Dia Menulis

ditulis oleh V. Vichi L.


Ada sebuah kisah,

dimana rajutan katalah pemeran utamanya

Ketika dua pandangan terarah

pada selembar kertas terbuka

Dia menulis;

menorehkan tinta;

kata-kata;

seluruhnya, dalam sebuah pena

Dia menulis

di sebelah daun jendela

Tertegun;

bergeming;

terbuai nada bernamakan kata

x

Kelabu, tulisnya,

kelabu untuk awanku

Mengapa, kutanya,

mengapa tak memilih biru

Lalu dia tersenyum;

bergeming;

tak menggubrisku yang beride kering

Karena biru, jawabnya,

biru terlalu syahdu;

pura-pura;

imbangan kata palsu

x

Dia menulis

Seakan dunia tak lagi berputar

pada porosnya;

ditempatinya

Bagai dirinya tak butuhkan apa-apa—

selain penanya

Idenya mengalir,

serupa semilir

angin dingin yang membekukan;

tajam, tak pandang keadaan

Sekitar bagai selintingan

debu tak berharga yang hanya ingin diperhatikan,

ungkapnya

x

Dia menghidupi

apa yang dinamakan dunia fiksi

Dunia, baginya, hanya ilusi

Tak perlu dijadikan pusat konsentrasi

x

Ketika kemudian aku berani

mempertanyakan kepenasaran diri,

dia menulis—

menggeluti buku dan alat tulis

Tergugu aku mengungkapkan tanya,

di kala dia membubuhkan tanda baca

Sudah selesai, ungkapnya,

sudah selesai aku bercerita

Maka kutanya—akhirnya kubertanya,

mengapa?

Mengapa kau gemar

melibatkan diri dalam dunia tak nyata?

x

Karena, jawabnya,

karena aku ingin bahagia

Walau harus mengunci diri

dari dunia,

setidaknya aku mengerti,

bahwa ada seorang yang ingini

aku untuk mensyukuri

bagaimana cara duniaku berputar;

cara orang-orang di sekitarku mengedar

Dan aku ingin meyakini

bahwa aku tak lagi sendiri

tak lagi harus mengarungi

nyatanya dunia yang bagaikan delusi

x

Aku menulis, katanya,

untuk mengetahui

bahwa aku dapat bahagia

walau karena kata yang kutulis seorang diri

Dan bahwa aku dapat bahagia

walau dunia tak bekerja sesuai yang kuhendaki

x

Maka, dia menulis

Walau hatinya teriris

Walau harap kelabunya mulai menipis

Walau peluh membercak di pelipis

Namun tangannya—

tangannya terus menulis