Kalau begitu, pesta! Pesta!" terdengar teriakan dua—sebutlah mereka—boneka tadi. Mereka terlihat senang sekarang. "Siapkan pesta penyambutan!" seru yang laki-laki. Keduanya berputar-putar dengan tangan saling bergandengan, "Ada pesta, ada makanan, pasti menyenangkan, iya 'kan?" lalu tertawa bersama. Si surai merah mengernyit, "Aneh." Bisiknya pelan.

"Silahkan, wine-nya." Seorang butler tadi—yeah, tiba-tiba sudah menuangkan wine ke dalam—hei, sejak kapan ia memegang gelas?

"Ayo kita bersenang-senang~ " sambut seorang maid, yang…tidak tahu kapan datangnya tiba-tiba sudah ada di ruangan. Pemuda yang bernama Aszche itu mengernyit. Semuanya jadi aneh. Ia beranjak sedikit mundur, dan sesuatu menepuk bahunya, membuatnya kaget.

"Ups, maaf." Gadis bersurai pink itu tersenyum, mengangkat gelasnya, "Mau melakukan toastdenganku? Ini hanya minuman ringan. Tidak perlu takut mabuk." memberi jamuan. "T-tidak, aku—" mundur lagi.

"Kau sudah siap?" lagi-lagi sosok anak kembar itu muncul di depannya. Sekali lagi dikagetkan dengan si kembar yang—tidak tahulah mereka kembar atau bukan, itu bukan urusannya.

"Semuanya sudah siap?" tiba-tiba muncul seorang Lady bersurai pirang yang—tidak tahu, mendadak muncul di sebelahnya. Aszche merasa bingung dan linglung, sekaligus terpana dengan suasana disini. Tak bisa berpikir jernih. Terlambat, ia benar-benar terperangkap sekarang.

"Ayo kita mulai."

Dan kegilaan malam itu akhirnya terjadi juga.

"inilah saatnya pesta kegilaan malam.

Berpakaian mewah, sambil meneguk wine.

Setelah kau terguncah dengan kegilaan ini,

Apa kau senang?

…sang pemuda tidak sadar, bahwa ia benar-benar terperangkap dalam kegilaan dunia. Ia sama sekali tidak sadar apa yang telah dilakukan olehnya di tempat ini. Terus berpesta tiada henti, bagaikan kegilaan tiada habis. Menghabiskan dua botol wine sudah membuatnya pingsan kelelahan. Tertidur dan terbuai mimpi indah.

"Aku…eh, jam berapa sekarang?" terbangun, kepalanya tidak pusing—padahal ia sepertinya pingsan karena mabuk berlebihan. "Sudah malam? Berapa lama aku tertidur?" menyelidiki. Ia melihat ke arah luar. Bulan purnama bersinar cerah dan menampakkan keindahannya. Namun hal itu masih membuatnya penasaran.

Mengapa pagi tidak pernah datang?

"Benarkah aku tertidur terlalu lama? Kemarin aku disini ketika tengah malam. Dan sekarang, sudah malam lagi?" memegangi kepalanya yang agak berkedut. "Ada sesuatu yang tidak beres disini." Bergegas keluar dari ruangan itu untuk melihat satu-satunya jam yang ada di mansion ini.

"Hei, Aszche. Ada sesuatu yang membuatmu tertarik?" salah satu gadis—yang tentu saja boneka, mungkin—itu tersenyum manis kepadanya. Tidak membuat Aszche tertarik untuk memperhatikannya. Si bocah surai cokelat—yang lagi-lagi boneka, mungkin—mendekat kepadanya.

"Kau mau tahu rahasianya?" berbisik pelan.

Langkah Aszche terhenti. Ia menoleh, "Rahasia? Rahasia apa?" mengernyit.

Kedua bocah—hampir—kembar itu menunjuk ke suatu tempat yang sama. "Perhatikan jamnya. Lihat baik-baik."

"?" Bingung, tahu darimana mereka aku mau melihat jam?Yah, tidak ada salahnya sih untuk—

—melihat jam yang jarumnya tak bergerak sama sekali. Aszche terbelalak, jadi—selama ini—apa yang—

"A-apa maksudnya ini?" tertawa paksa. "H-hei, kalian bercanda—"

…tidak ada. Kedua anak itu tidak ada. Membuat si surai merah semakin panik. "Aku harus pergi dari sini—" berlari mencari pintu keluar. Mana, mana pintu keluar? Bukankah pintu keluar itu ada di dekat sini? Kemana? Ia harus berlari kemana?

…pencarian tak tentu arah itu berhenti ketika ia menemukan suatu ruang rahasia yang sempat ia temukan. Kamar asing yang belum pernah ia masuki. "Sejak kapan ada kamar ini?" terheran.

Melihat ada sebuah pintu, dan ketika dibuka…

"Ya Tuhan—" Aszche tertegun. Matanya terbelalak ketika ia menemukan…

…beberapa peti mati disana.

Sekali lagi dikejutkan dengan suara yang tidak terlalu asing,

"Oh, dear…" ketika ia menoleh, ada sang Lady disana.

"Jadi kau melihatnya…" menoleh lagi, ada sang Master disana.

"Bahaya! Bahaya!" jerit kedua anak kembar tadi. Mereka terlihat panik. Tetapi, detik berikutnya mereka terlihat—senang.

"Jangan takut, Tuan " lalu sosok sang Maid manis tiba-tiba muncul di dekatnya."

"Kau mau kemana?" muncul lagi sang Butler ravenitu.

"Maukah kau menunggu? " sang gadis bersurai pink muncul lagi.

"kaulah bintang dalam kegilaan malam,

Apakah semuanya sama dengan naskah?

Bagaimana akhirnya?

Itu semua tergantung padamu.

Cari, cari sampai ketemu.

Tidak, tidak ada akhir yang bahagia.

Apakah ini—

Akhir Paling Buruk lainnya?"

Aszche yang malang, ia tersesat dalam kegilaannya sendiri. Berlari dari sana dan tetap tidak menemukan ujungnya. Yang ada malah tampak seperti terus berputar-putar. Hatinya menjerit takut, pikirannya sudah terlalu jera untuk mencari akal. Tak ada gunanya. Yang dilakukan hanya berlari… berlari… berlari…

Bruk.

Terduduk, ia lagi-lagi sampai di tempat jam yang telah ditemuinya sebanyak sembilan atau—sepuluh kali. Atau lebih. Kedua tangan itu menutupi wajahnya. Depresi, haruskah ia menyerah sekarang?

"Bagai—hh—…mana—caranya… uh—aku keluar—…hh—dari-si—ni…." Terdengar lirih. Nafasnya tersenggal-senggal karena ia berlari 'memutar' cukup lama. Terdengar suara-suara 'mereka' yang terus mengusiknya.

"Sekalinya kau bergabung dengan kami…"

"Kau takkan bisa keluar…"

"…dimana aku menjatuhkan…

kunci…menuju akhir

…yang bahagia itu—"

…ctik. Aszche tersenyum.

"Aku menemukannya."

…"Fufufu… Haha—aku… aku menemukannya. Aku menemukannya! Ya, itu dia! Itu dia!" tertawa seperti orang kehilangan akal. Mendekat kearah jam raksasa itu, mencabut kedua jarum emas yang tajam seperti pisau. "Aku harus—melakukannya." Tersenyum manis, ia menusuk dadanya sendiri dengan wajah yang teramat ceria.

Semuanya hilang.

Tidak ada Aszche disana.

Tidak ada sang maid, butler, boneka-boneka itu.

Tidak ada sang Lady, sang Master, dan gadis surai pink itu.

Tidak ada siapapun.

Kegilaan itu berakhir.

Semuanya berakhir.

Berakhir dengan—

Plok, plok, plok.

"Indah sekali." Seseorang bertudung yang tidak tahu siapa tersenyum, ia bertepuk tangan setelah melihat 'drama' menyedihkan yang harus berakhir dengan darah. "Sungguh menggelikan, sekaligus mengharukan." Berjalan ke tengah 'panggung', memungut sepucuk surat lusuh yang sempat terabaikan. Dan menghilang.

…pada akhirnya, tidak ada yang namanya akhir cerita bahagia.
Selamanya.

end