hypocrite.

.


.

.

.

"Kathy, boleh pinjam—astaga! Apa-apaan—?"

Namaku Jeffrey.

Dan aku baru saja melihat adikku menggenggam cutter yang ujung tajamnya menempel di pergelangan tangan. Dia gelagapan, berusaha menutupi hasil perbuatannya dengan menyembunyikan tangan di balik punggung. Agak terlambat, karena aku sempat menangkap garis kemerahan darah yang merembes keluar dari sebaret luka di sana.

Salah satu kelebihan menjadi seorang kakak adalah memiliki kesempatan untuk melindungi adiknya.

Sayang, aku lupa, bahwa ancaman bahaya bisa berasal dari segala tempat, bahkan dari dalam diri adikku sendiri.

.

Kathleen tidak baik-baik saja, begitulah apa yang pertama kali muncul dalam benakku. Tak ada orang yang baik-baik saja yang akan melakukan tindakan melukai diri. Tapi apa? Sebuta apakah aku ini sampai bisa membiarkan adikku—GODDAMNIT—sampai melakukannya di luar sepengetahuanku? Sungguh, kakak macam apa yang bisa luput mengamati perilaku adiknya sampai terlambat seperti ini.

"Aku tak bakalan bertanya," putusku setelah beberapa waktu berlalu dalam hening yang menegangkan. "Aku juga tak bakalan menceritakan pada orang lain. Tapi ingat ini, Kath: aku menyayangimu, lebih dari apa yang kau bayangkan, dan akan selalu ada di sini. Jika kau siap, aku akan dengan senang hati membicarakan masalah.." apa? "..ini. Tak ada paksaan, adik kecil."

Kathleen nampak seperti ingin menangis.

Begitulah. Aku bukan psikolog yang mahir menghadapi masalah kejiwaan. Hanya seorang remaja tanggung yang bahkan butuh mengerjakan beberapa tugas tambahan untuk dapat lulus pelajaran sosiologi dengan susah payah. Aku pun jelas bukan kakak yang baik bagi adikku sendiri, melihat apa yang baru saja terjadi di depan mataku.

Namun setidaknya aku tahu, bahwa desakan hanya akan membuat Kathleen lebih menarik diri.

"Tapi jika boleh, maukah kau mengabulkan satu permintaanku, Kath?"

Suara adikku bergetar ketakutan—kakak macam apa yang membuat adiknya sampai bersuara seperti itu? "Apa?"

"Jangan lakukan itu lagi. Tolong."

.

Namaku Jeffrey.

Setelah memastikan jendela kamarku tertutup dan pintu terkunci rapat, aku tersenyum. Perlahan tangan merayap, melipat lengan baju hingga kulit lenganku terekspos. Di bawah sinar lampu, aku dapat melihat garis samar yang menghiasi lengan kiri bagian atas. Setengahnya masih berwarna merah tua, sisanya telah mengering dan meninggalkan jejak gelap.

Tak ada yang tahu.

Tak ada yang pernah tahu.

.

Namaku Jeffrey, dan aku adalah orang paling munafik sejagad raya.