Penghujung

A fic by Vera F. Maharani

Waktu berjalan dengan lajunya yang tidak kita pahami. Tahu-tahu sekarang kita sudah duduk bersisian di sini, di sebuah bangku taman yang biasa kita kunjungi jika kantuk enggan menghampiri. Kamu dalam balutan kaus lengan panjang abu-abu dan celana training yang sudah aku hapal dalam tiga tahun terakhir ini, dan aku dalam piyama oranye motif kelinci yang dulu pernah kamu bilang lucu.

Ah, tapi kamu tentu sudah tidak ingat bahwa kamu pernah berkata piyama ini lucu, jadi buat apa masih kuingat itu. Buktinya saat kamu melihatku, kamu tak berkomentar apa pun. Kamu hanya menyapa singkat, "Hai, Chiara."

"Halo, Chandra."

Kamu membiarkan derik-derik jangkrik mengisi beberapa jengkal kekosongan di antara kita. Memang, sudah lewat waktunya di mana kamu khawatir melihat seorang gadis berkeliaran di taman kompleks malam-malam, bukannya bergelung nyaman dalam lindungan dinding kamar. Sekarang bukan hal yang aneh lagi untuk menemukan aku duduk di sini, melamun diterpa angin, hingga akhirnya dini hari datang dan kita menyerah untuk tidur. Tapi aku agak kangen rentetan kecemasanmu dulu itu, tahu. Agak.

Karena aku tidak mau malam ini berlalu dalam diam, aku pun bertanya, "Apa kabarmu hari ini?"

Kamu menundukkan kepala sedikit, lalu menjawab, "Baik."

Baik? Syukurlah. Aku senang kamu baik-baik saja. Tapi tidak adakah kata-kata lain yang lebih panjang daripada 'baik'? Aku tidak akan puas kalau hanya sepotong kata itu yang kamu bagi denganku malam ini, jadi aku mengejar, "Serius? Terus kenapa kamu susah tidur kalau kabarmu baik? Skripsi gimana? Keluarga? Keuangan?"

Kamu terkekeh. "Skripsi baik. Keluarga damai. Keuangan stabil. Makasih."

"So?"

"So, I am fine, thank you."

Aku mendengus. Kualihkan pandanganku pada lampu taman yang dikerubuti laron, dan kucoba menyibukkan pikiranku dengan urusanku sendiri. Tidak terlalu berhasil, karena kebanyakan urusanku menyangkut kamu, laki-laki tampan yang sedang gemar membisu.

"Chia…"

"Ya?" aku menyahut dengan memanjangkan satu suku kata itu, berusaha tidak terdengar terlalu bersemangat.

"Sejauh mana kamu akan berlari mengejar apa yang kamu mau?"

Aku tertegun. Saat aku menoleh, kulihat kamu sedang menatapi lampu taman dan laron-laron yang tadi jadi pusat perhatianku. Ekspresi wajahmu santai, bebas kerutan. Namun sesuatu dalam caramu bertanya memberitahuku bahwa ini bukan pertanyaan yang bisa kujawab dengan canda.

"Well," aku bergumam sambil mengubah posisi dudukku. "Well…" aku menggeliat lagi, hanya untuk kembali ke posisi dudukku semula. Sejauh mana kamu akan berlari mengejar apa yang kamu mau? Saat ini apa yang aku mau berada begitu dekat…tapi aku tidak bergerak. Aku menelan ludah, mengulur-ulur waktuku untuk menjawab pertanyaan itu.

"Aku rasa…kita harus siap berlari sejauh apa pun untuk meraih hal-hal yang kita cita-citakan, iya kan?" aku bertanya. Memastikan pada dirimu, agar aku tahu apakah jawaban semacam ini yang kamu harapkan. Memastikan pada diriku, agar aku yakin bahwa memang itulah yang akan aku lakukan, termasuk dalam urusan yang menyangkut kamu.

"Iya…betul. Betul juga," ucapmu, mungkin pada dirimu sendiri. Bibirmu perlahan mengembangkan senyum. Nyala oranye lampu taman terpantul pada hitam kosong pupilmu.

Aku melipat tangan di depan dada, pandanganku bolak-balik pada kamu dan lampu taman itu. "Boleh aku tahu, dalam konteks apa kita bicara seperti ini?"

Pertanyaanku itu seakan menarikmu kembali ke dunia nyata. Kamu mengerjap, dan kesadaran kembali menghidupi mata itu. Kamu menoleh padaku, dan kurasa untuk pertama kalinya malam ini, kamu sadar sepenuhnya bahwa kamu sedang mengobrol denganku. "Aku memutuskan untuk apply beasiswa S2 yang kuceritakan tempo hari, Chia," kamu mengumumkan dengan raut wajah bangga. "Kalau semua berjalan lancar, aku akan lulus tiga bulan lagi, lalu tiga bulan kemudian…ciao, Indonesia."

"Oh…," aku tersentak, dan udara langsung menyerbu paru-paruku dalam satu tarikan nafas. Ini bukan kabar baru, memang. Tentu saja aku tahu kamu dan obsesi belajar di Amerika-mu, karena masa depan merupakan salah satu topik favorit dalam perbincangan malam kita. Namun saat 'masa depan' itu beringsut ke sini, dan kamu bersiap menghampiri…rasanya surreal. Kenyataan menamparku dan tameng yang kupersiapkan hancur berkeping-keping.

Hembusan angin malam mengembalikan akal sehatku ke rongga kepala. "Itu keren banget, Chandra!" aku tersenyum selebar mungkin. Aku meremas tanganku di depan dada, mencoba menunjukkan betapa menggugahnya berita itu buatku. "Aku yakin kamu punya kesempatan besar untuk diterima."

Tatapanmu melembut, sementara matamu menyempit menjadi lengkungan ramah yang sesuai dengan namamu. Chandra, bulan. Dan kamu memantulkan cahaya lampu taman dengan begitu sempurna, seakan-akan cahaya itu milikmu sendiri. "Menurutmu begitu?" kamu bertanya, seperti masih perlu diyakinkan.

Aku mengangguk. Aku memang tidak selalu ada untuk melihat sepak terjangmu, tapi dari perbincangan-perbincangan malam kita yang sporadis, aku tahu kamu mahasiswa brilian. Cerdas, aktif, hangat, bahkan dengan insomnia yang terkadang mengantarmu sampai ke bangku ini. Begitu mudah untuk menyimpulkan bahwa kelak kamu tidak akan jadi orang biasa-biasa saja. Begitu mudah untuk dicintai, juga…

"Hei, Chandra," aku menegur. Kamu menjawabku dengan gumaman. "Kamu apply beasiswa, itu berita bagus…terus kenapa kamu masih tampak galau?"

"Aku? Galau?" Kamu tertawa lagi, seakan-akan kedua kata itu sangat absurd untuk dipadukan. "Aku mantap untuk pergi ke sana, Chia. Hanya saja, keputusan hidup yang besar seperti ini rasanya agak mengguncang. Memacu semangat, ya, tapi mengguncang juga." Kamu meremas-remas tangan, namun bibirmu yang tersenyum membuatmu tak terlihat seperti orang gugup. "Aku harus memperjelas rencana masa depanku. Apa yang mau aku lakukan dengan hidupku? Kapan? Di mana? Begitu banyak kemungkinan, begitu banyak keinginan! Dunia seperti dibuka lebar, Chia. Lebar sekali."

Lalu kamu pun menjelaskan, tangan-tanganmu bergerak tegas di hadapanmu. Di mana kamu ingin berada lima tahun lagi, sepuluh tahun lagi, dua puluh lima tahun lagi. Kamu bercerita tentang daerah-daerah yang ingin kamu sambangi, perusahaan media yang ingin kamu bangun, isu-isu sosial yang ingin kamu selami. Aku menatapmu nanar, sementara yang menari di otakku malah pikiran-pikiran paling cupet dan egois. Di mana aku dalam rencana-rencanamu yang mencakar langit itu? Di mana aku, Chandra, adakah tempat untukku di dalamnya?

Siapa aku hingga bisa bertanya seperti itu? Aku bahkan tidak tahu apa aku bisa dibilang sahabatmu. Aku hanya sesama pengidap insomnia yang bersilangan jalan denganmu tiga tahun lalu, saat kita sedang mencari kantuk. Kita hanya dua orang yang menjadikan bangku taman ini sebagai tempat melamun favorit, dan karena tidak ada di antara kita yang mau mengalah untuk mencari tempat lain, kita memutuskan bahwa lebih baik jika kita saling bicara. Ya, kamu bercerita tentang hidupmu padaku, dan aku padamu. Tapi aku tahu aku tidak sepenting itu bagimu…

Sementara kamu bercerita, terbersit dalam pikiranku bahwa aku ingin pergi bersamamu, Chandra. Aku ingin duduk di sini pada suatu malam, tersenyum padamu yang berjalan mendekat, lalu berkata, "Surprise! Aku akan pergi ke Amerika juga." Tapi itu hanya angan-angan kosong. Aku tidak akan pergi ke Amerika. In fact, aku tidak akan pergi ke mana-mana. Terlalu banyak sulur-sulur mengikatku, menghalangiku pergi. Aku tidak bebas dan mampu sepertimu. Kau ditakdirkan untuk terbang. Sementara aku akan tetap di sini, mengakar dan lapuk.

Aku bisa membayangkan aku duduk di sini, untuk entah berapa malam lagi, dengan atau tanpa insomnia. Piyama oranyeku, piyama yang dulu pernah kau bilang lucu, masih kupakai sebagai favoritku. Sementara kamu…mudah bagimu untuk menemukan sesama pengidap insomnia lain, berjalan tak tentu, menyusuri malam di salah satu taman kota tempatmu tinggal nanti. New York, Boston, Chicago…entahlah. Kalian akan berbagi bangku. Kalian akan berbicara. Sementara aku di sini menatapi angin yang bergulung menjadi citra wajahmu, di sudut hatimu sana aku telah terganti sempurna.

Aku kuyup oleh dingin, sementara kamu terlalu terserap dalam impianmu yang hampir menjelma nyata. Kurasa kamu tidak sadar aku di sebelahmu mengerut, dikikis kecemasan yang bertubi-tubi.

"Ini semua…tentu saja kalau semuanya berjalan lancar, Chia," kamu meringis di akhir ceritamu. Kamu menghenyakkan punggungmu ke sandaran kayu, posisi tubuhmu menggelosor. Kamu menengadah dan aku mengikutimu, mengamat-amati, siapa tahu aku bisa melihat imaji yang sama denganmu di balik kabut cahaya lampu kota yang menyelubungi langit berbintang.

"Aku akan berdoa buatmu, Chandra," aku berbisik. "Semuanya akan lancar," tambahku, walau aku pun tidak tahu apa yang kumaksud dengan 'lancar'. Biar Tuhan yang mendefinisikannya untukku…

"Makasih, Chia, kamu baik sekali. Tapi sudah cukup tentang aku. Kamu bagaimana?"

"Bagaimana…," kata tanya itu melayang-layang seperti bulu yang dibuai angin. Aku menatapmu, mencermati binar matamu dan caramu mengangkat alis. Menyimpan baik-baik bagaimana bibirmu sedikit terbuka, bagaimana tubuhmu kau condongkan padaku, seakan benar-benar ingin tahu. Seakan-akan masa depanku memang semenarik itu bagimu.

"Iya, bagaimana," kamu mengulangi. "Rencana masa depanmu. Apa yang ingin kamu lakukan dengan hidup?"

Mengejarmu. Kurasa aku ingin mengejarmu…agar aku bisa berlari bersamamu. Dan sementara itu…biarlah aku menghitung waktu dalam satuan detik yang kuhabiskan bersamamu.

Aku melipat tangan di depan dada dan menelan ludah. Kubiarkan kamu melebarkan mata dan mengangkat alis lebih tinggi, mendorongku bicara. Aku pun tersenyum, dan akhirnya bicara.

"Chandra...aku akan menikmati hidup."

And if all of our days are numbered

Then why do I keep counting?


The two lines on the end of this story belongs to 'Why Do I Keep Counting' by The Killers.