Dunia Asing

Untuk pertama kalinya setelah hampir tiga belas tahun masa edukasiku, aku benar-benar merasa sendiri ditengah-tengah keramaian. Rasanya seperti berada di dunia antah barantah. Asing. wajah-wajah yang kutemui, tak satupun ada dalam kotak memoriku. Kabar baiknya, tak satupun mata memandangku dengan berbeda. Semuanya acuh. Dalam kehidupan nyata, hal ini tentu sangat tidak baik. Tapi dalam kasusku, ini sebuah keberuntungan. Kuedarkan pandanganku sekali lagi. Pemandangan ini masih asing. Sebagian orang memakai baju hitam-putih, dan beberapa orang lainnya memakai baju bebas. Ada juga yang memakai baju kebesaran mahasiswa –walaupun aku ragu bisa menyebutnya baju, almamater bewarna kuning gelap dengan logo institut. Kubuang napasku dengan sedikit kasar. Aku harap masa ospekku tak semenakutkan khayalanku. Bukan salahku jika aku memiliki khayalan yang luar biasa. Entah itu menyenangkan atau bahkan mengerikan. Itu bakat namanya.

Dunia Asing

Present by Kalika Sevde

"Mahasiswa baru berbaris di sebelah sini!" orang-orang yang berpakaian beda dariku, dari kami, memberi instruksi. Ah, mereka pastilah senior kami di kampus ini. Para senior itu mulai memisahkan calon mahasiswa berdasarkan jurusannya. Satu persatu calon mahasiswa masuk barisan. Lalu tibalah giliranku.

Nyaliku langsung ciut, begitu pandanganku tertumbuk pada lautan manusia berpakaian hitam-putih di sekelilingku. Walaupun status kami sama-sama sebagai calon mahasiswa, aku tetap saja merasa was-was. Bisa dibilang salah satu resiko menjadi seorang introvert. Saat aku sedang diam merenungkan nasib yang entah harus dibilang mujur atau sial, wajah Pak Deni tiba-tiba merengsek masuk kedalam otakku. Dalam pandanganku, guruku semasa SMK yang sedikit killer itu memandangku dengan mata melotot sambil berkata, 'tidak ada anak didik saya yang lemah, yang lembek, apalagi melempem setelah keluar dari jurusan dan sekolah ini!'. Aku bergidik membayangkan wajah Pak Deni yang terllihat garang, walau hanya dalam pikiranku. Jadi, kukuatkan diri. Kuhirup udara dengan rakus. Kutegakkan punggung dan kupasang senyum paling tulus yang kupunya. Kusapa wajah pertama yang kutemui setelah masuk barisan calon mahasiswa jurusan TI.

Yah, sebenarnya aku punya modus. Aku menyapanya karena kami harus menulis dan aku lupa membawa alat tulis. Dengan kata lain, aku berbicara, bertanya lebih tepatnya, apakah ia bersedia meminjamkan penanya. Namanya Ami. Bukan orang yang ramah menurutku. Tapi apalah arti sebuah penilaian saat pertama jumpa? Bahasa bekennya Don't judge by cover. Atas nama peace maker, aku tak lagi mencoba berbica dengannya.

Hari pertama ospek berjalan cukup lancar. Tak ada kendala yang cukup berarti. Saat dalam perjalanan pulang, aku tersenyum pada diriku sendiri atas keberanianku menghadapi hari. Walapun takut pada awalnya, nyatanya aku bisa meghadapi ini seorang diri. Yah, memang siapa lagi yang bisa membantuku menghadapi rasa takut selain diriku sendiri?

Dunia Asing

Meskipun seorang introvert merangkap peace maker, aku bukanlah seorang yang penurut bin patuh. Aku sedikit suka bermain api. Misalnya saja yang terjadi pada hari-hari setelah pembukaan ospek. Bukan kesalahan fatal. Bukan pula kesalahan yang bisa membuat para senior mengingat wajahku, karena aku memang bukan seseorang yang familiar. Kesalahan yang kulakukan hanya kesalahan kecil. Semisal, tak membawa atribut ospek seperti topi dari bola, petai yang dikalungkan, serta kaus kaki bola dengan warna yang berbeda kiri dan kanan. Lagi pula yang melakukan kesalah ini bukan hanya aku. Jadi aku masih bisa santai menerima hukuman dari para senior.

Masa ospek bukan lagi hal yang menakutkan bagiku. Hal yang menakutkan terjadi setelahnya, aku masih belum mendapatkan teman. Setelah momen perkenalanku pada hari pertama ospek, aku tidak berbicara pada siapapun. Maksudku, tentu aku bicara pada yang lain, tapi tak lebih dari sekedar bertanya. Hanya pertanyaan singkat dan cukup penting. Seperti 'apa perlengkapan yang harus dibawa besok?' atau 'besok kumpul jam berapa?' tak lebih.

Selama ini duniaku lebih kurang seperti ekskursi. Aku memang hidup dalam imaji. Bukankah pertelevisian memang dunia yang elusif? Kami hidup untuk berkhayal. Benar-benar gila. Tapi percayalah, pekerjaan kami bukan pekerjaan yang sia-sia. Entah berawal dari mana, aku malah mengambil jalan menyimpang dari semua duniaku. Kini aku terdampar dalam angka-angka yang mantiki. Tidak ada lagi warna-warni disain. Hanya leksikon berupa perintah pemrograman.

Semua entitas yang kutemui di institut ini membuat aku bingung. Dimana letak dunia lamaku? Duniaku yang tidak waras. Duniaku yang penuh orang-orang gila yang memiliki impian. Dimana letak dunia itu? Ah, aku tahu. Aku terlalu tenggelam dalam ketidak warasan duniaku, hingga aku lupa betapa warasnya dunia luar. Aku terlalu larut merajut khayal, hingga aku takut menghadapi kenyataan. Aku terombang ambing dalam perasaan tentatif.

Hari itu, hari terakhir ospek. Kami pulang sedikit terlambat. Bukan masalah, justru hal ini merupkan keuntungan tersendiri bagiku, sebab aku hanya harus makan lalu istirahat.

Malam itu aku terbangun lebih awal. Aku mencoba untuk memejamkan mata, kembali tidur. Anehnya, meskipun tengah didera lelah yang sangat, mataku enggan diajak bekerja sama. Dengan gusar, aku duduk dalam kegelapan kamar –yang lampunya selalu kumatikan menjelang tidur, merenung. Aku memang sedikit tak enak hati belakangan ini. Kendatipun tubuhku serasa remuk, minta diistirahatkan, otakku menolak mematuhinya. Aku tidak merasa sakit secara mental. Secara fisikpun tidak terlalu –selain rasa lelah, tetu saja. Jadi mengapa aku masih tidak bisa tidur?

Letih berusaha untuk tidur yang tak kunjung membuahkan hasil, aku pun mencari-cari sesuatu yang bisa dikerjakan. Akhirnya, kuambil laptop dan kubuka situs jejaring sosial. Aku mulai menulis. Saat aku rasa mataku mulai perih karena terlalu lama di depan monitor, aku mengalihkan pandangan ke langit-langit kamar, membiarkan laptop tetap hidup, menampilan tuisanku yang telah kupublikasikan. Aku mencari-cari pola dari rembesan air hujan pada papan teriplek langit-langit. Aku baru saja menemukan bentuk troll ketika melihat ada satu komentar pada catatan yang baru saja aku publikasikan.

Aku menagis sejadi-jadinya ketika membaca komentar singkat pada catatanku. Sadarlah aku bahwa yang membuatku gelisah bukanlah rasa sakit dan ketakutan. Tapi kehampaan yang tak berpangkal, pun tak berujung. Malam itu aku menangis hingga teridur. Dalam tidurku, aku berjanji akan menjadi lebih baik dari diriku sebelumnya.

Dunia Asing

Hari pertama perkuliahan dimulai, aku mulai mengenali beberapa wajah. Aku mulai berbicara pada orang-orang disekitarku. Aku tidak boleh larut dalam perasaan hampa yang mengerikan itu. Perasaanku memang kosong, tapi bukan berarti tidak bisa diisi, 'kan? Jadi aku mulai mengisinya. Pertama-tama, kumasukkan seluruh wajah yang kulihat kedalam kotak memoriku yang masih kosong. Lalu kumasukkan kenangan-kenangan semasa perkuliahan yang masih seumur jagung ini. Tentang betapa menyebalkannya Dosen A, atau batapa menyenangkannya Dosen B. Akan kutambahkan pula dengan pengalaman-pengalaman lain. Maka dari itu, aku mencoba berorganisasi untuk menambah rasa percaya diriku dan belajar bagaimana cara berkomunikasi dengan banyak orang. Tak perlu seratus orang sekaligus. Perlahan, dimulai dari belasan dan seterusnya.

Saat diorganisasi, aku mendapat tugas untuk membuat sebuah naskah drama berdasarkan pengamatanku selama berada dikampus. Tugas ini sebenarnya cukup sulit dan sedikit membingungkanku. Aku terbiasa menulis kisah berdasarkan imajinasi, khayalanku. Tapi adalah sebuah pantangan bagiku untuk mengatakan tidak, pada sesuatu yang belum pernah aku coba.

Esoknya, aku mulai riset kecil-kecilanku. Kumantapkan hati dan kuamati sekelilingku. Aku banyak bertanya pada teman-temanku. Tapi hal ini semakin membuatku bingung.

Malam, minggu ke dua, aku duduk di depan laptop. Mulai mengetik hasil mengamatanku dalam kurun waktu dua minggu. Ini sungguh sulit untuk diungkapkan, percayalah. Aku tidak bisa menyatukan semua sudut pandang mereka, sekalipun paham bagaimana sakit dan senangnya! Menyebalkan.

Ditengah-tengah rasa frustasi yang sebenarnya tak terlalu membuat frustasi, sebuah ilham jatuh menimpa kepalaku. Mengapa tak kubuat saja berdasarkan pengalamanku? Lagipula, menurut kesimpulan acak yang kubuat, orang-orang yang kuwawancarai rata-rata memiliki pendapat yang sama. Jadilah aku menulis kisah ini dalam kurun waktu dua jam. For a god sake! Butuh dua minggu untuk mengamati dan hanya butuh waktu dua jam untuk menuangkankannya dalam bentuk tulisan. Benar-benar menyebalkan. Tapi sudahlah. Kebingunganku akhirnya membuahkan hasil.

Hidupku tidak akan berakhir pada masa lalu. Tidak akan semudah menuliskan kata end pada bagian akhir cerita. Masih banyak yang ingin aku lakukan. Tapi ini cukup untuk sekarang. Yang berlalu biarlah berlalu. Saatnya membuka lembaran baru. Yang lalu tetap akan tersimpan dalam sudut memoriku. Tak akan pernah kulupakan. Sekarang saatnya menciptakan kenangan baru untuk diingat. Ah, indahnya hidup….

end