[stop the party]


aku tahu beberapa minggu belakangan ini diriku sendiri sering membunuh dan terbunuh oleh tanganku sendiri, tapi pada akhirnya, aku bermimpi tentang orang lain yang terlalu putus asa, bahkan putus asa lebih dariku, terkapar di tengah pesta - semua yang berpesta dengan senyum emas di wajah mereka tak memancarkan lagi kilau kehidupan, menggelepar bagai bangkai ikan di tepi pantai.

Aaku berdiri di tengah keriuhan sirine polisi serta sahutan-sahutan para forensik untuk mengambil ini-itu dan detektif jongkok di samping tubuh-tubuh tanpa jiwa, memicingkan mata seraya mempertajam pikiran. tampaknya sang detektif stres dengan banyaknya jumlah korban sementara ambulans cuma ada satu, sehingga ia terpaksa bermalam dengan mayat-mayat itu.

seseorang dengan jas lab datang menepuk bahu sang detektif. Ssayup-sayup terdengar fakta bahwa kalium sianida ditemukan di punch yang disediakan pemilik rumah. sang detektif hanya menggaruk dagu, tidak tahu bagaimana caranya mengetahui mayat siapa yang menjadi tersangka. mereka semua mayat, demi tuhan, kata sang detektif.

jika saja aku bisa melihat seluruh peristiwa ini, aku akan mencegahnya, komplain sang detektif.

aku, sebagai pemimpi, sekarang berprofesi sebagai penjelajah waktu. aku mengatur waktu di jam tanganku ke jam dua pagi dan melihat kegilaan dalam diri remaja yang terkekang oleh aturan orang tua. orang-orang melompat ke kolam renang. ada yang bermain tujuh menit di surga. ada juga yang sibuk bercumbu di pepohonan dekat mansion besar itu.

lalu ada yang terduduk sendirian di balkon lantai tiga. sweternya besar. rambutnya kusut dan kusam. ia bahkan tak terlihat seperti penyuka alkohol atau pendamba cinta-berlebihan seperti remaja kebanyakan di pesta itu.

di tangan kanannya ada gelas berisi punch beracun. tangan kirinya sama sekali tak terlihat.

aku beranjak naik ke lantai tiga. semua orang secara perlahan mengabaikanku, yang hidup di tengah orang-orang sekarat. sepertinya jiwa-jiwa mereka mulai meninggalkan tubuhnya. aku melihat ke luar jendela untuk memastikan: semuanya mati.

aku pergi ke balkon, melihat gadis itu sudah mati. aku melihat tangan kirinya terkepal. ujung kertas menyempil keluar dari celah tangannya. aku membuka tangannya yang lemas, membiarkan segulung kertas jatuh berguling sebentar sebelum berhenti di ujung kakiku. kemudian aku membukanya.

aku mati bersama orang-orang populer yang akan menjadi sahabatku, katanya.

aku mengantongi kertas itu, berpikir bahwa sang detektif tak perlu mengetahui siapa tersangkanya. gadis itu sudah kesepian dan mati. tak usah memberi gelar tersangka pada orang mati. dosanya bakal lebih berat.

kemudian jamku berbunyi. minggu pagi sudah datang di seberang sana. aku membuka mata dan mendengar suara pembawa berita di tv memberitakan soal seorang gadis bunuh diri sendirian dengan cara minum kalium sianida ia curi dari lab ayahnya. surat wasiatnya berisi keinginan untuk mempunyai sahabat dan ayah yang tak sibuk bekerja.

aku keluar dari kamar hanya untuk meminta ibuku mengganti saluran tv, lalu kembali tidur dengan tubuh menggigil.