Temperatur 0

Files #3: Kontemplasi

Genre: Family/Drama/Angst/SciFi

Rate: T


Sepotong sosis Frankfurt tergeletak terabaikan di piring, hanya dipandangi dengan tatapan kosong kedua iris cokelat tuamu tanpa disentuh. Garpu dan sendok aluminium tergenggam di jemari kurusmu tanpa digerakkan sama sekali.

Lama kelamaan segala kondisi statis ini membuat pria yang duduk di seberang meja jengah juga.

"Elizaveta, kau belum menyentuh makan malammu daritadi," kata Dad memerhatikan. Kau tersentak dari lamunan hampa.

"Ah ya, Dad.." sesuap kecil sosis dan sayuran segera mampir ke mulutmu dengan terburu-buru. Dad mengangkat alis.

"Kau kelihatan seperti orang depresi, Eliza."

"Begitukah? Beda antara waras dan depresi memang tipis sekali, Dad," balasmu dengan nada sedikit melamun.

"Apa yang dikatakan Ketua padamu tadi?"

Kau menghela nafas yang daritadi ditahan tanpa sadar. "Uh, ehm.."

"Tak apa kalau kau belum mau menceritakannya sekarang," sahut Dad tenang sambil melanjutkan makan malamnya. Kau menghela nafas sekali lagi, kali ini karena lega.

"Baiklah, Dad."


Suara statis ketak-ketuk yang timbul karena sepatu pantofelmu dan lantai yang beradu memecah keheningan di koridor laboratorium itu. Kau baru saja selesai membereskan ruang lab, dan kini tengah dalam perjalanan pulang menuju rumah dinas untuk beristirahat. Dad sudah pergi lebih dulu daritadi.

Malam ini bulan penuh. Langit agak mendung, bintang-bintang di atas kelihatan buram seperti berkabut dan mengaburkan galaksi yang berada diantara mereka.

Selesai mengunci pintu, kau segera merebahkan badanmu di atas seprai linen kasur kamarmu yang nyaman. Menghela oksigen yang ada ke paru-parumu dalam-dalam, kau mengernyitkan dahi sesaat. Kejadian tadi siang masih jelas membayangi memorimu.

"Proyek pembuatan..senjata kimiawi?"

"Ya, Elizaveta. Tentunya kau tahu kalau keefektifannya akan meningkat berkali-kali lipat jika dibanding senjata konvesional, bukan?

Hening sesaat. Hanya terdengar helaan oksigen yang dipompakan terburu-buru ke kedua paru-parumu.

"Profesor Gilbert..kau..kau gila!" sergahmu gusar dengan emosi yang tidak ditutup-tutupi lagi. Lelaki tua didepanmu mengangkat alis, lalu tertawa sebentar. Kau langsung memutuskan kalau suara tawa serak itu adalah bentuk bunyi yang paling kau benci diatas apapun di dunia ini—bahkan bau tikus-tikus percobaan yang tertusuk jarum kloroform.

"Jadi..bagaimana, Elizaveta Mueler? Kau menerima tawaran ini? Hasil penelitianmu nantinya akan sangat menentukan posisi negara kita di perang yang sedang berlangsung sekarang, Elizaveta.."

"Sains bukan digunakan untuk pembunuhan massal, Profesor Gilbert," balasmu tajam.

"Ah.." seulas senyum berbahaya terukir di bibir tua pria itu, "apa seperti itu bentuk kesetiaanmu ke negara ini, Nona Muda?"

Tanpa disangka-sangka –dalam waktu sepersekian detik— kau maju mencondongkan badan kearah lelaki tua itu.

"Aku ilmuwan, bukan kaki tangan militer—asal kau tahu itu." bisikmu lambat-lambat dengan desisan berbahaya.

Lelaki tua bertitel 'Profesor' di hadapanmu itu kelihatan terkejut sesaat, sebelum akhirnya otot-otot di wajahnya kembali ke ekspresi pongah seperti biasa lagi.

"Begitu rupanya.. Biar kuperlihatkan sesuatu padamu, Elizaveta." Tangan bersarung katun putihnya merogoh ke laci di bawah mejanya. Dua menit kemudian, ia memegang sebuah map tipis berwarna kecoklatan yang kelihatannya sudah agak tua. Ditunjukkannya sampul depan map itu kepadamu.

Kedua bola sewarna Corylus avelanna mu melebar, begitu membaca tulisan yang tergores di sampul map itu. Sebuah nama yang sangat kau kenal. Sebuah nama—yang antara ada dan tiada. Sebuah nama yang menghantui pikiranmu di tahun-tahun dulu dan sampai sekarang—segala sesuatu tentang pemilik nama itu begitu ambigu dan tak tersentuh.

Erenna Mueler.

Sebuah nama yang pemiliknya hanya bisa kau kenal melalui foto tua yang terlupakan.

"I-itu..," bisikmu terbata-bata.

Profesor Gilbert tersenyum—yang lebih menyerupai sebuah seringai. "Bagaimana, Elizaveta kecilku? Kau tentunya sangat ingin mengetahui apa yang terjadi dengan Ibumu, bukan?"

Cukup. Profesor tua itu memang telah mengetahui titik lemahmu—dan dengan liciknya memanipulasinya sebagai meriam yang meruntuhkan benteng pertahananmu. Geraham-geraham di mulutmu saling beradu, menimbulkan suara gemeretakan kecil begitu kau mengetahui siasat ini. 'Dasar serigala tua..'

Melihat reaksimu, lelaki berjas putih itu tersenyum tipis. "Tenanglah, Nona Muda. Senja—proyek kimiawi ini nantinya bukan digunakan untuk membunuh, melainkan hanya untuk melambatkan metabolisme tubuh tentara musuh saja sehingga pergerakan mereka menjadi pelan dan lebih lemah." Ia memberi jeda sesaat. "Bagaimana, Elizaveta?"

Hening sebentar. Kedua bibirmu masih terkatup, pandangan matamu menerawang jauh—menyiratkan kontemplasi rumit yang kini sedang terjadi di dalam benakmu.

"..Baiklah." Jeda sebentar, sebelum kau melanjutkan lagi dengan suara yang timbul tenggelam. "Berikan aku waktu..untuk memutuskan," bisikmu parau.

Kedua mata tua yang terhalang dibalik kacamata bikonkaf itu tak bisa menyembunyikan binar antusiasnya begitu mendengar jawabanmu. Kau menelan ludah, mendadak merasa jijik pada suatu hal—entah mengapa.

"Kutunggu jawabanmu paling lambat lusa depan, Elizaveta. Sekarang kau boleh keluar."


"Selamat pagi, Elizaveta."

"Pagi, Dad. Dad mau kemana?" tanyamu heran melihat Dad yang menggunakan kemeja dan topi bowler—tak seperti biasanya.

Dad tersenyum. "Ada pertemuan di Dewan Kota pagi ini. Dad akan pulang nanti siang."

Kau menggosok-gosok kedua matamu yang masih kelihatan agak mengantuk. "Oh..hati-hati di jalan, Dad."

Ketika sampai di ambang pintu, mendadak lelaki itu berhenti—dan membalikkan badannya ke arahmu.

"Elizaveta," katanya serius, "dengar, jangan coba-coba masuk kedalam ruangan yang ada di dalam kamar Dad. Oke?"

Kau terdiam, sebelum kepalamu merespon dengan anggukan kecil. Dad kelihatan puas.

"Nah, bagus. Jangan lupa sarapan. Dad pergi dulu.."

Dengan itu, pintu pun tertutup—meninggalkan kau yang tengah berdiri di ruang depan dengan ekspresi tak terbaca.


Dulu, Katherine Mueler —Kakak— selalu bilang kalau kau adalah anak yang selalu ingin tahu. Terkadang, rasa penasaranmu yang berlebihan itu bisa menjadi menyebalkan juga, begitu katanya.

Seperti saat ini.

Mengendap-endap dengan senter di tangan, kini kau tengah berada di dalam sebuah ruangan serupa gudang yang berada di dalam kamar Dad. Mendadak kau merasa seperti anak kecil bandel yang sedang bermain petak umpet. Kau menelan ludah—merasa risih pada diri sendiri.

'Sekali ini saja, Eliz. Lain kali kau akan patuh kembali seperti biasa..'

Suara kecil didalam pikiranmu berbisik dengan nada jahil. Kau menggelengkan kepala sambil mendecakkan lidah perlahan.

Ruangan itu gelap. Hanya ada beberapa rak dengan tabung-tabung reaksi berisi cairan-cairan bening, kekuningan, dan beberapa warna lain serta buku-buku yang menumpuk. Sebuah foto tua dengan bingkai kuningan –dengan potret seorang wanita berkacamata berambut ikal kecoklatan sebahu yang kau kenal sebagai Ibu— terdiam di meja kecil di samping rak-rak itu. Kau mengangkat alis. Tak ada yang aneh. Lantas..mengapa Dad merahasiakan ruangan ini, kalau begitu?

Pandanganmu berhenti pada tumpukan kertas berwarna kekuningan –yang sepertinya agak berdebu dan sudah lama—yang tergeletak di atas meja kecil, disamping potret Ibu itu. Dengan sedikit ragu, kau mengulurkan tangan untuk mengambil lembar yang paling atas.

'Cara Untuk Membuat Keindahan Seni yang Abadi', kau membaca perlahan goresan huruf-huruf judul hampir pudar yang tertulis di baris paling atas kertas catatan itu.

Dan alismu pun terangkat dengan ekspresi heran begitu membaca kalimat-kalimat yang tertulis setelahnya.

"Catatan..apa ini? Homunculi from dead corpse?"

Kau melanjutkan membaca daftar pendek misterius itu, dan samar-samar merasakan gejolak aneh yang timbul perlahan dalam perutmu.


.

.

~ Temperatur 0 – Files #3: END ~

Bersambung..

.

A/N: Terima kasih untuk kalika-sevde, yang sudah mereview chapter kemarin. ^^

.

Terima kasih sudah membaca, semoga menikmati chapter kali ini. Kritik, jika berkenan? :)