Sebuah cerita ngawur kembali datang…. Hohoho….

Seperti cerita sebelumnya, semoga anda-anda berkenan untuk membacanya, bersedia untuk mereview tentang ceritanya, syukur-syukur ada yang mau ngefavoritin… :D

Selamat Membaca….

Hei Man, I Think I Love You….

Hei…

Kamu siapa?

Apa yang kamu lakukan?

Mengapa kamu bisa masuk ke hatiku tanpa ku sadari?

#

Siang itu, hari sedang turun hujan. Kupacu motorku menembus air yang turun dari langit tanpa perduli. Aku harus cepat sampai gumamku, untungnya hujan hari itu belum terlalu lebat, jadi aku tidak terlalu basah ketika sampai ke tempat tujuan.

Ku parkir motorku, segera ku ,menuju tempat tujuanku. Semoga aku tidak terlambat gumamku, ku lihat di halaman tak ada anak-anak yang terlihat. Mungkin karena hujan mereka berdiam di dalam kelas gumamku –lagi-.

Ku masuki sebuah ruangan, ku lihat anak-anak yang sedang bermain. Di sisi lain, ku lihat seorang lelaki tua yang tak lain adalah Pamanku dan seorang lelaki lain. Hei, siapa lelaki itu, aku tak melihatnya sebelumnya. Banyak pertanyaan yang terlintas di benakku tentang lelaki itu.

" Eehhh, Kia. Paman kira kamu hari ini tidak masuk, jadi Paman minta Khafi tuk menemani Paman hari ini" tunjuknya ke arah lelaki itu. Aku hanya tersenyum, aku ke tempat duduk yang biasa aku tempati dan lelaki itu di sampingku.

Hari itu semuanya berubah menjadi tidak biasa. Aku tiba-tiba merasa gugup dan tidak nyaman. Apa karena ada lelaki itu? Yang pasti hari itu aku bukanlah aku seperti hari biasanya. Setelah selesai, aku mengikuti Pamanku bergegas meninggalkan ruangan itu tanpa perduli lelaki itu. Aku memang terbiasa hanya mengikuti Pamanku tanpa perduli hal lain di tempat itu.

#

Keesokan harinya semuanya berjalan seperti biasanya kembali dan begitu pula seterusnya. Namun suatu hari perubahan besar terjadi. Aku tak lagi bersama Paman, melainkan di kelas sebelah bersama seorang Ustadzah yang baru masuk menggantikan Ustadz lama yang keluar. Pada awalnya aku merasa tidak nyaman dengan keadaan ini, ini menuntutku untuk berkomunikasi dengan yang baru sedangkan aku tidak terbiasa. Aku lebih terbiasa dengan Pamanku sendiri bukan dengan orang baru, walaupun aku telah berusaha terbuka dan menerima Ustadzah baru itu. Dan tak ku sangka, lelaki itu juga ada di kelas ini. Ya Rabb, aku menjadi tidak karuan. Aku berpikir mengapa aku dipindah ke sini, namun di sisi lain mungkin ini jalan yang harus aku lalui gumamku.

#

Hari demi hari berlalu, dingin masih menyelimuti hatiku, aku masih malu walaupun hanya untuk sekedar menyapa mereka. Aku hanya tersenyum tanpa suara, ketika sudah selesai aku bergegas keluar dari ruangan itu tanpa perduli dengan hal lainnya. Aku terbiasa hanya mengikuti Pamanku tanpa perduli tentang apapun di tempat itu dan itu menjadikanku tidak mengenal Ustadz dan Ustadzah lainnya. Ustadzah Fatimah, satu-satunya Ustadzah di sana sebelum aku dan Ustadzah Habibah, tampak dengan gaya santai dan anggunnya kadang-kadang mencoba mencairkan suasana, namun seperti biasa tanggapanku hanya seperlunya karena itulah aku. Aku bukan tipe orang yang senang banyak bicara.

#

Hari ini aku sendiri, hei kemana Ustadz-Ustadz yang biasanya masuk lebih dulu? Dengan sedikit gugup ku mulai pembelajaran dengan berdo'a. Tidak lama kemudian Ustadz Zaldi datang dan kemudian di susul Ustadz Khafi. Pada mulanya aku tak yakin dengan semua ini, apa aku benar-benar harus seperti ini? Aku yang terbiasa dengan saudara sendiri harus seruangan dengan orang yang tak ku kenal. Namun tekad untuk menjalani semuanya dengan sabar hadir dalam hatiku. Setelah pelajaran berakhir dan semua anak-anak sudah pulang, seperti biasa aku bergegas keluar. Saat keluar, tak sengaja ku tatap wajah Ustadz Khafi yang berada di depan pintu dan aku tersenyum padanya. Entah bagaimana reaksinya, aku tak perduli. Ku tak ingin berlama-lama disana dan membuat semuanya menjadi kacau.

#

Seperti hari-hari sebelumnya, ku lewati waktuku di tempat ini. walaupun ini bukan keinginanku tapi aku mencoba sepenuh hati menjalaninya. Tapi, hei ada yang berbeda dari pintu itu, kenapa? Kenapa tatapanku tak berhenti ke arah pintu itu? Siapa yag kuharapkan datang dari pintu itu? Astaga, ada apa denganku? Hei… mataku tak henti menatapi pintu itu, satu persatu ku tatap orang yang masuk lewat pintu itu. Bukan dia, bukan dia, dia juga bukan. Ayolah, ada sesuatu yag salah di pintu itu. Kenapa jatungku berdetak kencang? Siapa yang ku inginkan melewati pintu itu? Apakah orang itu?. Sampai pelajaran berakhir, ia belum juga muncul, hatiku rasanya gelisah sambil tetap memandangi pintu itu. Aku pulang dengan perasaan kecewa hari ini.

#

Hei… kapan kau mulai masuk ke hatiku? Kenapa sekarang aku sering memikirkanmu? Kenapa sekarang aku tak ingin jauh darimu? Kenapa? Kenapa aku tak henti memandangi pintu itu? Hei… cepatlah kemari, mata ini tak sabar untuk menatapmu. Ayolah cepat datang gumamku sambil menatap pintu tempat masuk. Kadamg-kadang ku menoleh ke arah pintu itu untuk melihat siapa yang datang. Bukan dia, juga bukan dia. Tapi… hei, itu dia yang aku tunggu. Akhirnya dia datang pekik otakku setelah seorang pria masuk ke ruangan yang sedang aku tempati.. Aku tak berhenti memandanginya sampai ia menemukan tempat duduknya. Tak hanya sekali aku mencuri pandang wajahnya. Hei, dia tampan gumamku. Dan semua itu terus berulang setiap hari. Gembira saat ia masuk melewati pintu itu dan sedih saat melihatnya keluar dari pintu itu tanpa memandangku sedikitpun.

#

Libur? Aku mendadak tidak menyukai kata itu. Aku tidak suka libur. Aku tidak bisa bertemu dengannya jika libur. Aku bisa mati hanya karena merindukannya. Ayolah, ayo cepat… Aku tak sabar ingin bertemu dengannya. Ayolah hari Senin, cepatlah datang pekik hatiku. Astaga…. Hei… Ada apa denganku? Lagi-lagi hal aneh terjadi. Hei apa aku merindukannya? tapi mengapa aku merindukannya? Bukankah rindu itu milik dua orang yang saling mencinta? Apa aku telah jatuh hati padanya? Hei, hei, hei…. Ada apa? Katakanlah sesuatu. Apa aku memang telah jatuh hati dan mulai mencintanya? Tidak, tidak, tidak, jika memang aku telah jatuh cinta? Tapi apa bisa aku memilikinya? Untuk sekedar tahu namanya saja aku harus berusaha keras. Apa dia telah dimiliki seseorang? Berapa usianya? Ia tinggal dimana? Hei… tapi dia tampan dan mempesona, dia sangat sederhana dan sempurna. Kesederhanaannya membuatku jatuh hati. Astaga… aku mulai gila lagi karena cinta…

#

Ku pacu motorku dengan santai dengan hati yang senang. Dalam benakku aku sudah tak sabar ingin bertemu dengannya. Jika ada yang menyadarinya, mungkin orang itu menganggap aku sudah gila karena sepanjang perjalanan aku tersenyum dan tertawa sendiri. Memang, sepertinya aku memang sudah tidak waras gumamku, namun tak peduli asalkan hatiku senang gumamku lagi tetap dengan wajah cengengesan sampai ku parkir motorku dan berjalan menuju ruangan.

Hari ini seperti biasa, ku pandangi pintu masuk menunggunya datang. Sambil menunggunya aku bercanda dengan santri yang cukup dekat denganku. Kami bercanda tertawa dan kadang ia tersenyum melihat kelakuanku dengan para santri yang sama seperti anak kecil. Alangkah bahagianya ketika ku lihat lengkungan di bibirnya yang lebih indah dari pelangi. Ya Rabb… aku ingin dia teriak hati kecilku, sungguh ingin dia ya Rabb…

#

Waktu berlalu tanpa terasa, namun tidak saat libur. Bagiku waktu menjadi sangat menyiksa. Hanya bayangannya yang menemaniku. Hei….kadang aku tersenyum semdiri mengingat semua kenangan tentangnya. Ya Rabb… pekikku. Ku dendangkan lagu bernuansa jatuh cinta. Sepertinya aku memang telah jatuh cinta padanya. Mengingatnya membuatku menjadi seperti orang gila. Ya, memang aku sudah gila, gila karena cinta, sebuah cinta yang buta.

Seperti biasa awal minggu merupakan hal yang membahagiakan, apalagi sekarang nampak komunikasi yang baik antara kami walaupun hanya sekedar sapaan kecil dan senyuman. Itu sudah merupakan awal yang baik gumamku. Tapi sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi ketika ku lihat ia menggendong seorang balita. Hei siapa anak itu? Apa itu anaknya? Aku bisa bunuh diri apabila ternyata itu memang anaknya. Berbagai hal yang menyakitkan mulai menyeruak dan membuatku mulai meragu. Apa dia sudah menikah dan bahkan punya anak? Mungkin saja itu anak saudaranya. Tapi sepertinya tidak mungkin, sepertinya dia bukan tipe orang yang senang membawa anak kecil dalam pekerjaannya. Jadi, anak itu siapa? Apa itu buah hatinya dengan wanita lain? Otakku menjadi buntu memikirkan kejadian hari ini. Astaga… ya Rabb… semoga itu tidak benar, semoga itu bukan anaknya gumamku. Aku menjadi uring-uringan, dalam hatiku masih terbayang saat ia membawa balita itu melintasiku. Aku menjadi seperti orang yang sedang patah hati. Fisikku masih bisa melakukan hal-hal biasa yang aku lakukan, namun hatiku meronta-ronta mencari penjelasan tentang kejadian itu. Ku coba untuk menganggapnya itu bukan hal yang perlu ku pikirkan, mungkin itu hanya anak saudaranyanya gumamku. Ku mencoba menganggapnya seperti angin lalu, namun di sisi lain aku takut, takut jika itu memang anaknya. Jika memag itu anaknya, hancurlah sudah harapanku….

#

Semuanya kembali berjalan seperti biasa. Dalam waktu yang cukup lama, tak ku lihat ia membawa anak itu. Namun ketakutanku masih terbersit dalam hatiku. Baiklah, ku coba menjalani dengan sabar gumamku. Aku berserah diri pada-Nya. Namun sepertinya Tuhan tak ingin aku jatuh terlalu dalam, walaupun sepertinya aku telah jatuh dalam lebih dalam dari sebelumnya. Di saat aku mulai membayangkan untuk merajut sebuah ikatan yang kuat, kenyataan pahit datang bak badai menerpa hatiku. Saat aku mulai membayangkan ia akan menjadi seorang kepala keluarga yang baik, menjadi seorang imam yang sempurna untukku, menjalani hidup sebagai sebuah keluarga kecil yang bahagia. Dan dari semua khayalan itu kita akan menjadi keluarga yang penuh dengan ketaqwaan dan kebahagiaan. Ku bayangkan aku akan menjadi seorang istri yang akan selalu taat pada suami dan agamanya. Menjadi sosok istri yang sempurna. Memberikanmu ketenangan dan kebahagiaan. Alangkah bahagia dan sempurnanya kita khayalku. Namun hari itu, kau datang dengan menggendong seorang anak kecil, awalnya aku acuh tak acuh dengan anak itu, namun saat salah seorang santri mengatakan "Lihat itu anak Ustadz" perasaanku berubah 360 derajat. Di tambah lagi ku dengar anak itu memanggilnya Ayah sambil menghentakkan kakinya dengan manja membuatku semakin hancur. Hatiku menjadi sangat-sangat hancur, aku ingin menangis namun air mata ini tak dapat keluar. Entah apa yang menahannya. Kata yang dulu pernah terlintas dibenakku saat pertama kali ia membawa anak itu memperlihatkanya dihadapanku mulai terngiang dibenakku dan tak henti ku gumamkan. Aku ingin bunuh diri, aku ingin bunuh diri teriak hatiku. Seperti lapisan yang tipis, lapisan tipis itu terjatuh dan retak. Terasa sangat sakit di sini, di dekat jantungku, di dekat bagian yang membuatku hidup. Aku merebahkan tubuhku. Menangis namun tak ada air mata yang keluar, mungkin hatikulah yang menangis bukan mataku. Hatiku masih meneriakkan kata aku ingin bunuh diri. Lama ku menangisinya, namun air mataku tetap tertahan. Hatiku sayang, hatiku malang bisikku.

#

Ku mulai berpikir untuk tak terlalu mengaharapkannya, namun saat ku tatap lagi wajahnya dan ku dengar suaranya, khayalanku untuk bersama dan memilkinya kembali menyeruak. Dan itu terus berulang dan berlanjut. Setiap rasa sakt yang terasaa hilang saat ku tatap ia. Dan akhir-akhir ini, fakta-fakta lain aku tak bisa memilikinya semakin jelas ku dengar. Aku hanya bisa pasrah namun tetap berharap. Hanya itu kekuatanku. Menunggu dan berharap hanya itu kemampuan yang aku miliki. Sampai detik ini, aku pasrah pada-Nya, takdirlah harapanku. Namun setiap memandangnya,di dekatnya, bersamanya, mengagumi setiap sifat yang dimilikinya menjadikannya sosok sempurna dimataku. Sosok sempurna yamg pantas diperjuangkan untuk sebuah kebahagian. Dan mungkin memang aku memang telah jatuh, jatuh dalam jurang yang sama dengan sebelumnya. Merasakan kesakitan yang sama, namun disisi lain, jurang yang dalam ini memberikan ku rasa bahagia. Setidaknya aku juga merasakan sedikit rasa bahagia dari cinta buta da gila ini. walaupun bahagia ini jelas tak seberapa dengan sakit yang ku rasakan.

#

Hei….

Milik siapapun kau, ia beruntung mendapatkanmu.

Seorang malaikat tanpa sayap yang diturunkan dari surga.

Semoga ia menjagamu dengan sangat baik,

Karena suatu saat nanti jika kesadaranku hilang

Mungkin aku akan merebutmu darinya.

Saat ini aku masih sadar,

Tak ingin menyakiti saudaraku sesama wanita hanya karena kau.

Tapi menurutku, kau memang pantas untuk diperebutkan.

Kedewasaanmu, sifat bijakmu, perhatianmu, menjadikanmu sempurna dimataku.

Dan aku akan jadi wanita yang sangat bahagia bila bisa dapatkan malaikat sepertimu….

Hei Man…

I don't know what's wrong, but I think the heart never wrong when give s a sense.

And Man…

I Think I'm Fallin Love with You and I Love You…

End