Harukaze

.

Chapter 1: Our first met


Bel istirahat makan siang berbunyi. Seorang gadis, siswi tahun pertama sebuah sekolah menengah atas, sedang sibuk memperhatikan bayangan dirinya di cermin toilet sekolah. Ia mengeluarkan sebuah tube kecil yang berisi cairan kental berwarna pink cerah dari dalam saku roknya. Dengan hati-hati, ia pun mengoleskan cairan kental tersebut di bibirnya. Setelah puas, gadis itu pun bergegas kembali ke kelas untuk menyantap bento-nya.


"Misha, kau menggunakan.. pelembab bibir?" tanya Tara heran.

Gadis itu, Misha, terlihat gugup. Dengan perlahan ia menjawab, "Sedikit..", dan dengan segera ia menyantap bento-nya.

"Wah.. wah.. ada apa ini? Adakah seseorang yang kau sukai?" celetuk Mary, gadis yang sejak tadi memperhatikan perubahan pada teman kecilnya itu.

"Bukan begitu," jawab Misha dengan tenang, walaupun sebenarnya ia benar-benar gugup, "Lagipula aku belum pernah merasakan bagaimana rasanya tertarik pada seseorang. Walaupun aku mau, aku tidak tahu bagaimana harus memulainya. Aku.. sedang mencoba untuk.. jatuh cinta".

"Hahaha.. Tau tidak, aku sudah punya seseorang yang kusukai, lho," sontak saja perkataan Mary ini membuat kedua temannya terkejut.

"Siapa? Siapa lelaki itu?" tanya Tara dan Misha dengan penuh rasa penasaran.

"Mizuki Kento, dari kelas 1-E," ucap Mary dengan sedikit berbisik.

"HAH?! Mizuki?!" pekik Tara.

"Hei, Tara, memangnya ada apa dengan Mizuki?" Misha terlihat heran dengan ucapan dan ekspresi temannya itu.

Dengan wajah sedikit khawatir, Tara pun berkata, "Mary, kusarankan agar kamu menyerah saja," Tara menelan ludah, "Aku sering mendengar rumor tak sedap tentang anak itu. Percayalah padaku, mungkin ia bukan orang baik-baik."

"Aaah kau ini, ada-ada saja. Itu kan hanya rumor belaka," Mary mengibas-ngibaskan tangan di depan wajahnya, tanda ia tak setuju.

Tiba-tiba, Kento lewat di depan kelas mereka. Nafas Mary tertahan, wajahnya memerah, dan detak jantungnya semakin cepat.

"Nah, teman-teman, itu dia, Mizuki Kento," Mary berkata dengan sedikit gugup.

Setelah cukup keberanian yang dikumpulkannya, disertai dengan suara dan ekspresi yang se-imut dan semanis mungkin, Mary berteriak, "Halo, Mizuki~". Mendengar namanya dipanggil, Kento pun menoleh dan tersenyum, lalu melangkah pergi. Namun, Mary tersentak. Kento tidak tersenyum padanya, melainkan kepada Misha yang sedang duduk tepat disebelahnya.

"Mi-Misha, Mi-Mizuki, tadi.." wajah Mary menunjukkan ekspresi tak percaya.

"Mary, tenanglah, Mizuki juga tersenyum padamu kok. Mungkin ini hanya kebetulan saja karena aku ada disebelahmu, Mary, dan aku yakin ia pasti lebih tertarik padamu," ucap Misha menenangkan Mary.

"Ya, bisa jadi. Lagipula, aku tahu, kau adalah sahabat yang baik, Misha,"

Tara pun muncul diantara mereka, "Umm, maaf mengganggu, tapi sebentar lagi kelas akan dimulai, teman-teman".

"Haha, yaa kau benar, Tara," ucap Misha yang kemudian mempersiapkan buku-buku untuk pelajaran selanjutnya. "Umm, Mary, Tara, sepertinya aku harus pergi ke loker. Catatan dan pekerjaan rumahku tertinggal disana," ujar Misha karena tidak dapat menemukan kedua hal itu di tasnya.

"Cepatlah kembali, sebentar lagi kelas dimulai," Tara dan Mary mengingatkan Misha.

"Baiikk.." Misha pun segera berlari menuju lokernya berada.


Koridor tempat loker-loker siswa berada tampak sepi. Ya bagaimana tidak, tinggal 2 menit sebelum bel pelajaran selanjutnya. Misha pun segera mempercepat langkahnya.

Cklek.. cklek..

"Eh?"

Misha menemukan lokernya macet. Oh tidak! Bagaimana ini? Catatan dan pekerjaan rumahnya ada di dalam sana dan tidak lama lagi jam pelajaran selanjutnya akan dimulai. Misha mulai panik. Ia coba memutar kuncinya beberapa kali lagi. Namun, nihil! Loker itu tetap enggan untuk terbuka.

Misha terduduk lemas, "Hhh, apa yang harus aku lakukan sekaraaang?"

"Permisi.." terdengar suara seorang lelaki dari belakang Misha.

"E-eh, i-iya?" ucap Misha tergagap, lelaki itu telah membuatnya sedikit terkejut.

"Lokermu bermasalah?" tanya lelaki berkacamata itu.

"Ano, sebenarnya lokerku macet dan aku meninggalkan catatan serta pekerjaan rumahku.. di dalam sini," Misha menunjuk lokernya yang sulit terbuka.

"Boleh kupinjam kuncinya sebentar?"

"Ini," Misha pun memberikan kunci lokernya pada lelaki itu.

Cklek.. Cklek..

Diam-diam Misha memperhatikan lelaki itu. Penampilannya, bisa dibilang, sedikit berantakan. Rambut bagian depannya hampir menutupi seluruh bagian mata lelaki itu. Kacamata yang ia gunakan lumayan tebal, yang berarti, penglihatannya benar-benar buruk.

Cklek.. Cklek.. Cklek..

Hmm.. sepertinya dia murid tahun pertama juga sepertiku, pikir Misha. Dari raut wajahnya, lelaki berkacamata ini adalah orang yang pendiam. Tapi, dia baik kok, ucap Misha dalam hati.

CKLEK!

"Huuuuft, akhirnya bisa terbuka. Ini, kuncinya," lelaki itu pun menyerahkan kunci loker Misha.

"Oh!" Misha tersadar dari lamunannya, "I-iya, doomo arigatoo gozaimasu," Misha pun membungkuk tanda terima kasih.

"Iie," jawab lelaki itu yang langsung melangkah pergi meninggalkan Misha.

"Eh, tunggu!" tanpa sadar Misha berteriak untuk menghentikan lelaki itu. "Kamu murid tahun pertama juga, kan?"

"Ya," jawab lelaki itu, dingin.

"Siapa namamu? Kelas?" tanya Misha.

"Hazama Yuuta. Kelas 1-A," jawab lelaki berkacamata itu, Yuuta, singkat.

"Eh? 1-A? Ka-kamu sekelas denganku?" Eeh? Yang benar saja? Kok, selama ini aku belum pernah melihatnya? pikir Misha

Yuuta pergi tanpa memberi jawaban pada Misha, yang masih terkejut dan sedikit heran.

Kriing.. Kriinngg.. Kriiiingg..

"AH! Bel!" Misha pun segera mengambil catatan dan pekerjaan rumahnya, lalu dengan cepat melesat menuju ruang kelas.

Misha tidak menyadari bahwa ada seseorang yang mengawasi gerak-geriknya sejak ia meninggalkan kelas tadi.


"Baik semuanya, kita cukupkan pertemuan hari ini. Jangan lupa kerjakan tugas kalian untuk pertemuan selanjutnya," ucap Mayu-sensei mengakhiri pelajaran Sains untuk pertemuan kali ini.

"Siap, sensei," jawab seluruh murid di kelas.

Kriing.. Kriiing.. Kriiing.. Kriing..

"Yeaaaah~! Akhirnya pulaang," ujar Tara kegirangan.

"Tara bisa-bisanya segirang ini…" Mary menunduk lesu, "Sungguh aku tidak mengerti dengan apa yang Mayu-sensei jelaskan. Mishaa ayo ajarkan akuu.." Mary pun langsung menghamburkan diri ke arah Misha.

Yang dipanggil malah diam saja. Misha masih sibuk berkutat dengan catatannya. Sudah tak terhitung jumlah ia menulis dan mencoret tulisannya. Ia masih penasaran dengan soal yang diberikan Mayu-sensei tadi. Tiba-tiba kepalanya terasa nyeri. Akhirnya Misha melepas kacamatanya dan memutuskan mengakhiri 'pencariannya' tersebut. Ia meyandarkan kepalanya ke tumpukan buku catatan yang berserakan diatas mejanya. Perlahan, matanya mulai terasa berat.

"Mishaaaaaaa!"

DUAK!

Misha terperanjat, puluhan lembar kerja yang berisi ratusan format pengamatan mendarat dengan manis di kepalanya, "Aduuuuhh, Mary!" Misha menoleh dengan wajah kesal ke arah Mary, "Tidak bisakah kau tidak menggangguku sehariii saja".

Mary mengeluarkan wajah 'tak berdosa'nya, ia tersenyum menunjukkan deretan giginya yang diberi 'pagar', "Ya maaf deh. Tapi kumohon ajarkan aku, huaaa, aku tidak yakin bisa menyelesaikan semua laporan ini dalam waktu satu minggu," ujar Mary memohon-mohon pada Misha.

"Hmmm.. bagaimana mau membantumu, aku saja belum yakin bisa menyelesaikan semua ini," Misha mengayun-ngayunkan lembar laporan itu.

"Kau saja tidak yakin, bagaimana dengan kami. Ya kan, Mary?" celetuk Tara, yang tiba-tiba muncul diantara mereka, yang kemudian disusul oleh anggukan mantap Mary.

"Ya sudahlah, ayo lupakan laporan itu untuk sejenak," ujar Misha mencoba untuk menenangkan kedua temannya.

"Yaa mungkin kau masih bisa tenang, huuuuff," Mary menghembuskan nafas kuat-kuat, "Oh iya, kenapa tadi kamu terlambat masuk kelas?"

"Ada masalah sedikit. Lokerku macet, sulit sekali dibuka," jawab Misha.

Tara yang mendengarkan jadi ikut penasaran, "Lalu, apa yang terjadi?"

"Untunglah ada anak laki-laki yang lewat dan menawarkan bantuan," jelas Misha. Lalu ia melanjutkan, "Hmm, ngomong-ngomong, kalian tahu Hazama Yuuta?"

"Hazama? Ya dia kan sekelas dengan kita. Masa kamu bisa tidak menyadarinya?" jawab Tara yang diakhiri dengan pertanyaan.

"Hmmm ada apa, Misha? Kau suka padanya~?" goda Mary, "Oooh ayolah, orang itu dingin sekali. Lagipula, coba kau perhatikan penampilannya, uuuuhh, kalau aku sih lebih baik tidak berurusan dengannya. Kemana pun dia pergi pasti membawa buku, benar benar—"

"Bukan begitu, Mary," ucap Misha memotong perkataan Mary, "Hanya saja dialah yang membantu membukakan lokerku".

"Benarkah? Ya sudah, terserah kau saja," balas Mary.

"Sudahlah teman-teman, mari kita pulang," Tara pun segera beranjak untuk mengambil tasnya, lalu disusul oleh Mary.

"Duluan ya, Misha~" ucap Tara dan Mary bersamaan, "Nanti hati-hati dijalan".

"Jaa, matta ashita," jawab Misha singkat. Ia pun segera merapikan catatan dan alat-alat tulisnya yang berserakan di meja. Setelah itu, Misha bergegas keluar kelas dan pulang.

Untuk kedua kalinya, sosok itu muncul lagi. Seseorang yang terus bergerak tak terlihat dan memperhatikan gerak-gerik setiap orang disekitarnya.

"She at that time, still didn't realize that love had already came by her side".


Tsuzuku..

Note: Hai minna~ Ini adalah fiction pertama Micky. Maaf karena dalam fic yang Micky tulis ini masih terdapat banyak kesalahan, hehe.. Mohon bantuannya, minna-sama.. *bows* Mind to RnR, please? :)