"ah…

Kaulah yang berikutnya…

Kau akan sepertiku…

Terperangkap…

Atau…

Mati."

Based on MachigeritaP's Song.

Plot © Machigerita-P
Remake version © Aszche
PHRPF Characters © Respective Owners

Warning:
Sangat OOC dikarenakan ini rumah sakit jiwa, AU, sedikit gore.

Featuring
Maria F. Illenon
Geovanni As Thentysle
Violetta W. Thentysle
As Psychiatric Hospital Patients
Faye R. Enrion
Felline A. Faron
As The Mad Doctor and the Nurse
Ashe
As The Cannibal Man

"Wide Knowledge of the Madness"

lets the story begin.

Aku. Tidak. Tahu.

Tiga kata itu terlintas dibenakku, entah apakah aku masih punya pikiran atau tidak. Aku linglung, aku bingung, aku—aku terasa… tidak tahu. Tubuhku terasa berat sekali, duduk di atas kursi roda yang mendorongku. Mana, mana pakaian indahku? Ini dimana? Kenapa semuanya berwarna putih? Apa benar ini tempat tinggalku?

Begitulah yang terpikir oleh sang Nona bersurai pink itu linglung kebingungan. Tidak tahu arah, tidak tahu tempat, tidak tahu siapa dirinya, tidak tahu apa-apa tentangnya. Manik indahnya terlihat kosong. Menatap langit-langit putih, dinding bercat putih, semua serba putih. Terlihat kosong…

…seperti dirinya.

Ia diikuti oleh 'pengawal'nya yang berpakaian senada dengan ruangan ini. Putih. Sekali lagi, semua serba putih. Gadis ini memang dulunya—bisa dibilang—seorang puteri yang sangat gemilang hidupnya. Dikelilingi emas, harta, dan kekayaan. Berjalan saja melewati karpet merah layaknya bintang. Sayang, ia harus menanggalkan jabatan tertinggi itu karena kesalahannya sendiri. Membuatnya terjebak dalam dunia serba 'kekosongan' bernama…

Rumah Sakit…

Ah ya, lupa kata terakhirnya. Jiwa.

Iya, ini rumah sakit jiwa. Tempatnya yang sekarang.

Lihat, dulu ia memang dibanggakan oleh orang-orang sekitarnya. Sekarang? Haha, namanya saja bisa dilirik rendah oleh rakyat jelata, atau—terlupakan?

"…Ini dimana?" gadis itu bertanya linglung, ia melihat sekelilingnya. "Apakah ini rumahku?" melirik ke arah gadis surai pirang di belakangnya.

Sementara ia yang menemani gadis itu—hanya tersenyum dingin, "Iya, ini adalah 'rumah'mu."

"Oh…" sang gadis melihat sekeliling, "Aku mau dibawa kemana? Dimana karpet merahku? Dimana baju indahku? Dimana perangkat teh milikku? Dimana? Dimana—" ucapannya terhenti seketika. Bukan, bukan karena ia dibungkam. Namun karena ia didorong, masuk ke dalam ruangan yang—serba putih dan kosong.

Blam.

"Apa yang kau lakukan dengan pintunya?" terdengar bunyi pintu dikunci, "Hei, kau mau kemana? Kenapa aku dikurung? Kenapa? Kau belum menjawab pertanyaanku. Hei, kau! Kemari! Keluarkan aku dari sini, ini perintah!" menggedor-gedor pintu itu. Ia tak peduli bagaimana kalau tangannya luka atau apa. Yang pasti, ia harus keluar dari sini dan mencegah perempuan tadi pergi lebih jauh, dan menjelaskan semuanya.

Namun…

…sayang sekali. Ia sama sekali tak dihiraukan.

"Keluarkan aku dari sini! Keluarkan!"

…jeritan orang sinting seperti mereka, pasti takkan dihiraukan, bukan?

Namun, benarkah ia sudah menjadi orang kehilangan akal? Apakah itu benar? Lalu dirinya yang dulu itu kemana? Apakah kisah indahnya berakhir begitu saja?

Sepertinya, ia benar-benar gila. Lihat, bahkan ia berbicara dengan dirinya sendiri.

"Kau…"

"Eh?" gadis itu terkaget, ia tak tahu siapa yang berbicara. "S-siapa itu?"

"Kau selanjutnya—ihihihi…"

"Bohong…" detik berikutnya berubah depresi.

"Kau selanjutnya… Kau akan jadi yang berikutnya! AHAHAHAHA!"psikopat kembali.

"Bohong—" depresi kembali.

"Kau akan terperangkap—disini…sepertiku…ihihihi"

"T-terperangkap?"

"Kau takkan bisa kabur—kecuali—

Mati."

DEG.

Jantungnya berdetak keras. Di pikirannya, terngiang satu kata yang tidak pernah hilang. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati! MATI! MATI! MATI! MATI!

…hening.

"AKU TAK MAU MATI DISINI!"

Kelelahan batin membuatnya terdiam berhari-hari. Pikirannya kini kosong total. Jadi orang yang kikuk di Rumah Sakit Jiwa bukanlah hal yang tidak wajar, kok. Yang ia lakukan hanya diam, kemudian memilih untuk duduk di tengah-tengah ruangan kosong itu sambil memeluk kedua kakinya. Menenangkan diri—itupun kalau dia ingat caranya. Kemudian hening.

"AAAAAAAAAAAA! AAAAAAAAAAA! AAAAAAAAAAA!"

"Hei, kau tahu tidak? Aku dan kakakku gila, lho! AHAHAHAHAHAHA!"

"AAAAAAAAAAAA! AAAAAAAAAAA! AAAAAAAAAAA!"

"Ayo kak, kita bunuh semuanya, lalu kita mandi di kubangan darah! AHAHAHAHA!"

Ah, ada suara lain. Lagi. Seperti biasa. Sudah kebiasaan.

Ucapan—bukan, teriakan memekakkan telinga terdengar dari samping ruangannya. Suara laki-laki, dan suara perempuan yang sangat nyaring. Kalau tidak salah lihat, mereka adalah penghuni di ruangan sebelahnya. Dua orang, surai cokelat, terduduk bersama. Ah, tempat ini berisik, batin sang gadis. Detik berikutnya, yang ia lakukan adalah…

…tidak peduli.

Gadis ini…lambat laun kehilangan semuanya. Ia tak pernah marah, tak tertawa, tak menangis atau bersedih. Semuanya—bagaikan hilang dalam sekejap.

Berbicarapun tidak. Hanya mengangguk, menggeleng, atau menunjuk. Karena—ia sendiri merasa, untuk apa menunjukkan perasaan—yah, sebenarnya ia sendiri sudah hilang akal sehat sih. Tak heranlah bila bicaranya meracau atau apa. Namun—gadis ini…agak sedikit… berbeda. Ia tak terlihat aktif, namun pasif.

…Bahkan ia tak peduli dengan pintu berjendela merah pekat di ujung lorong. Pintu yang—entah mengapa, tidak boleh diketahui eksistensinya. Tidak ada yang boleh tahu apa yang terjadi. Tidak boleh, tidak boleh, tidak boleh. Itu yang dikatakan para 'pengawal'.

Namun, yah, namanya orang gila, memang mereka mengerti?

"…Aku… ingin lihat."

Itu adalah kata pertama yang diucapkan olehnya setelah sekian lama berdiam diri. Berbicara pada siapa? Tentu saja dirinya sendiri. Ya, siapa lagi? Disini hanya ada dirinya, dan tembok putih sebagai pembatas. Setiap melongokkan kepala untuk melihat ujung lorong, terselip rasa ingin tahu untuk membuka pintu itu dan melihat apa yang sebenarnya disembunyikan disana.

Sebenarnya, ia tinggal tunggu waktu yang tepat untuk mengendap-endap dan melihat kedalamnya.

Jadi, tengah malam yang sama. Ia mendengar suara derit pintu dibuka. Lalu…

"Hentikan! Hentikan! Aku tak mau! HENTIKAN! HENTIKAN!"

…eh? Ada lagikah?

Gadis yang terduduk itu hanya bisa mengangkat kepalanya, menatap pintu di depannya. Ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Isak tangis, terdengar suara jeritan memekakkan telinga—yang sama sekali tak membuatnya terusik. Ia hanya diam.

"?"

…suara langkah itu menjauh. Membuatnya penasaran sehingga melihat dari jendela itu, "…"

Lagi-lagi, untuk malam ini, sang 'pengawal' membawa seorang pasien ke ruang ujung berjendela merah itu. Kali ini… ah, seorang perempuan. Kasihan sekali. Tunggu, sepertinya ia kenal—ah, ini adalah gadis yang berada tepat di sebelah ruangannya. Wajahnya terlihat panik. Dan sepertinya ia berteriak menjerit-jerit. Ada apa lagi?

…sudahlah. Ia tak mau tahu. Walau samar-samar terdengar suara…

Seperti gergaji mesin.

…biarkanlah.

Baru ia sadari, rupanya orangnya berkurang seorang tadi malam. Pantas saja teriakan bising di sebelah hanya semacam gumaman tak jelas laki-laki. Agak penasaran, ngomong-ngomong yang perempuan berisik tadi malam itu kemana ya?

Dalam hatinya bertanya-tanya,

Apakah ada orang berikutnya? Apakah lelaki berisik di kamar sebelah itu yang akan hilang? Benarkah? Apa ia benar? Ini sudah larut malam dengan jam yang sama. Sekali lagi, suara derit pintu yang dibuka. Lalu pintu tertutup pelan. Sosok 'pengawal' yang bersurai pirang itu lagi. Oh, benar dugaannya. Lelaki yang biasanya berteriak-teriak itu berjalan bersama sang pengawal.

Kepala si surai pink itu melongok ke arah jendela dengan tatapan sayu, pemuda itu menoleh dan menunjukkan senyuman aneh. Ada apa, sih?

"Hm…"

Terdiam sejenak.

"Aku ingin lihat."

Ucapan ringan. Setidaknya mengintip sedikit—boleh, bukan? Lagipula sepertinya orang itu sudah masuk ke ruangan berjendela merah itu. Jadi—tidak apa-apa, ne?

Ia menguping pada awalnya, hanya mendengar suara, namun ketika ia sadar bahwa pintu ini tidak terkunci—gadis itu tersenyum. "Ah," ia melongokkan kepalanya di saat yang… Sangat. Tidak. Tepat.

"Bagaimana dengan pemusa itu?" terlihat sesosok pria bersurai panjang tengah bercakap-cakap dengan seseorang yang lain—err, mirip sang 'pengawal'. Ah, iya, itu adalah 'pengawal' yang biasa mondar-mandir di koridor.

"Maksud Anda, pemuda itu—Geovanni? Dia sudah terikat di 'tempat'. Anda tak perlu khawatir."

Terlihat seringai dingin, "Oh, Geovanni ya? Kalau tidak salah, kakak dari korban kemarin, eh?" melangkah ke pojok ruangan, mengambil sesuatu. Seperti—gergaji mesin. Atau memang gergaji mesin? Entah.

"Ayo kita mulai."

ZRENG. ZRENG. ZREEEEEEENG.

Pluk.

"…"

"…"

"…"

"Itu saja?" komentar dari sang gadis. Ia berhasil melihat reka kejadian itu secara lengkap. Bahkan…ia melihat pemandangan yang luar biasa.

Tumpukan mayat berbaju putih—terpisah dari kepala mereka. Tidak, itu bukan warna putih bersih. Melainkan bercampur dengan darah, lantainya pun penuh darah. Semuanya darah, dimana-mana darah. Tunggu, apakah itu yang bergerak?

Sreet… sreet…

Apakah ada mayat hidup? Ah, bukan. Rupanya ada seseorang—kalau masih bisa disebut demikian—yang menariknya. Ia berjalan, tidak, merangkak mendekat ke arah kepala yang tadi tergeletak, menggigit telinga itu, dan mendekati pojok ruangan. Ada potongan kepala sang gadis malam kemarin. Lalu sekarang ditemani dengan kepala…lelaki yang jadi 'teman' sekamarnya.

"…"

…hebat sekali.

Seharusnya…ia menyesal.

Sangat, sangat, sangat menyesal.

Seharusnya ia tak datang ke sini.

Seharusnya ia tak melihat ini.

Seharusnya ia memojokkan diri dan menutup telinga karena suara ricuh yang dibuat oleh mereka. Yah, walau sekarang akan terasa hening. Setidaknya mereka mati dengan ekspresi… yang tidak memungkinkan.

Seharusnya…

Seharusnya ia menunggu untuk gilirannya, eh?

Haruskah? Haruskah? Haruskah aku menunggu?

Haruskah?

"Kurasa, tidak perlu menunggu."

Aha, pilihan yang—entah tepat atau tidak—dari si gadis surai merah muda itu. Ia malas menunggu. Ia tak mau menunggu. Lihat? Ia membuktikan perkataannya. Kakinya mengambang dari lantai yang biasa dipijakkan, tubuh mengayun kesana-kemari. Pandangannya samar sekarang, lama-lama gelap. Hei, malaikat pencabut nyawa, datanglah dan bunuh diriku ini. Aku bosan hidup disini.

…ah, akhirnya aku mati.

end?