Asal-usul Naruto? © 2012

An Original Story by MizuRaiNa

.

Aku mendudukkan diriku di sebuah bangku yang terletak di tiga bangku dari depan. Disusul oleh Gina yang duduk di sampingku. Bukan bangkuku, tapi bangku Riris dan Nurul. Itu karena bangkuku ditempati olehnya. Biarlah. Toh gak ada Pak Tedi. Ia tak mungkin masuk di saat jam pelajaran yang tersisa tinggal setengah jam lagi. Tanggung banget.

Aku segera teringat dengan novel yang beberapa saat lalu kupinjam dari perpustakaan. Langsung saja kutunjukkan pada Ilmi. Ia kan mencari-cari novel karangan Tria Barmawi. Kebetulan aku menemukannya di perpus.

Obrolan kami hanya berkisar beberapa menit. Aku megedarkan pandanganku ke seluruh penjuru ruangan. Berkubu-kubu. Ada yang sedang bergosip ria, mengerjakan BK—Buku Kerja—biologi, nonton film di laptop, baca buku, bahkan ada beberapa temanku yang merebahkan diri di lantai paling belakang. Aku berinisiatif untuk membaca buku novel tadi. Yeah, daripada tak ada kerjaan sama sekali. Kulihat Gina juga sedang membaca buku yang tadi ia pinjam bersamaku.

Baru juga beberapa helai kertas novel kubaca, Nurul mengalihkan perhatianku.

"Nazma, ini artinya apa?" Ia membalikkan tubuhnya sehingga berhadapan denganku. Tangannya memegang selembar kertas dengan isi rentetan huruf-huruf hiragana.

Aku tak langsung menjawabnya namun menghampirinya—mejaku—dan mengambil salah satu buku tulisku yang tergeletak di atas mejaku.

"Nih, coba baca. Ini huruf hiragananya." Aku menyodorkan buku tulisku pada lembar yang aku tulisi huruf-huruf hiragana dan katakana.

Ia mengangkat sebelah alisnya. "Gak ngerti ah."

"Gampang kok. Ini a, i, u, e,o, ka, ki, ku, ke ko, bla bla bla."

Saat aku menerangkan aksara-aksara Jepang itu, Riza menghampiri kami berdua. Ia turut menanyakan hal-hal tentang Jepang. Jadilah Jepang sebuah topik yang kami perbincangkan.

"Hei, aku jadi inget sesuatu. Ada yang tahu gak asal usul Naruto?" celetuk Nurul.

Aku mengangkat bahu. "Nggak."

"Sebenernya Naruto itu asalnya dari Indonesia. Nama aslinya bukan Naruto Shippuden. Tapi Narto Saipudin," tuturnya.

Aku tak menanggapi. Hanya sedikit membuka mulutku. Hah? Dari Indonesia?

Aku terkekeh geli mengingat nama tadi. Narto Saipudin? Gokil amat tuh nama!

"Lah, bohong," tanggap Riza.

"Iya. Orang Jepang kan gak bisa nyebut Narto Saipudin. Jadi wae Naruto Shippuden."

Aku sedikit tertawa. Ucapan Nurul ada benarnya juga. Haha.

"Ah iya juga. Kan di Jepang gak ada huruf mati selain 'n'. Jadi ditambah huruf vokal. Jakarta aja dibacanya jadi Jakaruta. Narto juga jadi Naruto kan?" Aku berkata seolah-olah membenarkan perkataan Nurul. Biar saja. Seru juga sih topik pembicaraan kali ini.

Tawa mulai merebak dari aku, Riza, Gina. Ternyata dia jadi ikut-ikutan mengikuti obrolan kami.

Belum juga tawa berhenti, Nurul berkata, "terus terus ada lagi. Mie ramen itu ada di Sumatra. Tapi aku lupa namanya. Apa yah?" Ekspres Nurul berubah seakan-akan ia berpikir keras.

"Mie Raman? Ramin? Apa ramon kali ya?" lanjutnya.

"Eh? Mie rambut mereun," celetuk Riza asal-asalan.

Sekali lagi, kami tertawa. Aneh-aneh saja!

"Masih ada. Tau gak jubah hitam yang ada awan-awannya?" Ia menatap kami satu per satu.

Aku segera menanggapinya. "Tau laahhh. Itu kan jaket akatsuki."

"Nah, itu terinspirasi dari batik Cirebon. Lihat wae puringkel-puringkelna. Mirip pisan."

Nani? Aku tertawa. Batik trusmi? Aku membayangkan gambar batik itu dan membandingkannya dengan 'batik' awan-awan yang terdapat di jubah akatsuki. Haha, benar juga. Dengan seragam batikku pun ada kesamaannya.

"Heeuh oge nya," ujar Riza di sela-sela tawanya.

Gina ikut tertawa walaupun aku tahu dia pasti tak terlalu mengenal anime Naruto. Paling hanya pernah melihatnya sepintas.

"Hokage ke lima teh saha karah?" tanyanya lagi. Nurul Nurul, Hokage ke lima aja gak tahu. Dia ngomong tapi gak terlalu tahu tentang anime-nya sendiri.

"Tsunade. Susuna gede," jawab Riza yang langsung disertai tawa kami yang mendengarnya. Ini anak malah melesetin nama Tsunade lagi!

"Hu'um, yang itu. Itu juga kayaknya terinspirasi dari presiden kita loh~"

"Masa?" tanya Gina.

Nurul menganggukkan kepalanya lalu mengambil sebuah pulpen tak tahu milik siapa. Ia mencari sebuah kertas untuk ia tulisi.

"Presiden pertama Sukarno, Suharto, Habibie—" Ia tak melanjutkan kata-katanya namun malah menatapku.

"—saha deui sih?" tanyanya.

"Gus Dur," jawabku dan Gina hampir berbarengan.

Ia menuliskan nama tersebut setelah Habiebie.

"Terus pan Megawati. Berarti Megawati teh diibaratkan Tsunade."

Wkwkwkwk. Megawati? Tsunade?

Kami terpingkal-pingkal kegelian. Bahkan Riza sampai-sampai memukul-mukul meja sedangkan Gina dan aku memegang perut masing-masing.

"Terakhir. Tebak, si Narto teh di Indonesia saha?" tanya Nurul entah pertanyaan keberapa.

"Siapa?" tanya kami hampir berbarengan.

Belum juga ia menjawab, ia sudah tertawa-tawa duluan. Haduh, gimana sih?

Tawanya akhirnya mereda.

"Bajunya kan oren, berartiii—

—pemadam kebakaran!" Ia berdiri dari duduknya dan memeragakan sedang memegang selang pemadam kebakaran.

Kocak! Aku tak bisa menahan tawa lagi. Hahahahaha.

"Baju si Naruto mah gak nyambung. Warna oren dihijikeun jeung biru. Masa Persib dihijikeun jeung Persija? Nya teu bisa," celetuk salah seorang dari belakang.

Kami menolehkan kepala mengarah pada sumber suara tadi. Dia penggemar Persib kali.

"Yeh, da leuwih mirip pemadam kebakaran."

Beberapa detik kemudian bel pulang berdentang. Langsung saja kami kembali ke tempat duduk masing-masing untuk segera membereskan buku-buku yang masih berceceran. Saatnya pulaanng~

Haha, jam-jam akhir yang biasanya membosankan kali ini begitu mengasyikan!

.

_The End_