Obsession

Ruangan itu gelap. Hanya ada sedikit sinar mentari yang menyusup lewat celah gorden yang tertutup rapat. Di ruangan beraroma antiseptik, seorang pemuda terbaring di sana. Usianya mungkin baru mencapai kepala dua. Sebuah alat pertanda kehidupannya baru saja berhenti memberikan irama, digantikan sebuah nada panjang yang tak berujung. Matanya terpejam, begitu damai, begitu tenang. Seakan ia sedang menjalani tidur panjang tanpa akhir. Tubuhnya mulai mendingin, menggantikan kehangatan yang ada pada tiap insan yang bernafas.

Namun ia tidaklah seorang diri. Di sampingnya, seorang gadis yang sebaya dengannya berdiri terdiam. Wajah gadis itu tampak letih, seakan menanggung beban hidup yang terlalu berat. Dibalik lengan bajunya yang sedikit terlalu panjang, tangan sang gadis menggenggam sebilah pisau kecil.

"Kau bercanda, kan?" gadis itu berucap pelan, nyaris berbisik di tengah kesunyian senja yang hampir berakhir. Tubuhnya sedikit bergetar saat kata demi kata coba ia rangkai dari mulutnya. Gadis itu berdiri di samping sang pemuda. Ia sentuh wajahnya. Menorehkan pisaunya pada wajah tampan itu tanpa membuat satu pun luka. Seakan ia sedang membuat garis imajiner dengan pisau itu.

"Kau tidak mungkin terbunuh semudah ini, kan?" Ia menjatuhkan pisaunya. Kedua tangannya terlalu sibuk menyentuh setiap bagian wajah si pemuda. Ia sentuh sepasang mata indah yang kini terpejam itu. Ia sentuh hidung yang kini tak lagi membuat tarikan nafas. Ia sentuh telinga yang kini tak lagi sanggup mendengar suaranya. Ia sentuh bibir yang tak lagi menjawab pertanyaannya.

"Tahukah kau seberapa besar aku membencimu?" kini ia berbisik.

Tidak ada jawaban, tentu saja, tapi ia enggan berhenti melanjutkan bisikanmu yang nyaris teredam hembus angin itu.

"Percayakah kau akan benci pada pandangan pertama?" ia mendekatkan wajahnya. Rambut hitam panjangnya menyentuh wajah si pemuda saat ia berbisik di telinganya.

"Aku percaya," ia menjawab pertanyaannya sendiri. "Karna aku membencimu sejak pertama kali aku melihatmu."

Tangannya menggapai sekitar, mencari bilah pisau yang tadi ia jatuhkan. Ia genggam erat pisau itu, mendekatkannya pada pergelangan tangannya sendiri. Tetes demi tetes darah menetes saat ia mulai menyayat pergelangan tangannya nan putih bak porselen.

"Kau juga membenciku, kan?" lebih banyak darah terpercik, membuat noda yang lebih besar di lantai. Senyum tersungging di wajahnya bagai seorang anak kecil yang baru saja mendapat mainan baru kala ia teringat pertemuan pertamanya dengan pemuda itu. Kenangan masa lalu itu masih begitu nyata dalam ingatanya. Senyata luka yang entah kenapa terasa begitu menyakitkan di hatinya.

"Benci… Benci! BENCI!" Gadis itu berteriak bersamaan dengan air matanya yang mulai menetes. "Salah, pasti ada yang salah…" ia terisak dalam kata-katanya, "Kupikir jika kau mati, aku akan terbebas dari perasaan aneh ini… Tapi kenapa? Kenapa aku merasakan sesuatu yang berbeda! Sesuatu yang lebih menyakitkan dari rasa benci itu sendiri!"

Air mata tak henti-hentinya menetes beriringan dengan genangan darah yang mulai terbentuk di sekitarnya. Sebelum kegelapan menutup matanya. Gadis itu menutup jarak diantara mereka dengan mengecup kening si pemuda perlahan… untuk yang pertama… dan yang terakhir…

"Selamat tinggal…" Dan ia pun ikut terlelap dalam kegelapan abadi.

xXx

Matahari bersinar cerah, terlalu cerah bahkan. Seakan-akan sang surya sama sekali tak menyadari kepedihan yang melingkupi bumi dibawahnya. Di sepetak lahan itu, sekumpulan orang berbusana sewarna berkumpul. Hitam kelam, warna yang kurang serasi dengan cuaca yang kelewat terik ini. Isakan tangis masih terdengar sesekali. Dari teman, relasi, ataupun kerabat yang pernah mengenal dua insan yang kini telah menghadap Yang Maha Kuasa itu. Di atas gundukan tanah yang masih baru, dua buah batu nisan berdiri tegap menantang langit.

Satu per satu orang mulai meninggalkan ladang kesunyian bersamaan dengan mentari yang mulai beranjak pergi. Ditengah kerumunan yang mulai habis ditelan waktu, seorang pemuda tetap berdiri. Matanya seakan menerawang jauh, mencoba menorehkan sebanyak mungkin kenangan akan dua orang yang pernah menjadi sahabatnya itu. Sementara sang pemuda berdiri tak bergeming, seorang gadis nan rupawan datang mendekat. Rambut kecoklatan sang gadis tergerai indah di bawah sinar mentari. Perlahan, ia mendekati sang pemuda dan menyentuh pundaknya. Berusaha memberikan penghiburan lewat sentuhan yang sepertinya tak akan pernah cukup.

"Nathan, ayo pulang. Ini sudah sore, sebentar lagi gelap," gadis itu memecah kesunyian yang telah sempurna.

"Kenapa…? Kenapa, ra? Kenapa Nadia dan Jo harus berakhir seperti ini!?" pemuda bernama Nathan itu setengah berteriak. Menaikkan nada suaranya, menumpahkan isi hati yang entah sejak kapan ia pendam. Ia mendekat, bersimpuh di dekat salah satu nisan.

Rara, gadis berambut kecoklatan itu hanya dapat menundukkan kepalanya. Ia tak tahu jawaban apa yang pantas ia berikan. Hatinya pun kalut. Ia mengenal Jo dan Nadia, namun tidak sedekat Nathan mengenal mereka. Nathan mengenal Jo semenjak mereka masih di bangku sekolah dasar. Sedangkan Nadia, Nathan mengenal gadis berambut hitam panjang itu semenjak mereka memasuki sekolah menengah pertama.

"Kenapa Nadia harus bunuh diri, ra? Kenapa!?" Ia memukulkan kepalnya pada bumi tempatnya berpijak. Berusaha menumpahkan kesalahan yang sesungguhnya tak dimiliki oleh seorangpun. "Kematian Jo bukan salahnya! Jo meninggal karena kecelakaan!"

Hati Rara sakit, tersayat melihat Nathan hancur seperti itu. Ia berjalan mendekat, bersimpuh di sampingnya lalu melingkarkan kedua tangannya pada tubuh pemuda itu. Berharap sedikit sentuhan dapat memberikan penghiburan pada hati Nathan yang porak poranda.

"Sejak kematian seluruh anggota keluarganya, Nadia berubah," Nathan melanjutkan kata-katanya dalam isakan tanpa air mata. "Dia jadi membenci semua orang, terutama Jo… Aku heran, apa yang sesungguhnya membuat Nadia begitu membenci Jo?" Nathan bertanya sembari mengelus nisan dihadapannya secara perlahan. Ia meraba tiap goresan ukiran nama yang tertoreh pada batu nan kokoh itu. "Padahal tak pernah sekalipun Jo membenci Nadia…"

"Aku rasa… Nadia membenci Jo karena Jo lah sumber dari segala rasa sakit di hati Nadia," Rara angkat bicara seakan belenggu kebimbangan yang mengunci mulutnya baru saja terlepas.

"Rasa sakit di hati Nadia? Maksudmu?" Nathan mengalihkan pandangannya dari batu yang semenjak tadi ia tatap. Untuk perama kalinya, Nathan menatap lawan bicaranya itu.

"Nadia tidak pernah membenci Jo, than." Rara berdiri lalu mengulurkan tangannya pada Nathan, berusaha mengajak Nathan yang masih enggan untuk beranjak. "Dia hanya lupa bagaimana caranya mencintai…"