Troll Club!
November 3rd, 2012
©Elise the Writing Desk

"Fino-chan~! Ini tugas kelompok kita~!"

BLAM!

Fujichika Nina melotot melihat buku-buku serta kertas ditumpuk di bangkunya. Teman sekelasnya yang lain menyambar buku PR dan meneruskan menyalin.

"Fino kan nggak ikut klub apapun, jadi kerjakan yaaa! Klub Musik mau pesta, soalnya kita habis juara di Tokyo Dome!" Ayano terkikik girang.

"Yang benar saja!" Fino menautkan alisnya. "Memangnya aku ini apa!?"

"Mau bagaimana lagi, Fino..." Tamae yang sedang menyalin PR Fino menghela napas. "Kan cuma kamu yang punya waktu luang. Bagaimana kalau kamu ikut Klub Drama—"

"Fino-samaaa! Ikutlah Klub Olahraga!" seorang gadis berkucir masuk dengan hebohnya.

"Aku tidak suka olahraga." Geram Fino penuh kebencian.

"Tidak perlu ikut olahraga~! Cukup membayar iuran dan jadi suporter~!"

"Menyerahlah, Kanae-san..."

"Fino-chan, ikut Klub Model saja..." kata Ayano berkedip. "Adikku bilang kau bisa berguna di sana."

"Aku tidak mau ikut klub-klub kalian!" bentak Fino akhirnya, sampai berdiri memukul bangku. "Kalian cuma memanfaatkan uang dan kepintaranku, kalian pikir aku tidak mengerti!?"

Satu kelas terdiam mendengar bentakan Fino. Fino melirik ke sekeliling dan menghela napas. "Jangan ungkit-ungkit urusan ini, kalau kalian masih ingin aku menyontekkan PR!" ancamnya dan duduk lagi, mengambil buku-buku yang dibawakan Ayano.

Selamat datang ke kehidupan Fujichika Nina! Biasa dipanggil Fino, umurnya 16 tahun, duduk di kelas 2 di SMA OZ. Setiap hari, Fino selalu diingat kalau ada PR atau tugas kelompok. Sisanya, Fino nggak banyak punya teman ngobrol. Orangnya keras kepala dan tertutup.

Hari itu awal dari semester pertama, tapi sudah banyak tugas sampingan yang dilimpahkan para sensei. Bel istirahat siang berakhir terdengar, dan para murid kembali ke kelas, karena sensei menggiring mereka. Di belakang beliau ada seorang anak baru!

"Diam, semuanya!" Sakurai-sensei berteriak lantang. "Kita kedatangan siswi baru dari Amerika. Karena harus mengurus Visa, dia datang terlambat. Nah!" sensei menatap si murid baru. "Perkenalkan dirimu. Tulis namamu di papan."

"Yessir!" gadis itu terlonjak dan merenggut spidol dari podium. Satu kelas tertawa.

Fino cemberut. Ah, anak baru ini...si kacamata berambut merah mengamati gadis itu, agak penasaran. Tubuhnya kecil dan pendek, masa' sih, dia orang Amerika? Kulitnya agak tan tapi cerah, padahal American kulitnya agak merah atau pucat. Yang meyakinkan hanya rambut cokelat dan matanya yang berwarna biru...

"Ya-ho! Namaku Mathilda Aliya!" sapa gadis itu, tersenyum ke seluruh kelas. Fino menyipitkan matanya...gadis ini menyilaukan! Eh? Memangnya dia ini apa? Sunako Nakahara? "Aku tinggal di Amerika beberapa tahun, tapi sebenarnya aku lahir di Indonesia. Ibuku orang Inggris, tapi dia Duta Besar di New York. Jaa, please take care of me!"

'MABUSHIII!' pikiran Fino tiba-tiba persis dengan Sunako si gadis horor di drama Yamato Nadeshiko Shichi Henge...Teman-teman sekelas tertawa kecil, menurut mereka gadis pendek itu lucu, dan para cowok cengengesan.

"Nah, kau carilah tempat duduk, Aria-san! Aku harus kembali ke kantor, banyak yang harus kusiapkan untuk semester ini..." Sakurai-sensei pun berlalu.

"Nee, Mathilda-chan! Duduk di sampingku!" Tamae memanggil.

"Aria-san, boleh minta e-mailmu?"

"Nee! Aku minta tanda tanganmu!"

"Bolehkah aku berjabat tangan denganmu!?"

Fino menonton dengan tidak percaya. Memangnya si pendek itu artis...?

Tiba-tiba Mathilda berlari dan duduk di bangku tepat di belakang Fino. "Gyaaaa aku maluuu!" serunya menempelkan wajah ke bangku.

"Eee! Mathilda-chan, kenapa kau malah duduk di situ~?"

"HEEEI KALIAN JANGAN BERISIK!" Sakurai-sensei dengan murka berteriak sembari membanting pintu. "Ayano! Berdiri lagi dari kursimu, lari sepuluh kali! Semuanya duduk dan kerjakan tugas yang tadi! Contohlah Fujichika!"

Fino ingin mencekik Sakurai-sensei, karena pria itu membuat semua tatapan dingin tertuju padanya. Memang, hanya dia sendiri yang sedang sibuk mengerjakan tugas. Bagus, dia pasti dianggap anak sok rajin...

"Fujichika-san...?"

"E-EH?" Fino terlonjak dari kursinya, lalu menoleh ke belakang, mendapati Mathilda menelengkan kepalanya.

"Waaah...!" mata birunya membesar. "Kau cantik, seperti Ratu Peri, Titania!"

"EEEHHH!?" wajah Fino terbakar hebat. Rasanya gadis pendek ini bisa membuatnya jantungan terus! Dan wajahnya itu! Matanya itu! MABUSHII! Tapi sebenarnya...waaah senangnya! Titania? Benarkah? Apakah dia secantik itu...!?

"Mata hijaumu itu asli...?" tanya Mathilda kagum.

"Iya." Gumam Fino setengah mati.

"Wow...mata hijau zamrud, rambut merah bergelombang, seperti penyihir cantik...pasti banyak yang ingin jadi pacarmu!"

"T-Tidak!"

"Ara? Kalau begitu...pasti kau seorang model!"

"B-Bukan!"

"Ahhh! Ini adalah hari bersejarah!" Mathilda mendeklarasikan dengan berapi-api. "Di tengah kerumunan orang Jepang, aku bertemu seorang putri cantik dari abad pertengahan! Aaah! Seandainya aku punya rambut pirang, pasti aku juga bisa jadi Putri Inggris!"

"Putri Inggris...?" Fino tertawa gugup. "Oh, ya, benar...Rambut pirang dan mata biru, maksudmu? Hmm..." sambil mendorong kacamatanya, dia mengamati wajah Mathilda. "Tidak, tidak cocok! Kamu lebih pantas begitu, manis kok..."

"Huh...are you sure?" tiba-tiba gadis itu tertawa. "Thank you!"

Fino baru sadar dia ikut tersenyum gara-gara si pendek itu. Senyumnya menular...Wah, gadis ini, Mathilda, pasti akan punya banyak teman, pasti banyak cowok akan menyukainya...seperti kebalikan Fino...

"Sudahlah, ng, aku sibuk. Sebaiknya kamu buka buku Kimia-mu dan kerjakan halaman 179."

"Hm? Oh! Thank you, Fujichika-chan!"

Orang tipe Amerika begitu, sepertinya tidak mungkin jadi temannya...

~.X.~

"Kita dipanggil kepala sekolah." Ucap Fino tidak percaya. "Apa yang terjadi...dosa apa ini...tidak mungkin, aku kan siswi teladan..."

"Nee, Fujichika-chan, jangan paranoid begitu...!" tawa Mathilda santai. "Kalau dikeluarkan disekolah, toh bisa manfaatkan waktu buat main game~"

"Jangan bercandaaa!"

"Jangan berisik, tenanglah." Kata anak laki-laki kelas satu yang berdiri di sebelah Mathilda. "Kepala sekolah ingin kita melakukan sesuatu. Mana satu orang lagi...?"

"Maaf aku terlambat!" seorang senpai berisik datang, lalu melihat Fino, dia langsung berlutut. "Oh, Putri Cantik Jelita! Berikan namamu pada hatiku~!" serunya sambil meraih tangan Fino.

BLETAK!

"Siapa orang bodoh ini!?" teriak Fino syok dan marah. "Eh, AARGH! Kau Yoshi-senpai si Playboy itu!?"

Senpai itu tertawa riang. "Hehehe~! Mendengar namaku dari bibir indahmu membuatku bahagia, Princess..."

"Tanganku sudah tidak perawan lagi..." sendu Fino dengan wajah sungguh menderita.

"Memangnya aku ini virus!?" protes Hideyoshi Kichirou terluka. Dia kelas 3, kaya, ceria dan tampan. Meskipun—menurut Fino—kepintarannya masih jauh di bawah Fino, tapi untuk angkatannya, Yoshi-senpai cukup cerdas, yah, well, punya otak.

"Kita sudah harus masuk." Kata si anak kelas satu yang daritadi ditatapi oleh Mathilda. "Senpai, ada apa...?"

"Ah, tidak...rasanya kita pernah ketemu, ya?" tanya Mathilda, sementara si kelas satu itu membukakan pintu.

"Ya ampun, anak kecil! Itu rayuan gombal paling tua yang ada di buku!" seru Yoshi-senpai syok, lalu mendapat death-glare dari Fino.

"Dia. Tidak. Merayu. Siapapun."

"Ya, bu..."

"Kepala Sekolah, kami sudah di sini." Si kelas satu mengumumkan.

"Katsurou-san, dan lainnya, silahkan duduk."

Mathilda terbelalak kagum melihat kepala sekolah mereka, Sayaka Nobunaga, 32 tahun, single, rambut hitam cepak, berkacamata, merokok, kaki di atas meja kerja, jaket 'ala Matrix.

Wanita ini...yakuza atau pengajar...?

"Kita langsung ke penawaran."

Belum duduk, sudah ditawari bisnis.

Yoshi-senpai yang sudah terbiasa dengan urusan bisnis, mengambil duduk dan menopang dagunya di meja. "Apa yang mau anda tawarkan, Nobunaga-san?"

"Jangan panggil aku begitu!" kepala sekolah melenguh sebal. "Aku masih muda! Panggil aku Nocchi~!"

"EHHH...?"

"Aku ingin menawarkan kalian...beasiswa penuh untuk kuliah di luar negeri, di manapun kalian mau."

"EEEEEEEHHH!?"

"B-Beasiswa penuh..." Hiroto Katsurou tergagap tidak percaya.

"Ku-Kuliah di luar negeri...?" Fino sesak napas.

"...Di manapun aku mau!?" Mathilda melongo.

"Dan apa yang Nocchi inginkan?" mata Yoshi-senpai membara.

"Hancurkan semua klub sekolah, itu saja." Titah Nocchi dengan senyum sadis.

...

...

...

Sementara tiga orang sedang melongo memproses perkataan kepala sekolah, Mathilda berbalik dan menyisingkan lengan seragam.

"Aku akan beli minyak tanah dan korek api~!" serunya sembari melenggang keluar.

"EEEHHH HENTIKAN GADIS ITUUU!" jerit Nocchi, dan serentak tiga murid lainnya harus menjatuhkan Mathilda dengan gaya American Football.

Dan kembali damai. Keempatnya duduk di kursi-kursi yang disiapkan, sementara Mathilda masih kebingungan.

"Kenapa kalian menghentikanku...? Kan ini kesempatan yang bagus...!"

"Diam dan dengarkan, senpai." Tegur Hiro yang lebih muda darinya.

"Yessir!"

Nocchi berdeham. "Ehm, yah, maksudku menghancurkan klub, bukan menghancurkan fasilitas. Itu dua hal yang berbeda, Aliya...Nah, aku khusus meminta kalian untuk menghancurkan klub-klub SMA OZ karena hanya kalian berempat yang tidak ikut klub."

"Tapi kan, Aliya-san anak baru." Ujar Fino bingung. Mathilda menggeleng.

"Aku memang tidak mau ikut klub." Mathilda mengangkat bahu. "Tidak ada yang mau kutunjukkan atau kukembangkan, jadi buat apa?"

Fino berkedip. Dia tidak tahu...oke, dia baru mengerti...ikut klub punya tujuan, dan tujuannya bukan popularitas atau mencari teman, tapi untuk mengembangkan diri atau membuktikan bakat. Dia sering membaca hal itu, tapi dia baru mengerti ketika Mathilda mengatakannya dengan lugas.

Hiro memandangi senpainya yang pendek itu. Hiroto Katsurou, 14 tahun, dia adalah siswa akselerasi dan masuk SMA OZ karena beasiswa musik. Dia cukup terkenal meskipun seorang junior, karena dia terang-terangan menghina Klub Musik OZ yang paling sohor dibandingkan semua klub di SMA OZ.

Menurut Hiro, sudah berada di SMA OZ karena semata-mata bakat musik jelas sudah membuktikan bakatnya...dan dia tidak suka Klub Musik sekolah, karena setelah sehari saja melihat, klub itu sangat bergantung pada koneksi dan uang...

Apa Mathilda-senpai punya alasan yang sama, sehingga dia tidak perlu membuktikan apapun? Itulah yang dipikirkan Hiro.

"Nocchi, anda pasti salah paham, deh." Kata Yoshi-senpai agak bingung. "Aku ikut sebagian besar klub di sini."

"Kau ikut andil dalam biaya, itu memang benar. Aku tahu itu." Nocchi menegaskan, membungkam senior itu seketika. Yoshi memandang sneakersnya dengan kosong.

Fino mengangkat alisnya, diam-diam terkejut. Yoshi-senpai sering digosipkan di sekolah. Memang, dia tampan, kaya dan ceria...tapi ternyata dia populer karena klub...karena uangnya. Dia dimanfaatkan?

"Ne, Nocchi, kenapa kau ingin semua klub dihancurkan?" tanya Mathilda penasaran.

"Karena...mereka semua menghabiskan banyak pengeluaran sekolah..." gumam Nocchi dengan suara seram. "Klub-klub sekolah memang selalu menang...tapi mereka selalu menghabiskan uang hadiah...tidak pernah membayar iuran fasilitas...tapi mereka selalu saja...selalu saja...SELALU SAJAAA..." rokok di bibirnya dihirup sampai kering. "...tiap ada fasilitas yang kurang atau rusak, selalu saja merengek padaku...dan mereka akan selalu bilang; 'kami kan selalu menang! Wajar kalau kami minta fasilitas lebih!'...dan sampai saja aku bilang; 'kalian tidak pernah membayar iuran klub dengan uang hadiah!'...mereka akan mengadu pada Koran Sekolah...dan orang tua akan protes..."

"Waa...Nocchi-san, kau menderita..." gumam Mathilda prihatin.

"Bisa-bisanya kau prihatin, ketika dia seseram yakuza murka..." gumam Fino dan Yoshi-senpai ngeri.

"Bagaimana menghancurkan klub-klub itu mengembalikan uang fasilitas?" tanya Hiro, ingin kejelasan agar semua ini jadi logis.

"Awal tahun ajaran ini aku sudah membuat peraturan baru." Ujar Nocchi mematikan rokoknya dan mengambil yang baru. "Klub-klub yang kalah dan tidak mendapat juara satu harus bubar dan bekerja sampai uang iuran fasilitas mereka lunas, baru klub itu boleh buka lagi."

"Hmh? Kenapa tidak dari tahun lalu?" tanya Yoshi-senpai agak sebal. Fino mendengus.

"Hah, senpai tidak tahu ya? Nocchi-san dulu hanya bendahara sekolah, jadi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Sekarang pasti tidak ada yang berkutik menentang peraturan Nocchi-san dengan sikapnya yang seperti itu..." jelas Fino memelankan suaranya menjelang kalimat terakhir.

"Good job, Nocchi!" Mathila mengancungkan jempol.

"Tunggu dulu..." mata Hiro melebar, alisnya bertaut. "Lalu...dengan kata lain...kami harus...?"

"Ya, Katsurou." Nocchi menyalakan penyulut. "Untuk menghancurkan klub-klub sekolah, kalianlah yang harus mengalahkan mereka di tiap lomba atau event apapun. Tidak hanya lomba klub! Kalian juga harus jadi Perfect Students!"

"APAAA!?"

"Kalian harus nomor satu di rapor sekolah selama dua semester ini!" deklarasi Nocchi, mengancungkan satu jari; "Satu, rapor kalian tahun ini harus jadi yang tertinggi, dan tiap pelajaran tidak boleh ada yang lebih bagus dari kalian! Satu di antara kalian saja nilainya di bawah siswa lain, beasiswa itu kubatalkan!"

"Apa...?" Mathilda bergidik.

Jari kedua terangkat. "Dua, misi kalian ini tidak boleh diketahui siapapun selain kita berlima...jangan sampai siapapun—APALAGI OSIS—tahu akan hal ini."

"Hah! Jadi ini i-ilegal!?" Fino si anak yang enam belas tahun hidup di muka bumi tak sekalipun pernah melanggar peraturan (lampu merah di jalan sepi pun tak dilanggar!), bergidik.

Jari ketiga terangkat. "Tiga, kalian boleh menyimpan uang dari memenangkan olimpiade atau lomba apapun, dan uang itu tidak ada hubungannya dengan beasiswa kalian, TAPI...aku tidak akan, sedikitpun, membantu kalian."

"Kau menelantarkan kami begitu saja...?" Yoshi-senpai memelas.

"Aku tidak ingin tampak punya misi atau hubungan apapun dengan kalian berempat, kalau kalian setuju melakukannya. Aku masih punya banyak visi yang harus kuwujudkan, karena itu aku tidak mau tampak sudah menawarkan kejahatan ini...Aku ingin mengubah sekolah ini." Senyum Nocchi, menghembuskan asap rokok.

"Kalian tidak perlu memutuskan sekarang, tapi waktu kalian tidak banyak sampai event pertama dimulai, jadi...pikirkan hingga besok pagi, oke? Kalian boleh keluar."

~.X.~

Sekolah sudah berakhir saat mereka keluar, jadi Fino buru-buru masuk ke kelas dan mencatat tugas yang ada di papan tulis. Dia baru sadar kalau tiga orang tadi mengikutinya.

"Ehh...kalian...?"

"Aku...harus mengambil bukuku..." gumam Mathilda bergegas ke bangkunya di belakang bangku Fino, lalu memandangi ketiganya, dan melambai. "Sampai jumpa..." dia bergegas pulang.

"Tapi—senpai..." Mathilda sepertinya pura-pura tidak mendengarkan panggilan Hiro. Si junior menautkan alis. "Padahal tadi dia yang paling semangat..."

"Yo, Fujichika!"

"Itu Nina-san untukmu, senpai." Geram Fino menutup bukunya dan beres-beres. "Nah, apa? Kalian membicarakan beasiswa itu?"

"Yah," Yoshi-senpai mengangkat bahu. "Kita tidak bisa melakukannya kalau tidak berempat, setelah mendengar peraturan Nocchi tadi..."

"Tapi...ini terlalu..." bibir bawah Fino bergetar gugup.

"Asal kita tidak buka mulut pada yang lain, kita bisa, kan?" tegas Hiro. "Kalau toh kita gagal, kita tidak dikeluarkan...dia cuma menggagalkan beasiswa itu...kita tidak rugi apapun."

"Kalian bodoh atau apa!?" Fino tiba-tiba membentak. "Kalaupun mencoba, toh kita akan gagal...Pelajaran, olimpiade, aku bisa! Tapi bukan hanya Klub Sains yang akan kita lawan! Bagaimana dengan Klub Olahraga!? Klub Musik? Klub Fashion? Sudah jauh-jauh berusaha, toh sampai sana kita gagal...jadi buat apa susah-susah?"

"Aku akan mengajarkan kalian musik." Tiba-tiba Hiro berkata. "Aku juga tidak buruk dalam pelajaran, serahkan padaku soal musik."

"Giliran melawan Host Club, serahkan saja padaku." Cengir Yoshi-senpai. "Aku tahu kau seorang jenius, Fujichika, kau pasti bisa menyempurnakan nilai-nilai kami. Kita bisa mengandalkan satu sama lain, oke? Soal fasilitas atau biaya, serahkan semua padaku! Klub Wirausaha, itu bidangku...aku yakin kita semua punya kelebihan-kelebihan untuk menutupi kekurangan-kekurangan satu sama lain."

"Yoshi-senpai benar." Hiro mengangguk. "Yang tidak ikut klub bukan hanya kita berempat, tapi Nocchi memilih kita...aku yakin pasti karena itu..." dia tersenyum kecil. "Aku rasa, dia ingin kita membentuk klub untuk mengerahkan semua kemampuan kita, karena tidak mungkin hanya dengan empat orang biasa bisa..."

"Aku punya impian," kata Hiro. "Beasiswa itu salah satu langkah besar. Aku akan melakukan apapun untuk mencapainya, dan kalau aku bisa mendapatkan langkah besar itu dengan ini...aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan." Dia menyapukan pandangan pada Yoshi-senpai dan Fino-senpai.

"Aku juga, dan beasiswa itu bisa jadi hanya kesempatan sekali seumur hidup." Yoshi-senpai nyengir pada Fino. "Dan aku yakin, kalau toh kita gagal, kita tetap akan mendapatkan pengalaman hidup..."

Fino menghela napas, lalu tersenyum. "Aku...asalkan aku bisa punya orang lain bergantung...yah, aku rasa aku bisa melakukan ini. Oke, aku akan melakukannya."

"OH YES, PRINCESS! Seringlah berikan senyumanmu itu padaku—"

BLETAK

"Jangan hancurkan adeganku yang menyentuh hati ini dengan rayuan gombalmu!"

"Kouhai macam apa kau ini! Beraninya memukul seniormu!"

Hiro tertawa kecil. "Yah...tinggal satu orang lagi..."

~.X.~

"Waaah, Fino! Inikah pacar-pacarmu!?" seru Nadeshiko Nina, mama Fino, dengan wajah berseri-seri.

"Neee! Finocchi punya dua pacar...aku iri...aku saja belum punya!" goda Satoshi Nina, kakak laki-laki Fino, cengengesan.

Fino terpaku di depan pintu rumahnya, lalu berbalik dan melambai-lambai pada Yoshi-senpai dan Hiro. "Sudahlah, tidak usah, tidak jadi ke rumahku...pulang sana, hus, hus—"

"Waaa, baiklah, baiklah, kami akan diaaam!" seru Mama dan Nii-san, lalu buru-buru ke dapur, heboh menyiapkan hidangan.

"Aaargh! Jangan repot-repot!" seru Fino malu sampai ingin mati, tapi akhirnya menghela napas. Yoshi-senpai tertawa-tawa, sementara Hiro tampak kikuk.

"Haah, sepertinya, terakhir Fino membawa teman ke rumah...sudah sepuluh tahun yang lalu..." ujar Mama dengan penuh senyuman, sembari menghidangkan teh.

"S-Sepuluh tahun...?" Hiro dan Yoshi-senpai terbelalak.

"Ahahaha! Itu ti-tidak penting!" Fino nyaris menjerit. "Ya, jadi, soal Mathilda—"

TING TONG!

"A-Aku saja!" jerit Fino mendorong kakaknya. Dia ingin menenangkan diri karena terlalu gugup, tapi dia makin syok melihat siapa yang ada di depan pintu rumahnya.

"Aliya-san!?"

"Eh...Fujichika-chan!" Mathilda tersenyum, dia menyodorkan sebuah bingkisan. "Ini, hadiah pindah rumah, dari Amerika! Agak memalukan, sih—"

"I-Ini..." mata Fino melotot melihat salah satu kotak berisi mug dengan gambar...yang tak lain dan tak bukan...

"M-M-Me...Me...Me Gusta..."

Mathilda dan Fino melotot satu sama lain, lalu, dengan wajah bercahaya, Mathilda bertitah;

"When does the narwhal bacon?"

"MIDNIGHT!" seru Fino semakin syok.

Keduanya ternganga, lalu saling berpegangan tangan.

"Tetanggaku..." Fino masih tidak percaya.

"...REDITTOR!?" Mathilda gemetaran.

"KYAAA!"

Hiro tersedak dango, Yoshi-senpai menyemburkan teh ke wajah Satoshi. Ketiganya buru-buru berlari ke pintu depan.

"Lone Ranger, selama ini kau ada di sini!" seru Mathilda dengan mata berkaca-kaca.

"Tonto, akhirnya aku menemukanmu!" Fino tertawa.

"Ng...Mathilda-senpai?" Mathilda tercekat lalu menoleh dengan syok begitu melihat Yoshi-senpai dan Hiro ada di sana. Satoshi harus berjinjit dari belakang Hiro (Hiro yang paling tinggi, meski umurnya 14 tahun).

"Eh? Itu tetangga baru kita, kan?"

"Err...yah.." Mathilda tiba-tiba mendorong Fino masuk ke rumahnya, lalu melambai. "Sa-Sampai besok!" dia menutup pintu.

Semua yang di balik pintu syok dengan tingkah gadis berambut cokelat itu, tapi Yoshi-senpai sadar sesuatu.

"Oh iya! Kita harus bicara soal itu!" seru si pirang gelap menjentikkan jari.

"Rumahnya tepat di sebelah," kata Satoshi. "Tapi...itu apa?"

"Tidak, dia tidak pulang." Ujar Hiro, lalu menunjuk ke jendela. "Dia mau lari!"

"KEJAR DIAA!" seru Yoshi-senpai 'ala Sparta.

~.X.~

Benar saja, Mathilda Aliya sedang lari tunggang langgang. Fino yang benci olahraga rasanya mau mampus, Yoshi-senpai kewalahan, dan akhirnya Hiro sampai berlutut di jalan.

"Larinya...hah...terlalu...cepathh..." engah Yoshi-senpai tidak percaya.

Hiro berdiri lagi. "Aku tidak akan membiarkan satu orang saja menghancurkan ini!" geramnya, lalu mulai berlari lagi.

"Err...aku akan menunggu di sini." Tawa Fino gugup. "EEH! APA YANG KAU LAKUKAN, BAKA!" Yoshi-senpai sudah menggendong Fino di punggungnya dan mengikuti Hiro.

Ternyata, Mathilda membelok ke taman! Ia meringis ketakutan melihat Hiro dan lainnya menyusul.

"A...Apa yang kalian lakukan!?"

"Senpai, hah...kenapa kau—"

"Me-Menyerahlah!" seru Mathilda dan tiba-tiba dia melompat ke bar gantung, dengan lincahnya dia naik dan berdiri ke bar tinggi itu.

"EEEH! ITU BERBAHAYA!" jerit Fino jantungan.

Semua makin syok ketika Mathilda melompat ke atas pohon seperti bajing.

"Pu-Pulang sana!" teriak Mathilda. "Kalian...Kalian mau apa!? Aku...aku tidak mau ikut itu!" rengeknya.

"Senpai...! Dengarkan kami dulu!" seru Hiro masih tidak mau menyerah.

"LA LA LA LA LA LA!" teriak Mathilda sambil memanjat terus ke atas.

"Dia...seperti...bocah..." geram Hiro murka.

"Ya sudah, kita tunggui saja dia di bawah." Fino tersenyum kecil, lalu turun dari punggung Yoshi, dan ketiganya duduk di bawah pohon.

"Jangan remehkan aku!" teriak Mathilda dari puncak pohon cedar. "Kalian tidak tahu? Aku bisa bertahan hidup dengan makan satu daun untuk satu hari dari pohon ini tiap hari!"

"DIA GILA..." gumam ketiganya suram.

Akhirnya keempatnya diam dan terus saja di sana sampai malam.

"Kau tidak ingin pipis?" rayu Yoshi-senpai.

"Aku bisa tahan pipis tiga hari." Gumam Mathilda. "Tapi kalau aku pipis, menurut kalian aku akan melakukannya di mana, hah?"

Ketiganya bergidik ngeri membayangkan apa yang akan terjadi.

"Kau ini makhluk apa, bocah!?" bentak Yoshi-senpai tidak habis pikir.

"Aku ini jenderal dari planet Keron yang akan mengambil alih Pekopon ini, Kero!" teriak Mathilda dari atas pohon.

"Jangan melawak di saat seperti ini!"

"Hahahaha! Itu lucu, dawg! Me gusta!" tawa Fino mengancungkan jempol.

"Kau jangan memujinya!" Yoshi-senpai meringis geram.

"Kenapa?" tanya Hiro tiba-tiba, suaranya tenang, tapi lantang membuat hening taman bermain yang sudah sunyi. "Kenapa senpai tidak mau?"

Hening sejenak.

"Hiroto Katsurou..." kata Mathilda tiba-tiba. "Tinggi 210 cm, kelas B di Winterhill Junior High. Pendiam, jerawatan, selalu pakai topi baseball, tidak bisa olahraga, tapi nilai-nilai pelajarannya selalu A+..."

Hiro terdiam, sementara dua senpai di sebelahnya memandanginya, minta konfirmasi.

"K-Kau...masih ingat..."

Fino dan Yoshi-senpai makin syok melihat Hiro merona.

"Itu tidak penting." Gumam Hiro pada dirinya sendiri.

"Itu penting, idiot." Desis Mathilda dingin. "Kamu sampai sejauh ini mengejarku untuk ikut...ikut klub gila itu, biar bisa mewujudkan impianmu, kan? Kamu yang dulu juga bagian dari dirimu...jangan anggap itu kenangan dan membuangnya!"

"Terus kenapa senpai tidak mau ikut!?" teriak Hiro, memejamkan matanya saking kesalnya.

"Kalian mau ikut klub ini untuk mewujudkan impian kalian, beasiswa penuh ke mana saja, kan?" tanya Mathilda, suaranya lebih pelan. "Tidak perlu ada aku, kalian pasti bisa..."

"Tapi Mathilda, kami butuh kamu." Kata Fino tiba-tiba. "Kamu sepertinya sangat jago olahraga..."

"Ya, dia sangat jago." Potong Hiro menghela napas. "Sepak bola, memanah, basket, renang...semuanya dia bisa. Baru Mathilda-senpai orang yang kulihat melompat dari bar gantung ke pohon cedar."

"...Aku nggak bisa..."

Semua melongo kaget begitu mendengar Mathilda terisak.

"Eh...bocah...kau nangis?" gumam Yoshi-senpai gugup seketika.

"Iya, aku tahu...kalian semua pintar, tapi cuma nggak bisa olahraga!" Mathilda mulai nangis bombay. "Aku tahu aku bisa melatih kalian, kalian bakal bisa jadi atlet semua kalau aku yang latih, asal tau aja!"

Tes! Fino ketetesan air mata.

"Nah, terus kenapa nggak bisa?" tanya si kacamata.

"...Aku...Aku ini...bodoh kalau pelajaran..."

"JIAAAHH..." semua langsung melorot ke tanah.

"Heeei! Ini serius!" teriak Mathilda banjir air mata. "Kalau salah satu dari kita nggak sempurna...beasiswanya kan gagal! Mana mungkin aku bisa dapat seratus terus selama satu tahun!?"

"Kenapa tidak?" tanya Yoshi-senpai.

"Karena aku ini Mathilda Aliya!" tegas si pendek itu. "Sebenarnya umurku ini 19 tahun!"

"APAAAA!?"

"Karena pekerjaan orang tua, aku pindah-pindah dari Amerika ke Brazil, ke Indonesia, terus begitu, sampai aku selalu ketinggalan pelajaran!" isak gadis itu marah. "Aku masuk SMA OZ karena sekolah itu nggak pakai tes masuk! Harusnya aku sudah kuliah, tapi karena sistem belajarku berubah-ubah, aku nggak lulus-lulus, dan harus ikut kelas 2! Padahal, jujur saja, aku yakin, kepintaranku hanya setara dengan anak kelas empat SD!"

"Er, itu terlalu berlebihan..." tawa Yoshi-senpai gugup.

"Makanya!" Mathilda menarik napas. "Percuma saja kalian berusaha mengajariku! Kalau kalian mau mengajariku, kalian harus mulai dari pelajaran anak SD!"

"Oke, setuju." Ujar Fino enteng.

"Eh...kau yakin?" Yoshi-senpai bergidik.

"Ya, aku juga akan membantu." Hiro mengangguk.

"Tidak mungkin, tidak mungkin! Kalian tidak akan bisa!" teriak Mathilda pesimis. "Satu-satunya pelajaran yang kukuasai sampai tingkat profesor hanyalah bahasa!"

Fino dan Hiro bertukar pandang. Hm, ini...akan mudah. Kalau dia bisa menguasai bahasa sampai tingkat profesor, pasti sebenarnya Mathilda ini sangat pintar, hanya saja dia ketinggalan pelajaran-pelajaran lainnya. Si pendek itu sudah menjelajahi sepertiga bumi, dan ia pasti belajar bahasa dari kesempatan itu...

Buktinya, ini pertama kalinya dia tinggal di Jepang, tapi Mathilda sudah lancar bicara bahasa Jepang...

"Kalau aku gagal membuatmu mendapat nilai yang sama denganku, Mathilda," Fino membuka mulut, "Aku yang akan membayarkan beasiswamu. Penuh."

Mathilda mendengus. "Fujichika-chan, aku tahu kau itu anak keluarga dokter...dan aku yakin kau mau bilang; aku memang tidak punya uang, tapi aku akan bekerja keras, kalau bisa mengemis untuk membayarimu..."

Fino bergidik. "K-Kau...kok tau!?"

"Aku memang bodoh, tapi aku ini pengamat sejati...golongan darah O sepertimu mudah ditebak! Yang aku heran, kenapa kau jadi karakter utama cerita gila ini?"

"Er, koreksi, karakter utama cerita ini kita berempat." Bisik Hiro.

"Oh, begitu? Eh, itu tidak penting! Aku akan mengambil kuliah jurusan bahasa di Universitas Edinburgh! Dengan dana abadi £236,512 juta!"

Muka Fino kempis, sampai Yoshi-senpai dan Hiro serta merta merasa iba.

"Senpai..." panggil Hiro, menautkan alis. "Kalau itu impianmu, kenapa kamu nggak mau mencoba?"

"Aku..." Mathilda berpaling.

"Sudahlah, percaya saja sama Fino-sama!" cengir Yoshi-senpai berkacak pinggang. "Tes masuk Princeton pun bisa dia kerjakan sambil merem!"

BLETAK

"Jangan berlebihan!" geram Fino, lalu menatap ke atas. "Mathilda...bukan, kalian semua...kalian itu orang asing bagiku. Kita baru bertemu hari ini. Jujur saja, aku masih berpikir, ini ide buruk. Karena...aku belum bisa percaya sama kalian. Dan, itu wajar, karena...toh...kita baru bertemu." Fino mengangkat bahu.

"Hiro jelas-jelas ingin memanfaatkan kesempatan ini, Yoshi-senpai sama saja. Mereka di sini sampai setengah mampus mengejarmu ya untuk beasiswa itu. Padahal, toh, meskipun kita berempat berkumpul, belum tentu kita berhasil."

"Tapi...aku setuju...karena hari ini aku bertemu Mathilda..." gumam Fino nyaris tak terdengar, wajahnya merah padam. Yoshi-senpai mengangkat alis, Hiro melipat tangan. Mathilda berkedip, tidak percaya.

"Yah, kalian juga," Fino tertawa malu pada dua lainnya. "Meski baru bertemu Mathilda sebentar, rasanya hari ini, di kelas...lebih menyenangkan. Lalu, aku ketemu kalian, senpai dan Katsurou-kun, aku pertama kali benar-benar melihat dua orang yang punya passion, sampai rasanya, aku tidak bisa menolak...ah, memalukan...ja-jadi...aku pikir..." si kacamata itu menunduk dan mendorong kacamatanya.

"Tidak ada ruginya mencoba..." dia menghela napas, lalu tertawa kecil dan menengadah menatap Mathilda. "Dan, aku juga ngerti, Mathilda...kamu nggak pede dengan kepintaranmu, kan?"

"Salah!" seru Mathilda cemberut. "Melihat Hiro-kun dan Yoshi-chan—(Yoshi: 'CHAN!?')—tampak terlalu passionate sama impian mereka...aku merasa, kalau aku ikut, aku bakal jadi penyebab kalian gagal dalam mencapai impian kalian...itu kan...ahh, pokoknya, banyanginnya saja bikin aku ketakutan..."

Hiro tersenyum lembut melihat senpainya yang pendek itu masih terus memalingkan muka, bergantung di pohon seperti koala.

"Senpai, kalau kita gagal karena nilai senpai jelek...itu bukan salah senpai," Hiro menelengkan kepala. "Salah kami karena nggak sungguh-sungguh membantu senpai. Membantu senpai juga usaha untuk mencapai impian kami...jadi jangan...jangan khawatir."

"Yoosh!" Yoshi-senpai mengangguk setuju. "Yang akan jadi salahmu itu, kalau kamu gagal menjadikan kami atlet!"

Hening sejenak.

"Alright," Mathilda menghela napas dan melompat turun dengan entengnya dari puncak pohon. Dia berdiri dan tersenyum tenang. "Let's do this."

Fino tersenyum dan menyodorkan tangan. "Tidak ada ampun?"

Mathilda nyengir lebar dan menjabat tangannya.

"TIDAK ADA!"