| Prelude after the rain |

Pair: S14

Author: 04

Rate: T

Category: Angst

A/N: Suddenly I felt like I want to write this ._. Please do listen Chieco Kawabe song: Little wing – Ost. otogizoshi. It fits the situation.

Disclaimer: This story belongs to Shinobi Famiglia! Although Saga belongs to Te-chan, it will be a waste to ignored S14.

Warning: boy x boy, death.

Don't like, don't read! Fiction only. (Prince, if you felt uncomfortable reading this, just click exit.)


Sasuke POV

Ini sama sekali bukan memori yang menyenangkan, bukan juga memori yang ingin kuingat. Kalau bisa, aku justru ingin sekali melupakannya.

Aku melihat sosokmu berdiri terpaku memandangi sosok dirimu yang lain. Kau terpaku, diam, tak bergerak. Sama seperti kembaranmu. Bedanya, kau masih bernyawa, sedangkan kembaranmu tak seberuntung itu.

Aku ingat pundakmu bergetar saat dokter menyatakan waktu kematian belahan dirimu yang lain. Aku ingat kau bahkan tidak sanggup berkata apa-apa pada awalnya. Kau hanya menggelengkan kepalamu, berusaha membantah kenyataan dalam bisu. Namun bibirmu terkunci rapat. Kau terlalu syok hingga tidak bisa merangkai sebuah kalimat dengan baik.

Aku ingat orang-orang di sekitarmu berusaha menenangkanmu. Aku ingat mereka memelukmu erat. Mereka berusaha menguatkanmu namun mereka sendiri tidak kuasa menahan tangisan mereka. Sedangkan kau, masih berdiri kaku memandangi sosok kembaranmu lekat-lekat.

Lalu beberapa saat setelahnya, kau seperti sadar akan kenyataan yang harus kau hadapi. Kau menangis dan menjerit-jerit. Kau menggoncang-goncangkan tubuh kembaranmu yang tak lagi bernyawa, memanggil-manggil namanya, berusaha membangunkannya.

Semua orang—termasuk aku, terkejut melihatmu seperti itu.

Kau tidak pernah hilang kendali hingga seperti itu. Kami tidak pernah melihatmu jatuh tanpa pertahanan seperti ini.

Beberapa orang bereaksi sama denganku, diam terpaku karena terlalu syok. Beberapa orang yang lain berusaha menjauhkanmu dari tubuh kembaranmu yang mulai kaku. Dan Kyo, menampar wajahmu untuk menyadarkanmu. Setelah itu kau kembali terdiam. Isak tangismu berhenti secara spontan, entah bagaimana kau melakukannya.

Kyo menyuruhku membawamu pergi. Tubuhku bereaksi dengan cepat. Kau tidak menolak saat aku menarikmu pergi. Tanganmu lemas tanpa ada tenaga. Matamu kosong.

Di luar sana aku memelukmu erat. Kau sama sekali tidak bereaksi. Tidak menolak seperti biasanya. Tidak ada caci maki yang biasa kau lontarkan seperti biasanya.

Kau menurut begitu saja, pasrah.

Saat itu aku tidak bisa mengatakan apa pun untuk menguatkanmu. Aku tidak bisa menemukan kalimat menghibur yang bisa menghilangkan sakitmu. Dalam kepasrahan yang sama denganmu, aku berbisik: "Don't cry, Saga."


Situasi telah berubah 6 jam kemudian. Masing-masing dari setiap anggota Shinobi sibuk membantumu untuk menyiapkan pemakaman kembaranmu. Dan keluargamu? (Oh, maksudnya keluarga kita, terkadang aku lupa aku sudah masuk hitungan keluarga.) Seperti biasa, mereka masuk jajaran orang terakhir yang datang untuk membantumu.

Ironis memang, tapi kau sudah terlalu terbiasa. Bahkan kau tidak lagi berharap pada mereka. Kau belajar untuk bergantung hanya pada dirimu sendiri. Bukan pada mereka.

Saat kau tiba di rumahmu bersama tubuh kakakmu yang sudah terbaring kaku, ibumu datang menghampiri dengan isak tangis. Ia meneriakkan nama kakakmu. Namun reaksinya tidak sehisteris reaksimu tadi. Tentu saja, kau yang paling merasakan sakit atas kehilangan ini, bukan ibumu, bukan siapa pun.

Lalu melihat sosok ibumu yang jatuh di pinggir tubuh kaku kakakmu, kau memberanikan diri untuk memeluk ibumu—biasanya tak pernah, kau selalu memperlakukannya bak seorang ratu dan tentu kau tidak akan selancang itu untuk memeluknya. Kau mengelus punggungnya dan menghiburnya.

"Bunda jangan nangis," katamu lembut. "Masih ada Saga disini. Bunda jangan sedih."

Kau memaksakan diri untuk tersenyum, mengukir sempurna wajahmu dengan menarik sedikit sudut di bibirmu. Namun kau tidak bisa berbohong. Mungkin bisa pada ibumu, namun tidak padaku.

Wajahmu memang sengaja kau buat seakan terlihat tegar. Kau memang berhasil mengukir senyummu dengan sempurna, aku akui itu. Tapi tidakkah kau sadari? Kau berulang kali kau mengucapkan kata-kata yang sama pada ibumu. Seperti halnya kaset rusak yang hanya bisa mengulang potongan bait yang sama.

Aku mengamatimu lebih dalam. Aku perhatikan wajahmu, matamu, semuanya.

Rasanya asing, aku bahkan nyaris tidak bisa mengenalimu.

Kemana biasanya Saga yang selalu muncul dengan segala keoptimisannya? Kemana sosoknya yang sedikit arogan namun penuh keyakinan?

Matamu redup, tidak memancarkan semangat atau bahkan keinginan untuk hidup. Seakan jiwamu sudah kosong, bersisakan raga tanpa isi. Atau mungkin setengah dari dirimu memang pergi bersama kembaranmu? Entahlah.

Kau memang tidak lagi menitikkan air mata. Namun aku bisa melihat kepedihan yang mendalam dari matamu, bahkan dari caramu menarik senyum simpul. Kau hanya berusaha menguatkan diri. Lagi-lagi memaksakan diri, kau memang selalu seperti itu.

Setelah ibumu beralih ke pelukan ayahmu, kau menarik diri dari kerumunan orang. Kau menjauh dan membuat dinding pembatas. Bahkan pada pacarmu, orang yang menjadi satu-satunya alasan kau tetap berada disini—bukan ikut pergi ke tempat kakakmu berada.

Aku mengikutimu dari belakang dan kita berdua berakhir berada di pekarangan belakang.

Aku berdiri tepat di belakangmu. Meskipun aku belum berkata apa pun, aku tahu kau sudah menyadari kehadiranku disana.

"Sasuke," kau memanggilku pelan, datar tanpa intonasi. "Bisa lo balik badan sebentar?"

Tanpa menuntut penjelasan darimu, aku pun membalikkan tubuhku sesuai permintaanmu.

Kau menyandarkan kepalamu pada punggungku. Aku memang tidak mendengar isak tangismu atau merasakan tetes air mata yang mengalir dari matamu, tapi aku tahu kau menangis dalam keheninganmu.

Aku mengangkat wajahku, memejamkan mataku. Kalau aku tidak memejamkannya, mungkin ada beberapa tetes air mata yang terlanjur mengalir. Tapi tentu saja kau tidak perlu tahu mengenai hal itu.

Ya, aku mungkin tidak merasakan sakit yang kau rasakan, tapi aku bersumpah, aku pun merasakan kehilangan yang sama. Rasa sakit yang menusuk dadaku ini nyata. Rasanya bahkan lebih buruk daripada saat seluruh keluargaku meninggal dulu.

Kita terdiam untuk beberapa saat. Baik aku maupun dirimu sama-sama tidak bergeming.

Mungkin ini seakan mimpi buruk yang menjadi kenyataan baik bagimu ataupun bagiku.

Kau, tentu saja karena kau sudah kehilangan setengah dari dirimu yang lain, kakak kembarmu yang senantiasa mendampingimu. Dan untukku, kehilangan kakak kembarmu seakan menutup tirai kehidupanku yang baru dimulai. Seakan langit runtuh dan gravitasi tak lagi kuat menopangku.


Normal POV

Tidak banyak kata yang terucap dari Sasuke maupun Saga. Bahkan sudah lebih dari 10 menit berlalu tanpa ada dialog yang terbentuk diantara keduanya. Masing-masing dari mereka masih terdiam, tak bergeming, dimana Saga masih menyandarkan kepalanya di punggung Sasuke dan yang bersangkutan tetap berdiri tegap tanpa menoleh ke belakang.

Angin semilir berhembus membentur tubuh keduanya. Sasuke perlahan membuka matanya. Akhirnya ia memecahkan keheningan yang ada dengan memulai percakapan.

"Saga," panggilnya pelan. Suaranya yang parau mengindikasikan suasana yang jauh lebih serius. "Sebelum kakak lo meninggal, dia nitipin sesuatu ke gue."

Saga berhenti menyandarkan kepalanya. Secara spontan ia mengangkat wajahnya. Matanya jauh melebar dari sebelumnya. Wajahnya yang sebelumnya terlihat tenang kini mulai menunjukkan kegelisahan.

"Nitipin apa?" tanyanya tanpa sadar bernada penuh harap.

Sasuke menolak untuk memberikan penjelasan lebih lanjut. Ia menarik tangan Saga lalu berkata, "Ikut gue."

Saga ikut tanpa perlawanan. Ia membiarkan kakinya melangkah mengikuti langkah Sasuke dari belakang. Di sudut bangunan rumah yang terpisah dari bangunan utama—yang merupakan kamar Sasuke selama ia tinggal di rumahnya, Sasuke membawanya masuk.

Sasuke melepaskan tangannya yang semula menarik tangan Saga. Kakinya melangkah sendiri masuk ke dalam kamarnya. Saga tidak menyusulnya. Ia berdiri menunggu kakak angkatnya kembali ke tempat dimana ia meninggalkannya.

Beberapa saat kemudian Sasuke kembali membawa sesuatu di tangannya. Saga tidak memilih untuk tidak bertanya. Dalam kehingannya, Saga berusaha sendiri untuk mengidentifikasi benda di tangan Sasuke.

Sasuke membuka tangan Saga lalu meletakkan benda itu di atas tangan 'adiknya'.

"Itu dia titipin buat lo beberapa hari sebelum dia meninggal." jelas Sasuke pelan. Ia memberikan secarik kertas tambahan pada laki-laki beriris coklat di hadapannya. "Dan ini pesan terakhir dia buat lo."

Saga membelalakan matanya mendapati kalung pendant hitam di telapak tangannya. Ia sungguh sangat tidak asing lagi dengan benda itu. Ia ingat kalau beberapa tahun lalu ia dan kakak kembarnya sama-sama mendapatkan kalung identik yang hanya berbeda warna—putih dan hitam, dari seseorang yang sangat spesial bagi mereka.

Ia melirik secarik sobekan kertas yang diberikan Sasuke padanya. Ia sangat mengenal tulisan tangan yang ada di atas kertas itu.

'Be strong'

Hanya dua kata itu yang tertulis di atas kertas itu. Pesan yang sangat singkat bukan?

Saga diam tak bergeming. Matanya terpaku memandangi kedua kata di atas kertas yang ia pegang. Ekspresinya tidak bisa terbaca. Jelas matanya kembali menyorotkan kesedihan yang mendalam, namun wajahnya tetap terlihat tenang dengan ekspresi minim.

Sasuke dengan lembut mengelus kepala Saga lalu mengutip dua kata yang tertulis di kertas itu: "Be strong." ujarnya pelan.

Lagi-lagi Saga tidak bergeming. Ia kembali terdiam cukup lama sembari menundukkan kepalanya. Sasuke tahu di saat seperti ini Saga butuh waktu untuk sendiri, ia sudah terlalu mengenal Saga.

Tanpa perlu menunggu perintah, Sasuke melangkahkan kakinya pergi ke arah pintu. Namun sebelum ia benar-benar pergi, ia berbalik dan tersenyum tipis pada Saga. "If you need me, I'll be in the backyard."

Sasuke tidak menaruh ekspektasi lebih pada Saga, ia tahu mungkin suaranya sudah tidak terdengar lagi untuk Saga. Tidak masalah, Saga sedang mengalami masa-masa terberat dalam hidupnya dan Sasuke sangat mengerti itu.

Setelah melangkahkan kakinya ke halaman belakang, Sasuke berhenti lalu merogoh secarik kertas dari saku celananya. Sebuah tulisan kecil yang terlihat identik dengan tulisan kakak kembar Saga. Tulisan singkat yang hanya bertuliskan satu kata: "Sasuke."

Sasuke kembali memasukkan kertas tersebut pada saku celananya. Ia menengadahkan kepalanya ke atas. "In my opinion, he's more fragile than we expected, don't you think? You really should give those necklace and that message to him, not me."

Sekali lagi, Sasuke membiarkan semilir angin menghembus wajahnya.


Sasuke POV

Pemakaman kakakmu berlangsung lebih tenang dari dugaanku. Beberapa isak tangis terdengar mengantarkan kepergiannya ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Namun aku tidak sekalipun mendengar tangisanmu. Kau benar-benar berhasil mengukir sempurna ekspresi palsu di atas wajahmu.

Satu persatu orang yang hadir meninggalkan bunga di atas makam kakakmu sebagai bentuk penghormatan terakhir, termasuk ibumu, termasuk aku dan kau. Dan perlahan satu persatu dari mereka mulai menghilang meninggalkanmu yang masih terpaku di depan makam kakak kembarmu.

Kau tidak bergerak, tidak bergeming, tidak mengucapkan satu patah kata pun namun juga tidak menitikkan air mata. Kau benar-benar diam dalam keheningan yang sempurna.

Kau, adikku yang manis, benar-benar pandai membuat orang harus memutar otak untuk memprediksi apa yang sebenarnya ada di dalam isi kepalamu itu.

Aku berada dalam jarak kira-kira 12 kaki dari tempat dimana kau berdiri. Aku tahu, kau tidak mau ada orang yang terlalu dekat denganmu saat ini. Termasuk pacarmu. Apalagi aku. Karena itu aku membiarkanmu menatapi nisan bertuliskan nama kakak kembarmu hingga kau puas.

Entah berapa lama waktu yang berlalu, akhirnya kau membalikkan tubuhmu dan melangkahkan kakimu pergi menjauh dari tempat perisitrahatan terakhir kakak kembarmu. Kau berjalan ke arahku dan menghentikan kakimu tepat di sebelahku.

Kau menepuk pundakku pelan dan menyerahkan kalung serta secarik kertas yang kuberikan padamu. "You're a very terrible liar, Sasuke."

Lalu kau berjalan pergi meninggalkanku.

Entah aku mulai gila atau mungkin aku kehabisan respon, aku hanya bisa tertawa kecil. Anehnya, air mataku mengalir bersamaan dengan tawa yang keluar dari mulutku.

"Saga, I think I underestimated our brother."

Aku mengambil secarik kertas yang dikembalikan oleh Saga padaku dan mengambil secarik kertas lain dari saku celanaku lalu menggabungkannya menjadi sebuah kalimat yang sempurna. Dan terbentuklah 3 kata terakhir yang diberikan oleh Saga senior padaku: "Be strong, Sasuke."

Aku menutup mata dan membiarkan memori 3 hari yang lalu kembali berputar di otakku. Saat-saat terakhir yang kulalui bersama Saga secara serentak menginvasi ingatanku.

Aku ingat bagaimana kau tersenyum padaku, bagaimana suaramu memanggil namaku, bagaimana kau merajuk saat aku berusaha membujukmu untuk memakan beberapa suap tambahan dari porsi makanmu. Aku ingat kita tertawa geli setelah bertengkar dan menertawakan alasan mengapa kita ngotot mempertahankan pendapat satu sama lain.

Kenangan itu terasa begitu sempurna, sehingga sakit yang ditimbulkan terasa nyata.

Gravitasi menyebabkan air mataku mengalir tanpa bisa kuhentikan. (Atau memang aku tidak berniat menghentikannya, toh tidak ada siapa pun disini.)

Sakit. Entah bagian mana dari tubuhku yang terluka hingga dadaku terasa sesak setiap kali aku mengingat kematianmu. Sempat terlintas di pikiranku untuk mengakhiri semuanya, tapi sayangnya kau, lagi-lagi kau, dengan 3 kata terakhir yang kau tuliskan untukku, berhasil memberikan alasan bagiku untuk tetap berdiri di bawah langit ini.

Harus kuakui kau memang benar-benar seorang manipulatif ulung yang bisa membaca pikiran orang lain, termasuk aku.

Aku yang semula diam perlahan mulai melangkahkan kakiku mendekat ke arah tempat peristirahatan terakhirmu. Langkah demi langkah perlahan menghapuskan jarak di antara kita. Aku menghentikan langkahku saat aku benar-benar berdiri tepat di depan nisan yang bertuliskan namamu.

Aku terdiam, membiarkan tubuhku dibasahi oleh rintik hujan yang baru saja menetes turun dari langit. Mataku terpaku memandangi nisanmu.

"I… I'm sorry… I cannot protect you." ujarku seakan sedang melakukan pengakuan dosa dan memohon pengampunan. "I always said that my entire life is only to protect you yet what have I done? I was failed to protect you." sambungku.

"But this time… I promise you… I won't let the same thing happened to your brother. I won't give up on him. I swear I'll do anything to protect him." ujarku pelan hingga mungkin suara hujan berhasil menyamarkan suaraku dengan sempurna.

Mungkin aku terlihat seperti orang gila, mengeluarkan seluruh isi hatiku pada batu nisan yang bahkan tidak bernyawa. Apa yang kuharapkan? Berharap nisanmu menyahut semua perkataanku? Aku benar-benar menyedihkan.

Aku kembali terdiam, kembali membiarkan air hujan turun membasahiku dari ujung rambut hingga ujung kaki. Membiarkan air hujan menyamarkan air mata yang mengalir dari sudut mataku.

Entah beberapa saat yang sudah berlalu, yang jelas aku berdiri terpaku memandangi nisanmu hingga hujan berhenti. Langit yang semula kelabu perlahan mulai memancarkan sinarnya.

Aneh, entah apa sebabnya, perasaanku jauh lebih tenang daripada sebelumnya. Mungkin air hujan yang menguyur tubuhku berhasil mendinginkan kepalaku, atau mungkin mengeluarkan semua yang ada di pikiranku di depan nisanmu membuat bebanku terasa berkurang. Entahlah, aku sendiri tidak bisa menjelaskannya.

Seperti hukum alam yang berlaku di dunia ini, bahwa keseimbangan merupakan hal yang absolut. Setiap nyawa yang terengut pasti akan digantikan dengan nyawa baru yang lahir. Setiap kesedihan yang hadir pasti perlahan akan berganti dengan kebahagiaan. Setiap tetes air mata yang jatuh akan terganti oleh senyuman yang indah.

Hukum alam tersebut mengingat tanpa terkecuali, termasuk aku.

Kehilanganmu mungkin berarti aku telah kehilangan alasanku untuk berada di dunia ini. Tapi, kau tidak begitu saja meninggalkanku. Kau meninggalkanku dengan sebuah alasan baru yang membuatku tetap tinggal disini.

Aku tersenyum kecil memandangi nisanmu untuk terakhir kalinya. "Rest in peace, Saga."

Aku pun berbalik dan melangkahkan kakiku pergi.

Kali ini, aku telah menetapkan hati. Aku mungkin gagal menjagamu, aku gagal melindungimu seperti apa yang aku janjikan. Karena itu, kali ini aku bersumpah aku akan melindungi adik kembarmu, apa pun yang terjadi… selamanya.

Saga.

Lagi-lagi menjadi alasan aku tetap berpijak di bawah langit ini.


-The end-

A/N: well, I know I cannot make a good epilogue due to lack of imagination. I want to make everyone see that…actually… Sasuke is really caring and love bocchama. So even though I'm suck at making the epilogue, I hope S14 can still entertain you. ^^ (bow)