Leaping Thoughts

© Alitheia

.

xvii. so close

Terkadang ada semacam kegalauan yang tak dapat dijelaskan terpantul di matamu. Saat waktu-waktu melamun yang tidak biasa itu datang, kau hanya akan berdiam sekaku patung, dan menatap dinding dengan pandangan kosong. Tidak menyahut saat dipanggil, tenggelam sendiri dalam pikiranmu yang memutar lambat memori berdebu.

Kebanyakan orang tidak akan bisa mengerti apa yang terjadi padamu. Mereka tak akan bisa menjelaskan bagaimana seseorang yang cerdas dan sigap sepertimu bisa tiba-tiba diam tak bersuara dan menatap ke depan dengan mata yang berkabut. Mereka tidak akan bisa menjelaskannya, namun aku bisa.

Aku, tahu saat kau sedang berdiam diri menatap peta di dinding seperti sekarang ini, kau sebenarnya tidak sedang melihat ke gambar permukaan bumi itu. Matamu melihat sesuatu yang lain; sebuah film yang warna-warninya bercampur dengan kelabu yang membutakanmu dari sekitarmu. Film yang terbentuk dari kenanganmu; kenanganmu tentang dirinya.

Dirinya, ya, ia. Kau terkadang diam membayangkannya, mengingat-ingat masa yang pernah kalian lewati dengan bergandengan tangan dan senyuman. Kau selalu memikirkannya, bagaimana senyum manisnya akan menunjukkan gigi-giginya yang kecil dan rapi, bagaimana helaian rambutnya akan terangkat dengan ringan saat angin berembus, dan bagaimana matahari menyinari wajahnya saat ia menatapmu dengan mata hijau cerahnya yang bundar dan jernih. Aku tahu kalian pernah bahagia. Bahkan di saat aku sedang mencari kata-kata untuk mendeskripsikan keadaanmu sekarang ini pun, kau masih melakukan hal yang sama, menerawang peta di dinding.

Kalian pernah begitu dekat—aku tahu, memang itulah selalu yang kau pikiran—hingga napasnya yang tak lagi berjarak mengembus wajahmu; hingga kalian menyatu dalam detak jantung yang saling memadu; hingga saat kalian bertatapan segala pikiranmu meleleh, dan pikirannya menguap, dan yang sama-sama kalian pikirkan saat itu hanyalah kau, kau, dan kau.

Kalian pernah begitu dekat, hingga kau bisa merasakan sakit saat butiran timah menembus kulitnya; hingga denyut nadinya berharmoni dengan langkah kakimu; dan begitu dekat, hingga akhirnya bilah peraknya yang dingin mampu menyentuh kulitmu, dan moncong pistolmu yang hangat mampu tenggelam dalam mantelnya.

Sekarang udara diperciki amarah saat kalian menatap satu sama lain. Namun aku tahu kalian tak akan pernah sanggup melakukannya, dan buktinya baik ia maupun kau masih hidup hingga sekarang, dan melanjutkan pekerjaan masing-masing seakan kalian telah lupa bahwa sekali-sekali, nyawa kalian yang hampir meregang lagi-lagi diselamatkan oleh suatu ketidaksanggupan bernama cinta. Dan mungkin, hanya mungkin, kalian juga pernah cukup dekat untuk menarik satu sama lain ke sisi yang berbeda, namun kesempatan itu tak pernah tepat karena kedua tangan tak pernah terulur di waktu yang bersamaan.

Dan aku pun di sini, tak pernah maju lebih dari sekadar mengancam, tak pernah bertindak lebih dari sekadar dukungan dan perhatian, dan tak pernah menarik pelatuk meski telah berpuluh kali memiliki kesempatan. Karena sosokku tak pernah lebih untukmu, hanya seorang bayangan yang berdiri sendiri dengan ketidaksanggupan yang sama.

Dan kau pernah begitu dekat dengannya, sehingga tidak menyadari siapa yang berada di dekatmu sekarang.