Chapter 7

End The World
.

.

.


"Gue, Luna, Rian, Clara. Cuman 4 orang yang udah ngumpul?!" teriak Karin.

"Tau tuh, si Ito sama Rio belom datang," lapor Luna.

.

BRUUMM..

.

Suara motor terdengar di depan rumah Karin.

"Nah, tuh mereka datang."

Karin keluar dan mulai marah-marah, "Aduuhh... Kalian niat nggak sih?!"

"Gue ke rumah Clara dulu. Maksud gue mau ngajak bareng," protes Ito yang langsung ngeloyor masuk.

"Aku lupa taro kunci motor. Maaf ya, sayang.."

Muka Karin memerah. "Tapi, jangan sampai lupa lagi, ya?!" Karin pura-pura masih marah.

"Kamu pura-pura ya, 'kan?" tebak Rio.

"Nggak!" jawab Karin sambil berbalik masuk ke rumah.

"Boong.." tebak Rio lagi. Ia memutar tubuh Karin agar menghadap kearahnya. Rio mendekatkan wajahnya ke Karin.

"Ayo ngaku.." Karin ingin memalingkan wajah. Mukanya terasa panas. Bisa-bisa ia pingsan ditempat.

"Kalau nggak ngaku ntar nggak kulepasin, lho.."

Karin sudah tidak tahan. "Iya, iya.. Aku nggak marah.."

"Nah, gitu dong.. Hehehe.." ujar Rio yang langsung merangkul Karin, yang masih bermuka merah tomat, dengan satu tangan dan mengajaknya masuk.

"Wah.. Lo apain tuh Karin, Yo?" tanya Luna sambil tertawa melihat 'muka merah tomat'-nya Karin.

Baru Rio mau menjawab, tangan Karin sudah menutup lembut mulut Rio. Rio melirik ke Karin yang memohon tanpa bicara dengan muka memelas.

"Iya, iya.." ucap Rio yang langsung mencium pipi Karin. Muka Karin bertambah merah.

"Rin, keluar asap tuh dari kepala.. Hahahaha.." ledek Clara. Dan disambut cekikikan yang lainnya, kecuali dua orang tentunya. Karin sendiri dan... Ito.

.

.

.

.

.

Harusnya gue nggak usah ikut kalau tau begini! Untung aja tadi gue bisa nahan! Kalau nggak, udah abis tuh si Rio!

.

"To, kamu ngelamun ya?"

"Eh, nggak kok."

"Jangan ngelamun ya. Kamu 'kan lagi ngendarain motor, kalau ngelamun nanti kecelakaan."

"Iya, gu–– aku nggak ngelamun." Azzz...

.

.

.

.

Sampai di Dufan, Luna dan Rian langsung mengurusi tiket masuk, yang lainnya menunggu di pintu masuk.

Setelah masuk, semua langsung berdebat menentukan wahana pertama yang akan di naiki atau dikunjungi.

"Tornado aja! Mumpung perut masih kosong," usul Ito.

"Nggak ah, gue pusing naik gituan," tolak Karin.

"Ya udah. Yang lain." (cepet banget nyerahnya)

"Roller Coaster?" usul Luna.

"Gue setuju," teriak Karin dan Rio.

"Gue nggak ikut naik, ya.. Gue gampang mabok. Ntar turun-turun muntah lagi."

"Ya udah kamu nunggu di bawah aja," saran Ito..

Gilaa.. Ito perhatian banget... Batin Clara senang.

"Gue ikut ya.." teriak Ito.

.

Ekh?!

.

"Ya udah. Sudah ditentukan, pertama Roller Coaster!" ujar Rian mengumumkan.

Sementara anak-anak lainnya nge-scream gila-gilaan, Clara menunggu dengan kesal di bawah.

.

Gue kira Ito mau nemenin gue, ternyata malah ikut naik!

.

.

.

"Kemana lagi, ayo?" tanya Rio dengan semangat.

"Makan dulu.." usul Karin.

"Makan mulu!" cibir Luna.

"Tadi 'kan belom makan, Lun.."

"Betul, betul. Gue setuju. Gue juga udah laper," teriak Ito.

Clara ikut-ikutan setuju. Ia tidak mau ditinggal sama Ito lagi.

"Ya udah, deh. Makan dulu." Akhirnya Luna setuju.

Mereka pesan makan sambil tertawa-tawa sampai-sampai dipelototi pengunjung lainnya.

Terdengar lagu 'You Belong With Me'-nya Taylor Swift dari HP Rio.

"Ntar dulu.. Ada SMS nih.."

"Sejak kapan kamu suka lagunya TS, Yo?" tanya Karin heran.

"Eh? Udah lama kok."

"Kok aku baru tau, ya.."

"Yah, payah lo!" cibir Luna.

"Ya udah, nggak usah dibahas.." lerai Rio. Dengan cepat, ia membaca SMS di HP-nya.

Seketika, mata Rio agak terbelalak. Karin yang menyadari perubahan Rio bertanya, "Napa, Yo? Ada sesuatu yang gawat?"

"Ng, nggak, kok.. Aku ke toilet dulu ya.." Karin mengangguk.

.

.

.

"Napa si Rio, Rin?" tanya Ito setengah berbisik.

"Tau tuh. Pas lagi baca SMS tiba-tiba dia kaget gitu. Tapi, pas gue nanya nggak ada apa-apa. Paling kebelet kali.. Tuh, ke WC."

Ito melihat kepergian Rio dengan tatapan curiga.

.

.

.

.

Dua menit kemudian, Rio tidak juga kembali.

"Lama amat si Rio. Cowok kalau kencing cepet, ya 'kan Yan? Hahahaha..." Luna tertawa kencang sekali.

"Iiiihh... Lo pernah ngintipin Rian kencing ya, Lun?" ledek Karin.

Rian melirik Luna dan langsung membelalakan mata, "Wah, Lun, kamu––"

"Enak aja!" sanggah Luna. "Itu 'kan cuma teori, Rin! Kamu lagi, Yan, emangnya aku tukang intip apa!" Luna manyun.

"Jangan ngambek, yang... 'Kan Cuma bercanda.." ujar Rian sambil nyengir.

"Gue ke toilet dulu ya.." pamit Ito.

"Jangan lama-lama, lho.." sahut Clara.

Sampai di toilet, Ito melihat ke sekeliling.

Nggak ada siapa-siapa. Aneh.. Si Rio kemana? Batin Ito.

Ito keluar toilet dan mencari di sekitar tempat itu.

"Jangan deh.. Ntar kamu ditinggal temen-temen kamu.."

Ito berhenti. Itu suaranya Rio 'kan?

Ito menghampiri Rio yang akhirnya nampak di depan matanya.

"Rio sama... siapa tuh cewek?"

"Udah tuh, kasian temen kamu nungguin.." desak Rio.

Sejak kapan Rio ngomong 'aku kamu' ke semua orang?

"Tapi, nanti ke rumah ya?" ucap si cewek.

"Iya, iya. Udah ya, aku mau balik. Ntar ditungguin. Dah, sayang.." Rio menundukkan kepala dan mencium pipi gadis itu.

Ito, yang hanya berjarak 3 meter dari Rio, dapat melihat dengan jelas apa yang dilakukan Rio barusan.

Rio yang berbalik terkejut melihat Ito berdiri di situ.

"Yo! Apa maksud lo?!"

"I, Ito! Se, sejak kapan lo disitu?!"

"Dari tadi, sialan!"

.

.

.

.

.

"Si Ito lama amat. Jangan-jangan ada penculikan cowok-cowok cakep lagi.." Luna mulai mengkhayal.

"Gue liat deh.. Sekalian cari si Rio."

"Gue ikut!" sahut Clara.

Clara dan Karin segera ke toilet. Sampai di depan toilet, mereka tidak melihat siapa-siapa disana.

"Nggak ada? Trus mereka kemana?"

"Nggak tau."

"Eh, neng nyariin siapa? Cowonya yaa?" Mas-mas ganjen bin ajaib tiba-tiba muncul di sebelah Clara. Clara langsung merinding dan segera pindah.

Karin, dengan kepolosannya, malah kaget. "Kok mas tau sih? Iya nih, saya bingung kemana mereka." Clara rasanya ingin menelan Karin hidup-hidup karena mengajak bicara orang yang sama sekali tidak dikenalnya, bahkan hidup nggak jelas itu.

"Waduuh… Jangan-jangan yang disana itu tuh…" tunjuk makhluk aneh itu ke arah belakang.

Karin dan Clara spontan menoleh dan terkejut.

Sangat jelas terlihat oleh mereka, Ito dan Rio dalam keadaan babak belur. Mereka di pegangi beberapa pengunjung.

.

.

.

"RIO! ITO! KALIAN NGAPAIN, SIH?!" teriak Karin sampai keduanya menoleh.

Orang-orang yang memegangi Ito dan Rio melepaskan mereka. Mereka rasa sudah aman kalau temannya sudah datang.

"Nggak tau, Rin! Dia tiba-tiba mukul gue!"

Karin menoleh ke Ito. "LO KENAPA SIH TO?!" teriak Karin. Clara hanya bisa diam. Dia sendiri tidak mengerti ada apa dengan Ito.

Ito tidak terima disalahkan. Emosinya memuncak. "RIN, COWOK LO INI TERNYATA BRENGSEK!"

Karin terkejut mendengar makian Ito.

"RIO SELINGKUH SAMA DIA!" teriak Ito sambil menunjuk gadis yang sekarang sibuk mengobati luka Rio.

.

.

"Icha?!"

.

.

Gadis yang ternyata bernama Icha menoleh.

"Karin?! Oh, ternyata cowok gila ini temen lo?! Bawa pergi dia sebelum dia bunuh pacar gue! Yo, ayo kita pergi!" Icha menuntun Rio pergi dari situ.

Sebelum pergi, Rio berbalik dan dengan tatapan sinis, ia meneriakkan sesuatu, "TO, LO SUKA SAMA KARIN, 'KAN?! NGAKU AJA DEH! LO JUGA BRENGSEK!"

Kini, Clara yang terkejut dan hanya bisa terdiam.

.

.

Tapi, Ito sudah tidak peduli.

.

.

Karin masih terpaku di tempat. Tanpa terasa air matanya mengalir.

"Rin, lo nggak papa 'kan?" tanya Ito khawatir. Karin tidak menjawab. Ito menghampiri Karin dan langsung memeluknya.

"Tenang ya, Rin.."

Tiba-tiba Karin berteriak, "RIO SIALAN! GUE BENCI LO SELAMANYA!"

.

.

.

I hate you now! So go away from me

You're gone, so long,

I can do better! I can do better!

Hey, hey you, I found myself again

That's why you're gone,

I can do better! I can do better!

(I Can Do BetterAvril Lavigne)

.

.

.

"Sabar ya, Rin.. Liat aja tuh Rio! Awas aja!" umpat Luna kesal.

Karin hanya menangis dalam diam. Hatinya benar-benar sakit sekarang.

Semua sekarang sibuk menghibur Karin.

"Ito, gue perlu ngomong sama lo bentar," ujar Clara. Ito mengangguk.

Ito mengikuti Clara yang terus berjalan sampai keluar dari rumah makan itu. Ito hanya bisa mengerutkan kening dan bertanya-tanya dalam hati apa yang sebenarnya ingin dibicarakan oleh Clara.

"Napa Ra?"

"Kenapa lo nggak jujur aja sama gue?!" Ito bingung.

Maksudnya apaan nih? Tumben dia ngomong 'lo gue' sama gue.. Batin Ito heran.

"Gue mau lo jujur sama gue!"

"Soal apa, Ra?"

"Lo suka sama Karin, 'kan?!"

"..."

"To, Tolong lo jujur sama gue!" Clara mulai emosi karena Ito tidak menjawab juga.

Ito hanya menunduk, tidak sanggup menjawab. Semua sudah terlambat.

"KENAPA LO NGGAK JUJUR SAMA GUE?! KENAPA LO MAU PACARAN SAMA GUE KALAU LO NGGAK SUKA SAMA GUE?!"

"..."

"TO, JAWAB! LO PACARAN SAMA GUE CUMAN MAU BIKIN HATI GUE SAKIT?! EMANGNYA GUE SALAH APA SAMA LO?!"

"Ra, maafin gue.. Gue bermaksud ngelupain Karin. Gue udah nyoba sayang sama lo, tapi... gue nggak bisa juga. Maaf, Ra.."

"LO JADIIN GUE ALAT UNTUK NGELUPAIN KARIN?! TERNYATA GUE SALAH NILAI LO! LO TUH NGGAK PUNYA HATI!" Clara berbalik dan pergi. Air matanya mulai berlomba keluar.

"LO BISA BILANG KE YANG LAINNYA 'GUE PERGI DULUAN. ADA URUSAN.' KALAU LO TAKUT HARGA DIRI LO JATUH!" teriak Clara ketika sudah jauh.

"CLARA! GUE MINTA MAAF, RA... " teriak Ito. Tapi, sudah terlambat. Clara sudah menghilang dari hadapan Ito.

.

.

.

.

.

.

"To, lo dari mana aja sih?! Mana Clara?"

"Lun, kita pulang aja yuk.."

"Ya emang kita mau pulang, dodol! Makanya, mana Clara?"

"Clara... udah pergi."

"Pergi? Pulang duluan gitu?"

"Nggak. Dia marah sama gue."

"Lo putus? Kenapa emangnya?"

"Gue nggak tau dia udah mutusin gue apa belom. Yang pasti dia marah banget sama gue." Ito menjawab pertanyaan Luna dengan malas-malasan.

"Ya udah. Kita pulang dulu deh. Baru diskusiin masalah ini di rumah Karin. To, lo bisa ngeboncengin Karin 'kan?"

"Bisa."

.

.

.

Karin masih menangis dan tetap tidak mengeluarkan suara. Ito memapahnya. Karin menurut saja. Ito juga membantu Karin naik di motornya.

"Clara mana, To?"

Ito menoleh. Ia tersenyum baru menjawab, "Dia udah pulang duluan. Tenang aja. Tempat lo duduk luas, kok.."

Karin tersenyum sedikit. "Ngelawak mulu!"

Ito nyengir. Akhirnya lo senyum juga, Rin.. Gue lega.

"Nah, pegangan.. kuda abad pertengahan larinya cepet, lho..."

Karin tersenyum lebar mendengar lawakan garing Ito.

"Ngiiikkk..."

.

.

Luna melihat tingkah Ito yang mencoba menghibur Karin.

"Ternyata, Karin emang cuma bisa ketawa lepas kalau deket Ito, ya.." gumam Luna sambil tersenyum simpul.

"Maksud kamu gimana sih? Ito 'kan pacarnya Clara, dan tadinya Karin pacarnya Rio 'kan?" Rian mulai bingung dengan Luna.

"Ntar aja deh, gue ceritain semuanya."

.

.

.

.

Sampai di rumah Karin, Luna langsung membuatkan teh untuk semuanya. Karin sedikit tenang setelah meminum teh. Ito juga.

"Nah, To. Kita mulai dari masalah lo dulu. Nggak papa 'kan?"

"No problem. I'm okay."

"Emang lo punya masalah apaan?" Karin mulai mengikuti pembicaraan.

"Ng... Gue berantem sama Clara."

"Hah?! Tadi kata lo Clara pulang duluan!"

"Iya. Pulang duluan gara-gara dia marah sama gue."

"Kok bisa?!"

"Makanya itu tadi gue nanya, Karin.." ujar Luna sedikit kesal.

"Udah ah, jangan ribut. Nih gue ceritain."

Ito menceritakan semua yang terjadi.

.

.

.

"Emangnya siapa cewek yang lo sukain itu sih?" tanya Rian setelah Ito selesai bercerita. "Dari tadi lo ngomongnya cuman 'cewek yang gue sukain sebenarnya'. Gitu doang!"

Ito melirik sedikit ke arah Luna minta pendapat. Luna membalas dengan tatapan 'terserah lo'.

"Ng... Karin," jawab Ito pelan.

Rian menganga. Karin hanya diam.

"Yang pasti, gue merasa bersalah banget sama Clara, Lun. Gimana dong?"

"Hmm... Lo coba minta maaf lagi sama dia. Kayaknya, untuk saat ini cuma itu, deh.."

"Gue coba."

.

.

"Nah, sekarang masalah Karin. Rin, siap?"

Karin mengangguk. Ia menceritakan semuanya secara lengkap.

"Icha temen SMP kita?" tanya Luna yang sedikit terkejut.

"Iya. Ternyata dia masih pacaran sama Rio."

"Berarti Rio bohong dong kalau dia udah putus sama Icha." Karin hanya mengangguk.

"Ya ampun, tuh orang kurang ajar banget sih!" Rian jadi ikut-ikutan kesal. "Seumur hidup gue nggak akan kayak gitu!"

"Mesti dong, yang…" dukung Luna.

"Terus gue harus gimana, Lun?"

"Lo coba lupain dia dan bersikap biasa kalau ketemu dia. Jangan ingat semua rasa sakit lo itu biar lo nggak tambah sakit. Dan sebisa mungkin lo lupain semuanya. Walaupun si Rio emang jahat banget, lo nggak boleh dendam sama dia ntar malah keinget sama rasa sakit lo itu. Itu aja untuk saat ini."

"Wah, Lun.. Kamu buka praktek aja…" tambah Rian sambil nyengir kecil.

"Praktek apaan?"

"Dokter cinta.."

"Yee... Nggak ah! Masa aku dengerin keluhan orang lain terus.. Males, deh.."

"Ya udah deh Lun, gue coba ide lo itu," ujar Karin semangat.

"Ya, ya kita emang harus semangat dalam menghadapi cobaan seberat apapun.."

"Bukan semangat, dodol! Yang betul pantang menyerah!" protes Ito.

"Whatever, dah.."

.

.

.

.

"Clara.."

Clara menoleh dan melihat kalau yang memanggilnya barusan ternyata Ito.

Gue harus kuat! Batin Clara.

"Apa lagi, To?!"

Mati gue! Dia masih marah!

"Ng... Gue minta maaf, Ra.. Gue tau, mungkin lo nggak bakal maafin gue, Ra.. Tapi, gue nggak bakal berhenti minta maaf sama lo sampai lo maafin gue. Please, Ra.. Maafin gue.."

Clara menarik napas lalu menghembuskannya. Gue kuat, gue harus bilang…

"Lo nggak perlu nunggu lama, To. Gue udah maafin lo. Semalaman gue udah mikir dan melihat dari sudut pandang lo. Gue ngerti posisi lo. Tapi, gue nggak mau kita lanjut. Ini demi kebaikan lo dan gue sendiri. Lo bisa nerima 'kan?"

Ito mengangguk. "Gue akan nerima semua keputusan lo, Ra. Tadinya, kalau lo mau nyincang gue juga gue terima, Ra. Tapi ternyata lo maafin gue. Thanks banget, Ra.."

"Hahahahaha... Nyincang? Emang lo kata gue tukang mutilasi orang apa?!"

"Hehe... Nggak lah.."

.

.

.

"Tapi, gue boleh minta satu permintaan nggak?"

"Apa?"

"Bilang dulu boleh apa nggak."

"Ya udah. Boleh deh.. Apa?"

.

.

Clara tersenyum. Ia maju selangkah mendekati Ito lalu mencium pipi Ito.

.

.

Ito yang kaget hanya bisa diam ditempat.

"Thanks ya, dikabulin permintaannya… Bye…" Clara berbalik cepat dan lari sambil tertawa. Gue kuat! Liat, gue tertawa!

"Ha-ha. Sialan lo!" umpat Ito pelan sambil tersenyum kecil.

.

.

.


Reader, maaf ya kalau kelamaan uploadnya n ceritanya rada boring... .

makasih untuk yg udah setia nunggu n baca :D