"… when all of nature is aglow with the radiance of spring, a single bud may blossom into countless flowers…"

Beautiful Moments belongs to Iris la Verius

Genre : Romance

Rate : K+

Pair : Hyota S. x Ayaka H.

.

.

Enjoy reading!

.

.


Semilir angin menerpa wajah tan Hyota. Ia mengayuh sepedanya santai sepanjang jalan di desa kecil itu. Ia memutuskan untuk menghabiskan liburannya di sini, di desa kelahirannya sebelum ia pindah ke kota dulu. Mata biru lautnya tak bisa berhenti berdecak kagum, keindahan musim semi di desanya memang tiada tandingan. Masih sama seperti dulu, hijau dan asri dengan pohon bunga Sakura yang tengah bersemi.

Hyota memandang kiri dan kanan jalan, penuh dengan hamparan bunga-bunga dan ladang. Hyota menghentikan sepedanya tatkala dilihatnya sesosok gadis dengan topi lebar menari-nari di tengah padang bunga Lavender. Hyota turun dari sepedanya, matanya tak bisa berhenti memandang gadis berambut panjang sepinggul itu.

Rambutnya hampir senada dengan bunga-bunga beraroma khas di sana. Dengan biasan sinar mentari sore, menambah keelokan yang dipancarkannya. Dress selutut yang dikenakan gadis itu melambai-lambai tersapu angin. Angin yang mendadak berhembus kencang, menerbangkan topi lebar putih yang dikenakan gadis itu. Gadis itu menoleh, hingga Hyota bertemu pandang dengan mata keunguan itu, mata terindah yang pernah dilihatnya …

Hyota memungut topi yang jatuh itu, lalu berjalan mendekati gadis yang tertunduk…

"Ini milikmu nona." Ujar Hyota. Gadis itu mengambil topinya dengan cepat.

"A-arigatou …" suara lembut itu menggelitik indra pendengaran Hyota.

"Namaku Hyota Saruhiko, namamu nona?" tanya Hyota memberanikan diri.

"A-Ayaka. Ayaka Haruna." Jawab gadis yang mengaku bernama Ayaka itu tertunduk.

"Salam kenal, Ayaka-chan! Boleh kupanggil begitu?" Hyota melihat anggukan kecil sebagai respon. "Oh iya, apa kau tinggal disekitar sini, Ayaka-chan?" Tanya Hyota.

"I-iya, ru-rumahku tak ja-jauh dari si-sini. La-lalu Hyota-san?" Ayaka menjawab sedikit tergagap. Hyota tergelak.

"Jangan formal begitu, panggil saja aku Hyota." Ujar Hyota, ia memang seseorang yang supel dan carefree person.

"Hy-Hyota-kun?" benah Ayaka, Hyota hanya mengangguk sebagai jawaban. Hyota memandang jam di tangan kirinya, jam enam kurang dua puluh menit.

"Ara, waktu berlalu cepat sekali. Eh Ayaka-chan, kau tak pulang?" Tanya Hyota.

"A-ah e-etto aku akan pulang sekarang. Jaa ne, Hy-Hyota-kun." Ayaka bergegas pergi dari sana, meninggalkan Hyota yang terbengong melihatnya.

"Perasaanku karena bias matahari saja atau memang wajahnya memerah ya? Ah sebaiknya aku pulang sekarang, Paman Masahiro pasti mencariku." Hyota menghampiri sepedanya yang ia sandarkan di tanah, lalu naik dan pulang menuju rumah pamannya.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali ia sudah pamit pada pamannya untuk berjalan-jalan. Masahiro hanya geleng-geleng melihat tingkah laku keponakannya itu. Hyota nyengir diberi nasihat untuk berhati-hati. Setelah pamit, ia langsung meluncur menuju padang bunga Lavender kemarin, tempat ia bertemu dengan gadis misterius bernama Ayaka, siapa tahu ia bisa berjumpa lagi dengan gadis manis itu.

Hyota menghirup nafas dalam-dalam. Ia harus menelan kekecewaan tatkala tak didapatinya gadis itu di padang bunga keunguan kemarin. Hyota menyamankan duduknya di pinggir parit dekat padang bunga Lavender. Ia menghela nafas, sia-sia sudah usahanya untuk bangun pagi kali ini. Tapi tak apa, bersantai ditemani wewangian khas bunga Lavender sedikit banyak menghilangkan penat yang melanda.

"Hy-Hyota-kun…" tepukan lembut di pundaknya menyadarkan Hyota dari kantuk yang mendera.

"Ayaka-chan! Ku kira aku tidak akan bertemu denganmu lagi!" cengir Hyota. Ayaka hanya tersenyum tipis dengan wajah yang ia sembunyikan lewat tundukan.

"U-untuk apa Hy-Hyota-kun kemari?" Tanya Ayaka.

"Aku hanya ingin melihatmu, apa itu tak boleh? Kalau tak boleh aku pulang sa.." Ayaka menarik lengan jaket Hyota.

"Te-tentu sa-saja bo-boleh, Hy-Hyota-kun…" ujar Ayaka malu-malu. Hyota tertawa renyah, lucu sekali tingkah gadis manis ini.

"Lalu kau sendiri untuk apa kemari, Ayaka-chan?" tanya Hyota agak penasaran.

"E-etto…a-aku me-merawat ladang bunga i-ini…" balas Ayaka. Hyota memiringkan kepalanya, bingung.

"Ma-maksudku a-aku me-merawat la-ladang i-ini untuk ku-ku ju-jual bu-bunganya, be-begitulah Hy-Hyota-kun…" tambah Ayaka, Hyota manggut-manggut mengerti.

"Mau kubantu Ayaka-chan? Kebetulan aku sedang senggang." Ujar Hyota. Ayaka berkedip-kedip, bingung menjawab ya atau tidak.

"Ti-tidak usah Hy-Hyota-kun. A-aku ti-tidak ingin me-merepotkanmu…" jelas Ayaka. Hyota menggeleng.

"Tidak apa Ayaka-chan, aku tidak merasa direpotkan. Ayo kita mulai!" Hyota menarik tangan Ayaka, lalu turun menuju padang bunga Lavender. Blush. Wajah Ayaka merona, tangan Hyota begitu besar dan err hangat… "Kau tak apa, Ayaka-chan?" Hyota melambaikan tangannya di depan wajah Ayaka. Ayaka hanya menggeleng lalu ikut turun ke padang bunga.

Hyota menerima gunting dari Ayaka. Ia diminta untuk memotong tangkai demi tangkai bunga Lavender. Sebelumnya, Ayaka memberi contoh kepada Hyota cara memotong yang benar. Hyota mengangguk paham lalu mulai memotong. Ayaka menyerahkan sebuah keranjang kecil kepada Hyota.

"Le-letakkan bu-bunga yang sudah dipotong da-dalam keranjang ini. Letakkan de-dengan ha-hati-hati, Hyota-kun." Ujar Ayaka.

"Baiklah, Ayaka-chan!" Hyota memegang keranjang di tangan kiri, gunting di tangan kanan.

Hyota sibuk memilah-milah bunga yang sudah bisa dipotong. Sedangkan Ayaka sibukmengikat bunga-bunga yang dipotong Hyota. Saking asyiknya memotong bunga, Hyota tidak sadar kakinya tersangkut dengan belukar yang tumbuh.

"UWAA!" BRUK! Hyota jatuh dengan tidak elitnya. Ayaka buru-buru menghampiri Hyota.

"Da-daijobu desu ka, Hy-Hyota-kun?" tanya Ayaka. Hyota bangun lalu menepuk pelan baju yang dikenakannya.

"Daijobu, Ayaka-chan! Ayo lanjutkan memotong bunga-bunganya!" Hyota berujar ceria, lalu mengambil guntingnya yang terserak di tanah.

Tak terasa, hari semakin sore dan kini Hyota dan Ayaka sudah mendapat dua keranjang besar bunga Lavender. Hyota membawa kedua keranjang, berdalih tidak ingin Ayaka membawa benda berat.

"Ma-mari Hy-Hyota-kun. Bi-biarkan a-aku me-membawa salah sa-satu keranjang." Pinta Ayaka. Hyota menggeleng, ia menolak.

"Biar aku saja Ayaka-chan. Ini cukup berat, apa kau sudah lama melakukan ini?" Tanya Hyota.

"Tak ap-apa Hyota-kun, a-aku sudah te-terbiasa. A-aku su-sudah me-melakukannya li-lima tahun be-belakangan ini." Jelas Ayaka.

"Lalu, kita akan membawa keranjang-keranjang ini kemana?" Hyota meletakkan satu keranjang di depan sepedanya.

"A-ayo ba-bawa ke-ke rumahku." Balas Ayaka.

"Ayaka, bagaimana kalau kau duduk di jok belakang sambil membawa keranjang satunya?" tawar Hyota.

"Ta-Tapi a-aku be-berat Hy-Hyota-kun…." Balas Ayaka.

"Tidak apa, aku kuat kok! Ayo!" Hyota menarik tangan Ayaka untuk duduk di belakangnya. Hyota lalu mulai mengayuh sepedanya.

"Rumahmu lewat mana Ayaka-chan?" Tanya Hyota diperjalanann.

"Ke kiri l-lalu lurus. I-ikuti sungai kecil A-hingga me-menemukan po-pohon Sakura t-terbesar. Di-disanalah r-rumahku." Jelas Ayaka.

"Baik! Pegangan yang kuat Ayaka-chan!" Hyota menambah kecepatan kayuhan sepedanya. Ayaka terpaksa melingkarkan tangannya di pinggang pemuda itu.

Akhirnya, Hyota dan Ayaka sampai di sebuah rumah sederhana bercat gading dengan puluhan pot bunga berjejer rapih di depannya.

"Wuah, indah sekali, Ayaka-chan! Kau tinggal sendiri?" tanya Hyota setelah sampai.

"A-arigatou, Hyota-kun…a-aku tinggal be-bersama a-adikku." Balas Ayaka.

"Lalu dimana adikmu sekarang?" Hyota duduk di balai kecil di depan rumah Ayaka.

"I-ia se-sedang me-mengirim bu-bunga ke pe-pembeli di desa i-ini." Ayaka meletakkan keranjang bunganya di dalam rumah. Ia lalu membuat segelas teh untuk Hyota.

"I-Ini Hy-Hyota-kun…" Ayaka menyerahkan gelas penuh teh itu pada Hyota. Hyota tentu menerimanya dengan senang hati.

"Arigatou, Ayaka-chan!" Hyota lalu menyesap teh itu dengan hikmad.

Begitulah kegiatan mereka. Hyota kini bangun pagi-pagi sekali selama liburan. Hal yang membuat Masahiro –sang paman membuka rahangnya lebar-lebar. Dimana Hyota yang pemalas itu? Pikirnya heran. Hyota selalu menuju padang bunga Lavender. Ia selalu menunggu kedatangan Ayaka di sana dan membantu gadis itu memetik bunga.

Ayaka merenung dikamarnya. Hampir selama dua minggu ini Ayaka menghabiskan waktu bersama pemuda tampan itu. Entah mengapa ia –mulai nyaman bersama pemuda itu. Senyumnya yang cerah, sikapnya yang ramah, semuanya…semuanya membuatnya tenang. Jantungnya mulai berdetak tak karuan tatkala ia berada di dekat pemuda itu.

Hyota sendiri juga heran, ia senang berada di dekat gadis itu. Pembawaannya yang tenang, malu-malu dan telaten membuatnya kagum. Berbeda dengan teman-teman gadis Hyota yang kebanyakan memukulnya karena berusaha mendekati mereka –hei ia hanya ingin berteman baik. Tiap dekat dengan Ayaka, ia selalu merasa bahwa ia berada di surga. Tenang dan damai… senyuman manis gadis itu bahkan mampu mengalihkan dunianya. Ia betah sekali ada di desa.

Sayang, libur sekolah Hyota tersisa dua hari lagi. Dan setelah itu, ia harus menunggu beberapa bulan lagi untuk kembali lagi ke desa ini. Dan mungkin saja, ia tak bisa bertemu dengan Ayaka lagi. Hyota sibuk memikirkan hal itu semalaman, ya ia harus melakukan hal itu!

Hyota mengayuh sepedanya menuju rumah Ayaka. Begitu sampai, ia melihat gadis itu tengah menyapu halaman rumahnya yang penuh dengan kelopak bunga Sakura yang berguguran tersapu angin.

"Ohayou, Ayaka-chan!" sapa Hyota.

"O-ohayou, Hy-Hyota-kun…a-ada apa? Tu-tumben Hy-Hyota-kun la-langsung ke-kemari.." ujar Ayaka.

"Etto… aku ingin menyampaikan sesuatu padamu…" Hyota menggaruk belakang kepalanya yang agak gatal.

"Me-menyampaikan a-apa Hyota-kun?" tanya Ayaka.

"Ng, anu…um… Apa kau mau jadi pacarku?" Tanya Hyota cepat. Ayaka kaget, saking kagetnya ia sampai menjatuhkan sapu lidinya.

"Ng, etto…" Ayaka menahan jawabannya.

"Kau bisa menjawabnya besok, Ayaka-chan. Itu saja yang ingin ku sampaikan. Mata ashita!" Hyota bergegas pergi menaiki sepedanya. Meninggalkan Ayaka dengan sejuta pertanyaan.

Hari sepertinya berjalan begitu lambat bagi Hyota. Sesekali ia lemparkan batu-batu kecil ke tengah kolam yang berada di belakang rumah pamannya.

"Apa kau sudah berberes Hyota? Bukankah kau harus berangkat besok pagi?" Tanya Masahiro.

"Ya, aku sudah berberes, paman. Paman jangan khawatir." Hyota nyengir lebar, Masahiro hanya menggeleng-geleng mendengar jawaban Hyota.

Keesokan harinya, Hyota mengayuh sepedanya menuju padang bunga tempat ia bertemu dengan Ayaka. Semilir angin berhembus, menghembuskan wewangian bunga ungu kecil itu. Hyota berdiri bersama sepedanya. Sebentar lagi ia akan meninggalkan tempat ini, ia harus menunggu beberapa bulan untuk kembali lagi kemari.

"Hy-Hyota-kun…" suara lembut menggelitik itu lagi. Hyota menoleh ke belakang, melihat seseorang yang sangat dikenalnya yang mengenakan dress putih selutut dengan renda bunga-bunga kecil dipinggirannya. Seperti pertama kali bertemu, Ayaka mengenakan topi lebar berwarna putih untuk hiasan kepala.

"Ayaka-chan…" guman Hyota. Ia kini sedang tegang menanti jawaban dari bibir mungil Ayaka.

"U-untuk yang ke-kemarin … a-aku… a-aku tidak bisa …" Ayaka meremas pinggiran dressnya. Pupus sudah harapan Hyota akan gadis itu.

"Ah.. begitu ya…" Hyota lalu menaiki sepedanya, bersiap pergi untuk berangkat kembali ke Tokyo. Hingga ia dengar kembali suara gadis itu..

"Aku tidak bisa menolakmu, Hyota-kun!" Teriaknya menghentikan kayuhan sepeda Hyota. Hyota menoleh, melihat Ayaka kini menangis ditemani pantulan sinar mentari sore, disaksikan hamparan bunga yang terhembus angin. Entahlah, tapi ini adalah pemandangan terindah bagi Hyota …

"Radiance of Spring … when all of nature is aglow with the radiance of spring, a single bud may blossom into countless flowers …"

.

.

End this chapter

.

.


Author's Notes :

1. Ini fict yang saya publish juga di akun FanFiction saya

2. Penname sama

3. Sampai jumpa chapter depan!