Halo, ibu

Bagaimana kabarmu?

.

.

.

.

.

TERDENGARKAH?

K+

Family-Hurt/Comfort

.

.

.

.

.

Ibu,

Apa kau dengar?

Apa kau dengar suara dari hati kecilku?

Apa kau dengar rintihanku?

Apa kau dengar pintaku?

(mengapa engkau tak pernah ada disisiku ketika aku kesulitan?)

.

Ibu,

Sudah belasan tahun kita lewati bersama

Namun tak pernah engkau pahami diriku

Makin dewasa makin tak pernah engkau puji diriku

Makin tak pernah pula engkau peluk diriku

Makin jarang kuterima kecupanmu, belaianmu, curahan kasihmu

Makin banyak pula rasa sakitku, rasa marahku, rasa iriku

(aku haus kasih sayangmu, aku haus perhatianmu)

.

Perhatianmu bukan lagi milikku, bu

Engkau jauh lebih peduli dengan keponakanku

Engkau juga makin jarang bertegur sapa dengan kakakku

Anakmu, buah hatimu

Bukan cucumu yang sesungguhnya anak dari keponakanmu yang pembangkang itu

(bocah itu menyebalkan, bu...)

.

Mengapa?

Mengapa, bu?

Apa prestasiku tak pernah engkau lihat?

Apa kerja kerasku tak pernah engkau hargai?

Apa teriakanku tak pernah engkau dengar?

(sejak awal aku membohongi diri sendiri, aku tahu kau tak pernah menganggap serius semua perkataanku)

.

Ibu, apa engkau tahu?

Kakak membenciku, bu

Kakak membenciku yang dulu mendapat perhatian lebih darimu dan ayah

Kakak membenci kondisinya yang gegar otak

Kakak membenciku yang jauh lebih pintar darinya

Dan kini, kakak membenci keponakanku yang makin mendapat perhatianmu

(Aku tak mengerti bu, mengapa engkau mengatakan bahwa kakak menyayangiku)

.

Ibu,

Apa ibu tahu?

Ketika aku mendengar adanya keretakan dalam keluarga kita,

Aku hanya bisa menangis dan menangis

Ketika aku melihatmu meneteskan air mata,

Aku hanya tertawa puas dari dalam hatiku, menertawakan nasibmu yang makin tidak dipercaya lagi oleh ayah

Bukan, bukan berarti aku anak durhaka

Hanya saja aku senang melihatmu merasakan penderitaan yang sama denganku

(sekarang engkau paham rasa sakitku?)

.

Ibu,

Makin sering kulihat pertengkaranmu dengan ayah,

Makin pasrah pula diriku

Kakak makin jarang pulang, bu

Mengapa kau tidak peduli padanya?

(kakak marah lagi, kakak lebih sering mengurung diri)

.

Ibu,

Semakin lama aku semakin muak

Aku muak melihat pertengkaranmu dengan ayah, bu

Makin lama aku lebih memilih kalian berpisah daripada terus bertengkar

Tidak, aku memang tidak mengharapkan hal itu terjadi

Setidaknya, aku akan bersedia bila aku bisa berhenti melihat air mata dan mendengar teriakanmu

(bukankah yang paling penting bagi seorang anak adalah kasih sayang?)

.

Ibu,

Apa lukamu sakit?

Hari ini ayah melemparimu dengan apa, bu?

Aku tahu, engkau ingin mendapat perhatian ayah

Tapi bukan dengan cara ini, bu

Bukan dengan cara terus memintanya

Ayah lelah, bu

Ayah lelah setiap pulang dari kantor

Ayah mau pensiun, bu

Jadi wajarkanlah kalau ayah pulang malam

(karena aku tahu, ayah adalah pria tersetia yang pernah aku temui. Ayah mencintai kita semua)

.

Bu, aku sudah bukan anak kecil

Aku mampu menelaah situasi, aku sudah bukan anak kecil

Aku sudah tidak perlu engkau kekang, cukup kau awasi

Apa kau tak sadar, semua luka tubuhku ini ulahku sendiri?

Luka di tubuhku ini hanya untuk membuktikan bahwa aku masih hidup

Bahwa aku bukan boneka manis yang dulu dimanja lalu dibuang

(aku tak perlu engkau bentak lagi, aku sudah mengerti)

.

Bu,

Aku sudah tak tahan lagi

Mana belaianmu ketika aku sakit?

Kini penyakitku kambuh, bu

Mengapa engkau tidak segera merawatku?

Ibu, rasanya tubuh ini panas

Rasanya kepala ini ingin pecah

Rasanya aku ingin selalu memuntahkan makanan

Bu, mana curahan kasihmu?

(apa terdengar, teriakanku?)

END