Tatapan itu menghujamku terus menerus, seakan-akan menungguku melakukan sebuah kesalahan. Sekecil apapun itu. Peluh membajiri tubuhku tanpa ampun. Sayatan-sayatan di pipiku semakin perih dan mengeluarkan darah yang mulai bercampur dengan air mata. Ingin rasanya aku berteriak sekeras-kerasnya, tapi itu tidak mungkin terjadi. Mulutku tertutup rapat, rasanya seperti menempel erat dan tak mau lepas lagi.

Aku tersentak dan nyaris menjerit. Tentu saja hanya gumaman yang terdengar karena lakban yang merekat di mulutku. Tubuhku bergetar makin hebat. Tangan kurus itu membelai wajahku. Kuku-kukunya yang tajam menancap di pipiku, mencakarku sampai wajahku nyaris tidak berbentuk lagi.

Ia tersenyum sinis, mematahkan semua semangat yang ada padaku sebelumnya. Sebelum ia menyiksaku. Wajah manis yang tadinya membuatku terpesona, kini memberiku tatapan penuh cinta yang bagiku malah terlihat menyeramkan.

"Honey, sepertinya kau kedinginan. Bagaimana jika aku mengambilkanmu air hangat. Mungkin kau mau teh atau kopi?" tawarnya dengan ramah. Keramahan palsu yang jelas takkan kupercaya lagi.

Aku tidak bergerak sesenti pun. Tidak menggeleng, tidak juga mengangguk. Terlalu takut tepatnya karena semua keputusan yang akan kuambil salah baginya. Lelaki itu berhenti tersenyum lalu menatapku jijik. Firasat buruk.

"TIdak apa-apa kau tidak menjawab, honey. Aku akan tetap menghangatkanmu," ujarnya sambil berjalan menjauh, keluar ruangan yang pengap, tempat aku disandera dan disiksanya. Mungkin firasatku salah. Untuk sementara, aku merasa lega. Aku sangat amat berharap dia tidak akan kembali lagi. Paling tidak sampai hari ini berakhir.

Tapi seperti biasa, harapanku pupus sebelum sempat aku mengungkapkannya semua. Dia kembali dan kali ini membawa serta sepanci air. Dengan mata terbelalak, aku mencoba lepas dari tali yang mengikatku dengan keras. Aku harus bisa lari dari sini! Sekarang juga!

"Ku bawakan air hangat ini untukmu, my Lady." Wajahnya kembali berseri-seri. Sementara aku, masih mencoba kabur dan mengubah takdirku.

"Ini. Hangat 'kan?" ujarnya sambil tertawa lebar. Ia menuangkan air panas itu ke seluruh tubuhku. Air mendidih itu langsung meresap ke pori-pori kulitku dan memenuhinya dengan luka bakar menyakitkan. Gumaman ketakutanku berubah menjadi teriakan yang nyaring dan memekakkan telinga. Rasa sakit karena kulit yang melepuh itu mampu merobek lakban yang menutup mulutku.

"Hei, bisakah kau hanya cukup mengungkapkan kata terima kasih tanpa harus berteriak? Aku sudah lelah mengganti perekat mulut itu untukmu," desisnya kesal dengan wajah memelas. Sejenak kemudian, dia menjetikkan jarinya. "Ah, iya! Pantas saja kau menjerit seperti itu! Airnya terlalu panas ya? Maafkan aku, akan kuambilkan air dingin." Untuk sekali lagi, ia berbalik dan pergi.

Ruangan menyesakkan itu sekarang hanya dipenuhi erangan kesakitan dan juga air mata. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Lemas rasanya tubuhku setelah menerima segala penyiksaan ini. Keputusasaan telah menarikku jauh lebih dalam ke dasar kolam kekelaman. Tidak ada kesempatan lagi bagiku untuk selamat dari tarikan psikologis yang menakutkan itu.

Jadilah, aku hanya tergeletak lemah tanpa adanya keinginan untuk lari sekali lagi. Tidak sampai lima menit, ia kembali lagi. Orang itu mengacungkan botol berisi cairan bening ke hadapanku dan menempelkan botolnya ke kulitku. "Dingin 'kan?" Dengan cepat, ia membuka tutup botol kaca itu dan siap menuangkannya di tubuhku. Kuharap itu benar-benar air dingin.

Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, keberuntungan memang tidak akan memihakku. Di saat-saat terakhir, ketika ia akan menuangkan cairan itu, aku baru tersadar akan bau yang tak asing lagi bagi seorang perawat sepertiku.

.

.

Kali ini, sepertinya ia akan benar-benar membunuhku.

.

.

Secara tiba-tiba, ia menghentikan gerakan tangannya dan mencabut keinginannya untuk menyiramku dengan sebotol penuh alkohol. Tapi, pertanyaanku adalah… Kenapa? Ia terkikik melihatku yang hanya terdiam dan melongo menatapnya.

"Aku sudah bilang, 'kan my little honey, aku tidak akan langsung membunuhmu begitu saja… aku akan bermain-main denganmu terlebih dahulu," wajah yang seperti mimpi buruk bagiku itu menyeringai menyeramkan.

.

.

.

Ya, tak ada jalan bagiku untuk keluar dari kesengsaraan ini. Aku hanya bisa bilang selamat tinggal pada dunia…

.

.

.

.


Kurang sadis sepertinya ya? Gomen ne... lagi ga ada ide ^^;