Makhluk Buas 3 - Makhluk Buas

Tempat bimbingan belajarku ada tepat di belakang sekolahku. Aku ikut jam terakhir di bimbingan belajar agar tidak bertabrakan dengan jadwal di sekolah. Walaupun aku nggak ikut eskul apapun.

Sialnya, hari ini hujan gerimis, aku nggak bawa payung. Ah peduli amat, toh jarak rumah ke tempat bimbel dan sekolah tidak jauh.

Aku sampai di depan gerbang sekolah dimana aku kemarin melihat kuda putih yang juga dilihat oleh Ikhsan.

Tidak ada apa-apa disini. Aku menghela nafas lega.

Mungkin sebaiknya aku tidak pernah punya kemampuan seperti itu.

Jalan raya tidak begitu ramai malam ini. Jalan aspal memantulkan cahaya lampu jalan yang redup. Beberapa mobil melintas sebelum aku akhirnya menyeberang jalan itu. Di seberang jalan tepat di depan sekolah, ada sebuah taman kota, disini biasanya saat jam pelajaran olah raga, kami melakukan pemanasan atau bermain sepak bola bagi para cowok.

Di taman, tidak ada orang, biasanya sih ada muda-mudi, mahasiswa yang sedang menjalin kasih di bangku taman. Gerimis membuat orang-orang yang pacaran memilih tetap berada di dalam rumah atau pergi ke kafe, mall, dan sebagainya.

Di ujung taman, ada lampu taman yang pelindungnya pecah, mungkin karena perubahan suhu. Di belakangnya ada sosok besar bewarna hitam dengan wajah ditutupi kain putih sebesar serbet.

Tunggu dulu…

Sosok besar…

Saat itu jantungku berdegup kencang lagi. Perasaan yang sama seperti saat aku melihat Kuda Putih.

Apa sosok besar itu, seharusnya tidak tampak.

Aku jatuh terjerembab, rupanya aku menabrak seseorang, dia nampak marah.

"Hey mbak! Lihat-lihat kalo jalan!"

"Sori, mas, sori" aku menunduk minta maaf, dan bergegas pergi.

Saat aku menoleh ke belakang, oh demi Tuhan, aku nyaris pingsan, sosok itu berdiri tepat di depan pria yang kutabrak tadi.

Dan seperti yang kuduga, pria itu tidak dapat melihatnya.

"Roooooooooooooooooooooongggg gggggggg!"

Makhluk itu meraung. Telingaku berdenging saat mendengarnya.

Makhluk itu bertaring, bermata layaknya hewan buas, berdiri tegak layaknya manusia, tangannya…lengannya sangat panjang, bahkan telapak tangannya menyentuh tanah, kakinya pendek, dengan jari-jari yang seperti jari kaki monyet, kecuali kuku-kukunya yang tajam. Baunya sangat tidak enak, seperti bangkai hewan yang membusuk.

Matanya menatapku. Aku cuma bisa diam di atas trotoar, kakiku gemetaran.

"kling"

Suara lonceng. Darimana?

Makhluk itu tampaknya marah mendengarnya, ia mendekatiku, seiring dengan itu, dia tampak lenyap…

Oh tidak…

Aku kehilangan kemampuan melihat ini lagi.

Sosok makhluk itu terlihat kabur, seperti asap. Tapi aku tahu, tangannya bergerak cepat ke arah tubuhku.

Aku langsung menangkisnya dengan tasku, yang langsung robek terkena kukunya. Sementara tubuhku seolah baru saja ditabrak sesuatu yang kuat, terlempar ke belakang dan menabrak seseorang.

Saat itu aku tidak ingat apapun lagi, kecuali suara Ikhsan.

"Yan, Yan!" serunya.

Aku membuka mata, langit gelap dan gerimis masih turun membasahi mukaku.

"Kamu nggak apa-apa?" tanyanya.

Aku sadar, aku sedang terbaring di atas bangku taman. Ikhsan berlutut disampingku.

"Ikhsan!" aku mencoba bangkit, "A-ada apa? Apa yang terjadi?"

Ia nampak lega. Berdiri dan menyerahkan tasku yang robek. "Beruntung banget kamu."

Aku teringat sosok makhluk itu. Aku langsung mengamati sekelilingku. Makhluk itu sudah lenyap.

"Kamu baru saja menantang semacam makhluk buas." lanjutnya, "Mereka ada dimana-mana, mereka termasuk jin, tapi mereka juga seperti hewan."

Ikhsan mengambil sebuah buku dari dalam tasku. Sebuah Al Quran.

"Rupanya kamu tidak mengganti isi tasmu sebelum berangkat les. Al Quran yang kamu bawa buat pelajaran agama tadi pagi yang melindungi kamu dari cakarnya."

"Makhluk buas? Apa maksudmu aku menantangnya?"

"Mereka tidak suka kamu melihat mata mereka, itu sama dengan kamu menantang mereka bertarung." Ikhsan menghela nafas. "Quran ini cuma sebuah buku, tapi amalan yang kamu baca dari dalamnya itu yang melindungi kamu dari mereka."

Aku semakin bingung.

"Sebaiknya kamu cepat pulang, bilang saja pada orang tuamu tas kamu sobek saat terjerat besi pagar atau apa."

Aku cuma bisa diam. Menatap tas yang robek dan Quran mini diatasnya.

"Sebaiknya kamu melupakan tentang orang-orang istimewa. Tidak ada gunanya kamu memiliki kemampuan ini." tambah Ikhsan.

"Kemampuan ini hanya menambah masalah bagimu." Ikhsan duduk disampingku. "Kedua orang tuaku tewas karena kemampuanku ini."

"Jadi kupikir cukup aku saja yang menanggung beban ini dan membiarkan kain putih itu menutup matamu."

Kain putih yang menutupi mataku?

Aku melihat sosok yang ada di dalam mimpiku, tangannya yang besar menyerangku.

Tidak. Dia tidak menyerangku.

Dia memberikan selembar kain putih untuk menutupi wajahku.

Saat itu tiba-tiba kepalaku rasanya seperti berputar, badanku lemas, dan aku jatuh pingsan sambil mendengar sayup-sayup suara Ikhsan memanggil namaku.

Saat aku terbangun, aku dengar suara rintik hujan di genting, aku berada di kamarku. Jam di kamar menunjukkan pukul 11.23.

Pintu kamar terbuka, ibuku masuk ke dalam dan tampak gembira melihatku sadar.

"Yani, Yani"

Ibuku memelukku.

"Aku… kok bisa ada di rumah?"

Ibuku mencoba menenangkan diri, ia benar-benar tampak shock.

"Tadi ada seseorang datang membawamu dalam keadaan pingsan. Katanya kamu jatuh pingsan dalam perjalanan pulang."

Ikhsan, pasti dia yang mengantarku pulang.

"A-aku… mungkin karena hujan, aku lupa nggak bawa payung, jadi agak pusing."

Ibuku diam sambil menatapku. "Masih pusing? Kamu sudah makan belum?"

Aku menggelengkan kepala. Ibuku langsung pergi ke dapur membuatkan mi instan dan air hangat.

Di kamar, aku berganti baju. Aku lihat lampu hias di handphoneku berkedip. Biasanya ada SMS masuk yang belum kubaca.

Ada 3 SMS baru, ketiga-tiganya dari nomor yang tidak kukenal sebelumnya.

Sorry,waktukamupingsanakucopynomorhapemu.Kalau-kalauadaapa-apa.-i

SMS kedua:

Kalaukamumelihatlagi,janganlihatmatanya.

Dan SMS yang terakhir:

Katakanpadakujikaadasesuatuyangmengganggumu

Aku menduga pengirimnya adalah Ikhsan. Tapi ibuku sepertinya tidak tahu bahwa dia adalah teman sekelasku. Mungkin sebaiknya tetap begini untuk sementara….

Tunggu dulu.. Kalau dia yang mengantarkanku pulang…

Kok dia bisa tahu tempat tinggalku?

Dari kartu anggota bimbingan belajarmu. Kalau rumahmu terlalu jauh, mungkin aku panggil ambulan.

Jawabnya setelah aku menanyakan lewat SMS.

"SMS siapa?" tanya ibuku sambil membawa mie instan seduh dan segelas teh hangat.

"Temanku, cuma tanya kabarku aja" aku berbohong.

"Punya teman itu bagus, tapi ingat Yan, kamu harus pilih-pilih teman. Pilih teman yang rajin belajar, supaya nanti kamu bisa ketularan rajin." kata ibuku. Ia terlihat sedikit khawatir, "Mungkin sebaiknya kamu berhenti ikut bimbingan belajar."

Mendengar itu aku sedikit gembira, artinya beban belajar ini akan segera…

"Tadi ibu dan ayah sudah bicara, mungkin kami akan menyewa tutor privat buat mengajar kamu." Ibuku tersenyum, "Pokoknya kamu harus masuk universitas terbaik. Belajar yang rajin."

Setelah makan, ibuku menyuruhku tidur dan mematikan lampu kamarku.

Sementara itu di atas ranjang, aku sedih. Orang tuaku benar-benar menginginkan aku menjadi orang sukses seperti kemauan mereka. Lantas bagaimana dengan impianku sendiri.

Impianku sendiri…

Oh ya… aku tidak punya impian.

Benar-benar menyedihkan…


"Kling"

Bunyi lonceng lagi?

Hujan masih turun di luar. Aku melihat ke beranda kamar, asal suara lonceng. Aku melihat siluet bayangan di jendela.

"Kling"

Lonceng terdengar lagi, aku bangkit dari tempat tidur, berjalan mendekati jendela.

"Jangan lihat matanya"

Kata-kata itu terus terdengar di kepalaku. Aku mencoba melihat ke lantai, kalaupun aku melihat mereka, kuharap aku tidak menantang mereka atau apapun itu yang membuat mereka menyerangku.

"Meong"

Seekor kucing, dengan lonceng kecil di lehernya. Aku menghela nafas lega. Kucing itu bertubuh kecil, bulunya basah karena hujan, keempat kakinya juga kotor.

Saat itu jam menunjukkan pukul 2 dini hari. Aku mengendap-endap ke belakang, mengambil handuk yang tidak dipakai dan segera kembali ke kamar.

Kucing kecil itu kelihatannya kedinginan, aku mengeringkan bulu-bulunya dengan handuk dan mengusap-usapnya.

Sudah lama aku ingin punya hewan peliharaan. Tapi orang tuaku tidak mengizinkannya.

Aku duduk terpaku disamping ranjang berpikir macam-macam, beberapa kejadian belakangan ini.

Aku heran pada diriku sendiri, bagaimana aku tidak takut terhadap makhluk-makhluk itu.

Sepertinya, aku sudah terbiasa melihat mereka.

5