Leaping Thoughts

© Alitheia

.

xvii. before i fall

Angin mengibarkan rambut panjangnya, menyentak-nyentakkannya seperti ratusan ular yang menyemburkan bisa. Telinganya dipenuhi desiran udara; di bawah sana, deru mesin dan klakson mobil terdengar sampai ke tempatnya. Jangkauan mata terbatasi gedung-gedung pencakar langit, yang memantulkan sisa cahaya sang matahari. Irene membelakangi semua itu; ia menatap Lucas, yang membeku di tempatnya, tak sanggup bicara.

Kata-kata serasa ingin meledak dari tenggorokannya. Begitu banyak yang ingin disampaikan, begitu sedikit sisa waktu untuk dihabiskan. Mereka terdiam cukup lama, sampai Irene memilih satu hal terakhir untuk diucapkan.

"Hei, Lucas," katanya pelan dan tenang, "sebelum aku jatuh," hampir terdengar ceria, "cium aku."

Diam kembali membungkus udara.

Lalu secepat kilat pemuda itu melakukannya; ciuman singkat, tapi menggambarkan seluruh perasaannya. Manis masih tersisa di bibir keduanya saat ia mundur lagi dan berbalik, menyembunyikan matanya yang basah dari pandangan.

Irene tersenyum, matanya sendiri juga basah oleh air mata. Ah, paling tidak, Lucas memenuhi permintaannya. Ia memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam, merelakan seluruh dunianya dalam setiap percikan oksigen yang dihirupnya. Potongan gambar—ibunya, adik laki-lakinya, teman-temannya, seluruh keluarga besar yang bahkan jarang ia ingat, serta semua yang pernah singgah dalam hidupnya—berkelebat di bawah kelopak mata seperti film lama yang diputar terlalu cepat, perlahan-lahan memudar dalam sepia yang menyedot segala citra dari retina. Lalu saat membuka mata, Irene mengangguk ke arah pria yang sedari tadi menonton mereka.

Satu gerakan dari si pria—satu letusan—dan merah menyebar di dada Irene.

Lucas hanya menunduk, meneteskan air matanya ke kedua tangan yang terikat di depan badan; sungguh berharap ia tiba-tiba jadi tuli saja sehingga tidak perlu mendengar bunyi itu.

Di bawah gedung, kerumunan terbentuk dan suara-suara panik menyebar. Alarm sebuah sedan membelah sore.