Leaping Thoughts

© Alitheia

.

xxxvii. kembaranku berasal dari venus

21.34 / Johan:

Rasanya seperti mengarungi samudra dengan sebuah carraca. Kau berdiri di balik roda kemudi, menikmati angin laut yang menyusup dari belakang, melewati rambut dan telinga, mengangkat kerah baju yang longgar dan menggoyangkan rosario di dada. Kaki langit berbayang dalam cokelat matamu, yang selalu bermimpi dan mendambakan dunia. Kau bisa membayangkan semua anganmu tertarik keluar melalui kedua matamu, tercampur dengan awan seputih kapas dan membentuk jutaan imaji tanpa henti. Biarlah suatu hari nanti, kau mengukir namamu di langit biru yang tinggi.

Dan kau hirup dalam-dalam harum lautan, lalu membiarkan benakmu menarik kembali potongan-potongan memori pada saat yang bersamaan. Deburan air adalah musik di telingamu, menyenandungkan melodi putri-putri Neptunus yang menghanyutkan. Matamu yang terpejam tak menghalangimu dari melihat jutaan warna, yang berputar dan meledak-ledak di balik kelopak matamu, menyuarakan mimpi-mimpi yang akan kau raih suatu hari.

Kau tanpa beban—seakan keluar dari ragamu dan naik, mengendarai arus udara di atas sana. Dan saat kau tundukkan kepalamu untuk melihat apa yang di bawah, matamu bisa menangkap kilasan putih dari layar kapalmu, berkibar di tiang-tiang gagah yang begitu bangga. Kau merentangan tangan dan merendahkan badan—percikan-percikan air laut yang menyegarkan menyapa wajahmu, menyampaikan asin yang begitu kau kenal.

Kau merasa begitu bebas, begitu lepas. Inilah puncak duniamu—begitu bahagia, begitu damai—kau tidak meminta lebih.

21.55 / Jane:

"Kapal musuh di belakang kita, Capitán."

Perusak suasana datang dalam segala bentuk dan cara.

Johan nyaris membenturkan kepalanya ke meja. Dari awal ia sudah tahu kalau cara ini tidak akan berhasil; ia dan Jane terlalu berbeda. Ia raup laptopnya dari meja dan keluar dari kamarnya dengan berisik, tergesa-gesa menerobos masuk pintu kamar lain yang tepat bersebelahan dengan kamar miliknya.

Ia masuk dan langsung menuding. "Sudah berapa kali kubilang untuk tidak mengacaukan suasana!"

Jane yang sedang telungkup di tempat tidur menengadah ke arahnya. "Apa?"

"Jangan berlagak bodoh," kata Johan sengit, "kita tidak akan pernah bisa menyelesaikan novel ini kalau kau terus-terusan merusak suasana baiknya."

"Tapi memang itu gunanya deskripsi suasana baik, kan? Untuk tiba-tiba dirusak dengan adegan kejar-kejaran menegangkan atau yang semacamnya." Jane menjawab tanpa nada bersalah.

"Ya ampun, aku kan setuju untuk menulis novel bersamamu bukan agar semua karakterku berakhir dengan mengenaskan." Yang satu hanya memijat kepalanya. Oh Tuhan, kalau dirinya dan Jane begitu berbeda, kenapa juga mereka harus dilahirkan kembar?

"Aku tidak berencana mengakhiri hidup karakter yang ini kok," kata Jane, ia menegakkan tubuhnya dan duduk, "setidaknya sebelum kita menemukan nama untuknya."

Jane memutar laptopnya menghadap kembarannya. Di layar, tampak chatting mereka dari beberapa menit yang lalu. Di kotak tulis Jane, ada sebuah paragraf baru yang baru setengah selesai. "Kita kan setuju kau menulis bagian indahnya, sedangkan aku yang mengurus bagian serunya." Kata Jane. "Deskripsimu bakal membosankan kalau terlalu banyak, jadi aku merusak pelayaran sempurna itu dengan berita mengejutkan, seperti kapal musuh, misalnya."

"Mungkin kau harus pergi keluar dan cobalah untuk mati sekali atau dua kali."

Kembarannya hanya mengangkat bahu dan melanjutkan mengetik.

"Apa yang akan kau tulis selanjutnya?" Johan bertanya.

"Ya lihat saja nanti."

"Jangan bunuh dia."

"Tidak akan sebelum kita mencapai akhir buku."

"Kau membuatku frustrasi. Sudah kubilang untuk mendiskusikan terlebih dahulu jalan cerita dari novel ini sampai ke akhirnya."

Jane tersenyum. "Lalu di mana elemen kejutannya?"

"Kejutan itu untuk pembaca, bukan untuk kita."

"Tidak ada air mata penulis, tidak ada air mata pembaca." Jane tak mengalihkan pandangannya dari layar. Jari-jarinya terus menari. "Tidak ada kejutan untuk penulisnya, tidak ada juga kejutan untuk pembacanya."

"Kurasa ibuku diculik makhluk luar angkasa sewaktu mengandungku, lalu mereka memasukanmu bersama-sama denganku sehingga kita terlahir sebagai kembar."

"Tepat, dan aku berasal dari Venus. Kembali saja sana ke kamarmu, lalu lanjutkan bagianmu dari sana. Kalau kau tetap di sini, aku akan ubah musuhnya menjadi guirita raksasa yang tiba-tiba membelit kapal dengan tentakelnya."