Chapter 1

Nice to Meet You

.

.

.


TOOEETT… TOOEETTT…

"Ya ampun... berisik amat sih?! Kamu ngapain, Lolo?!" teriak Karin yang terbangun dari tidur paling nyenyak sepanjang masa.

"Habis... kakak nggak mau bangun, sih!" protes Lolo. Dia tidak mau disalahkan.

"Tapi 'kan, nggak harus gitu juga caranya!"

"Diguyur air, mau?" ledek Lolo yang langsung lari keluar kamar. Ia tahu persis kakaknya bakal ngapain setelah ini.

"LOLO!" teriakan Karin sangat memekakkan telinga.

"Karin! Mandi sana. Lihat, sudah jam berapa!" tegur Bu Rini memperingati anaknya. Karin melihat jam dan langsung kabur ke kamar mandi sambil teriak-teriak.

.

.

.

.

.


Karin menyetir mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia terlihat diam saja. Padahal biasanya, ia nyanyi-nyanyi sesuai lagu di radio yang biasa ia pasang. Tapi kini, ia diam saja. Radio pun tidak dinyalakan.

DIIIINNNNN...

Suara klakson mobil Karin yang nyaring terdengar. Cepat-cepat ia turun dari mobil, wajahnya terlihat pucat.

'Gue hampir nabrak orang! Oh my God!' Batin Karin panik.

"Maaf, bu... Saya lagi nggak konsen... Maaf, ya bu..." ucap Karin penuh sesal.

"Lain kali hati-hati ya, mbak..." Untung si ibu nggak marah.

"Maaf, ya bu..." ulang Karin.

.

.

"Haah..." Karin menghela napas setelah kembali ke mobilnya. Ia selalu begitu setelah melamun tidak jelas. Yang ia lamunkan tetap saja orang itu, orang yang ia sukai sejak SMP. Dan sekarang Karin sudah SMA. Itu artinya, tiga tahun sudah ia bertahan dan tetap sayang pada orang itu. Karin tak bisa melupakannya begitu saja setelah banyak hal yang terjadi diantara mereka, mungkin bagi orang itu kejadian sekecil apapun tak akan ada artinya. Karin tidak peduli. Hanya ada satu yang menjadi pendiriannya selama ia SMP, rasa cintanya tidak usah lah diketahui orang itu. Tapi sekarang, rasa itu malah menyiksanya.

Karin mulai melamun lagi ketika berhenti di perempatan. Lampu lalu lintas menunjukkan warna merah. Parahnya, ketika lampu berganti warna, ia masih sibuk melamun dan tidak menjalankan mobilnya.

"WOI, JALAN DONG!" teriak pengendara motor dibelakangnya. Karin terkejut dan dengan buru-buru menginjak gas.

"ADDOOOWW!"

Bukannya mobilnya maju, malah mundur dan menabrak si pengendara motor.

'Nah loh, gue salah masukin gigi! Mati gue, mati...'

Karin segera menjalankan mobilnya. Setelah melewati perempatan, ia menepikan mobilnya. Ia bukan tipe orang yang lempar batu sembunyi tangan (walaupun nggak sengaja). Si pengendara motor, yang ternyata juga anak SMA, mengikuti Karin.

.

.

"EH, LO BISA BAWA MOBIL NGGAK SIH?!" teriak si pengendara motor penuh emosi. Jalannya terlihat sedikit pincang.

"So, sorry... Gue ka–"

"HALAAHH... KEBANYAKAN ALASAN LO!"

Kali ini, Karin tidak terima dimarahi tanpa didengarkan alasannya. Ia ikut emosi, "SANTAI DONG! LO BISA NGGAK SIH, DENGERIN ORANG NGOMONG! BIKIN EMOSI AJA!"

Si pengendara motor kaget ternyata Karin galak juga rupanya. Dengan cepat Karin melenggang pergi dengan mobilnya, meninggalkan si pengendara motor yang masih melongo di tempat.

.

.

.

.

.


"Karin... 'Met pagi... Are you OK?" sapa Luna riang.

"Tenang, tenang... oke banget, kok. Masih utuh, lihat tuh," ujar Karin sambil menunjuk-nunjuk tangan dan kakinya.

"Hahaha... bercanda mulu lo! Oh ya, lo ada pelajaran MTK?"

"Ada. Emang kenapa?" tanya Karin heran.

"Gue nggak bawa bukunya. Pinjam ya?"

"Sip, sip... gue 'kan pelajaran terakhir." Lalu Karin membongkar-bongkar isi tasnya.

"Nih buku MTK-nya," ujar Karin sambil menyodorkan bukunya. Luna menerimanya dengan senang.

"Eh, Rin, tadi gue liat ada cowok cakep! Kayaknya sih, seangkatan sama kita. Cuman, gue nggak tau dia di kelas yang mana."

"Iya? Kemarin dikelas gue ada yang belum masuk, satu orang. Katanya sih, cowok. Udah gitu duduknya disebelah gue, lagi," jelas Karin sambil mengingat-ingat ucapan wali kelasnya. Mukanya sampai dibikin tak berekspresi agar Luna percaya.

"Hah? Sebangku sama lo?!" Luna langsung shock.

"He–eh."

.

.

.

.

.


"Kalian ingat 'kan, kemarin ada siswa yang belum masuk? Sekarang akan ibu perkenalkan siswa itu pada kalian," jelas Bu Eka selaku wali kelas.

"Namanya Regitto Putra. Tapi, ia lebih suka dipanggil Ito. Silahkan masuk Ito." Ito masuk ke kelas. Dan detik itu juga, Karin membelalakan matanya.

"ELO?!" teriaknya.

"Ada apa Karin? Kamu kenal Ito?" tanya Bu Eka heran. Karena merasa sedang dibicarakan, Ito menoleh ke Karin.

"Jiaaahh... Elo lagi!" ucapnya sambil memegang kepalanya. Ia ingat betul siapa yang tadi menabrak dirinya di perempatan.

"Rupanya kalian sudah saling kenal. Kalau begitu bagus, lah..."

'Bagus apanya?!' Batin Karin.

"Nah, Ito, kamu duduk disebelah Karin teman kamu itu."

"WHAT?!" teriak Ito plus Karin bersama-sama.

.

.

.

.


"Gue nggak mau tau, lo harus bilang ke Bu Eka untuk pindahin tempat duduk kita!" cerocos Karin saat istirahat.

"Eh, eh... enak aja! 'kan lo yang punya ide," balas Ito kesal.

"Idih... cowok nggak gentle amat lo!" cibir Karin. Kepala Ito serasa mendidih saking kesalnya.

"OK, FINE! GUE AKAN BILANG!" Setelah berteriak seperti itu, Ito langsung ngeloyor ke kantor guru.

Tapi, di depan kantor guru, Ito malah tidak berani masuk.

'Masa baru masuk udah minta pindah... 'kan nggak enak sama anak-anak lain...' Batin Ito. Dan akhirnya Ito dapat ide, yaitu...

.

.

NGIBUL!

.

.

Dengan cepat, Ito ke tempat Karin berada.

"Woi, kata Bu Eka nggak boleh. Tadi jadi gue yang di marahin tauk!"

"Hahaha... Kasian deh lo!" Karin tertawa sambil memegang perutnya menahan sakit.

"Yeee... Nih anak!" Ito langsung menjitak kepala Karin.

"Kok lo mainnya pake kekerasan sih!" Karin balas menjitak Ito. Dan...

.

.

Acara jitak-menjitak pun berlanjut sampai Luna melerai.

"Ya ampun... kalian apa-apaan sih, kayak anak kecil aja!"

"Biarin!" teriak Ito + Karin (lagi?)

"Sebentar, sebentar... Kalian musuhan?" tanya Luna. Ia merasakan suatu kejanggalan. Ito dan Karin mengangguk bersama-sama.

"Tapi kok, ngomongnya serempak? Ngangguk aja kayak udah dikasih aba-aba?" Inilah kejanggalannya.

"Enak aja!" Paduan suara Ito + Karin kembali terdengar.

"Tuh 'kan..." ledek Luna. Karin dengan cepat menghampiri Luna dan menariknya ke kantin.

"Udah, ah! Kesel gue ama lo! Ke kantin yuk!"

"Woi, pelan-pelan, gue mau jatuh nih..." teriak Luna panik karena kakinya hampir salah injak dan hampir masuk selokan. Tapi, Karin sudah tak peduli lagi. Ia masih sebal karena ocehan Luna.

Setelah jauh dan merasa tidak terdengar Ito, Luna mulai ngoceh lagi, "Woi... baru gitu aja ngamuk! Jangan-jangan lo suka beneran sama tuh cowok ya?" tanya Luna asal. "Itu 'kan cowok cakep yang tadi pagi gue bilang..." lanjutnya. Dia tidak terima diseret sembarangan.

Karin melepaskan tangan Luna dan berbalik menghadap Luna, lalu berkacak pinggang dan setengah berteriak, "Apa lo bilang?! Dia cakep?! Mata lo rabun kalee... Lagipula, nggak mungkin gue suka sama tuh orang! Lo 'kan tau gue suka sama siapa, Lun!"

"Lo... Lo masih suka Rio?" tanya Luna hati-hati.

Karin langsung menyambar, "Iya! Gue masih suka dan sayang sama Rio!" Luna hanya terdiam dengan mulut ternganga.

"Please, dong! Emang gue salah kalau masih suka sama dia?" wajah Karin sangat memelas. Luna jadi merasa bersalah karena secara tidak langsung mengungkit-ungkit masalah ini.

"Nggak. Tenang, lo nggak salah, Rin. Itu artinya lo tuh... Setia... *nyanyi* " Luna berusaha agar Karin tertawa dan melupakan hal ini sementara. Dan berhasil!

"Ada-ada aja lo! Gue minta jawaban, eh, lo malah nyanyi..."

"Gapapa, lah... 'Kan suara gue bagus..."

"Hah?! Bagus?! Bagus untuk ngusir kecoak sih, gue setuju!" ledek Karin.

"Wah, nggak hargain suara Celine Dion, lo!" Luna mengambil nafas panjang dan mulai bernyanyi, disusul Karin.

.

.

.

Near... far... wherever you are...

I believe that the heart does go on...

Once... more... you open the door...

And you're here in my heart

And my heart will go on and on...

(My Heart Will Go On –Celine Dion)

.

.

.

.

.


"Karin... Temenin gue yuk... Gue perlu shopping dikit, nih. Udah lama gue nggak cuci mata. Liburan kemarin gue Cuma jalan-jalan, tidur, and main game. Oke, oke?" tanya Luna sepulang sekolah.

"Ya udah, ayo deh... Gue juga lagi bosen di rumah sendirian."

"Lah? Nyokap lo kemana? Lolo?" tanya Luna berentetan.

"Pada pergi ke Surabaya. Nenek gue meninggal, gue ditinggal dirumah sendirian."

"Sendirian? Nggak ada siapa-siapa gitu di rumah?"

"Yah... begitulah..."

"Ih, kalau gue mana berani di rumah sendirian. Apalagi kalau malem."

"Sebetulnya gue juga takut kalau malem. Makannya, lo nginep di rumah gue ya?"

"Widih... Tawaran menarik, tuh... Sip deh, gue bilang sama nyokap dulu, oke? Sekarang, temenin gue ya... Gue traktir lo makan di HokBen, deh." Mata Karin langsung berbinar. Dan saat itu juga muncul suara aneh.

.

.

KRRUUUYYYUUUKK...

.

.

"Perut gue setuju!"

Luna seketika melongo. "Lo kelaperan apa rakus? Perasaan jam dua belas tadi lo udah makan, sekarang (baru satu setengah jam yang lalu!) udah laper lagi?!"

Dengan ekspresi tak bersalah, Karin nyengir.

.

.

.

.

.


"Wedew, diskonnya mantep, nih." Mata Luna dan Karin berbinar-binar melihat papan diskon dimana-mana. Dari yang 10% sampai 70% pun ada.

Sejenak Luna dan Karin saling tatap sambil cengar-cengir.

"Apa kita mempunyai pikiran yang sama tentang ini, saudari Luna?"Tanya Karin sok berbahasa Indonesia dengan baku.

"Yep!" jawab Luna singkat.

"Sikaaaatt..." teriak Luna dan Karin bersamaan dan langsung ngacir ke berbagai tempat yang diaanggap menyenangkan.

.

.

2 Jam kemudian...

Karin berjalan tergopoh-gopoh sambil menenteng barang belanjaanya yang sebejibun dan tertawa a'la nenek lampir. Dari arah sebaliknya, Luna terlihat menyeret tas berisi berbagai jenis barang : dari pakaian sampai makanan, dan kelihatannya ia sedang menyeringai a'la serigala kelaparan.

"Gilaaa... ngapain lo pake beli boneka sebesar dinosaurus gitu, Lun?" tanya Karin penasaran. Luna memperhatikan boneka anjing husky-nya yang sebesar anjing betulan.

"Nggak tau, tadi gue asal beli aja. Habis lucu, sih... Ngegemesin..."

"Ya ampun..." Karin sampai geleng-geleng. "Oh ya, Lun. Perut gue minta jatah."

"Yee... Makan aja, cepet!" Karin tertawa tanpa suara.

"Tujuan selanjutnya... eng-ing-eng... Hoka-Hoka Bento..." teriak Karin seperti menyerukan pengumuman pemenang lomba.

.

.

.

.

.


Setelah perut penuh, Luna langsung bicara secepat yang ia bisa, "Udah yuk, pulang, pulang... Ayo, ayo..."

"Tadi gue parkir mobil dimana, ya? Nomor berapa? Gue lupa, nih..."

"Kebiasaan! Nomor 5B."

"Gue duluan, ya... Gue ada les, nih... Gapapa 'kan lo pulang sendiri?"

"Gapapa... Ntar malem, sekitar jam 8 gue ke rumah lo. Oh ya, besok gue numpang mobil lo lagi, ya? Mobil gue masih di bengkel, nih..."

"Sip, sip... Dah..." Karin melambaikan tangan dan langsung berlari kecil ke tempat parkiran.

.

.

.

"KARIN, AWAS..."

Karin menoleh cepat. Ia melihat motor yang melaju kencang kearahnya.

"AAAAAAAAAAA..."

Untung saja motor itu berhenti tepat waktu, hanya 5 Cm di depan Karin.

Karin limbung. Ia tidak punya tenaga untuk mempertahankan posisi berdirinya. Dan saat itu juga Karin jatuh terduduk.

Si pengendara motor cepat-cepat turun untuk melihat keadaan orang yang hampir ditabraknya.

"Lo nggak napa-napa 'kan?" ujar si pengendara motor sambil melepas helm-nya. Karena Karin masih gemetaran, ia tidak bisa menjawab.

Luna pun dengan cepat segera menghampiri Karin. Seketika ia tersentak, "Rio?!"

Karin mendengarnya dan menoleh. Ternyata, dihadapannya ada... RIO! Jadi, yang (hampir) menabraknya barusan itu RIO!

.

.

.

.

.


hehe... kayaknya ini terlalu singkat hemm... *baca ulang*

Yah, namanya juga arsip lama. daripada nganggur, mending di publish aja, sayaang... ^^

Sou... read & review?