Chalice : ada yang ngereview *nangis bahagia sampai-sampai ruangan jadi banjir (lebay terdektesi)* tapi balas Review nya saya PM-in kaga apa kan~? tapi saya tetep berterimakasih kepada yang me reviewnya XD.

Note : Cerita ini tidak ada hubungannya dengan kejadian sesungguhnya, jika ada itu hanya kebetulan belaka karena Chalice itu kaga tahu apa-apa (?).

Warning : GaJe, tidak serem-serem amat, horror tidak terasa, Aneh, TYPO, Tidak memenuhi syarat EYD, dll.

~HAPPY READING~


Pembukaan chap :

latar yang masih sama dengan sebelumnya cuman kelihatan lebih bersih.

"Hallo, semuanya. apa kalian masih mengingat ku?" tanya gadis berambut hitam dan bermata merah seperti darah dan memakai baju serba hitam itu.

"Dan tidak melupakan saya juga kan?!" ucap gadis berambut hitam kebiruan bermata perak yang kini bajunya diganti jadi kimono, mungkin mau mengganti suasana kali *sweadropped*

"Kalau lupa..." ucap gadis kecil itu lagi sambil mengeluarkan Parang.

"Uh-oh, sifat psipokatnya Natsuki kambuh lagi" ucap gadis berbaju gothic itu dan mengambil sesuatu dan memberikannya ke gadis kecil itu.

"Boneka!" teriak gadis itu.

"Huff... baiklah, jika ada yang melupakan ku aku akan memperkenalkan ulang, namaku Natsume KageYami sedangkan gadis ini alias adikku bernama Natsuki KageYami" ucap gadis berbaju gothic sambil memperkenalkan dirinya.

"Kami akan menceritakan sebuah cerita yang menceritakan tentang..." ucapan Nastuki dipotong Natsume.

"kemarahan sebuah boneka" ucap Natsume dengan seringai.

"dan kami akan menceritakannya tentang boneka. " ucap Natsuki sambil bergumam 'cih, nee-san memotong perkataan ku!'

"fufufufu... semoga kalian senang mendengarkan ceritaku" ucap Nastume sambil tersenyum sinis.


Story 2 : Madness Doll.


Latar : kamar mandi wanita.

"Payah! lebih baik kau tidak datang, Rumi!" ucap gadis berambut twintail berwarna orange dan bermata coklat, Karen Amaka.

Gadis twintail itu sedang mengguyur gadis didepannya.

Gadis yang di guyur itu berambut kuning, bermata coklat, Rumi Liota.

"Benar, benar, kehadiranmu mengganggu tahu!" ucap gadis berambut hijau lime, bermata oren jeruk, Lita Seruka.

Rumi hanya diam dengan badan basah.

arah mereka

Semua mata tertuju kepada seorang sosok berambut blonde, bermata biru safir, rambut panjang sepunggung, memakai bando merah di kepalanya.

"Cih, Lilia kau mengganggu kesenangan kami saja!" decih Karen.

"Bully-ing itu tidak menyenangkan, Karen Amaka!" ucap Lilia dengan nada menantang.

"Kau... mau menantangku ya!" ucap Karen kesal dengan nada bicara Lilia.

"Iya!" ucap Lilia sambil mendongak dagunya yang membuktikan dia menantang Karen.

"Kau..." ucap Karen mau menampar Lilia.

"Karen, kau lupa kalau Lilia itu sabuk hitam" nasehat Lita.

Karen yang mendengarnya hanya kaget dan membatalkan tamparan ke Lilia.

"Cih! akan kubalas kau nanti, Lilia!" ucap Karen kesal dan pergi keluar dengan kemarahan.

"Karen, tunggu aku!" teriak Lita dan mengejar Karen.

"Apa kau baik-baik saja, Rumi?" tanya Lilia dan menolong Rumi.

"Um... iya, terimakasih, Lilia" ucap Rumi berterimakasih dan menerima uluran tangan Lilia

"Tidak apa, sebagai teman kita harus saling menolong" ucap Lilia sambil menarik Rumi.

Rumi yang mendengarnya hanya tersenyum.


"Dadah, Rumi" ucap Lilia.

mereka sudah ada di persimpangan jalan, karena rumah mereka tidak searah.

"Dadah juga, Lilia" ucap Rumi.

Rumi berjalan terus sampai ke rumah.


-Rumi Home-

"Tadaima " ucap Rumi pas sampai rumah.

"Okaeri, Rumi" ucap seorang wanita.

"Kaa-san, hari ini makan apa?" tanya Rumi.

"Hari ini kita makan Sup kesukaan Rumi" ucap Kaa-san dengan senyuman manis.

Rumi hanya membalas nya dengan senyuman lalu dia segera kekamarnya.


-di kamar Rumi-

BRAK!

Rumi menutup pintu dengan kencang.

"Kenapa... Kenapa aku di siksa melulu sama Karen, apa salah ku!" ucap Rumi sambil memukul-mukul sebuah boneka.

Boneka yang ia lampiaskan adalah sebuah boneka yang cukup manis, berambut pirang, bermata emerlad, rambut ikal sepanjang punggung, berbaju ala boneka impor, memakai bando berenda-renda.

Rumi melempar boneka itu ke dinding dengan penuh ke marahan, lalu dia mengambilnya lagi dan memukulnya terus, Rumi langsung melihat sebuah gunting dan menggunting rambut boneka itu.

Boneka itu sekarang sudah banyak yang rusak karena sering di jadikan pelampiasan kemarahan Rumi.

"Kenapa... Kenapa semuanya membenciku! ini semua gara-gara Karen! Aku berharap dia mati!" ucap Rumi sambil menangis dan menusuk gunting itu di bagian dada boneka tersebut.

"Rumi, makanan sudah siap" terdengar suara kaa-san memanggil Rumi.

"Oke, Kaa-san" jawab Rumi dan dia keluar dari kamarnya.

Didalam kamar yang sepi dan gelap, boneka tersebut berdiri.

Boneka itu mencabut gunting yang ada di dadanya dan melemparnya.

Dadanya yang di tusuk Gunting mengeluarkan darah.

Mata boneka itu memancarkan kemarahan.

"Ini semua gara-gara gadis yang bernama Karen itu, aku menjadi tersiksa dan terluka" ucap Boneka itu dengan kemarahan.

Boneka itu atau di panggil namanya Alise, Alise membuka jendela dan keluar.

Alise terus berjalan di malam (oh ya latar waktunya sekarang malam XD), orang-orang yang di lalui Boneka itu tidak memedulikannya walaupun aneh jika ada boneka bisa jalan sendiri.

Alise terus berjalan dan ia sampai di sebuah mansion yang sangat mewah dan megah.

Alise mengubah dirinya menjadi boneka yang manis dan cantik sebelum dia rusak di hancurkan Rumi.

Alise berada di depan gerbang rumah tersebut dan mendengar sebuah derap kaki.

Ia segera menghentikan gerakannya dan diam.

"Eh? boneka siapa ini" ucap Karen melihat Alise tergeletak di depan pagar.

"Hmm... boneka yang cantik, kubawa saja, toh tidak ada yang melihatnya" ucap Karen dan membawa masuk Alise.

Karen membawa Alise ke kamarnya.

Kamar Karen sangat feminim, banyak boneka disana, kasurnya adalah Queen size, cat dindingnya berwarna pink, lantainya memakai keramik yang sangat mahal.

Karen menaruh Alise di atas Meja yang penuh dengan boneka impor yang cantik dan terurus.

"Karen-sama, makan malam sudah siap" terdengar suara gadis di depan pintu.

"Ya" ucap Karen dan dia pergi dari ruangan itu.

Alise yang berada di atas meja hanya menampilkan seringai.


-12 : 00-

Alise bergerak dan berjalan mendekati Karen yang sedang tertidur di kasurnya, Alise menemukan sebuah gunting emas di atas meja dekat ranjang Karen.

Segera ia ambil dan menusuk perut Karen.

Karen segera bangun karena merasa sesuatu yang menyakitkan di perutnya, ia segera membuka matanya dan melihat sebuah boneka yang sudah setengah hancur dengan mata emerlad yang bercahaya, sambil memegang sebuah gunting.

Spontan saja Ia kaget dan ketakutan, segera ia tendang Boneka itu sehingga terjatuh dan segera bangun dan lari walaupun perutnya sudah berdarah dan sakit.

Karen segera memegang gagang pintu dan segera membuka pintu cuman hasilnya...

Pintu tidak bisa dibuka.

CKLEK! CKLEK!

Karen berusaha membuka pintu cuman hasilnya pintu tersebut tidak bisa di buka.

"Tolong! tolong bukakan pintu! tolong aku!" teriak Karen sambil menggedor-gedor pintu agar pintu tersebut bisa di buka.

Tap...tap...tap...

terdengar sebuah langkah kecil di belakang Karen, Karen merasa bulu kuduknya berdiri dengan takut dia menoleh kebelakang.

Dia melihat boneka itu berjalan kearahnya sambil memegang sebuah gunting.

"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

CRAAAAAT!

Di kamar yang indah itu di dekat pintu yang mewah itu terdapat darah dan mayat disana.


-Rumi side, 07 : 00 AM-

Rumi segera berjalan kesekolah dengan ogah-ogahan.

'Pasti si Karen bakal nge-bully aku lagi' batinnya dengan kesal.

Rumi sampai di gerbang sekolah dan mendengar sebuah suara.

"RUMIII~" terdengar suara Lilia memanggilnya dan memeluknya.

"Pagi, Lilia" ucap Rumi sambil tersenyum.

"Pagi~" ucap Lilia dan melepaskan pelukannya "Rumi, kalau misalnya si Karen ngebully mu lagi, kamu tinggal panggil aku! aku kan sabuk hitam jadi dia kaga bakal berani" lanjutnya.

Rumi hanya mengagguk dan mereka segera berjalan sampai kekelas.

TENG! TONG! TENG!

'hmm... tumben si Karen kaga masuk, tapi baguslah' batin Rumi senang.

GREEK!

Terlihat wali kelas Rumi datang dan menuju meja guru.

"Hari ini ibu membawa berita buruk, kemarin teman kalian, Karen Amaka di temukan meninggal dalam tubuh penuh tusukan di kamarnya" ucap ibu guru.

Sesuana kelas menjadi ricuh.

"Karen meninggal?"

"bagus lah dia meninggal, dengan begini dia kaga nyari gara-gara lagi"

"Hueee! primadona sekolah meninggal?!"

"Lho, bukannya Lilia yang primadona? si Karen kan cuman cadangan (?)"

"Iya,ya"

"Akhirnya si Karen tidak mencari gara-gara lagi"

"Meninggal? akhirnya dia menghilang juga"

seperti itulah kesan-kesan murid-murid di kelas, sebagian merasa senang sebagian merasa sedih.

"Baiklah, sekarang kita mulai pelajarannya" ucap ibu guru.

Dan mereka belajar seperti biasa.

'Hahaha! ternyata keinginan ku di dengar tuhan, Karen meninggal! dengan begini tidak ada yang menyiksaku!' batin Rumi senang tanpa menyadari ada sosok kecil memandangnya dari balik jendela di pohon.

"Kali ini giliran ku membalas dendam ke kamu, Rumi" ucap sosok kecil itu dengan mata emerlad bercahaya dan menampakkan kebencian dan menghilang.


-15 : 00 PM-

Rumi berjalan tanpa Lilia karena Lilia ada ektrakulikuler.

Selama perjalanan Rumi merasa ada yang mengikutinnya.

'perasaan ada yang mengikutiku' batin Rumi dan dia langsung menoleh kebelakang.

Di belakangnya tidak ada siapa-siapa.

Rumi merasa firasat buruk dan ia langsung berlari karena ketakutan.

DRAP! DRAP! DRAP! DRAP!

TAP... TAP...TAP...TAP...

Rumi berlari dengan cepat tapi ia merasa mahluk yang mengikutinya tidak berlari tapi jalan, walau begitu suara tersebut tetap kedengaran walau dia berlari.

Rumi terus berlari sampai Rumah, dan Ia segera menutup pintu dan menguncinya.

BRAAK! CKLEK! CKLEK! CKLEK!

"Huft..." Rumi menghela nafas lega.

Rumi segera berjalan ke dapur untuk minum, dan di meja ia menemukan sebuah kertas dan uang 1000 Yen.

"Rumi tersayang, Mama dan Papa hari ini tidak ada, kami Ke rumah sakit sampai besok karena teman papa dan mama sakit, ini ada uang untuk beli makanan,

From : Papa & Mama"

Rumi membaca Note tersebut hanya menghela nafas.

"Jadi, hari ini aku sendiri nih? hmm... . berati aku bisa begadang malam ini" ucap Rumi dengan senang dan dia mulai memasak untuk makan.

Rumi tidak menyadari selama ia memasak di belakangnya terdapat sosok Boneka memadangnya dengan aura benci.


-12 : 00-

Rumi sedang menonton Fil horror di TV dengan lampu dalam keadaan gelap.

Srek...Srek...Srek...

Terdengar suara yang membuatnya kaget.

Rumi segera menoleh kebelakang karena dia merasa suara itu dari belakangnya.

'Suara apa itu?' batinnya dengan ketakutan.

KLONTANG!

Terdengar suara Pot bunga di meja jatuh.

Rumi dengan takut-takut segera menyalakan lampu dan berjalan ke arah Pot bunga yang pecah.

'Aneh... disini tidak ada siapa-siapa, tidak ada angin, atau apa. kok bisa jatuh ya?' batinnya dan membereskan pecahan pot bunga tersebut.

Drap! Drap! drap!
Terdengar suara berlari dari lorong.

Rumi merasa ketakutan, dan ia segera membawa sapu dan berjalan ke arah lorong.

Tap...Tap...Tap...

Rumi terus berjalan memperhatikan rumah, takut-takut ada maling masuk.

Rumi membuka pintu kamar mandi dan menyalakan lampu, dan melihat sekeliling.

"hmm... aman kok dimana-mana, mungkin hanya halunisasi saja" ucapnya dan berjalan ke ruang tamu.

PRANG!

Ia mendengar sebuah suara piring pecah, dan Rumi segera ke dapur sambil membawa Sapu.

CKLEK!

Rumi membuka pintu dan menyalakan lampu.

"Astaga... tadi Pot bunga yang pecah tanpa sebab, sekarang Piring" ucap Rumi kesal dan membereskan pecahan piring tersebut.

Rumi tidak menyadari bahwa pisau yang ada di meja tidak ada.

Setelah membereskan Pecahan piring tersebut, ia kembali ke ruang tamu untuk melanjutkan nonton yang tertunda.

'menyebalkan! padahal tadi nontonnya lagi tegang-tegangan malahan ada kesibukan yang tidak jelas!' batinnya kesal dan sambil nonton.

Jeglar!

Terdengar suara Petir.

'hmm... mau hujan ya' ucap Rumi mendengarkan suara petir tersebut dan menlanjutkan nonton film horror tersebut tanpa menyadari di belakangnya terdapat boneka alias Alise dengan muka hancur alias retaki-retak, memegang pisau dapur, Mata emerladnya menjadi merah ruby membara (?), dengan seringai yang menyeramkan.

JEGLAR!

Rumi menyadari sebuah sosok di belakangnya lewat televisi yang tiba-tiba mati + lagi terkena cahaya Petir yang mengakibatkan TV yang mati tersebut memantulkan dirinya dan dibelakangnya,

Dengan takut dia menoleh kebelakang.

"!"

ZRAT!

"KYAAAAA!"

CRAT!

Sofa biru yang bersih tersebut menjadi berwarna merah darah.

Alise hanya tersenyum dengan keji dan menghilang dalam kegelapan.

di luar terdengar suara hujan yang kadang diartikan langit menangis (?) atas na'asnya Rumi.

Esok harinya Rumi di temukan meninggal dan pada hari itu juga dia di kubur.

Orang tua Rumi menangisin kepergiannya yang meninggal di bunuh dengan pelaku misterius.

Lilia menangis dalam diam , dia kehilangan temannya.

Semuanya menangisinnya.

Di balik pohon terlihat boneka yang bernama Alise hanya tersenyum kejam melihat kuburan Rumi.


Story 2 : Madness Doll -end-


"Bagaimana nasib gadis yang menyiksa boneka itu?" tanya Natsume sambil minum teh berwarna merah.

"Tragis bukan?" tanya Natsuki gembira sambil berlari lalu di pangku Natsume.

"Berhati-hatilah terhadap boneka, karena mereka juga punya hati" ucap Natsume sambil minum teh.

"jika kalian terus menyiksa boneka maka kalian akan bernasib sama dengan gadis di atas" ucap Natsuki dengan happy.

"fufufu... kelihatannya kita permisi dahulu" ucap Natsume dan menaruh cangkirnya di meja.

"Sampai ketemu lagi, dan selamat malam" ucap Nastuki.

Dua gadis tersebut menghilang dan ruangan tersebut kembali hancur dan banyak bercak-bercak darah.


Chalice : Hmm... aku merasa tidak takut saat mengetiknya ya? apa ceritanya kaga serem? *kebingungan sendiri*

Natsume : *kaget* jadi cerita kami tidak serem donk?!

Natsuki : padahal kami sudah bercerita dengan penghayatan *nangis*

Chalice: WEKS?! Jangan nangis! lihat air mata kalian menyeramkan tahu! masa keluarnya darah! hapus! hapus!

Natsuki : *menghapus air mata*

Chalice : sebenarnya ini ide cerita dari Manga Shounen Doll yang ceritanya seorang gadis yang mempunyai kekuatan untuk menenangkan boneka-boneka yang marah karena di buang, nah, ide boneka punya perasaan tersebut Chap ini jadi deh~

Chaline : tidak ada yang nanya itu kok...

Chalice : *pundung*

Natsuki & Natsume : Minna, Review ya~