"Sekarang nggak usah pura-pura bego lagi. Kau menemui dia kemarin, kan?"

Ruangan itu selalu sama, putih sejauh mata memandang. Lantai putih. Langit-langit putih. Tembok putih. Di dalamnya ada tiga buah tempat tidur berukuran sama dengan warna seprai yang senada. Putih. Putih. Putih.

Dia, perempuan itu duduk di atas ranjang yang terletak di tengah. Gadis cantik berambut cokelat gelap panjang sebahu. Aku duduk di ranjang sebelah kanan, berhadapan dengannya dalam posisi super-serius dan mata tak lepas dari tatapannya. Kami berhadapan. Dia dan aku.

Di pojok sana ada dia, Adi yang selalu tertidur. Tiap kali aku berada di ruangan ini dia selalu tertidur, tak menyadari yang terjadi antara aku dan si perempuan. Tak melihat, tak mendengar dan tak menyaksikan. Dia selalu tertidur di ruangan ini tiap kali kami hadir.

"...Yah. Aku menemui siapa bukan urusanmu."

Dan perempuan itu—perempuan brengsek itu sekarang sudah berani rupanya. Tersenyum dengan gaya meremehkan, menghela poninya sejenak dan mengubah posisinya dengan santai. Kedua kakinya tersilang di depanku sementara siku ditumpu di atas lututnya. "Aku mau menemui siapa bukan urusanmu."

"Urusanku—kalau yang kau temui itu dia, brengsek!"

Aku mulai emosi. Kakiku beradu keras dengan lantai. "Kau harusnya tahu dia milikku."

"—tak ada bukti. Ia menerima kehadiranku, berarti dia bukan sepenuhnya milikmu—"

"Kau pasti menggodanya! Kau mengaku sebagai aku, kan?"

Perempuan itu tertawa.

"Jangan ge er dong, tolong. Kau pasti tahu dia nggak sebodoh itu sampai tidak tahu mana yang siapa, kan?"

Tanganku terkepal, marah.

"...Dia punyaku. Kau nggak boleh rebut dia."

"Aku menyukainya. Dan dia tidak menolakku, kenapa aku harus mundur?"

"Kau hadir belakangan. Aku bertemu dengannya sebelum kau. Kau tidak boleh rebut dia."

"Tapi kau bahkan bukan perempuan."

Kali ini emosiku memuncak. Aku berdiri, merenggut bagian depan bajunya erat-erat, mendekatkan wajah dengan wajah. "Kafka tak pernah keberatan dengan itu. Kau tahu, aku tak suka kau. Tak ada yang butuh kau. Aku ataupun Adi, akan lebih baik tanpamu."

Tapi ia tetap tenang, tak ada perubahan pada ekspresi wajahnya yang damai dan itu membuatku muak.

"Nonsens. Kau yang tidak dibutuhkan. Aku selalu ada untuk Adi. Dia menyayangiku, dia takut padamu. Dan sekarang kau bahkan malah seenaknya main-main dengan Kafka di luar sana," nada bicaranya santai.

"Aku menemui siapa itu bukan urusanmu."

"Dan kau baru saja mengulangi kata-kataku. Kita seri, Aska."

"Jangan panggil namaku seenaknya, jalang!"

Kuhempas tubuhnya ke atas tempat tidur. Aku tak tahan lagi. Aku tak tahan lagi. Kafka, ya, dia milikku. Hanya boleh jadi milikku. Bukan milik Adi, bukan milik si jalang Dea. Aku tak pernah khawatir dengan Adi. Tapi perempuan ini, aku tahu. Dia ingin merebut Kafka dariku. Padahal tak tahu apa-apa soal Kafka. Pasti dia menggodanya dengan wajah sok manis itu. Pasti dia minta dikasihani sampai Kafka tak bisa menolaknya. Ia tak tahu apa-apa soal Kafka, tidak tahu. Tak tahu senyumnya yang sebenarnya. Tak tahu air matanya. Tak tahu kebiasaannya memainkan pematik api saat sedang khawatir. Tak tahu betapa rambutnya sulit diatur saat bangun tidur.

Tak tahu, kan? Dan sekarang seenaknya sok tahu.

"Dengar, ya," kulingkarkan kedua tanganku ke lehernya. Erat. Dia tetap menatapkan dalam diam. "Kau tahu aku bagaimana dan aku tahu kau bagaimana. Ini peringatan terakhir. Kalau kau masih berani muncul di hadapannya, aku tak akan memaafkanmu."

"Kau tak punya hak melarangku," tak ada nada gentar dalam suaranya.

"Ada. Karena kau tahu aku orang yang nekad."

Jemari yang kulingkarkan pada lehernya makin erat, erat. "Aku tak bisa menjamin kau akan selamat, dan kau tahu itu serius."

Ekspresi santai di atas wajahnya hilang. Kini matanya nampak serius.

"Tak bisa, Aska. Kau tahu aku berarti untuk Adi."

"Dia tak butuh kau. Aku saja cukup."

"Tidak, kau pasti mengerti. Kau tak bisa membunuhku. Adi dalam bahaya kalau itu terjadi."

"Aku tak peduli."

"Kau egois."

"Heh. Pintar kau."

Kupererat jeratan jari-jariku pada lehernya. Makin erat. Makin erat.

Senyum tipis kembali ke atas bibirnya. "Dan kau pikir aku akan diam saja?"

Ia menendangku. Sialan, selama ini ia selalu berusaha tampil sebagai perempuan yang lemah. Tapi siapa sangka tendangannya begitu kuat? Menghantam perutku dan membuatku mengernyit kesakitan. Ia menerjangku balik, dan kini jemarinya yang kurus mencengkeram leherku.

"Kita seri."

Ia tampak puas.

Kulihat bekas cekikanku nampak samar pada lehernya. Dan pasti sekarang hal yang sama terjadi denganku. Di sebelah kami Adi nampak mengigau, dan mengaduh, tapi kami tak peduli. Aku benci dilawan, harusnya kau tahu itu.

Kutendang perutnya balik. Di luar dugaan, tampaknya ia sudah menduga hal itu dan berhasil menahannya. Kudorong dia sekuat tenaga dan kami saling menyerang hingga tubuh kami terguling ke lantai dengan suara berdebum keras. Aku makin emosi. Gadis ini, dia selalu menggangguku. Merayu mangsaku. Merebut posisiku. Ia tak pernah puas.

Kutampar mukanya keras-keras dan ia menamparku balik. Kurenggut bagian depan bajunya dan ia melakukan hal yang sama. Terus. Terus. Kami saling menyerang dengan mengembalikan serangan. Aku tak tahan lagi. Aku tahu, aku selalu benci gadis ini.

Lebih baik dia tidak ada. Lebih baik ia tak ada.

Pisau. Ada. Tergeletak, di sana, di atas lantai di antara kami. Kami bergumul untuk mengambilnya-ia berhasil meraihnya, tapi kucengkeram pergelangan tangannya dan kurebut. Ia menahan tusukanku dengan tangannya—dan pisau itu berhasil berakhir di tanganku.

Kuhujam perutnya sekuat tenaga hingga cairan merah hangat membanjir dari sana. Wajahnya pucat, ia hampir mati. Aku menang. Aku menang.

AKU MENANG.

"...Bodoh. Kau bodoh, Aska."

Bisikan terakhirnya terdengar menyedihkan di telingaku. Aku tak peduli, kucabut pisau itu dari perutnya hingga darah keluar lebih banyak lagi. Perasaan ini sangat menyenangkan.

"Aku menang, Dea."

Kau lenyap. Kau hilang. Kafka dan Adi, mereka akan jadi milikku.

Tubuh itu tak berdaya, membuat genangan darah besar di atas lantai. Aku masih tak bisa membendung rasa puasku—hingga kudengar suara. Ah? Oh. Adi. Dia terbangun.

Eh?

Tidak, ini aneh sekali. Adi tak pernah terbangun. Di ruangan ini, tidak. Aku dan Dea bisa mengobrol sesuka kami, tapi Adi tak pernah bangun. Ia menatap pisau di tanganku dalam diam, dan bangkit dari tempat tidurnya. Mendekat. Mendekat.

"Kau membunuhnya?"

Bisikan yang terdengar mendengung dalam kepalaku.

"Ya." Aku menjawab dengan penuh percaya diri. "Kau tak butuh dia. Aku saja cukup."

Tapi dia menggeleng.

"Tidak. Kau salah—Aska, kalau tak salah namamu? Kau salah."

Ia tersenyum. Hei, ini aneh sekali. "Mungkin kau benar. Aku sudah tak butuh Dea lagi." Ia menepuk pipiku. Ekspresi wajahnya damai, hampir memuakkan. Mengingatkanku pada gadis yang baru saja tergeletak di lantai sana."Tapi aku juga sudah tak butuh kau, Aska. Maaf."

Ia ambil pisau dari genggamanku dan dihujamnya pada jantungku. Begitu cepat sampai aku tak bahkan tak menyadari gerakannya.

"Terima kasih. Tapi sudah cukup. Kini aku bisa hidup sendiri. Ayahku sudah minta maaf dan sekarang aku tak akan apa-apa. Terima kasih, Aska. Dea. Aku tahu berapa banyakpun terima kasih tak akan cukup, tapi selamat tinggal. Aku tak butuh kalian lagi."

Suaranya sama, makin jauh, makin jauh. Hal terakhir yang bisa kuingat adalah senyumnya. Tapi—hei, tunggu. Kau salah, Adi. Aku tak mau lenyap. Jangan tiba-tiba begini. Setidaknya,

biarkan aku ucapkan selamat tinggal padanya dulu, dong.

Pemuda itu tampak riang, segera mengumpulkan buku pelajarannya saat bel tanda pulang sekolah berbunyi. Hari ini ia sekeluarga akan makan di luar rumah untuk pertama kalinya. Ia, ayah dan ibu barunya, dan pemuda itu, Adi, sudah tak sabar menanti jam pulang kantor si ayah. Buku dan tempat pensil dijejalkan seenaknya ke dalam ransel sekolah, setengah berlari menuju pintu keluar kelasnya.

"Hei—hati-hati."

Ia hampir menabrak seseorang saat hampir keluar kelas, walau untung orang itu, seorang guru muda, sempat menahan bahunya. Salah tingkah, pemuda itu segera meminta maaf.

"Hati-hati. Tampak terburu-buru, Adi?"

Guru itu tersenyum ramah, walau dari balik kacamatanya, tatapan mata nampak menyelidik murid di depannya. Sementara si murid hanya tersenyum canggung dan meminta maaf sekali lagi.

"Maaf, pak Kafka. Ada urusan," ia menunduk sejenak, menyarungkan ransel yang sedari tadi masih digengamnya dan segera undur diri. Aaah, gawat, gawat. Ia harus lebih hati-hati dan tak boleh terlalu terburu-buru.

Cepat, Adi ingin cepat sampai di rumah. Bertemu ayah.

Bahunya sekali lagi ditangkap sebelum pergi, membuat si pemuda tertahan sebentar.

"Ya, pak?"

Si guru nampak ragu. Tatapan matanya kosong sejenak, tapi senyuman segera kembali ke atas bibirnya.

"Tidak apa-apa, haha. Hati-hati. Jangan lari-lari."

Tepukan pada kepala si pemuda dan guru muda itu berlalu. Ia bersiul rendah, entah kenapa nampak riang. Seperti merasa akan mengalami hal yang menyenangkan setelah ini?

Tapi sayang. Dia tidak tahu kalau hal menyenangkan itu tak akan datang lagi.

-FIN-

Oke, bingungin pasti. Emang.

Ini tulisan luamaaa yang sebenernya nggak mau saya share dan nggak sengaja nemu pas lagi bongkar-bongkar file lama. Ditulis buat sekedar pelampiasan hati, dan niatnya cuma mau disimpen aja. Tapi kayanya sekalian saya taro sini aja buat dokumentasi.

Intinya, cerita ini tentang MPD (dan sedikit BL). Ruangan tempat adegan berdarah itu terjadi sebenernya cuma ada di dalem pikiran si tokoh utama, Aditya Askadea. Gara-gara masalah keluarga, dia jadi berakhir punya dua MPD, Aska, cowok urakan yang seenak udel, dan Dea, cewek kemayu yang lemah-lembut tapi juga sedikit berbahaya. Terus Kafka itu nama guru muda yang ngajar di sekolahnya si Adi ini. Singkat cerita, Aska (yang ternyata homo) dan Dea sama-sama jadi punya hubungan khusus sama si Kafka ini, sementara Adi sendiri justru sama sekali nggak punya hubungan apa-apa sama si Kafka. Jadi inti cerita (yang nggak bener-bener bisa dianggap cerita) ini, masalah keluarga si Adi udah beres, dia ga butuh lagi kedua MPDnya, jadi dia 'bunuh' lah para MPD itu. Sementara si Kafka yang emang udah naksir sama Aska (atau Dea) nggak tahu kalau kedua MPD ini udah ilang, begitulah, tamat.

Garing ya.

Sebenernya ini buat proyek panjang, harusnya, tapi saya paling ga bisa nulis yang panjang-panjang, pasti ga bakal selesai.