Duri

© Alitheia

;

Aku di sini
Terduduk bersama sepi
Tenggelam dalam sunyi malam hari
Terkikis saat merasakan sakit hati

Aku menarik napas dalam sendatan
Membersihkan serak dari tenggorokan
Kau di sana yang menengok dari ketiadaan,
apakah merasakan sakit yang telah kau tinggalkan?

Dalam setiap tarikan napas
Dan tiupan karbon dioksida yang terlepas
Dapatkah kau mendengar desahku yang selembut kapas?
Bisakah kau melihat sedihku yang bertopeng rias?

Air mata membasuh pipi
Turun perlahan dari genangan yang mati
Hei, kenapa aku terus tersakiti?
Apa ini yang namanya mencintai?

Lucu, kukira cinta itu lembut dan menghangatkan hati
Tapi yang ini ternyata penuh duri

Masih inginkah kau bersamaku?
Atau kau telah pasrah dan mundur dariku?

Aku ragu
Pantaskah kau mendapat tangisku
Peduliku?
Perhatianku?

Cintaku?

Kau yang mengingkari perkataanmu sendiri
Ke mana semua untaian kata dan setumpuk janji—
yang pernah kau berikan demi aku ini?
Apa semua itu asli, atau hanya harapan yang tak pasti?

Sakit, sakit, sakit
Kuberikan kesetiaan tapi tak kau jaga dan hargai
Cukup bicara berbelit-belit
Aku menginginkanmu yang dulu lagi


A/N: Oke, ada cerita (nggak) lucu sama puisi ini. ._. Saya sebenarnya bikin benda-alay-murni-curhatan ini udah lama, beberapa bulan yang lalu, tapi hanya dibiarkan saja karena saya rasa udah nggak diperlukan lagi. Tapi ternyata hal yang sama malah terulang dan saya akhirnya sadar bahwa benda ini amat tepat dengan isi hati sekarang. /eeah Beruntung draft-nya masih saya simpan. Anyway, any review would really please this breaking heart. ; u ; /apasih