Terdiam dan hanya bergeming

Menatap mentari yang diam-diam menghilang,

Memandang senja yang menerobos datang

Ditengah hujan dedaunan

Menatap kosong harapan yang menguap di udara,

Memandang hampa angan yang terbang bersama angin

.

.

.

Ya, setahun yang lalu, pertemuanku denganmu

Dimana angin mulai mendingin,

Dan seluruh kota diselimuti warna jingga

Di kota yang sebelumnya membuatmu benci,

Di musim yang sebelumnya membuatmu tersakiti

.

.

.

Ya, aku ingat betul

Senyummu yang bagaikan alkohol,

Menjadi candu yang begitu memabukkan,

Menular padaku,

Ya, pada bibirku juga jantungku

.

.

.

Hanya disampingmu, diam pun aku mau

Tak bisa ku berhenti memandangmu, menatap mata kelabumu,

Yang menenggelamkanku dalam kehangatan yang tak biasa,

Yang mempercayaiku dan menerimaku apa adanya

.

.

.

Tapi waktu tak bersedia untuk berhenti,

Tidak menganggapku spesial dan membiarkan semua ini berlalu begitu saja

.

.

.

Aku tak pernah mengerti bagaimana cara kerjanya,

Ikatan takdir yang membawa sengsara,

Kenyataan yang mesti terkuak,

Terkupas begitu saja layaknya kacang

Dan membiarkan,

Jalinan rantai yang mengekang putus dengan mudahnya,

Kedekatan yang susah payah dibangun hancur dalam sekejap

.

.

.

Ah, tirai malam menutup dan mengakhiri drama menyedihkan ini,

Membiarkanku terlelap dalam indahnya derita dan sakit tak berkesudahan,

Tenang sayang, aku tetap mencoba tersenyum

Ah, beribu bintang terus berpijar menyemangatiku,

Mencoba menyampaikan pesan dan keluh kesahku malam ini padamu,

Tenang sayang, aku baik-baik saja, bagaimana denganmu?

.

.

Bahagiakah kau di atas sana?

.

.

.

.

.


#Curcol author#

Hiks, sedih rasanya kalau baca lagiā€¦ (T^T) *masih menatap buku 'Autumn in Paris' sambil bercucuran air mata*

Jadi kebawa emosi dan bikin puisi gini *terus ngetik sampai ga sadar laptop nyaris basah*

Well, bersedia review? :,) *masih terus saja terisak-isak*