Gia : Yuhu! Halo minna-san! Ini fic pertama saya!

Yurika : Banyak bacot lu! Cepetan mulai!

Gia : Huuu! OC emosian! Iye, iya gue mulai! Happy reading minna!


"Hei Kise! Kau mau ikut jalan-jalan dengan kami tidak pulang sekolah nanti?" tanya seorang lelaki bernama... Err... Entahlah, aku lupa namanya.

"Maaf, tapi aku ada urusan," kataku dengan wajah pura-pura menyesal. Tentu saja sebenarnya aku tidak ada urusan pulang sekolah ini. Aku terpaksa berbohong.

"Yah... Sayang sekali!" kata anak wanita yang lain. Stop! Aku muak dengan sifat kalian yang sok dekat denganku! Aku tau kalian mendekatiku hanya karena menurut kalian aku ini anak yang pandai dan menyenangkan! Asal kalian tau saja, aku benci dengan sikap kalian yang suka bergosip, memilih-milih teman dan selalu menilai orang dari penampilan luarnya saja!

Aku Alexander Kiseki, punya banyak TEMAN SEKELAS, tapi tidak punya yang namanya SAHABAT. Aku punya satu keinginan, aku ingin punya seorang sahabat yang benar-benar menerimaku apa adanya. Sayangnya sampai sekarang aku belum menemukan orang seperti itu.

"Anak-anak, harap duduk di tempat kalian masing-masing!" perintah Bu Mina saat melihat TEMAN-TEMANku masih berkeliaran di dalam kelas. Mereka semua langsung duduk di tempatnya masing-masing.

"Baiklah, hari ini kita kedatangan teman baru. Silahkan masuk!"

Seorang wanita berjalan memasuki kelas. Rambut pirangnya dikepang dan dia mengenakan kacamata kotak full frame. Penampilannya benar-benar membuatnya terlihat seperti anak yang benar-benar rajin dan serius.

"Silahkan perkenalkan dirimu."

"Um... Na, namaku Li, Linecherus Rikanna... Mo, mohon bantuannya mulai sekarang!" kata anak itu memperkenalkan dirinya dengan malu-malu, atau lebih tepatnya gugup.

"Baiklah, Rikanna, silahkan duduk di sebelah Kise," kata Bu Mina sambil menunjuk bangku di sebelahku.

"Ba, baik! Terima kasih Bu Mina!" katanya terbata-bata sambil berjalan menuju bangkunya.

"Hai, namaku Kise, semoga kita bisa berteman ya," kataku sambil tersenyum.

"A, ah, iya! Mohon bantuannya ya Kise!" jawabnya terbata-bata. Dia benar-benar berbeda... Wajahku langsung memanas. Manis sekali dia... Oh, well, seorang manusia pasti tidak akan lepas dari yang namanya jatuh cinta kan?

Beberapa jam berlalu, oke, aku tidak tau pastinya berapa jam karena aku tidak menghitungnya, yang pasti sekarang sudah istirahat.

"Hei, boleh aku memanggilmu Rika?" tanyaku pada Rikanna.

"E, eh! Tentu, aku biasa dipanggil begitu oleh mamaku."

"Hei, sebelum pindah kesini, kau sekolah dimana?"

"Di, di Jepang."

"Lalu kenapa kau pindah ke Inggris?"

"U, urusan pekerjaan ayah..."

"Oh... Rika, kau mau jadi sahabatku?"

"Sa, sahabat? Kau serius? Dengan orang membosankan seperti aku?" tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Mutiara bening mulai keluar dari kedua matanya.

"He, hei! Kenapa malah nangis?! Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?" tanyaku panik.

"Ti, tidak! Kise tidak salah kok! Aku hanya terharu karena kau mau menjadi sahabatku!"

"Kau benar-benar anak yang menarik Rika," kataku sambil tersenyum lembut padanya.

"E, eh, terima kasih..."

Sejak saat itu, aku dan Rika jadi semakin akrab. Semakin dalam aku mengenalnya, aku jadi semakin menyukainya, ah salah, aku sekarang jadi semakin mencintainya. Dia benar-benar gadis yang menarik.

Sebulan berlalu, sekarang aku sedang duduk di bangkuku. Aku menengok ke sampingku. Aneh, Rika belum datang juga, padahal pelajaran sudah mau dimulai. Biasanya dia selalu datang duluan sebelum aku datang.

Bu Mina datang dan memsuki kelas.

"Oke, anak-anak, silahkan duduk. Ada kabar buruk, teman kita, Rikanna, tidak masuk hari ini. Dia sakit dan dibawa ke rumah sakit," kata Bu Mina dengan wajah agak sedih.

"Psst... Rikanna itu siapa?" tanya anak laki-laki di depanku kepada teman di sebelahnya.

"Entah, aku tidak tau."

Hah! Mereka tidak tau?! Dasar! Mereka benar-benar sama sekali tidak mempedulikan teman sekelas mereka! Keterlaluan sekali!

"Ya sudahlah, abaikan saja. Toh tidak ada hubungannya dengan kita ini."

Tidak ada hubungannya?! Hei! Dia itu teman sekelasmu!

Kelas menjadi ribut selama pelajaran karena membahas tentang siapa Rika. Akhirnya bel istirahat berbunyi juga. Hah, apa yang bisa kulakukan saat istirahat kalau tidak ada Rika? Meladeni teman-temanku? No way! Aku sudah muak mendengarkan mereka bergosip dan membicarakan sesuatu yang tidak penting! Aku bingung, kenapa laki-laki jama sekarang juga suka bergosip sih?

"Hei! Aku ingat! Rikanna itu bukannya anak baru yang culun dan kelihatannya kutu buku itu?" kata seorang anak perempuan. Bagus kalau mereka ingat! Tapi kenapa harus mengatai Rika culun dan kutu buku seperti itu? Oke, penampilan Rika yang rapi memang membuatnya terlihat seperti anak yang rajin, tapi dia tidak CULUN ataupun KUTU BUKU!

"Oh, anak itu! Yah, dia memang kelihatannya sangat rajin."

"Aku sebal, anak itu sudah merebut Kise dari kita! Sejak ada dia, Kise jadi mengurusi dia terus dan jarang bermain bersama kita!"

Apa katamu?! Kau menyalahkan Rika karena aku jarang bermain bersama kalian?! Asal kalian tau saja, dari dulu aku sudah muak dengan sikap kalian tau!

"Kau benar! Harusnya anak itu pergi saja! Dia hanya menambah hawa suram di kelas ini!"

Oke, Kise! Sabar! Tahan emosimu!

"Benar! Dia memang tidak diperlukan di kelas ini!"

Oke, aku benar-benar sudah tidak bisa menahan emosiku!

BRAK!

Aku berdiri sambil menggebrak meja.

"CUKUP! KALIAN BENAR-BENAR KETERLALUAN! KALIAN SANGAT EGOIS! APA PANTAS KALIAN MENGATAI TEMAN SEKELAS KALIAN SEPERTI ITU?! AKU BENAR-BENAR SUDAH MUAK! KALIAN TERUS MEMILIH-MILIH TEMAN DAN MENILAI MEREKA DARI PENAMPILAN LUARNYA SAJA! HARUSNYA KALIAN LEBIH MEMPEDULIKAN TEMAN SEKELAS KALIAN!"

Semua orang yang ada di kelas langsung terdiam menatapku. Aku hanya keluar dari kelas dan berjalan menuju ke ruang guru.

"Bu Mina, maaf mengganggu, apa ibu tau dimana rumah sakit tempat Rika dirawat?" tanyaku pada Bu Mina.

"Tentu saja ibu tau, memangnya kenapa? Kau mau menjenguknya?"

"Ya, aku khawatir dengannya."

"Baiklah, ibu akan catatkan alamat rumah sakitnya," kata Bu Mina sambil mengambil selembar kertas alat tulis lalu mencatatkan alamat rumah sakit tempat Rika dirawat.

Pulang sekolah, aku langsung mempercepat langkahku untuk keluar dari kelas tanpa memperhatikan orang-orang yang menatapku. Sepertinya mereka masih shock karena tadi aku berteriak dan memarahi mereka.

Akhirnya aku sampai di rumah sakit. Aku sekarang berdiri di depan pintu kamar yang diberitahukan suster di resepsionis sebagai kamar Rika, kamar 406. Aku memasuki kamar itu. Terlihat seorang wanita duduk di sebelah kasur tempat Rika berbaring.

"Ah, maaf, apa aku mengganggu?" tanyaku yang membuat wanita itu mengalihkan pandangannya padaku dengan wajah kaget.

"Oh! Sama sekali tidak! Masuk saja! Ngomong-ngomong, siapa kamu?"

"Aku Kise, Alexander Kiseki, sahabat Rika."

"Kise? Ah! Rika sangat sering membicaraknmu! Namaku Gia, Linecherus Regianna, mamanya Rika."

Apa? Mamanya? Kukira kakaknya. Ternyata mamanya muda sekali.

"Ah! Salam kenal Gia-san!"

Kenapa aku memanggilnya dengan suffix san? Tentu saja karena aku tau sebelumnya mereka tinggal di Jepang, jadi kurasa tidak aneh kalau memanggilnya dengan suffix san. Kurasa lebih enak kalau dipanggil begitu dan dia juga rasanya tidak keberatan kan?

"Kise, terima kasih sudah menemani Rika selama sebulan ini. Berkat kau, Rika jadi memiliki semangat hidup. Setidaknya, dia bisa merasakan kebahagiannya sebelum ajalnya tiba."

"Ma, maksud Gia-san apa?"

"Rika sebetulnya menderita penyakit leukimia."

"Leukimia?!"

"Ya, kurasa Rika belum memberitahumu. Ah! Aku harus keluar sebentar! Tolong jaga Rika!"

"Baik."

Gia-san lalu keluar meninggalkan Rika. Aku hanya memandang wajah Rika yang sedang tertidur. Rambutnya yang tergerai dan wajahnya tanpa kacamata membuatnya semakin cantik.

Tiba-tiba dia terbangun dan membuka kedua mata aquamarinenya.

"Ki, Kise?"

"Rika, kenapa kau tidak bilang kalau kau menderita leukimia?" tanyaku dengan wajah agak kecewa.

"A, aku... Aku hanya tidak ingin merepotkanmu..."

"Bodoh! Harusnya kau memberitahuku! Sebagai sahabat, aku hanya ingin membantumu!"

"Maaf... Kise, dokter bilang hidupku tidak lama lagi. Jadi... Terima kasih sudah mau menjadi sahabatku..."

"Ukh! Rika! Harusnya aku yang berterima kasih padamu! Aku mencintaimu!"

Rika terdiam shock melihatku, lalu tersenyum lembut padaku.

"Aku juga mencintaimu... Terima kasih... Kise, sayo... Nara..."

Rika kembali menutup matanya. Bisa saja dia tertidur. Ya, memang dia tertidur, tapi aku yakin, dia tidak akan pernah bangun lagi... Mutiara bening mulai mengalir dari mataku. Aku tidak percaya semua ini! Aku menggoncang-goncang tubuh Rika.

"Rika? Rika?! RIKAAA!"

Ya, Rika meninggal saat itu juga. Aku bersyukur bisa menyatakan perasaanku sebelum dia pergi. 3 hari kemudian, Rika dimakamkan. Semua teman-teman sekelas datang ke pemakaman Rika dan menyesali perbuatan mereka yang tidak mempedulikan Rika selama ini.

"Kise, kami minta maaf karena tidak mempedulikan Rikanna selama ini, juga atas sikap-sikap menyebalkan kami yang lainnya," kata ketua kelas padaku.

"Ya, kumaafkan. Aku yakin Rika juga memaafkan kalian. Dia terlalu baik untuk tidak memaafkan atau membenci orang lain. Yah, kalau Rika memaafkan kalian, berarti aku juga."

"Terima kasih Kise!"

Yah, sayonara Linecherus Rikanna, sahabat terbaikku sekaligus cinta pertamaku... Aku sangat bersyukur kau datang dan mengisi hari-hariku selama sebulan ini. Aku tidak akan pernah melupakanmu, Linecheris Rikanna...


Gia : Well, sepertinya fic pertama yang sangat hancur

Yurika : Dan gue tau lu ngambil nama Rikanna itu dari nama gue kan? Trus kenapa ada lu di atas?!

Gia : Gue gak ada ide nama! Terpaksa pake diri sendiri deh!

Yurika : Dasar si ide ngestuck

Gia : Urusai! Suka-suka gue lah!

Yurika : Dasar!

Gia : Thanks for reading minna-san! Walaupun aku tau fic ini sama sekali tidak menyentuh dan sangat cacat dan...

Yurika : Banyak typo, karean gue tau yang namanya Gia tidak akan pernah lepas dari yang namanya typo

Gia : Gue mau protes sih, tapi memang kata-kata lu bener *mundung*

Gia & Yurika : Thanks for reading!