My Annoying Cousin

.

By : Gia-XY

.

Disclaimer :

Story, all character (c) Gia-XY

.

Warning :

Krisis kosakata, gaje, gak nyambung (mungkin?), typo, misstypo, DLDR

.

A/N : Hwahaha, fic kedua di FP! Saya nyelesain ini kurang dari 1 jam loh (emang ada yang nanya?)! Makasih banget buat Litte Yagami Osanowa yang udah membantuku mencarikan judul buat fic ini! Ok, maafkan semua kecacatan di fic ini! Dan ingat, Don't Like Don't Read! Happy reading!

.

Problem 1

New Roommate

.

.

Ini hari minggu, dan tentunya seperti biasa, aku hanya tidur-tiduran sambil memegang handphone BlackBerryku. Yah, biasa, tidur-tiduran sambil chatting make BBM, alias BlackBerry Messenger. Kukira hari ini akan jadi hari Minggu yang biasa-biasa saja, tapi aku salah.

"Ngh, sial! Kenapa tidak dibales-bales juga sih!?" keluhku saat melihat ke layar BBku.

Aku lalu beranjak dari tempat tidurku dan memperhatikan seluruh isi kamarku.

1 kata yang akan dilontarkan kalau orang lain melihat kamarku, 'berantakan'. Yah, menurutku sih biasa saja, soalnya aku sudah terbiasa melihat kamarku yang berantakan ini. Oh, ya sudahlah! Toh yang tinggal di kamar mansion ini aku, cuma aku sendiri, bukan orang lain. Itulah pikirku pertama kali.

Tiba-tiba aku merakan BBku bergetar dengan alunan musik Magnet yang dinyanyikan oleh Hatsune Miku dan Megurine Luka dari Vocaloid. Langsung saja kujawab panggilan yang aku tau itu dari okaa-san itu.

"Moshi-moshi," kataku menjawab panggilan itu.

/Ah, Haruna! Ini kaa-san,/ terdengar suara kaa-san yang ada di ujung telepon.

"Iya, aku tau, ada apa kaa-san?" tanya tanpa basa-basi lagi.

/Begini, kau masih ingat sepupumu kan, Si Kanata?/

Cih, orang itu. Ngapain sih kaa-san bawa-bawa nama orang itu?

"Em, ya, aku masih ingat. Memangnya kenapa?" tanyaku.

/Dia mulai tahun ini akan kuliah di Tokyo, tapi sekarang dia tidak punya tempat tinggal, jadi kaa-san bilang dia tinggal bersamamu saja. Nah, dia sepertinya akan datang sebentar lagi, kaa-san minta tolong, bantu Kanata ya! Rukun-rukun dengannya! Kalau begitu, jaa./

"Matte, kaa-san!" seruku berusaha mencegah kaa-san menutup teleponnya.

Telat, kaa-san sudah menutup telponnya lebih dulu.

AKH! KAA-SANNNN! KENAPA KAU MEMBIARKAN ORANG ITU TINGGAL BERSAMAKU!? AKU KAN BENCI BANGET SAMA SEPUPU COWOKKU YANG NAMANYA 'KANATA' INI!

Ukh, protes sendirian di dalam hati sekarang! Kaa-san tidak akan mendengar ataupun membantuku! Kalau begini, caranya untuk bebas dari penderitaan yang akan datang ini cuma satu... USIR KANATA! IYA! BENAR! USIR DIA! HAHAHAHAHA!

Tiba-tiba saja pintu kamarku terbuka. Eh, tunggu! Bukannya aku sudah mengunci pintu kamar tadi!?

Sesosok lelaki berambut coklat bermata merah ruby berdiri di depan pintu kamarku yang sudah terbuka sambil memegang gagang pintu. Matte! Jangan-jangan dia...

"Haruna... KAMAR MACAM APA INI!? BUKANKAH DULU SUDAH PERNAH KUBILANG, JANGAN BIARKAN KAMARMU BERANTAKAN! KAU TAU TIDAK SIH KALAU SEBUAH KAMAR ITU MENCERMINKAN PRIBADI PEMILIKNYA!" teriak lelaki yang kutebak sebagai Kanata itu.

Cih! Ternyata dia sama sekali tidak berubah!

"He? Suka-suka aku dong! Ini kan kamarku! Sebagai orang yang numpang, kau tidak berhak memarahiku!" kataku kesal.

"Sebagai sepupumu yang lebih tua darimu, tentunya aku berhak membaritau yang benar padamu! Lagipula kan kita akan tinggal bersama, dan aku tidak mau kamar ini berantakan dan tidak nyaman untuk ditinggali olehku," katanya.

"Tapi kan—"

Ckrek!

Omonganku terpotong oleh suara kamera dari handphone Kanata.

"Hashimoto Yuuya, orang yang kau taksir kan? Bagaimana kalau dia melihat keadaan kamarmu ini?" tanya Kanata dengan senyum mengejek.

A-apa!? Darimana dia tau tentang Yuuya-kun?! Grhh! Haibara Kanata! Lihat saja pembalasanku nanti!

"Jadi? Ayo bereskan," suruh Kanata.

"Dasar kakek cerewet! Iya-iya! Akan kubereskan," kataku dengan nada kesal.

"Bagus-bagus. Baiklah, akan kubantu," kata Kanata sambil mengambil barang-barangku yang berserakan di lantai.

"Ngomong-ngomong, darimana kau tau tentang Yuuya-kun?" tanyaku.

"He? Kau lupa, apa sih yang tidak kuketahui? Aku kan tau segalanya," katanya dengan PeDenya.

"Iya-iya, terserah kau," kataku cuek sambil membantunya membereskan kamaku—salah, kamar kami.

"Lalu, kenapa kau bisa masuk ke kamarku? Tadi kan pintunya sudah kukunci," kataku bingung.

Kanata lalu menunjukkan sebuah kunci padaku. Kunci dengan gantungan berukirkan nomor 105. Itu kan nomor kamarku!

"Aku dapat kunci ini dari oba-san," kata Kanata.

Kenapa aku bisa lupa kalau pengelola mansion ini adalah okaa-sanku sendiri?!

Yah, sepertinya akan susah mengusir sepupu reseku yang satu ini, atau mungkin memang tidak bisa? Tentunya karena dia memegang rahasiaku tentunya dan karena dia mengancamku! Cih! Kenapa sih dia bisa tau kalau aku suka sama Yuuya-kun?! Terpaksa aku harus bertahan untuk hidup dengan sepupu cerewetku yang satu ini!

.

.

Tsuzuku