Title: Suddenly

Rating: T

Warning: Yaoi alias MxM alias Boys Love, kalo ga suka jangan cape-capein buat baca yaa :D

A/N: Ketemu lagi sama saya! tolong jangan dibabuk ya...saya lagi ga ada ide buat nerusin cerita yang laen XD sebenernya ini cerita lama, tapi di edit lagi karena tiba-tiba pengen bikin cerita yaoi*dihajar massa*. Karakter tetep bernama Jepang dan berlatar di Jepang, tapi saya post di humor karena...page 1 manga edisi bahasa Indonesia...dipenuhin cerita saya *plak!*. oh, dan biarpun di post di humor, saya ga terlalu yakin kalau ini lucu...maapkan saya m(_ _)m

Tambahan:

kata yang di italic berarti: 1. bahasa asing dan 2. ucapan di dalam hati


Chapter 1:

"This is prefect" Ruu tersenyum lebar saat melihat taman yang dipenuhi guguran bunga sakura. Anak laki-laki bertubuh tinggi itu langsung mengangkat kameranya dan mulai memotret apapun yang tertangkap lensa kameranya.

Anak perempuan di sebelahnya terkekeh mendengar kalimat Ruu, "Prefect? Maksudmu perfect?" Reina mengoreksi kalimat Ruu walaupun orangnya sendiri tidak mendengarkan dan malah jalan ke depan.

"Sudahlah Reina, kamu tahu dia jadi tuli kalau sudah mengangkat kameranya" seorang anak laki-laki berwajah cute menepuk pundak Reina sambil geleng-geleng kepala.

Reina melihat punggung Ruu sebentar lalu mengangguk setuju, "Hmm, dia selalu seperti itu," dia melihat sekeliling lalu pandangannya tertuju pada sebuah jembatan yang sebenarnya cukup jauh dari tempat mereka berdiri "perfect." ucapnya tanpa sadar.

"Hm? Apa yang perfect?" Miya melihat Reina dengan heran.

Miya mengikuti arah pandang Reina dan melihat sebuah jembatan di atas kolam ikan yang bentuknya menyerupai aliran sungai. Kolam itu memang sedikit tidak biasa, kolamnya berbentuk lingkaran seperti kolam kebanyakan hanya saja di tengahnya ada sebuah dataran jadi kolam itu hanya seperti garis luar dataran itu. Dataran itu cukup luas, sepertinya diameternya sekitar 4 meter dan di atas dataran itu tumbuh pohon sakura. Jembatan kayu itu menghubungkan dataran di luar dan di dalam kolam ikan itu.

Hmm? Aku seumur hidup tinggal di kota ini tapi aku tidak tahu ada yang seperti itu di sini

Miya melihat sekeliling untuk mencari apa ada hal lain yang tidak dikenalinya di tempat itu, tapi yang dia lihat pertama kali adalah Ruu yang sedang menurunkan kameranya, "Sepertinya Ruu sudah kembali pada pendengarannya, ayo" Miya menarik tangan Reina tapi Reina tidak bergerak selangkah pun. Matanya terpaku pada pemandangan itu.

"Rei...na?" Miya melihat wajah Reina, tapi tiba-tiba Ruu mendekat dan menahannya.

"Sudahlah Miya, kamu tahu dia berubah jadi patung kalau sudah menemukan sesuatu untuk dilukisnya" Ruu menepuk pundak Miya pelan.

Miya memutar bola matanya, "Hah, kalian berdua sama saja"

Ruu sedikit bingung dengan maksud kata-kata Miya tapi dia memilih untuk tidak ambil pusing dan kembali ke tujuannya semula, "Aku menemukan spot bagus di sana, aku segera kembali" dan tanpa menunggu apapun lagi Ruu langsung meluncur ke tempat yang diinginkannya.

Miya menghela napas karena tahu 'segera' itu tidak akan datang sesegera yang dia inginkan.

"Aku menemukan tempat yang bagus, aku akan segera kembali" tanpa disadari Miya, Reina sudah pulih dari kegiatan mematungnya, tapi dia langsung meninggalkan Miya dan melesat ke arah jembatan itu tanpa memberi Miya kesempatan untuk bicara.

Apa ini? Kalian memaksaku datang bersama kalian ke sini untuk melihat bunga sakura tapi kalian malah sibuk sendiri dan meninggalkan aku di sini? Hah, good job...

Miya melihat sekeliling lagi dan memutuskan untuk duduk di bangku yang paling dekat dengannya.

Yah, tapi aku sangat suka bunga sakura...kurasa duduk di sini dan menunggu mereka bukan sesuatu yang buruk juga

Miya duduk dan melihat ke depan, barisan pohon sakura di depannya tertiup angin dan guguran bunga berwarna pink itu mengenai wajahnya. Miya tertawa sendiri.

Saat dihadapkan pada sesuatu yang mereka sukai, orang-orang kadang melupakan apa yang ada di sekeliling mereka, bahkan kehilangan indra pendengaran adalah sesuatu yang paling sering terjadi pada Ruu dan Reina...bahkan aku sendiri juga kadang-kadang begitu...

"Tahun ini pun bunganya indah, iya 'kan?"

Saat aku bilang kadang-kadang artinya ya...kadang-kadang

Miya melirik ke samping, ke arah pasangan yang duduk di bangku sebelahnya. Seorang wanita cantik berambut bob, memakai dress putih selutut dan sepatu putih berhak tinggi, dari caranya berpakaian dan berdandan dia terlihat dewasa, berkebalikan dengan laki-laki yang duduk di sebelahnya; celana jeans hitam, kaos bermotif belang hitam putih dilapis jaket hitam dan rambut yang dipotong acak-acakan membuat laki-laki itu terlihat sangat...teenager.

Miya memperhatikan adegan yang tertangkap matanya itu dengan seksama.

Bukan, bukannya aku suka menguping atau apa. Tapi sejak beberapa bulan yang lalu aku sibuk dengan ujianku. Hidup tanpa hiburan selama itu, adegan seperti ini entah kenapa jadi terlihat...sangat...menarik.

"Ya..." laki-laki itu mengangguk setuju, dia memandang ke arah pohon sakura di depannya tapi wajahnya terlihat tanpa ekspresi.

"Pertama kali bertemu juga saat sakura mekar 'kan?" wanita itu tersenyum lembut sambil menyentuh kelopak bunga yang terjatuh di pangkuannya.

"Ya..." dia kembali mengangguk dan menjawab dengan satu kata yang sama.

Wanita itu menatap laki-laki di sampingnya wajahnya terlihat penuh harap, "Sudah satu tahun berlalu...tapi aku masih tidak tahu apa kamu benar-benar menyukaiku..."

"Hmm..."

Miya melihat laki-laki itu dengan pandangan tidak percaya.

Hmm? Apa cuma itu yang bisa disuarakan olehnya? Dengan muka tanpa ekspresi pula! Aku tidak bisa melihat wajah wanita itu dari sini tapi aku yakin dia pasti sangat sedih.

"Tatsumi..."

"Ya?"

"Apa yang...kausuka dariku?" wanita itu bertanya dengan wajah lebih penuh harap dari sebelumnya.

Laki-laki bernama Tatsumi itu melihat ke arah wanita di sampingnya. Tangannya yang sejak tadi beristirahat di pangkuannya bergerak perlahan dan kemudian dia memegang pipi kekasihnya.

Uwaah, ini...ini seperti adegan drama komedi romantis yang sering ditonton ibuku...

Wanita itu menatap wajah Tatsumi dengan pipi bersemu merah. Bibirnya bergerak-gerak perlahan, seperti sedang menahan senyum. Dia menunggu jawaban Tatsumi. Setelah puas membelai pipi si wanita, laki-laki itu akhirnya membuka mulutnya,

"Wajahmu."

Wanita itu terdiam, senyum yang tadi mulai terbentuk kini hilang sepenuhnya.

Uwaah...

Tiga detik kemudian gadis itu sudah berjalan pergi meninggalkan sang lelaki setelah menamparnya lebih dulu.

Aw, pasti sakit.

Miya spontan melihat ke arah laki-laki itu karena suara tamparan tadi sangat keras. Tapi nasib baik sepertinya sedang tidak berpihak padanya hari ini, karena laki-laki itu juga sedang melihatnya sekarang!

Aaagh…

Miya sempat berpikir untuk langsung pergi dan meninggalkannya. Pura-pura tidak melihat, pura-pura tidak mendengar dan pura-pura yang lainnya. Tapi sebagai orang yang dilahirkan dan dibesarkan dengan tata karma, Miya tidak bisa melakukannya. Apalagi saat orang itu terlihat menyedihkan dengan bekas tamparan di pipinya.

Akhirnya Miya memberikan senyuman pada laki-laki itu

.

.

.

"Apa kamu baik-baik saja?" Miya yang sekarang sudah berpindah posisi ke samping laki-laki itu bertanya dengan canggung.

Tatsumi melihat Miya lalu mengangguk, "Ya"

Miya terkejut dengan jawabannya, "Kamu benar-benar baik-baik saja?!" dan langsung bertanya tanpa pikir panjang.

Tatsumi melihat Miya dengan pandangan bingung, "Ya…kurasa…"

Miya tidak percaya, "Setelah menyakiti perasaan kekasihmu dan ditingggalkan olehnya bahkan diberi satu tamparan keras di pipi, kamu masih baik-baik saja?! Apa kamu tidak merasa bersalah?!"

Tapi laki-laki tampan itu tidak menjawab pertanyaan Miya. Dan ini membuat Miya kesal.

"Wanita cantik itu sungguh kasihan, menyukai lelaki brengsek seperti ini…" Miya mendelik ke arah Tatsumi.

"Kalaupun…"

"Apa?" saat mendengar Tatsumi mengatakan kata lain selain 'ya' Miya langsung melihatnya.

"Kalaupun ada yang harus merasa bersalah, itu kamu…"

Miya terdiam saat mendengar kalimat yang dikatakan Tatsumi. Dia tidak habis pikir kenapa orang di hadapannya itu bisa berkata seperti itu.

"Why?" tanyanya.

"Saat Mikiko bertanya apa yang kusukai darinya, aku ingin menjawab 'wajahmu saat tersenyum', tapi saat aku mengangkat wajahku untuk melihat wajahnya, aku melihatmu sedang memperhatikan kami…" Tatsumi melihat Miya, "karena gugup, kalimatku terhenti di kata wajahmu."

Hmm?

Butuh waktu beberapa detik bagi Miya untuk mencerna kalimat panjang Tatsumi.

Tunggu, itu berarti…dia tidak bermaksud untuk menyakiti kekasihnya?

Aaah, berarti aku salah sangka padanya, maafkan aku ya Tatsumi-san. Ternyata kamu orang yang baik.

Benar, Kalau dia mengatakan kalimat yang lengkap mereka tidak akan putus, kalau dia tidak gugup dia bisa mengatakan kalimat yang lengkap, kalau tidak ada orang yang memperhatikannya dia tidak akan gugup, kalau aku tidak duduk di sini tidak akan ada orang yang memperhatikannya. Kalau aku tidak ke sini hari ini aku tidak akan duduk di sini. Tunggu, berarti kesimpulannya...kalau aku tidak ke sini hari ini mereka tidak akan putus?

Ber...berarti yang terjadi ini salahku?

Aku sejak tadi menjelek-jelekkan dia di dalam kepalaku padahal kenyataannya aku yang menyebabkan semua hal yang tadi terjadi di bangku sebelah, bagaimana ini? Harus minta maaf? Tapi... tapi walaupun aku minta maaf gadis bernama Mikiko itu tidak akan kembali lagi dan bilang 'aku mengerti, ternyata kamu cuma gugup' 'kan?

Aaakh, bagaimana ini? Dia pasti dendam padaku, kalau pun aku minta maaf apa aku akan dimaafkan? Putus dengan pacarmu setelah 1 tahun pacaran karena salah paham 'kan bukan sesuatu yang yang dapat diabaikan...aaargh.

Apa? Apa, apa yang harus kukatakan?

Emm...

'Maaf ya, pacarmu salah paham dan memutuskan untuk meninggalkanmu setelah memberimu satu tamparan yang spektakuler... kurasa aku datang di saat yang tidak tepat...'

Tidak, mana mungkin aku mengatakan itu.

'Jangan sedih ya, nanti pasti akan ada seseorang yang lebih baik untukmu...'

Terlalu klise.

'Minta maaflah, ini sebagian 'kan salahmu juga karena gugup'

Dia akan memukul wajahku.

'Sudahlah Tatsumi-san, gadis manis 'kan bukan hanya dia saja'

Dia akan menggantungku di pohon sakura.

'Kamu, mau kucarikan pacar baru?'

Dia akan mengikatku di rel kereta api.

Lebih baik aku diam. Benar, kalau takut salah bicara lebih baik jangan bilang apa-apa. Tapi... kalau aku tidak bilang apa-apa dia akan mengklaim aku adalah orang yang tidak bertanggung jawab, tidak sopan dan tidak tahu malu...aku...pasti mati.

Bagaimana ini? Bagaimana ini? Dia pasti sangat marah!

Miya melihat wajah Tatsumi, dia tidak kelihatan gembira, tapi tidak terlihat sedih, terlihat marah juga tidak. Faktanya, miya tidak tahu apa yang tatsumi pikirkan karena wajah laki-laki itu tanpa ekspresi sekarang!

"Kumohon maafkan aku…aku akan membantu untuk mempersatukan kalian kembali, kalau ada yang bisa kulakukan tolong katakanlah…" Miya membungkuk dalam dengan wajah merah karena malu dan merasa bersalah.

"Hibur aku"

"Hah?!" Miya langsung mengangkat kepalanya karena terkejut.

"Apapun yang aku atau kamu katakan dia tidak akan mendengarnya, lagipula hubungan kami juga tidak sebaik dulu…" Tatsumi tersenyum walaupun sedikit terlihat kepahitan dalam senyumnya, "karena aku yakin dia tidak akan kembali…hibur aku"

Dia…dia bercanda 'kan? Menghibur? Dari semua hal yang bisa kulakukan…menghibur?

Miya menatap wajah Tatsumi.

Dia…kelihatan serius…

"Baiklah," Miya menegakkan punggungnya sambil berpikir apa yang harus dia katakan, "emmm… Tatsumi-san…"

Miya menelan ludah sebelum melanjutkan kalimatnya. Dia sendiri tidak yakin ini akan berhasil. Tapi memikirkan kemungkinan dirinya dihantui rasa bersalah seumur hidup karena menyebabkan rusaknya hubungan antara dua manusia, setidaknya dia harus mencoba.

"Apa kamu pernah dengar pepatah yang berbunyi, 'kalau tersesat, ikutilah kupu-kupu yang terbang'?"

Tatsumi melihat Miya dan mengangguk.

"Ehm…menurutku, dalam kehidupan juga seperti itu… pertemuan, perpisahan adalah bagian dari perjalanan kita dalam kehidupan… di saat kita sedih karena berpisah dengan seseorang, mungkin bisa diibaratkan seperti tersesat dalam perjalanan…"

Miya melirik Tatsumi, laki-laki itu masih melihatnya dengan pandangan serius,

"Di saat seperti itu…bukankah akan sangat membahagiakan kalau ada seseorang yang dengan tulus berkata, 'izinkan aku jadi kupu-kupu untukmu?'"

Tatsumi tidak berkata apa-apa, dia masih menatap Miya dengan wajah tanpa ekspresinya.

"Yang ingin kukatakan…ehm… mungkin akan sangat lama melupakan rasa sakit yang disebabkan orang yang kita sukai…tapi bukan berarti luka itu tidak bisa hilang…waktu dan orang-orang di sekitarmu…" Miya menunduk dengan wajah merah, "yang akan membantu menyembuhkannya…"

Mengatakan hal seperti ini sungguh memalukan! Miya, kaupikir dirimu siapa? Seorang pujangga? Kenapa harus kata-kata mutiara seperti di komik dan drama? Kenapaaaaa…

Miya mendengar Tatsumi terkekeh, "Kamu terlalu banyak nonton drama…"

Aku tahu, bahkan aku sendiri juga merasa begitu…

"Yah…pokoknya itulah maksudku…"

Setidaknya dia tertawa, berarti aku cukup menghibur 'kan? Yah, walaupun sepertinya hiburanku salah sasaran TwT

"Maafkan aku, aku mengerti apa yang ingin kamu sampaikan" Tatsumi melihat Miya yang sedang mengerucutkan bibirnya karena kesal.

Melihat itu, entah kenapa Tatsumi merasa Miya sangat cute.

"Tapi kurasa tidak akan membutuhkan waktu yang lama bagiku untuk menyembuhkannya…"

Tanpa buang-buang waktu, Tatsumi mencium pipi Miya.

Miya yang terkejut tentu saja langsung menatapnya dengan wajah penuh tanda tanya.

Tatsumi tersenyum, senyuman yang Miya pikir tidak mungkin bisa diproduksi otot wajahnya.

"Kenapa tidak kamu saja yang jadi kupu-kupu untukku?"

HAH?!

Miya menatap Tatsumi tidak percaya. Dia mengulang kalimat yang diucapkan Tatsumi dalam kepalanya. Tapi Miya terlalu bingung untuk mengerti apa maksudnya.

Kali ini, Tatsumi mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Miya! Tidak lama, tapi cukup efektif untuk membuat Miya melupakan ribuan pikiran di kepalanya.

"A…apa yang kamu lakukan?!" Miya berdiri dan langsung berteriak karena marah.

"Apa?" Tatsumi melihat Miya, "kenapa masih tanya? Apa kamu mau aku lakukan sekali lagi?"

Wajah Miya langsung memerah, "Ter…ternyata kamu memang laki-laki brengsek yang suka mempermainkan wanita!"

Tatsumi melihat Miya dengan bingung, "Tapi kamu 'kan…bukan wanita" lalu tersenyum jahil.

Miya tidak tahu lagi harus berkata apa. Dia bingung, kesal, malu dan entah kenapa dia ingin sekali menangis. Akhirnya Miya membalikan badannya dan berlari sekencang yang dia bisa.

Aaaargh! Harusnya aku tahu! Kenapa aku masih tertipu! Dia pasti bohong soal segala macam yang dia katakan!

Miya melihat ke belakang, Tatsumi masih ada di sana, melambaikan tangan padanya.

Aaaaaaargh!

Miya kembali berlari. Tidak peduli walaupun nanti Ruu dan Reina kelabakan mencarinya. Setelah cukup lama berlari barulah Miya sadar kenapa dia ingin sekali menangis. Miya berjongkok dan menenggelamkan wajahnya diantara kedua lututnya…

My…first kiss…

Hiks…


Chapter 1 END! Thank you for reading!
Review please? :D