Pertama ada cahaya yang begitu terang, lalu kegelapan tiada tara.

.

Aku terbangun hanya untuk mendapati seorang pria duduk di sampingku, membelai halus pipiku dengan kulitnya yang kasar. Ia menanyakan keadaanku dan aku menjawab baik-baik saja meski merasakan cairan kental mengalir turun dari pelipis.

Aku melihat ke arah sekelilingku. Hampanya aspal memenuhi pandanganku sebelum diterangi oleh cahaya blitz dari kamera ponsel. Aku mengarahkan pandanganku sesuai arah kamera memotret objek, melihat mayat bersimbah darah di tengah cahaya. Di tengah-tengah cahaya yang terang benderang, aku melihat gelang-gelang besar di pergelangan tangannya, tidak berhasil menyembunyikan bekas goresan silet. Seketika itu juga aku tahu bahwa mayat itu adalah diriku. Aku sudah menjadi yang kuinginkan – tapi tetap mirip dengan keadaan dahulu: arwah di tengah keriuhan manusia.

Aku ingin menyembunyikan seluruh bekas itu dan menaruh diriku di bawah ombak sebelum tanganku digenggam oleh lelaki misterius. Kulit kasarnya meraba seluruh goresan itu begitu pelan. Terlalu halus untuk tubuhku yang terlalu sering dipukul secara fisik dan mental. Air mata yang berada di pelupuk mataku terlalu panas, bersiap menghangatkan tubuhku yang dingin.

Kemudian ia mencium pipiku, berbisik bahwa segalanya baik-baik saja – bahwa aku takkan dipukul lagi oleh ayah atau dibentak oleh teman kelas atau menggores diriku lagi. Kemudian dengan nada antusias ia mengatakan halo padaku, sambil melanjutkan dengan kata-kata: akhirnya kau mendengarku, akhirnya kau melihatku.


ok this is absurd idk what i wrote fuck