Leaping Thoughts

© Alitheia

.

vi. there, i saw you went into the white

Terkadang kau hanya tidak bisa melepaskan orang-orang yang kau sayangi, entah bagaimana—meskipun kau merasa harus merelakan mereka—namun hatimu hanya tidak bisa melakukannya. Tidak bisa membiarkan mereka pergi. Karena kau merasa begitu nyaman dengan kehadiran mereka meskipun mereka bukanlah siapa-siapa untukmu, dan kau bukanlah siapa-siapa untuk mereka, tapi rasa sayang dan persahabatan yang tumbuh di antara kalian telah menjadi terlalu besar untuk diabaikan. Dan kini, ketika mereka—yang masihlah bukan siapa-siapa—harus pergi, kau tak sanggup untuk berpisah.

Apakah itu egois? Mungkin. Barangkali. Bisa jadi.

Tapi bukankah memiliki keinginan untuk terus bersama orang yang kau sayang adalah hak setiap orang?

Meskipun mungkin kau tak pernah berkata keras-keras tentang betapa kau menyayangi orang itu.

Jadi ketika ia menatapku dan tersenyum sambil berkata, "Aku akan pindah," aku hanya bisa menatapnya dengan penuh tanda tanya.

"Hah?"

"Iya, ini semester terakhirku sebelum pindah," katanya, ia lalu memberi jeda sebentar, seakan membiarkan angin dingin membantuku mencerna kata-katanya, "kembali ke tanah kelahiranku."

Kalaupun merasa resah, kami tak pernah menunjukkannya. Aku selalu membiarkan segala emosiku di balik topeng beku dan ekspresi sinis; sementara ia membiarkan perasaannya tertelan oleh cengiran konyol dan senyum jail. Aku mengantongi ke dua tanganku yang berlapis sarung tangan wol, bertanya dengan pelan dan santai seakan-akan kami hanya sedang mengobrol tentang cuaca, "Kenapa?"

Ia menurunkan penutup telinganya. "Maaf, benda ini membuatku tak bisa mendengarmu dengan jelas."

"Kenapa?" ulangku. "Kenapa kau harus pindah?"

"Ini kemauanku sendiri." Ia tertawa kecil, menepiskan salju dari mantel putihnya. Ada nada yang aneh dalam suaranya, tapi aku tak mau tahu apa artinya. "Aku ingin mencari suasana baru, yang... cuacanya lebih hangat." Ia tertawa lagi, seakan-akan perkataannya itu lucu. Padahal aku di sini sudah ingin berteriak dan menarik syalnya, Tak mengertikah kau bahwa kata-katamu selalu menyakitiku dengan caranya yang begitu?

"Apa kau yakin? Kau sudah memikirkan ini matang-matang?" Dan jengkel juga rasanya kau tak memberitahuku apa-apa sampai saat ini, padahal aku selalu bersamamu.

"Ya," jawabnya, "aku ingin pulang. Kehidupan di sini telah membuatku muak."

Angin berembus, meniupkan rambutku ke arah depan. Aku memegangi topiku supaya tidak ikut terbawa. Dari sini, yang terlihat menonjol dari dirinya hanyalah syal merah yang melingkar di leher itu, begitu mencolok seperti darah di tumpukan kertas putih.

Dulu aku pernah kehilangan seseorang yang kusayang. Ia harus pergi begitu jauh sehingga aku tak mampu untuk meraihnya. Senyum dan kehangatannya masih bersamaku, namun dirinya sendiri—bagian yang terpenting—telah menghilang ke dalam putih; seperti warna salju yang sekarang kami pijak, seperti substansi yang menumpuk di pohon-pohon tak berdaun, seperti mantel yang dikenakannya. Begitu dingin, lembut, dan suci—namun dingin.

Haruskah aku kehilanganmu juga?

"Sayang sekali," komentarku. Ia hanya tersenyum, namun tak menjawab, sepertinya tak berniat menanggapi nada sinisku. "Baiklah," kataku lagi, "kalau memang itu maumu, aku tak mungkin menghalangi."

"Ah, terima kasih kau mau mengerti. Ya sudah," ia kembali mengenakan penutup telinganya, "aku harus segera pulang. Sampai nanti, ya."

"Dasar bodoh, tidak sadarkah bahwa aku tidak mau kehilanganmu?"

Ia menatapku dengan penuh tanya dan mengangkat sebelah penutup telinganya. "Ya ampun, pelan sekali suaramu. Apa itu tadi?"

"Bukan apa-apa, hati-hati saja di jalan, saljunya akan segera menjadi deras," aku tersenyum, "sampai nanti."

Ia membalas senyumku, lalu berbalik dan mulai berjalan. Di bawah guyuran beku aku menatap punggung putihnya yang perlahan-lahan menjauh; melebur ke dalam salju, menyatu dengan dingin. Sosoknya menjadi semakin samar dan samar, lalu menghilang sepenuhnya. Bahkan kalaupun aku berlari sekarang, ia tak akan terkejar. Ia menjadi tak terlihat di antara semua warna putih itu.

Mungkin, suatu hari nanti, aku harus menemukan seseorang yang hitam, supaya saat ia menghilang ke dalam putih, aku akan bisa menemukannya dan membawanya kembali.

Aku berbaik dan mulai berjalan.