AKU, KAMU, DAN RAHASIA

Rated : T almost M

Genre : Drama and Family dan humor dan romansa...

Warning : GJ, typo, umpatan, arsip lama, dsb dst dll dkk

Main Chara : Widita Aninggar Ayu Steladhara and Yudika Dwi Tunggal Bayudharana

DON'T LIKE DON'T READ.

PROLOG : HAI KAK. KENAPA KAU PAKAI BAJUKU?

-E. N. J. O. Y.-

.

.

.

.

.

Yudika Dwi Tunggal Bayudharana menghela nafas untuk kesekian kalinya seraya memasukkan keripik kentang rasa keju ke dalam mulutnya. Arindia Dwi Tunggal Steladhara melengos kesal melihat keberadaan saudara kembarnya di dalam kamarnya yang damai di sudut barat Kota Surabaya.

"'Ka, balik ke kamarmu sana,"

"Ogah, Rin... kamu aja yang balik ke kamarku. Lagipula disana ada mbak Dita..."

Arin—Arindia—mengerjapkn mata. "Mbak Dita pinjam PS-mu lagi?" tanyanya. Sang saudara hanya mengedikkan bahunya singkat dan menjawab "Jelas..." yang bernada ambigu sembari membaca komik Narto.

Selalu saja, batin Arin, kalau bukan PS masalahnya, ya makanan ringan. Selalu saja dua saudara tuanya mempeributkan salah satu yang berakhir ada yang mengalah namun mengumpat. Kakak-kakaknya memang sulit didamaikan, kompak hanya untuk urusan mengerjai si adik bungsu.

Widita Aninggar Ayu Steladhara merupakan mahasiswi semester tiga jurusan psikologi dari sebuah universitas ternama Kota Pahlawan, kakak perempuan dari Dika dan Arin. Gadis 19 tahun tersebut merupakan sosok kakak ideal bagi adik perempuan, namun tidak untuk adik laki-laki. Sosoknya humoris, berbadan sintal dan kekuatan fisiknya masuk dalam kategori berbahaya.

Patut disayangkan, ia pernah mengalami gegar otak yang membuatnya harus menerima kenyataan sulit mencerna suatu materi (selain yang benar-benar menarik minatnya). Adik-adiknya jauuuuhhh lebih cerdas darinya, tapi kalau soal kerja sama dan tanggung jawab, ia sudah lebih dari cukup.

Bertolak belakang dengan Yudika, kakak dari saudara kembar berbeda gender yang masih berusia 14 tahun dan duduk di kelas 3 SMP dengan pribadi dingin dan sadis. Tidak punya sense of humor, hobi melukis serta membaca (dan menggambar, sebetulnya), tidak ramah pada yang baru dikenal (kecualikan yang sudah lama mengenalnya, tapi keluarga tak masuk bagian ini selain Arin), cenderung bossy tapi hobi gombal sana-sini. Playboy kelas kakap di usia muda dan sangat misterius, lebih tertutup daripada saudari kembarnya.

Arin sendiri merupakan sosok yang tak beda jauh dari Dika. Namun ia masih lebih terbuka, tidak suka menggombal (ia bukan Playgirl) dan setingkat lebih ceria, meski itu berarti munafik sekali pun.

Arin dan Dika tidak satu sekolah, lucunya. Orang tua mereka ingin memisahkan duo kembar yang terlalu tertutup dan hanya terbuka satu sama lain, mengenalkan orang lain kepada dua remaja yang baru menginjak masa puber.

"'Ka, aku laper..." ungkap Arin manja. Ia bergelung nyaman di atas kasur dan mengenakan selimut; tepat setelah menyalakan AC-nya tercinta. Dika hanya memutar matanya dan membaca sebuah komik yang tergeletak di balik bantal si adik. "Ya makan lho,"

"Bikiniiinn," rengek Arin. Dika masih saja membaca komik dengan wajah stoik dan kembali memasukkan keripik kentangnya, mengunyahnya dengan khusyuk lalu menelannya.

"Ogah."

Arin menggembungkan pipinya sejenak—yang menurut Dika sangat menjijikkan—lalu mulai melempar beberapa barang. Barang-barang Dika yang ia bawa beberapa waktu yang lalu ke kamarnya.

"W-woi, ngapain kamu nglempar barang—woi! Headset-ku jangan dibuang!"

"Nggak mau bikinin makan, jangan harap aku ngizinin kamu asyik numpang ngadhem* disini!"

"Medhiiitt!*"

"Babah, lho!*"

Dengan begitu Bayudharana muda dengan sukses terdepak dari kamar sang saudari berhati iblis. Tertendang dengan tidak elit hingga pantatnya menjentit dan wajah berciuman dengan lantai keramik, tepatnya.

"RRIIIINNNN! BUKAIIINNN!" teriak Dika seraya menggedor-gedor pintu. Wahai pintu sungguh kasihan dirimu...

"BIKININ MAKANAN DULUUUU!" balas si adik tak mau kalah. Entah kenapa, kalau bersama saudaranya ini bawaannya nyuruh-nyuruh terus.

Dika mendecih singkat lalu menjatuhkan diri di depan pintu kamar adiknya dengan gaya lebay. Dengan pose sok gigit saputangan (yucks), ia mengeluarkan air mata buaya. Mendengar bunyi benda berat jatuh segera mengundang rasa khawatir sang adik, hingga pintu menuju surga fana pun terbuka lebar diiringi teriakan cemas sang adik yang memanggil namanya. Angin AC pun mbrobos metu—menerobos keluar~

"DIKA!"

Namun bukan kakak yang jatuh pingsan yang ia temui. Yang ada hanyalah detik-detik menuju Drama Queen yang super nyinetron dengan menjijikkannya karya sang kakak tercinta.

Bayangkan saja tiba-tiba sekeliling tempat Dika menggelam setelah terdengar bunyi sekering yang dimatikan bersamaan. Bunyi musik biola yang (sok) menyanyat hati pun terdengar apabila kalian menggunakan telinga hati (?!).

"Oohh... Dios Mio...*" menyalalah lampu yang hanya menyinari sang pria (sekali lagi, silahkan anda melihat dengan mata hati). "...mengapa... adindaku tercinta begitu tega kepadaku, duhai engkau sang pencipta!" ucapnya mendramatisir suasana. Arin pun mulai mengeluarkan pandangan mata (sok) berkaca-kaca dengan lebay.

"Kakanda...!" ucapnya tertahan.

"Mengapa engkau tega membuatku jatuh tak berdaya di depan kamar saudariku, dalam keadan puanassh... dalam keadaan luellaaahhh... dalam keadaan SWAKWIIHHTT!" lanjut Dika dengan pose bibir dimonyong-monyongkan, ludah bermuncratan (baik, dia tak sejorok itu), bahasa di blender-blenderkan seraya mencengkeram erat bajunya tepat di bagian jantung dan menengadahkan kepala ke langit-langit, bukan langit biru karena tertutup genting.

"Mengapa... mengapa engkau tega membuatku terpaksa beradu dengan minyak dan tepung, wajan dan sutil, dan peralatan-peralatan jahanam yang harus berada dalam genggamanku?! Mengapa?! MENGAPAAA?!" oke, bayangkan setting latar belakang dengan gambar ombak yang mengamuk di tepi jurang atau petir-petir yang membahana.

Arin (entah sengaja entah tidak) pun segera berlari dan menerjang kakaknya. Ia memeluk saudara-beda-5-menit-nya dan segera (entah asli atau bukan) terisak di dada Dika. "Ooh, kakanda...! Maafkanlah adinda yang memaksamu untuk memasak...! Adinda tak tahu, sebegitu beratkah perjuanganmu?!"

...

"ADINDAA!"

...

"KAKANDAA!"

...

Keduanya pun saling meneteskan air mata dalam keadaan berpelukan.

...

...

...

...

...aah, maaf. Penulis sampai terdiam melihat ketikan di atas tadi. Cheesy dan terlalu sinetron, padahal ini fiksi!

Tiba-tiba semua setting dan latar berubah, kembali ke semula bersamaan dengan ucapan polos penuh binar harap sang YuDika. "Jadi, aku tak perlu memasak, 'kan?"

Arin segera menendang sang kakak jauh-jauh sebagai jawaban.

.

"Aku sayang kamu, kok,"—YDTB

.

Dengan kesal dan tergesa-gesa, gadis berusia 19 tahun tersebut berlari menuju sebuah halte bus. Pakaiannya basah kuyup, dan rambutnya yang biasanya membentuk gelombang menjadi lurus. Kantung belanjaan terlihat di kedua tangannya, berdampingan dengan sebuah kantung plastik berisi 2 kaset PS terbaru yang barusan ia beli.

Iris coklat gelap nyaris hitamnya menelusuri pakaian yang makin melekat pada tubuhnya, menatap awas para pria yang melirik tubuh seksi yang ia miliki. Rambut hitam sepunggung yang ia miliki benar-benar merepotkan di saat kehujanan seperti ini.

Mestinya ia membiarkan adik laki-lakinya sendiri yang pergi, agar ia bisa duduk manis di balkon lantai dua sambil menikmati teh melati buatan adik bungsunya ketimbang basah kuyup di hari hujan begini...

.

Widita tengah mengenakan jaket ketika pintu kamarnya diketuk oleh sang adik tertua. Ketukan malas sarat emosi tersebut memaksanya untuk segera membuka pintu surga dunianya.

"Ada apa, dhik?" tanyanya lembut. Mood-nya sedang bagus hari ini, jadi memanggil adiknya tanpa embel-embel 'jelek' pun tidak ia lakukan, yang dengan sukses memancing ekspresi bingung sang adik untuk hadir. "Mbak mau ke mana?" ucap Dika segera mengganti pertanyaan yang sebelumnya ia pikirkan.

"Mbak mau ke toko kaset sekalian ke supermarket. Telurnya habis. Kenapa memang?"

Dika menyeringai puas.

"Bagus, dong! Boleh titip, nggak, mbaakk?" ucapnya dengan senyum manis. Sungguh, andaikan Dita mampu melihat seringai jahil yang tersunggung di antara senyum (sok) manis tersebut, ia pasti akan menolak permintaan Dika setelah ini. "Boleh, tapi jangan pakai uangku, lagi bokek, nih,"

"Nggak, nggak pakai uang mbak, kok! Mama 'kan sudah menyiapkan uang dari kemarin-kemarin! Aku cuma mau nitip sembako~"

Dita segera menaikkan sebelah alisnya. Tumben-tumben anak ini mau belanja keperluan perut dan sebagainya. Masih untung, sih, pakai uang yang ditinggalkan kedua orang tua mereka sebelum pergi ke Jakarta dua hari lalu.

"Nih daftar belanjaannya!" ucap Dika riang seraya menyerahkan secarik kertas.

Mata Dita segera melotot melihat daftar tersebut. Banyak, banyak sekali yang harus ia beli!

Odol, sabun, sampo, bayam, wortel, sosis... iki arek ape selamatan, opo?* Masa' ia tinggal menginap di kampus semalam membuat semua barang kebutuhan menipis?! Habis dipakai untuk pestakah? Atau memberi sumbangan korban bencana alam?

"'Ka, kok hampir semuanya komplit minta dibeliin? Memang semua barang yang kamu catat ini sudah habis?"

Dika nyengir tanpa dosa, "Menipis persediaannya, mbaak~ kemarin ada kucing imut menggigil di depan pagar sih~ padahal ada kalung namanya!"

Kucing? Jangan-jangan adiknya yang sangat menyukai binatang satu ini secara naluri merawat kucing terlantar yang kesepian?

"Memang kucingnya ada berapa kemarin?"

"Ada 8, mbak!"

Lagi.

Cengiran inosen itu...!

Ternyata ia memang seorang kakak, dengan dewasa ia memilih mengalah, dan segera pergi dari tempat ia berbincang dengan adiknya, menghiraukan puji-pujian sang adik terhadap 8-kucing-manis-yang-terpaksa-disumbangkan-karena-nggak-ada-tempat-dirumah itu.

.

Oh, ia sungguh menyesal.

Kenapa ia memberitahu kemana ia akan pergi tadi?

Tiba-tiba suara familiar menyapa telinganya dari kejauhan.

"WIDITAAA!"

Widita segera menoleh ke arah pemuda mani-namun-tampan berpayung yang mengenakan boots hujan. Ia berjalan—agak berlari—dengan terburu-buru menuju sang kakak yang berteduh di halte. Melihat bahwa sepertinya gadis itu yang dimaksud, beberapa pria segera menghentikan tindakan melirik tubuh Dita dengan seenaknya. Mereka mengira pemuda pendek tersebut merupakan kekasih dari si cewek seksi.

"Dika...? Kok kamu kemari?" tanyanya ketika sang adik telah sampai di depannya. Dita tahu, adiknya ini sangat sakit-sakitan dan mestinya ia tetap di rumah di hari berhujan begini.

Manik hitam legam milik Dika hanya menatap datar sang kakak. Rambut coklat gelap nyaris hitam agak awut-awutan yang ia miliki makin berantakan; meski helai rambut yang mencuat dari belakang telinga kanan—membentuk ahoge mungil—tidak berpengaruh serta kulit sawo matang yang dibasahi oleh keringat dan tetesan air hujan membuatnya terlihat lebih menggoda dari biasanya.

"Dita jelek, sudah aku bilang hari ini mendung, harus bawa payung, eh kamunya malah langsung ngeloyor keluar!" bentaknya dengan logat Surabaya kental. Beberapa cewek yang sempat terpesona segera berjengit mendengarnya.

Twitch. "Kapan kamu bilang itu, Dika elek?"

"Aku bilangnya setelah njelasin tentang kucing, Dita elek!"

"Itu terlalu panjang dan membosankan, adik BEGO!"

"Makanya, dengerin kalau orang ngomong sampai selesai, mbakyu BEGO!"

KRIIIINGGG! KRRIIIIINGGG!

Ponsel Noqia milik Dika berdering nyaring, mengundang decihan yang selalu ia keluarkan kalau kesal. "Halo?!"

["YUDIKA! CEPAT JEMPUT MBAK DITA PULANG! BERHENTI TENGKAR ATAU KALIAN NGGAK AKU IZININ MASUK RUMAH!"]

Teriakan Arindia menulikan sesaat telinga Dika, yang kemudian segera dibalas dengan sama kasarnya,

"IYO IKI AKU WIS NJEMPUT! IKI LHO BOCAHE NGAMUK-NGAMUK THOK!*"

["NGGAK ADA ALASAN! CEPAT PULANG ATAU KU-DOR KEPALAMU!"]

"IYA IYA AKU PULANG SEKARAANGG!"

CTREK.

TUUUTT TUUUTT

Dengan segera Dika merangkul tubuh kakak perempuannya—yang sesungguhnya lebih tinggi beberapa senti darinya—lalu memayungi dirinya dan Dita usai memutus percakapan telepon.

"UWAH!"

Dika pun segera menyeret kakaknya untuk berlari. Protes semacam 'pelan sedikit dong!' atau 'nggak kasar bisa nggak sih?!' dibalas dengan 'kamu mau aku sakit?!' dan 'ini memburu waktu! Diamlah!' yang disaksikan banyak pasang mata yang keheranan. Yah, keduanya terlihat romantis kalau saja bukan saudara dalam kondisi berangkulan di bawah payung ketika hujan ini...

Tapi, di antara banyaknya pasang mata yang keheranan tersebut, terlihat sepasang mata coklat muda semburat abu-abu yang menatap kaget sekaligus tak percaya kepada sang Bayudharana. Hanya satu kata yang terucap dari bibir merah marun yang dimilikinya, yaitu :

"...Dika...?!"

.

"Aku nggak suka pembohong, lho,"—ADWS

.

Belum genap sampai ke rumah, dua bersaudara yang hobi bertengkar pun terkejut mendengar bunyi sambaran petir di langit. Satunya berjengit dan satunya berteriak kaget.

"HUWAAA! Dika petirnya tadi keras banget! Mana kayaknya dekat lagi!"

"Itu hanya perasaanmu saja, mbak Dita! Sudah, ayo lanjut jalan!"

Sedikit lagi, keduanya akan sampai di dekat rumah...

Keduanya terus berjalan, dengan langkah lebar dan tergesa, hingga akhirnya sampai di depan pagar coklat keemasan yang merupakan pagar rumah mereka. Sang kakak pun segera mengambil kunci dan membuka gembok pintu tersebut.

"Agak cepetan, dong, mbak..."

"Iya, iya, bentar! Gemboknya ini udah waktunya dikasih oli...!"

Namun baru saja pagar tersebut dibuka keras-keras, sebuah petir datang mendekati keduanya.

CTAAAARRR!

"GYAAAAAAAAAAAAA!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Satu hal terakhir yang diingat oleh YuDika Dwi Tunggal Bayudharana hanyalah ketika sebuah petir hendak menyambar ia dan kakak jeleknya, Widita Aninggar Ayu Steladhara. Dan kejadian itu persis sebelum keduanya memasuki halaman rumah—bahkan memasuki bagian dalam pagar saja belum.

Namun, ketika ia terbangun, pemuda Introvert tersebut telah berada di sebuah kamar.

Kamar sederhana ber-cat putih dengan Wallpaper hijau bercorak bunga yang membelah setiap tembok persegi panjang. Sebuah gitar tua tersandar di pojok ruangan, tepat di sebelah lemari kaca yang berisi buku-buku penting. Lemari pakaian berada agak jauh dari pandangannya, yang jelas lemari dengan warna hitam keunguan itu berada di dekat pintu menuju balkon lantai 2.

Ngomong-ngomong, ia baru sadar kalau kasurnya luas sekali...

...

...

...

...tunggu.

Ini—ini BUKAN kamarnya.

Ini kamar—

CKREK

"Lho, mbak Dita sudah sadar? Padahal Dika saja belum bangun..." ucap gadis manis berambut hitam kecoklatan terurai dengan iris hitam kelam yang memasuki kamar—bukan kamarnya.

—Dita...

EEEEEEEEEEEHHHH?!

T-tunggu dulu.

Badannya lebih tinggi (yyeeesshh)... cek.

Rambutnya—Gusti—memanjang... cek.

Jakunnya... raib kemana?! Cek.

Kalung yang selalu ia pakai di balik kaus...? Hilang? Cek.

Otot-ototnya...? Tak ada, cek.

Da—ehem—dadanya...?

Ini payudara. Ini bukan dada bidangnya. Cek.

A—'adik'-nya tercinta? Dimana 'menara' tinggi kebanggaannya?! Cek.

Pantatnya juga... rasanya jadi lebih kenyal dan—ehem—besar... pinggulnya... panggulnya... kakinya...

Ini. Bukan. Tubuhnya!

"GYAAAAAAAAAA!"

"KYAAAAAAAAA!"

Wait, itu tadi suaranya. Suara berat kebanggaannya...

JBRAAKK!

Pintu kamar Widita yang berisi sang empunya dan Arin terbuka untuk kesekian kalinya atas dobrakan paksa oleh seorang pemuda tampan namun manis berambut coklat gelap.

Itu... dirinya!

Itu tubuhNYA!

Pemuda itu pun mengeluarkan nafas yang terengah-engah, dan menatap tak percaya sosok di depannya yang tidur di atas kasur—miliknya—kakaknya.

Satu kata meluncur mulus dari bibir kering yang tak tipis khas sang anak lelaki.

"Dika...?"

.

"Aku selalu mengawasimu, jadi tenanglah,"—WAAS

.

.

.

.

.

.

PROLOG : HAI KAK. KENAPA KAU PAKAI BAJUKU?—END

SPOILER CHAPTER SELANJUTNYA :

"Kita terpaksa bertukar tempat, 'Ka. Mau gak mau,"

.

"Sudahlah mbak, berhenti maksain diri jadi Dika... nyebelin, tahu."

.

"Kamu lupa kencan kita, 'Ka? Bukannya kamu sendiri yang bilang ingin mengajakku kemari?"

.

"SIAL! Kakak brengsek itu pasti sudah melihatnya! MI AMOORR!"

.

"Apa saja yang sudah kau lakukan dengan tubuhku, cewek sial?"

.

"Gusti... apa salahku...?"

"Yang jelas, banyak."

...

TERJEMAHAN :

*Ngadhem—mendinginkan diri (Jawa)

*Medhit—Pelit (Jawa)

*Babah—Biarin (Jawa)

*Dios Mio—Tuhanku (Spanyol)

*IYO IKI AKU WIS NJEMPUT! IKI LHO BOCAHE NGAMUK-NGAMUK THOK!—Iya ini aku sudah menjemput! Ini lho anaknya mengamuk saja! (Jawa)

...

A/N : Bahasa Jawa yang digunakan merupakan bahasa Jawa Ngoko alias kasar yang digunakan di daerah Surabaya/Jawa Timur. No Flame and Silent Readers Please.