Prolog: s/3080541/1/The-Red-Eyes-Resurrection-of-Bijuu-PROLOG

1: My Name is Nick Lincoln

-NICK-

Pagi hari sudah dibuat hancur oleh mimpi yang tidak ingin dimimpikan dan diingat lagi.

Mimpi apa itu? Mimpi seorang anak yang kehilangan orang tuanya dalam kasus pembunuhan. Tapi dia yang merasa bersalah ... kenapa? Apa yang dia perbuat?

Dia tidak berbuat apa-apa sebenarnya. Dan itulah yang membuatnya menjadi salah.

Dengan nyawa yang memaksa kembali masuk ke tubuhnya, Nick Lincoln akhirnya terbangun dengan jantung yang berdegup sangat kencang. Dia melonjak langsung terduduk ketika bangun di pagi yang cerah ini. Tak terasa setetes air mata bergulir dari mata kanannya, yang sudah tak mampu membendung air mata lagi.

Dasar cengeng, pikirnya. Itu kan kejadian lima tahun lalu. Aku masih menangisinya?

Sehabis memasang softlens berwarna biru, Nick keluar dari kamar mandi, akan segera sarapan. Softlens itu ... tidak bisa dibilang untuk gaya-gayaan, tapi Nick berkata memang itu hanya untuk gaya-gayaan. Dia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya.

Setidaknya dia seharusnya terhibur dengan sarapan pagi untuk ke sekolah. Pagi sial pikirnya. Roti untuk sarapannya habis. Dengan desahan kesal, dia mengambil iPod-nya untuk mendengarkan lagu, memakai tas selempangnya, pergi berangkat untuk membeli roti dini hari. Saat ini masih jam tujuh pagi, sedangkan sekolahnya masuk jam delapan.

Udara hari ini buruk. Tidak, angin pagi ini buruk. Terasa ada yang janggal dengan angin pagi itu. Terasa tekanannya terlalu menekan dan cepat, seolah ada yang menggerakan angin.

Siapa peduli? Aku bukan lagi pengendali angin—.

Nick terdiam.

Sambil termenung, dia melihat ke telapak tangan kanannya, pengendali angin ya?

Santai pikirnya. Toko roti memang agak jauh dari sekolahnya, tapi itu bukan masalah. Lebih baik mana? Mati kelaparan atau telat sekolah? Baiklah, itu berlebihan pikirnya.

Masuk ke toko, langsung tercium aroma roti-roti dan kue-kue yang menyengat. Aroma manis dari kue, atau daging asap yang sedang di masak, dan masih banyak bau yang lain. Tapi yang lebih menggiurkan adalah bakery atau kue yang baru selesai keluar dari oven. Dan itu berhasil membuat Nick batal membeli roti. Tanpa sadar dia malah membeli sandwich.

Keluar dari toko, dia disambut oleh kucing yang kelaparan, apa lagi sangat tergoda begitu melihat Nick akan memakan sandwich-nya. Berusaha merasa berbagi, Nick menyishkan daging sandwich untuk dimakan kucing. Ya ... walau pun dia bingung sekaligus kesal kenapa dia berikan sandwich itu pada kucing. Rasanya semua kucing memang manja.

Tapi mereka memang menggemaskan. Eh ... hey?

Baru terbangkit sehabis jongkok, seseorang telah menabrak Nick hingga ...

"Ah sandwich-nya!" Hingga sandwich-nya terjatuh. "Hey, kalau jalan lihat-lihat ..."

Cewek yang menabrak Nick pun berbalik, "m-maaf!"

"Eh, woy! Jangan nangis!"

"S-sungguh! Tolong maafkan aku!"

"Iya aku maafkan! Tapi jangan nangis. Nanti dikira aku penjahat!"

Dilihat lagi, cewek ini memiliki ciri-ciri cewek Asia. Yang terlihat khas adalah bajunya, dia mengenakan seragam sekolah sailor warna hitam dengan variasi warna merah. Tas selempang dia jinjing di bahunya, sehingga tidak menyilang seperti yang Nick pakai. Dengan muka memerah dan suara yang lirih tergagap-gagap, dia mengatakan: "a-akan kugantikan sandwich-mu itu."

"Tidak usah kok. Sungguh."

"Tidak! Aku harus menggantinya, tunggu di sini. Sekalian kok aku mau beli sarapan." Cewek itu langsung berlari masuk ke toko roti tempat Nick tadi membeli sandwich.

"Hey! Tunggu!"

Tapi ya ... menerima pun tak ada salahnya kan? Jadi Nick hanya menunggunya keluar lagi dari toko untuk diberi ganti rugi.

"Nih aku beli banyak!" Yang mengejutkannya adalah, cewek itu keluar dengan sekantong penuh roti. Tapi dengan tergesa-gesa dia berlari ke arah Nick, dan akhirnya malah tersandung (dengan indah.)

Bruk!

Bahkan semua roti yang ada di dalam kantong itu terjatuh kemana-mana. Yang membuatnya terlihat memalukan lagi adalah orang-orang yang melihatnya jatuh di depan umum.

"Waaaaaa!"

"Sudah! Jangan menangis lagi!" Bentak Nick berusaha menenangkan cewek itu, dan dengan segera cewek itu berhenti menangis.

"Tunggu di sini, aku yang akan belikan rotinya."

"Tapi ..."

Keluar dari toko, Nick baru merasa ternyata dia sedang tekor. Keluar-keluar dia hanya membeli sepotong roti bakery, dan berusaha dengan sok berani dia menunjukannya pada cewek itu. "Nih, bagi dua. Kau juga belum sarapan kan?"

"T-terimakasih." Dia menerima setengah potong roti bakery yang berlapis cokelat di atasnya, "sejujurnya aku tidak suka berbagi makanan sih ..."

"Sungguh?"

"Tentu saja tidak!"

"Yuka ya? Ternyata kau murid baru yang dibicarakan di kelasku. Selamat datang di New York ya."

"Iya, aku tidak menyangka ternyata kita sekelas Nick. Terimakasih atas sambutannya."

Mereka berjalan menyusuri jalanan yang mulai ramai dengan kendaraan. Jam kerja dan jam sekolah sudah mulai. Dan ingat dengan itu ...

"Omong-omong, jam berapa sekarang?"

"Jam delapan ..."

"Jam delapan!?" Teriak Nick dan Yuka bersamaan, "aku telat!"

"Aah! Kau harus tahu, jam pertama hari ini adalah guru yang menyebalkan!" Gerutu Nick.

"Sungguh?"

Mereka mulai berlari.

Sesampainya di kelas, Yuka disambut dengan ramah oleh guru tua renta wanita. Tapi Nick malah kena omelan. Semacam omelan telat seminggu sekali. Ya, itu sebenarnya sudah jadwal per minggu. Karena memang rotinya habis dalam seminggu. Bagian sialnya adalah ketika hari sekolah. Lebih sialnya lagi di pelajaran —guru sejarah.

Wanita tua dengan gigi-giginya yang ompong itu menyuruh Yuka untuk mengenalkan diri. Sedangkan Nick berjalan ke bangkunya. Hari ini dia diberi am pun karena kedatangan murid baru, tak ada waktu untuk menghukumnya.

Yuka memiliki nama Yukari Hatsu. Dia anak asli dari Jepang, lahir di Tokyo. Tempat duduknya ada di depan seorang teman Nick, yang duduk di sebelah kirinya.

"Hey Nick, kau bertemu dengannya di depan gerbang sekolah?" Tanya teman cowok Nick yang memiliki paras baik hati, dengan kulitnya yang cokelat. Ya, mungkin dia memang masuk kategori manusia kulit hitam, tapi tidak, sepertinya dia blasteran.

"Aku bertemu dengannya di jalan. Dan jalan-jalan sebentar dengannya, itu yang membuatku telat. Ada apa?"

"J-jalan-jalan? Kau tidak merasa canggung dengannya? Dia imut lho!"

"Dia cengeng, itu saja." Dengan santainya Nick duduk di kursinya. Angin dari jendela yang ada di sebelahnya masuk ke dalam, membuat dia merasa kedinginan, tapi nikmat.

Kemudian Yuka menoleh ke belakang secara perlahan. Dengan bisikannya, menyapa Nick, dia tersenyum manis.

Senyum itu berhasil menggertak jantung Nick. Harusnya tidak begitu, dia tidak pernah merasa canggung ketika melihat senyum semanis apa pun. Dia terlalu cuek dan dingin. Tapi kali ini? Ada apa? Jantungnya tiba-tiba ...

Jangan-jangan sakit jantung.

Dan itu adalah pemikiran bodoh yang ada. Dia tidak tahu apa-apa.

"Eh Nick jangan lupa dengan konfes hari ini ya?"

"Eh? Konfes apa?" Tanya Nick sambil mengalungkan tasnya pada bahunya. Temannya tadi berdiri di seberang bangkunya, menunggu Nick selesai beres-beres. Setelah beres-beres mereka keluar dari kelas yang memiliki ruangan cukup besar. Dengan kelas yang menghadap ke barat, pada bagian belakang terdapat lemari penghargaan kelas, poster yang bertuliskan: keep class clean!, dan mading kelas. Karena pulang sekolah, tidak ada lagi yang mengisi bangku dalam sekolah. Semua bangku yang berjumlah dua puluh tujuh sudah kosong melompong, kecuali milik Nick dan temannya.

"Konfes apa?"

"Pasti lu—"

"Oh, iya ingat. Kali ini Jane ya?"

"Yap. Serius, wanita Amerika memang selalu begini atau apa? Aku lebih suka wanita yang menjaga keanggunannya dengan menunggu cowoknya menembak duluan." Kata teman Nick sambil berjalan menuju pintu kelas yang setengah terbuka.

"Entahlah. Seperti aku peduli saja." Kata Nick dengan datar. Dia seperti sudah biasa menghadapi cewek yang selalu menembaknya. Tentu saja, dia populer. Bahkan kakak kelas pun berani untuk menembaknya, tapi tak ada satu pun yang dia terima. Tapi dia juga bukan orang yang menyukai sesama jenis … sebenarnya, memang dia tidak berniat untuk dekat dengan siapa-siapa. Sampai sekarang, bahkan teman Nick sendiri yang sudah dekat dengannya tidak tahu menahu tentang masalah itu.

Kemudian mereka sampai di taman depan sekolah. "Bisa kau gantikan aku Ferus?"

"Ya tentu saja tidak, kalau tidak mau repot ya terima salah satu. Biar semua cewek tahu rasa." Kata Ferus sambil menggaruk-garuk kepalanya dengan pusing. Bayangkan saja menjadi Nick, bagaimana repotnya dia.

"Memangnya tidak ada cowok lain apa … bahkan kau saja cowok. Jangan bilang kau bukan cowok …."

"Aku cowok bodoh!" Bentak Ferus dengan kesal sekaligus ingin tertawa. Ada-ada saja temannya ini.

"Anu …." Tiba-tiba suara cewek yang sangat grogi memotong pembicaraan Nick dan Ferus.

Mereka berbalik. Itu Jane, dia sudah datang dengan segenap keberanian untuk menembak Nick, yang menurut rumor (atau bisa dibilang fakta) tidak pernah pacaran. Mungkin itu akan terdengar aneh bagi seorang anak Amerika (apa lagi populer), tapi itu kenyataan. Tapi sebenarnya memang tidak hanya Nick, Ferus pun belum pernah punya pacar. Bedanya dia takut, bukan tidak mau.

Perdebatan (atau paksaan Jane) Nick dan Jane mulai sengit. Tadinya Jane hanya menyatakan perasaannya dengan halus, dan menawarkan pacaran juga dengan halus, tapi Nick menolaknya mentah-mentah. Sebenarnya Nick hanya berkata tidak, tapi dengan muka datar dan cepat. Tanpa berpikir. Dan itu bisa dibilang sudah menyakiti hati seorang wanita. Maka dari itu Jane langsung bertanya kenapa Nick selalu bersikap seperti itu, tapi Nick tidak memberi alasan sedikit pun. Akhirnya dengan tangisan yang mulai meluap, Jane berlari meninggalkan Nick dan Ferus.

"Eh, Jane! Maaf ya!" Ferus berteriak sekiranya, agar terdengar oleh Jane. Ya, yang selalu bertugas untuk menghibur cewek yang ditolak Nick adalah Ferus sendiri. "Sungguh Nick, bisa tidak kau menghargai perasaan wanita?"

Tapi tak ada jawaban.

Nick langsung berjalan keluar gerbang sekolah, tidak peduli dengan siapa pun. Itulah dia.

Tapi Ferus peduli, ketika dia akan mengejar anak kurang ajar itu. Namun dia terhenti ketika melihat seorang teman barunya yang sedang terdiam melihat ke jalan raya. Awalnya Ferus kira anak baru itu—Yuka, akan menyeberang, dia hanya menunggu lampu hijau untuk pejalan kaki. Tapi saat lampu hijau untuk pejalan kaki sudah menyala dia tidak berjalan sama sekali, masih saja melamun, sedangkan orang-orang berbondong-bondong menyeberangi jalan.

"Yukari!" Teriak Ferus, sambil menarik kerah baju belakang Nick. Menyeret anak itu untuk menemaninya berbicara dengan Yuka—mungkin. Tapi Nick benar-benar berontak. Hanya saja, dia berpikir kembali: sudah, tak perlu berontak. Cukup dengan mengendap-endap saja nanti, dia akan pergi.

"Yuka saja, halo …."

"Ferus. Aku Ferus Jones. Kalau dengan anak ini," Ferus menyeret Nick sekali lagi untuk menunjukan anak itu yang dia bicarakan, "kau kenal kan?"

"Oh, tentu saja." Kata Yuka sambil tersenyum ramah.

Ferus melepas tangannya dari kerah belakang Nick, "kenapa terlihat sedih dan melamun di tempat umum seperti ini? Kukira kau akan bunuh diri tadi."

Yuka malah tertawa geli, "bunuh diri? Tidak kok. Aku juga tidak sedih."

Lalu Ferus berdehem sebentar sambil melihat ke atas, kemudian menatap Yuka lagi. "Bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar ke Central Park?"

"Central Park? Boleh tuh!" Tiba-tiba Yuka terlihat sangat antusias.

"Ok …." Ferus menangkap basah Nick yang sudah setengah jauh dari mereka, kemudian Ferus memanggilnya dengan suara sekiranya agar terdengar Nick, "kau juga harus ikut woy!"

Duh, Nick mengeluh dalam hati. Dia tetap di tempat, menunggu Ferus dan Yuka berjalan untuk sejajar dengannya. Setelah sejajar, dia baru mulai ikut berjalan.

Tapi … sesuatu, seperti sedang mengganggunya. Tiba-tiba dia merasa ada aura negatif yang mengganggunya, bahkan sampai jantungnya berdetak kencang. Yang tidak dia sangka adalah: Yuka yang sedikit menoleh ke arahnya, dengan senyum jahat. Bahkan matanya lebih tajam dari pada silet.

Khayalanku atau ….

Nick berhenti berpendapat ketika aura itu hilang. Bahkan Yuka tiba-tiba seperti baru tersadar dari tidur. Dia merasa kebingungan, apa lagi merasa dilihat oleh Nick. Dia melihat Nick sekilas, merasa terusik dia langsung melihat lagi ke depan dengan malu.

Ada yang aneh … sudahlah ….

Nick memijit pelipisnya. Mungkin dia tadi sempat pusing (sebenarnya mungkin dia memang merasa memiliki penyakit jantung—mungkin.) Dia putuskan, ternyata tak ada salahnya juga untuk berkunjung ke Central Park, sekedar untuk merilekskan pikiran.