spring story.


part one: anomali.

(summer triangle:altair, deneb, vega.)


.

"Wajahmu pucat."

"...ung?"

"Lapar?"

Satu, dua, tiga detik—lalu, anggukan disertai gumam lirih, "Hn."

"Kantin sepertinya masih buka. Mau kesana?"

Kali ini tidak butuh waktu hingga kepala menggeleng sebagai jawaban.

"Lalu?"

Diam.

Pensil menari di atas kertas.

.


.

Dari informasi yang dicelotehkan oleh Syrena dengan amat cepat dan terburu-buru sebelum berlari pergi meninggalkan ruangan untuk menyusul kedua anggota komite lain yang telah terlebih dahulu berangkat mengecek keadaan gym, Lyra Clarines merupakan manusia paling gampang dihadapi yang pernah ada di muka bumi. Juga bahwa dia tak boleh—Syrena menautkan kening dan menggunakan nada paling serius yang dimilikinya kala mengatakan hal ini—ditinggalkan seorang diri, apapun yang terjadi dan bagaimanapun juga.

Akan tetapi Cygnus Cross, yang terkenal akan ketidakmampuannya dalam berkomunikasi dengan orang lain, juga dalam memahami manusia baik pikiran maupun perasaannya, tetap saja merasa gadis itu sama sulitnya seperti yang lain. Mungkin bahkan yang paling sulit untuk dimengerti.

Setidaknya dengan Syrena; yang rambut cokelat kemerahannya selalu ditata rapi dalam ekor kuda tinggi; yang ceroboh dan hampir selalu terjatuh saat berlari; yang kata-katanya begitu lugas dan tak pernah memiliki makna ganda—Cygnus tak perlu menerka-nerka. Atau dengan Aaron; yang rambutnya jabrik mencuat ke segala sisi; yang kemejanya tak pernah dikancingkan dengan benar; yang komunikasinya sebagian besar dilakukan dengan adu tinju—Cygnus tak pernah bertanya-tanya tatkala menghadapinya.

Sementara Lyra Clarines.. —Lyra Clarines, adalah anomali.

Namanya cantik, Cygnus mengakui hal itu. Sang pemilik sendiri cukup manis, meski poninya yang terjulur hingga mata sedikit menghalangi. Ukuran tubuhnya mungil dan kurus, dengan muka berpipi tembam seperti yang dimiliki oleh bocah kecil. Rambutnya pirang panjang, bergelombang hampir seperti milik Syrena, tapi gadis yang satu ini terkesan tak mempedulikan kondisinya; dibiarkan tergerai begitu saja hingga angin bisa dengan mudah mengacaknya, ada serpih kayu yang menempel di sela helai, ada noda cat yang mengotori ujung-ujung keemasan, ada harum kamper yang menguar darinya.

Sepupu Syrena dari pihak ayah, katanya saat berkenalan, meski Cygnus tak bisa melihat kemiripan di antara keduanya selain rambut yang sama panjang. Bahkan jika Syrena sendiri tidak membawanya kemari, Cygnus mungkin tidak akan pernah menyadari bahwa mereka memiliki hubungan darah. Dari segi fisik maupun tingkah laku, kedua gadis itu nampak begitu berbeda. (Jeffrey bahkan sampai terbahak tidak percaya pada awalnya, menuai tatapan gusar dari Syrena dan sodokan di rusuk dari Julia untuk menghentikan tawa.)

.


.

"Mereka nggak mengizinkanku keluar dari ruangan ini."

"Eh, hah?"

"Mereka bakal menangkapku."

Cygnus tidak mengerti. "Mereka?"

Gerakan tangan terhenti, pensil tak lagi menari dan melompat. Ujungnya secara perlahan diangkat, bagian yang ditutupi oleh karet merah jambu penghapus diarahkan untuk menunjuk pintu yang terbuka setengah. Lyra Clarines mengangguk dan berkata dengan nada seolah sedang mengawang-awang, "Mereka."

"Siapa?"

Tapi pensil telah melanjutkan tariannya.

.


.

Tak tahu lagi harus berkata apa untuk memulai pembicaraan, Cygnus memutuskan mengikuti teladan dari gadis yang sibuk dengan kertas dan pensil di seberang ruangan untuk tetap diam. Dia termangu sendiri di pinggir jendela. Matanya menatap umbul-umbul, poster, balon, dan berbagai macam hal yang menghiasi pekarangan sekolah—bibirnya menekuk dan keningnya mengernyit. Satu waktu maniknya menemukan jalan menuju area bangunan olaharaga yang terletak cukup jauh dari posisinya saat ini hingga butuh memicing untuk dapat memperhatikan dengan lebih jelas.

Cygnus menghitung dalam kepalanya, memperkirakan berapa lama lagi ia mesti berperan sebagai pengasuh. Ya, pengasuh. Begitulah yang dirasa olehnya selama berada dalam ruangan yang sama dengan Lyra. Menungguinya, menemaninya, menjaganya sampai Syrena selesai dengan tugas yang ada; tak boleh meninggalkannya, tak bisa pergi dari ruangan yang dibalut suara gesekan pensil dengan kertas. Cygnus benar-benar tidak mengerti apa yang harus dilakukan. Tapi semestinya tak butuh waktu lama hanya untuk mengecek persiapan acara esok hari yang akan berlangsung di gym; Syrena, Jeffrey, dan Julia sebentar lagi kembali dari sana, seharusnya.

Spring Festival adalah salah satu dari acara tahunan Northern High yang dengan bangga dikelola oleh para anggota komite sekolah untuk mengawali tahun ajaran. Pameran dan demo kegiatan ekstrakulikuler untuk menggaet para murid baru memasuki klub, stand-stand makanan dan minuman untuk yang kelelahan berputar-putar, panggung pertunjukan di aula olahraga bagi yang unjuk bakat; dan akan diakhiri dengan penutupan berupa membakar segala properti festival dalam api unggun raksasa di tengah lapangan sepakbola. Acara itu akan berlangsung selama tiga hari penuh, dimulai dari besok. Apa yang tersisa saat ini hanyalah memastikan persiapan telah mencapai tahap akhir dan sempurna sebelum hari-H menjelang.

Cygnus, sebagai salah seorang anggota komite bersamaan dengan Jeffrey, Julia dan Syrena dan beberapa anggota lain yang sibuk dengan pekerjaan masing-masing, mendapatkan tugas untuk mengecek keadaan panggung dan ruangan yang akan digunakan sebagai acara pembukaan. Seharusnya dia dan Syrena berdua saja yang kini pergi ke gedung olahraga. Sayangnya— ..ia meringis kesakitan, kakinya berdenyut mengerikan—kondisi tubuh tidak mengizinkannya berjalan begitu jauh, hingga dua orang kawan yang tersisa mengajukan diri untuk menggantikan Cygnus menemani Syrena.

Permukaan kaca memantulkan bayangan seorang yang bangkit dari duduk dan menghampirinya dalam langkah perlahan. Cygnus menoleh, berhadapan muka dengan Lyra yang separuh mukanya tertutupi surai pirang keemasan.

.


.

"Ini."

Di kertas itu, terdapat sketsa seorang pemuda dalam garis-garis kasar pensil. Sedang duduk di kursi, siku menempel di atas meja, tangan menyangga kepala. Pandangannya mengarah ke luar jendela. Alis bertaut, berkerut di tengah-tengah, dan bibirnya terlihat tertekuk setengah merengut. Cygnus terpana sesaat, tak tahu apakah dirinya salah menduga, tapi dia sedikit terhenyak menatap potret diri yang hampir menyerupai asli ini.

"Memangnya tadi aku merengut?"

Anggukan kepala.

"...serius?"

Diam. Diam. Diam.

.


.

Lyra Clarines, Cygnus mematri dalam hati, adalah anomali.

Jika tingkah dan kelakuan gadis itu yang hampir bisu tak bisa dipahami olehnya, maka sketsa sederhana yang dibuat oleh Lyra adalah kebalikan dari sulit. Tarikan garis yang tegas, lentur—jujur. Cygnus bukan seorang yang mengenal cita rasa seni, ataupun kritikus yang bisa menemukan sesuatu untuk diucapkan entah berupa pujian atau saran saat menatap sebuah karya; dia hanya.. senang—ya, hanya senang—melihat apa yang terdapat di kertas tersebut.

"Gambarmu bagus."

Satu, dua, tiga detik—lalu, "Buatmu."

"Eh? Tapi—"

"LYRAAAAA!"

Cygnus mengerutkan kening secara otomatis, raut kesal karena kalimatnya terpotong begitu saja oleh panggilan berdesibel tinggi tergambar di paras. Maniknya mengerling ke arah pintu yang berdebam membuka lebar bertepatan dengan eksistensi gadis bersurai kemerahan meluncur masuk bagai roket yang ditembakkan dari luar ruangan. Syrena Aerou, diamatinya, menghampiri Lyra dengan cepat.

"Kamu baik-baik saja kan selama kutinggal? Nggak ada yang menyerangmu? Cygnus berlaku baik?"

Kerutan di kening Cygnus semakin dalam, "Excuse me?"

Lyra Clarines hanya mengangguk sebagai jawaban.

"Oh, syukurlah."

Kelegaan yang menyelimuti paras manis gadis itu agaknya terlalu berlebihan hingga Cygnus merasakan emosinya menanjak naik—apakah Syrena mencurigainya akan menyakiti Lyra sewaktu dititipkan padanya? Namun senyum yang kemudian dipamerkan oleh Syrena padanya menyurutkan kembali amarah Cygnus yang hampir saja disemburkannya. Cygnus bukanlah pakar dalam membaca ekpresi orang lain, akan tetapi Syrena adalah buku yang terbuka lebar. Mudah sekali untuk dipahami. Saat ini, yang terdapat dalam kristal hijau Syrena adalah sinar penuh terima kasih yang begitu tulus. Rasanya tidak mungkin ada orang yang bisa marah di hadapan tatapan teduh itu.

Tapi tidak kah hal itu aneh? Cygnus bertanya-tanya dalam hati, kebingungan. Dari kata-kata dan tingkah Syrena, seakan ada suatu hal lain yang mengancam Lyra saat ditinggalkannya. Seolah Cygnus memang diharapkan untuk menjaga dan memastikan keselamatan Lyra. Akan tetapi sedari tadi tak ada hal yang nampak mencurigakan, bahkan sama sekali tak ada yang datang ke ruangan rapat ini; mengakibatkan Cygnus semakin kebingungan dalam pikirannya.

Ternyata memang, segala hal yang menyangkut Lyra Clarines sulit dimengerti.

.


.

"By the way, semua sudah oke," Syrena kali ini mengarahkan ucapannya pada sang pemuda. "Ada beberapa hal yang harus dibenahi, tapi Jeffrey sudah menanggulanginya dengan sempurna. Dia dan Julia langsung ke lapangan sepakbola untuk mengecek tugas mereka jadi tak bakal kembali kemari. Sekarang kita bisa pulang, beristirahat, dan mempersiapkan diri untuk menikmati hari esok."

"Thanks, Syr."

"Mau kupapah sampai ke depan gerbang? Mobil jemputanmu menunggu di sana kan, Tuan Muda?" Sebelum Cygnus bisa memprotes dengan berkata bahwa dia tak butuh bantuan hanya karena kakinya sedikit sakit untuk digunakan berjalan, Syrena melanjutkan ucapannya dengan sinaran jahil menghiasi biner zamrud, "Tapi antarkan kami pulang sebagai gantinya. Kau tahu kan, rumahku jauh, begitu juga Lyra. Dan sebentar lagi senja turun. Tidak baik bagi gadis-gadis untuk berjalan kaki di jam-jam seperti ini."

Menghadapi Syrena selalu mudah bagi Cygnus. Jauh lebih mudah dibandingkan menghadapi Lyra.

"Simbiosis mutualisme, eh?" Dia tersenyum, "Baiklah. Ayo."

.


.

Hanya beberapa jam menuju acara yang dinantikan.

Cygnus mengusir segala hal yang tidak berhubungan dengan Spring Festival dari dalam pikirannya.

Syrena tersenyum-senyum senang.

Lyra Clarines, bagaimanapun, tidak menyambut datangnya festival sekolah dengan bersemangat—berkebalikan dengan sepupunya sendiri. Acara semacam itu biasanya akan membuat mereka bertambah banyak, muncul segala tempat entah darimana dan turut menyesaki festival. Lyra tidak mungkin bisa bertahan sendirian di tengah keramaian, dengan mereka berada di tiap tikungan. Dia menunduk, membiarkan poni menutupi mata, dan menggertakkan gigi.

.


.

Sesuai dengan dugaan Cygnus Cross, Lyra Clarines adalah sebuah anomali.

.


.

"Kau besok ikut kan, Lyr?"

"...ung."

"Ayolah, Lyra, jangan kecewakan aku. Tahu kan betapa pentingnya acara ini untukku?"

"Sy—"

"Aku tak bakal bisa menemani. Tapi kuusahakan bisa istirahat saat makan siang. Kita akan makan bersama. Kan?"

Lyra butuh waktu untuk mempertimbangkan.

Tapi Syrena telah mengetahui jawabannya.

"Okay."

.


to be continued—