Leaping Thoughts

© Alitheia

.

vi. colors and choices

"Kau lihat gereja yang di sana itu, Red?"

Red memasang mata, di kejauhan dalam kegelapan malam, sebuah gereja berdiri, menara-menaranya menjulang tinggi seakan berusaha mencakar langit berbintang. Di atap setiap menara tertanam salib kerajaan yang dibuat dari besi, bahkan dari ketinggian seperti tempat mereka berada sekarang ini pun, tanda itu mempertegas bangunan apa dirinya. Material pembangun gereja membuatnya hampir menyatu dengan gelap malam, namun Red masih dapat melihatnya, dengan cukup jelas, malah.

"Ya. Kenapa?"

"Itu gereja tempat Grey dimakamkan kemarin pagi."

"Grey, lelaki yang dibunuh kekasihnya sendiri itu, ya?"

"Kulihat kau telah mendengar fakta. Kekasihnya itu ternyata mata-mata dari pemberontak kerajaan."

Mereka berdua terdiam lagi. Tugas jaga membuat mereka mendapatkan patroli malam. Memang selalu begitu keadaannya jika kau adalah pasukan khusus kerajaan, tanpa kuasa akan ditempatkan di mana. Keheningan selama beberapa belas menit, sebelum akhirnya salah satu dari mereka memutuskan untuk bicara lagi.

"Red?"

"Ya, Green?"

"Masalah dengan Grey ini," Green mengayun-ayunkan kakinya yang tergantung di udara, "terkadang aku jadi berpikir, bagaimana jika kita dihadapkan pada dilema yang sama?"

"Maksudmu?"

"Yah, bagaimana kalau," Red menatap Green, sementara lelaki muda yang dipanggil Green itu menatap jalanan di bawah mereka, "kau atau aku ditempatkan di posisi yang sama dengan Grey? Dihadapkan dengan musuh yang adalah orang yang paling kita cintai. Grey telah memilih untuk tidak melawan, ia terlalu mencintai wanita itu, dan ia terbunuh karenanya. Tapi bagaimana denganmu, Red? Apa yang akan kau lakukan?"

"Aku akan membunuhnya lebih dulu, tentu saja."

"Mudah mengatakannya, tapi coba kau pikirkan lagi." Green mengangkat pandangannya dari jalan dan menerawang ke arah gereja. "Orang yang paling kau cintai, Red, cintai; kebahagiaanmu, hidupmu, segalanya bagimu. Akankah kau sanggup melakukannya? Aku sendiri pun"—Green terkekeh pelan—"sepertinya tidak akan sanggup membunuh orang yang paling kucintai sekalipun ia akan menghabisiku, aku pasti akan berakhir seperti Grey."

"Hanya karena codename kalian memiliki huruf awalan yang sama, bukan berarti kau juga harus berakhir seperti dia." Kata Red datar, lalu wanita muda itu memandang gereja, mengikuti arah pandangan Green.

Green tertawa, dan setelah mereda, ia berkata lagi, "Tapi coba pikirkan, Red, meskipun kau berkata begitu, bagaimana kalau saat dihadapkan dengan situasi yang sama, kau ingin membunuhnya tapi hanya… tidak bisa?"

"Aku pasti akan melakukannya."

"Tapi bagaimana jika kau sudah sangat ingin, tapi tiba-tiba saat melihat wajahnya kau tidak sanggup?"

"Kalau begitu," ujar Red, "aku akan berhati-hati dari awal untuk tidak jatuh cinta pada orang yang akan berbalik menjadi musuhku."

Green tertawa lagi, Red hanya tersenyum tipis.

"Kau yakin itu dapat benar-benar terjadi?" tanya Green. "Bagaimana juga kau bisa tahu apakah orang itu akan mengkhianatimu atau tidak? Seorang oracle sekalipun tidak bisa meramalkan hal semacam itu."

"Tidak, hal semacam itu tidak akan terjadi, dan pada akhirnya—kalau memang jatuh cinta pada orang yang salah—kita pasti akan dihadapkan dengan pilihan seperti Grey," Red menyetujui.

"Nah, lalu bagaimana?"

"Sekalipun pilihan itu sangat berat dan mungkin membuatku menyesal," ujar Red, "aku pasti akan tetap memilih untuk membunuh lebih dulu." Green terdiam, dan Red melanjutkan, "Ck, kau kenal aku, Green; aku lebih mencintai diriku sendiri daripada siapa pun."

"Diri sendiri adalah prioritas pribadi, nyawa kita adalah yang utama," ujar Green, "ya, ya, aku memang mengenalmu dan segala prinsipmu."

"Apa semuanya sudah jelas?" Red membetulkan letak sarung pedangnya yang tergantung di pinggang.

"Ya," kata Green, matanya menatap ke bangunan di seberang jalan, "dan omong-omong, cahaya yang berkedap-kedip itu adalah kode untuk kita." Ia turun dari ambang jendela dan bergerak ke arah tangga.

Red menyamakan langkahnya dengan Green, mantel hitamnya berayun-ayun. "Tapi coba kau jawab aku dengan jujur—bukannya aku mempermasalahkan, tapi hanya penasaran—kalau kau benar-benar dihadapkan pada situasi yang sama, benarkah kau akan pasrah membiarkan dirimu dibunuh?"

"Tidak," Green tersenyum, tangannya yang berlapis sarung tangan membetulkan letak topinya, "aku akan membunuhnya lebih dulu. Bagaimanapun, kita cukup pintar untuk tahu bahwa nyawa kita adalah yang utama, bukan?"

"Benar, itu adalah pilihan mudah yang seharusnya sudah diketahui semua orang."


A/N: Absurd lol. ._.