Kumasukkan buku-buku yang kuperlukan besok ke dalam tas. Sedikit malas, tapi aku bisa tetap memaksakan diri untuk setidaknya membereskan barang-barangku untuk sekolah.

Besok adalah hari pertama masuk SMP.. Aku tidak mengharapkan hari besok datang, tapi apa boleh buat, akan kujalani dengan cara yang sudah kupikirkan baik-baik selama liburan ini.

Namaku Midorikawa Arisu, umur 12 tahun. Tinggi badan 155 cm. Golongan darah AB dengan IQ 172. Aku memiliki rambut berwarna biru gelap yang kupotong pendek, sedikit terlihat seperti laki-laki. Aku juga menggunakan sebuah kacamata berwarna senada dengan rambutku, dengan bingkai berbentuk persegi panjang yang sedikit kebesaran.

Seperti kukatakan tadi, besok aku akan menjadi murid SMP di SMP Vorgest, salah satu sekolah terfavorit diseluruh Jepang. Memang namanya terdengar aneh, Vorgest diambil dari bahasa Jerman Vorgestellt, yang berarti unggulan. Sekolah itu mengambil kurikulum dari Jerman, jadi cukup terkenal dengan kesulitan pelajarannya. Walaupun begitu, aku sama sekali tidak menemukan kesulitan apa pun saat mengambil tes disana. Aku sangat berterima kasih pada Kakek yang telah menanamkan banyak ilmu padaku sejak kecil.

"Akhirnya selesai juga.." Jemari ku menaruh tas di sebelah meja. Lalu kuhempaskan tubuhku di atas kasur empuk yang berada tidak jauh dari meja tersebut. Lalu menatap seragam yang tergantung di lemari. Ya, sebuah seragam laki-laki. Aku kurang suka menggunakan seragam perempuan, roknya terlalu pendek!

Awalnya.. Aku tidak ingin masuk sekolah mana pun, walaupun itu sekolah favorit atau tidak. Kakek bisa mengajari semua hal yang diajarkan sekolah padaku, bahkan lebih mendetail dan lebih berguna. Tapi, Kakek pasti tidak akan bisa selalu bersamaku di sini. Ia pasti sibuk dengan berbagai macam pekerjaan. Dan satu hal lagi.. Aku tidak mengatakan hal seperti 'aku tidak mau sekolah' pada kakek yang telah membiayaiku selama ini.

Kedua orang tua ku sudah lama meninggal. Saat itu terjadi pembunuhan massal, mereka berdua menjadi salah satu korban… Tidak, lebih tepatnya, mereka adalah pahlawan yang telah mengakhiri kejadian tragis itu. Sayangnya pada saat terakhir, mereka tidak dapat menghindar dari jebakan musuh. Sejak saat itu, aku diasuh oleh Kakek, pemilik salah satu perusahaan terbesar di Jepang.

Saat aku SD, lebih tepatnya saat aku kelas 6, aku pernah dikucilkan oleh satu angkatan. Anak laki-laki yang benar-benar membenciku dan anak perempuan yang suka membicarakan hal yang tidak-tidak. Ada beberapa temanku yang baik, sayangnya, mereka juga akan dikucilkan jika berteman denganku (mereka tidak mengatakannya, tapi aku tahu persis..) Apa salahnya aku melaporkan pem-bully-an sekolah? Mereka sendiri telah melanggar aturan sekolah, tapi karena orang tua mereka yang kaya, tidak ada skorsing bahkan setidaknya hukuman untuk mereka. Aku kesal dengan dunia serakah seperti ini, dunia yang dikendalikan dengan uang.

Kulihat jam tangan di lengan kiriku. '21.08..' Sebaiknya aku tidur sekarang.


KRINGG! KRINGG!


Suara alarm di meja berbunyi. Kubuka secara paksa kedua kelopak mataku, lalu bangun dan meregangkan badan. Matahari sama sekali belum menunjukkan dirinya. Tentu saja, karena ini baru jam 05.00. Kebiasaan lama, aku selalu bangun jam segini agar dapat belajar sebentar sebelum sekolah.

Tapi apa yang bisa kupelajari? Baru hari pertama, aku juga tidak tahu apa yang akan dipelajari di sekolah itu. Jadi aku langsung beranjak mandi saja.

Setelah selesai berpakaian, kuambil tas sekolahku dan salah satu novel detektif dari atas rak. Salah satu kebiasaanku lainnya adalah membaca novel sebelum dan saat berangkat sekolah. Tidak ada hal khusus tentang itu, hanya saja, aku lebih bisa menangkap ceritanya saat perjalanan.

"Ayo, Arisu-sama.." Ucap Izawa-san, Ia adalah sekretaris Kakek, tapi dia juga salah satu orang yang telah mengurusku sejak kecil.

"Ya.." Jawabku, kemudian berjalan ke arah mobil yang terparkir di garasi rumahku. Jarak sekolah dengan rumah cukup jauh, jadi agar menghemat waktu, aku akan diantarkan oleh Izawa-san mulai sekarang dan seterusnya.

Novel yang sekarang sedang kubaca adalah novel Sherlock Holmes – The Hound of The Baskerville. Adegan yang sekarang sedang kuikuti adalah saat Sherlock mengejar dan menembakkan 5 peluru ke arah anjing Hound raksasa tersebut. Aku juga sedang berlatih menembak, tapi aku yakin, Sherlock akan menjadi target cita-cita yang sangat sulit untuk dicapai. Tolong jangan berpikir yang tidak-tidak, aku berlatih bukan untuk menjadi penjahat atau semacamnya. Hanya saja, itu salah satu keahlian yang harus dikuasai jika ingin menjadi penerus perusahaan yang penuh dengan bahaya dari orang-orang yang tidak menyukai kita.

"Kita sudah sampai, Arisu-sama.." Ujar Izawa-san, suaranya tetap lembut seperti biasanya. Benar-benar.. Aku selalu lupa sudah berapa lama kami berada di mobil dan tiba-tiba saja.. Sudah sampai sekolah.

"Terima kasih, Izawa-san." Kumasukkan novelku dalam tas dan beranjak dari mobil. Setelah kututup pintu mobil, kendaraan berwarna hitam itu bergerak, meninggalkanku sendiri di depan gerbang sekolah.

Kuperhatikan sekolah itu. Kata-kata yang tepat untuk mendeskripsikan sekolah ini adalah: Besar, luas dan modern. Tapi itu sama sekali tidak membuatku kagum. Aku hanya berharap.. Aku bisa menjauhi semua orang tanpa mereka sadari dan tidak membuat masalah dengan siapa pun, agar kejadian SDku tidak terulang lagi.

Kulangkahkan saja kakiku memasuki daerah sekolah, mengarahkan diri menuju kelas yang akan kugunakan sebagai tempatku belajar.


Skip Ceremonial and School Time


"Nee~ Mau ikut jalan? Semakin banyak semakin menarik," Ucap seorang laki-laki yang menghampiri mejaku. Perawakannya agak acak-acakan, 'Apa semua anak laki-laki seperti ini?'

"Ma-" Anak itu memotong kata-kataku, "kalau bisa, bisakah kamu mengajak gadis yang duduk di depan itu?" Ia menunjuk seorang gadis berambut cokelat kemerahan sepundak, tapi hanya diikat satu ke samping kanan. Sepertinya anak ini berpikir kalau aku adalah anak laki-laki.

"Tolong ya!" Lalu Ia berlalu dengan cepat keluar kelas. Aku tidak ingin ikut, aku akan segera pulang dan belajar. Tapi setidaknya… Aku akan mengajak gadis itu untuk ikut mereka.

Kudekati mejanya, tapi tidak langsung menyapanya, aku berhenti sejenak beberapa langkah untuk melihat apa yang sedang dilakukannya. Kulihat dia sedang mencoret-coret kertas dengan pensil, menggambar sebuah pemandangan. 'Bagus..'

"Permisi.." Aku akhirnya menyapanya. Kepalanya berputar ke arahku, menunjukkan wajahnya yang cantik, mata berwarna coklat gelap dan kulit putih bersih.

"Ya?" Tanya nya. Aku terdiam sejenak, sudah lama setelah terakhir kalinya aku memulai percakapan, jadi aku masih memikirkan kata-kata yang tepat.

Digerakkan tangannya di depan wajahku, memecah lamunanku. "Ah! Maaf.. Namaku Midorikawa Arisu.." 'Kenapa aku malah memperkenalkan diri?!'

"Aku Cellesta Haruna," senyum merekah di bibirnya, "panggil saja Haru!"

Aku menunjuk anak laki-laki yang barusan menyuruhku, "dia mengajakmu untuk berjalan-jalan bersamanya, sepertinya teman-temannya yang lain juga ikut," ucapku datar.

"Ngg?" Haru melihat anak itu, tapi anak itu malah bersembunyi di balik pintu sambil memperhatikan keadaan kami, "Midorikawa-san juga ikut?"

"Tidak, jadwalku padat hari ini, jadi tidak bisa ikut," jawabku, sedikit melunakkan nada bicara saat menyadari bahwa aku berbicara seperti orang yang sedang menahan amarah, dengan nada datarku.

"Kalau begitu… Aku juga tidak ikut deh!" Gadis di hadapanku menjawab santai atas permintaanku barusan, lalu melanjutkan menggores gambar dihadapannya dengan pensil gambar.

"Baiklah," aku berjalan kembali ke tempat dudukku, tapi ada sesuatu yang menahan tanganku. Kutatap tangan Haru yang menahanku, "ada apa lagi, Haru-san?"

"Tidak ada…" Dia melepaskan pegangannya, "aku hanya ingin tahu pendapatmu tentang gambarku ini.." Jari telunjuknya menunjuk gambar yang sedari tadi terletak di situ.

"Bagus," jawabku datar 'kembali'. Aku tidak punya waktu untuk basa-basi. "Hanya itu, Haru-san?"

"Y- Ya…" Jawabnya sedikit gemetaran, mungkin dia baru menyadari bahwa tingkah lakunya menggangguku. "Oh ya, maukah kamu kalau kita pulang bersama?"

"Ya," ucapku setelah berpikir sejenak, setelah itu mengeluarkan handphone dari saku celanaku, "aku akan memberi kakekku agar tidak usah menjemputku hari ini."

"Terima kasih…" Haru tersenyum penuh kelegaan. Aku memperlihatkan wajah bingung, apa sebab dari kelegaannya itu?

Aku langsung kembali ke bangku ku, lalu memasukkan barang-barangku ke dalam tas selempang berwarna biru muda. Saat aku kembali ke meja Haru, dia juga sudah siap dengan tasnya.

Kami berjalan menuju arah rumah kami (untunglah rumah kami ternyata tidak terlalu jauh). Angin sore yang hangat membelai hangat tubuhku. Langit berwarna oranye menyambut kami yang sedang berjalan perlahan.

"Nee~, Midorikawa-san," Haru akhirnya memecah keheningan di antara kami.

"Ya?"

"Menurutmu… Apa arti dari hidup kita selama ini?"