PROLOGUE

Apakah arti dari sebuah mimpi? Apakah bermimpi itu salah? Kenapa seseorang yang bermimpi tentang sesuatu yang cukup tidak masuk akal menjadi seseorang yang dijauhi? Aku merasa jawaban dari masing-masing pertanyaan itu berbeda-beda bagi setiap orang. Bagiku, mimpi adalah sesuatu yang membuat kita terus bertahan hidup, dan kita tidak akan pernah menyerah sebelum mimpi itu tercapai. Tanpa mimpi, hidup ini tidak ada tujuan, dengan kata lain, mimpi adalah tujuan hidup setiap orang.

Jawaban dari pertanyaan kedua adalah...bermimpi itu tidak pernah salah. Bahkan untuk mimpi yang tidak masuk akalpun tidak salah, karena mimpi yang tidak masuk akal bisa jadi adalah sesuatu hal yang nyata. Contohnya? Hmm... ya, kita bisa mengambil contoh dari para ilmuwan ternama, pencipta seperti Albert Enstein, Alexander Graham Bell, dan juga Thomas Alfa Edison yang sebelum ciptaan mereka berhasil, mereka dianggap gila dan tidak waras, tapi pada akhirnya hampir seluruh orang di dunia menggunakan apa yang mereka ciptakan. Suatu mimpi yang tidak masuk akal pada akhirnya dianggap sangat masuk akal dan tidak aneh lagi di masyarakat.

Jawaban untuk pertanyaan ketiga? Tentu saja ada jawabannya. Seseorang yang bermimpi tentang suatu hal yang cukup tidak masuk akal, atau bahkan sangat tidak masuk akal, dijauhi oleh kebanyakan orang, karena sebenarnya mereka itu takut dan iri dengan kita yang memiliki mimpi yang cukup tinggi, atau bahkan gila, karena mereka masih belum tahu apakah mimpi mereka bisa setinggi itu? Mungkin mimpi kita yang aneh, tapi bisa juga orang itu yang terlalu aneh karena menjauhi kita hanya karena mimpi kita. Pada intinya mimpi itu adalah sarana menuju kemakmuran dan kesejahteraan dalam kehidupan. Tidak semua orang bisa mencapai mimpi mereka, dan hal itulah yang membuat mereka susah untuk merasakan apa itu hidup makmur dan sejahtera.

Dalam hidupku yang, well, boleh dibilang cukup menyedihkan ini...-gak sedih-sedih banget sih-aku tidak pernah menyangka kalau pada akhirnya akan berubah dalam hitungan...hari? Ya, Oh well, intinya hidupku berubah dengan cepat karena mimpiku yang gila dan aneh! Mungkin bisa dibilang karena mimpiku itu, aku tidak bisa hidup normal seperti gadis-gadis lain. Hidupku dipenuhi banyak sekali tantangan, ancaman, dan juga kewaspadaan. Walaupun hidup dipenuhi hal-hal yang tidak seharusnya dimasukkan ke dalam daftar hal yang ada di hidup normal, tapi aku menjadi lebih 'hidup' daripada sebelumnya! Dan pada akhirnya aku tahu, di dalam dunia itu tidak ada hal yang tidak mungkin dan semuanya bisa terjadi kapanpun dan dimanapun.

Eternalia

San Tomori, lima belas tahun, senior high school, anak tunggal. Orang tua? Tidak ada. Saudara? Nihil. Aku ini yatim piatu, hidup bersama dengan tanteku yang membiayaiku sekolah, makan, dan, well, hampir semua yang aku miliki adalah miliknya. Mungkin menurut kalian aku beruntung karena masih ada seseorang yang mau menghidupiku, padahal aku ini yatim piatu yang asal muasalnya tidak diketahui. Tapi menurutku, kalian salah besar, aku disiksa, pertama kali aku melihatnya-tanteku-aku sempat berpikir dia malaikat yang dikirimkan Tuhan untukku, tapi aku salah, hanya pertama-tama saja dia baik kepadaku, tapi lama-kelamaan, aku disuruh semua hal, aku maklum kalau aku disuruh melakukan pekerjaan rumah tangga, tapi kerja part-time yang tidak terkira membuatku jera. Jujur, aku sangat membencinya dan ingin pergi dari rumah ini, tapi aku ingat kalau dia adalah orang yang menyelamatkanku di ambang kematian, aku masih harus membalas budi baiknya.

"San! Cepat kau bereskan semua mangkuk ini, aku ingin melanjutkan permainan bersama teman-temanku," perintahnya kepadaku yang masih sibuk membereskan kamarnya yang berantakan.

Wajahku? Aneh, mata berwarna biru, rambut pirang, kulit putih, aku sempat berpikir kalau aku ini bukan orang Jepang, mungkin aku adalah keturunan orang Amerika atau Australia dan semacamnya, tapi kenapa aku dibuang ke Jepang? Oh, well, whatever.

Sekarang hidupnya tambah berantakan, bukan hanya sering menyuruh-nyuruh, dia sudah mulai sering memukulku tanpa ampun. Kerjaannya setiap hari hanya main judi, mengajak teman-temannya bermain, bertaruh, dan pada akhirnya menginap di rumahnya dan aku harus membereskan semuanya sendiri.

Dengan buru-buru, aku lari ke lantai bawah dan mengangkat semua mangkuk, tapi tiba-tiba seorang dari teman-temannya, seorang lelaki bertubuh besar dan berwajah mengerikan menarik tanganku dengan keras, "Hey, Miranda! Anak angkatmu ini manis juga! Untukku saja!" ucapnya dan semua teman-temannya tertawa.

Tanteku menggeleng sambil menepuk meja, "Enak saja! Dia ini permataku yang berharga, tahu! Sudah lepaskan dia dan biarkan dia melakukan pekerjaannya," ucapnya. Kalau aku adalah anak lugu yang baru saja bertemu dengannya, aku akan menganggap ucapannya tadi sebagai pujian. Hmph! Permata? Mungkin maksudnya mesin uang.

Saat bulan sudah bersinar terang dan menembus jendela kayu kamarku yang sudah mulai rapuh dan tua, aku pergi ke kamar tanteku. Aku mengetuk pintunya dan dia menyuruhku masuk, "Ada apa?" tanyanya dengan nada serak.

"Aku ingin kau menandatangani ini. Sekolah membutuhkan persutujuan orang tua atau wali murid," ucapku sambil menyodorkan secarik kertas putih dengan tulisan dan stempel sekolah.

Dia melihat kertas itu dengan malas-malasan, mengambil pulpen dari tanganku dan menandatanganinya dengan asal, "Nih, udah, kan? Keluar, sana!" Memang itu yang aku inginkan setelah dia menandatangani kertas itu, tidak usah disuruh aku memang akan keluar. "Tunggu." Aku menengok dan menatapnya bertanya-tanya. Ada apa lagi, hmm? "Memang itu surat persetujuan apa?"

'Tumben sekali dia ingin tahu, biasanya masa bodo, aja,' pikirku sambil memasang tampang aneh. "Umm, pariwisata?" jawabku agak ragu. Tanteku memasang tampang bertanya-tanya, "Ke museum kota," lanjutku sambil menghela napas. Dia mengangguk dan mengibaskan tangan menyuruhku keluar.

Besok paginya, seperti biasa aku sudah menyiapkan sarapan untuknya, tapi aku tidak ada waktu untuk menunggunya bangun dan menyelesaikan makan, karena itu aku menyelipkan sebuah surat di bawah mangkuk lalu pergi ke sekolah.

Sewaktu aku sampai, hampir semua teman sekelasku sudah sampai dan sedang berbincang-bincang satu dengan yang lainnya. Aku terdiam, teman dekatku belum datang semua. Selagi menunggu, aku duduk di depan ruang kepala sekolah dimana setiap harinya ada bangku kosong untuk orang tua yang memang datang ke sekolah untuk menemui kepala sekolah atau guru lainnya.

Kepalaku sudah mengangguk-angguk, ngantuk karena bangun terlalu pagi. Langit yang masih berwarna biru agak gelap membuat suasananya sangat enak untuk tidur, terutama suhu pagi yang menyejukkan dan ditambah angin sepoi-sepoi yang bersiul.

Ketika mataku mulai terasa berat, seseorang menepuk pundakku dan berkata, "Tomori-chan! Kamu ngapain sendirian, aja, disini?" Ini adalah Oiko Yukari, teman sekelasku yang paling ramah terhadap semua orang. Dia memang satu-satunya orang yang tidak begitu dekat denganku tapi selalu menyapaku.

Aku tersenyum kecil sambil membetulkan kacamata palsuku yang aku gunakan untuk mengelabui tanteku dan teman-temanku sendiri, untuk apa? Liat saja, nanti. "Aku menunggu Yuuko, dia masih belum datang."

Yukari memiringkan kepalanya dan menatapku bingung, "Loh, memang kau tidak tahu?" aku menatapnya bingung. Memangnya aku harus tahu apa? Yukari menghela napas, "Yuuko, jahat sekali. Masa dia tidak bilang padamu kalau dia tidak ikut? Kakeknya baru saja jatuh sakit!" ucap Yukari membuatku kaget.

"Hah?! Yah, tahu begini aku nggak usah ikut, juga." Aku menghela napas panjang.

Yukari tertawa dan menggeleng, "Terlalu berharga kesempatan ini untuk dilewatkan anak sepintar kau. Kan masih ada aku dan Kaori! Walaupun dia masih belum datang. . ." aku tersenyum pelit dan mengangguk.

Selama perjalanan, aku terus-terusan merasakan perasaan yang aneh, seakan-akan aku sedang ingin menemui seseorang, sesuatu, atau apapun itu. Aku tidak tenang dan hal itu membuat Kaori dan Yukari khawatir. Aku ini jahat sekali! Membuat temanku khawatir, tch!

Saat tiba di museum, tiba-tiba aku mengalami pening yang luar biasa, "Aduh-duh-duh, kok, bisa tiba-tiba sakit begini, sih?" gumamku sambil terus-terusan memegang kepalaku yang sakit. Kaori dan Yukari yang sedang berada di sebelahku mengucapkan sesuatu, tapi suara nyaring memenuhi telingaku dan tiba-tiba saja semuanya menjadi gelap.

"Zeina? Zeina!? Kau sudah bangun, kan?"S-siapa?

". . ." Siapa orang yang berada di depanku ini, dia terlihat. . . familiar, hangat, nyaman.

Lelaki di depanku ini tersenyum sambil mengelus kepalaku, "Kau ini! Kalau ditanya jawab, donk! Jangan diam, begitu. Kau membuatku khawatir. Ayo!" Dia mengulurkan tangan kepadaku dan aku terima entah kenapa.

Tiba-tiba aku tersenyum dan dia menatapku bingung, "Kau baik."ucapku sambil terus tersenyum.

Dia menatapku bingung lalu tersenyum dan berkata, "Kau aneh-aneh, saja."

"-an! San!" Waktu aku membuka mata, aku melihat Kaori sedang teriak-teriak sambil menatapku aneh. Waktu dia ngeliat mataku kebuka, dia diem dan menghela napas, "Hah. . . untung udah bangun."

Aku celingak-celinguk kanan kiri dan melihat kalau aku, Kaori, dan Yukari sedang berada di dalam ruangan tunggu yang sepertinya ada di museum, well, aku cuman menebak karena ada tempat duduk yang banyak dan juga coffee machine di pojok ruangan.

"Ini ruang tunggu? Kok, aku disini?"

"Ruang tunggu darimana?! Ini ruangan security! Tadi ada security yang baik hati yang ngebolehin kita tungguin kamu bangun disini." Kaori kelihatan kesal tapi khawatir. Sedangkan Yukari khawatir dan ada tampang aneh di wajahnya.

"Kau kenapa pingsan, San?"

"Entahlah, tidak tahu." Aku memegang kepalaku yang sudah tidak sakit dan terus diam.

Pada akhirnya setelah berbicara dan menenangkan Kaori yang terus-terusan ngomel, kami bertiga keluar dari ruangan, berterimakasih kepada security yang tadi, lalu menyusul teman-teman yang lain.

Teman-teman yang lain sempat bertanya kepadaku apa yang terjadi, aku hanya bilang mungkin akunya kecapekan. Guru sempat berkata kalau aku tidak enak badan, aku pulang saja, tapi aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini, jadinya aku bilang saja untuk jangan mengkhawatirkan aku.

Kami mengelilingi museum, ke bagian patung-patung, ke bagian bebatuan aneh yang aku tidak terlalu perhatikan, ke bagian sejarah pemerintahan, dan yang terakhir ke tempat guci-guci dan perhiasan berharga. Di tempat perhiasan berharga, aku melihat sebuah kalung dari batu yang menarik perhatianku, aku terus-terus memperhatikan perhiasan batu tua itu sambil membayangkan bagaimana bentuk dan warna aslinya.

"Kau tertarik?" tanya seseorang yang ketika aku lihat adalah seorang bapak tua yang kelihatan tenang dan tegas. Dia memakai tuxedo hitam yang aku yakin harganya tidak biasa.

Aku mengangguk kecil sambil tersenyum, "Kalungnya cantik, padahal dari batu, aku penasaran yang asli bagaimana," ucapku sambil memperhatikan perhiasan batu itu.

"Bagaimana kau tahu ada yang asli?" tanya bapak tua itu dengan bingung dan kaget.

Aku bingung mau jawab apa, karena aku sendiri juga kaget aku tahu darimana, "Uh. . . aku tidak tahu, aku mungkin hanya asal mikir saja. Tapi memang benar, kan?" tanyaku kepada bapak tua itu.

Dia mengangguk sambil senyum sedih dan kecewa, "Yang asli belum ditemukan, itu adalah replika warisan sebuah keluarga yang berkata batu itu adalah replika batu dari kalung perhiasan seorang dewi, aku pertamanya tidak percaya sampai ketika aku melihat replika itu." Kalung seorang dewi? Kau pasti bercanda. . . bagaimana bisa kalung seorang dewi yang tidak mungkin terlihat manusia biasa bisa ada replikanya.

Aku menatap kalung itu sekali lagi, ada aura memikat dari kalung tersebut, "Terlihat familiar," gumamku kepada diri sendiri. Aku memperhatikan ada yang bersinar dari batu itu, aku sempat kaget. Dengan curiga aku mendekatinya sedikit demi sedikit, sampai aku melihat sebuah retakan dari kalung batu tersebut dan retakan tersebut menunjukkan emas yang ada di dalamnya. Aku langsung berbalik ke arah Bapak tua dan meminta tolong kepadanya, "Bisakah kau mengeluarkan kalung ini dari tempatnya? Atau haruskah kita menanyakan kepada yang punya museum? Aku perlu melihat kalung ini lebih dekat lagi!" ucapku dengan semangat.

Bapak itu tertawa, "Ohohoho, kau tidak sadar kau berbicara dengan siapa sejak tadi? Aku adalah pemilik museum ini, namaku Ryuu Yamamoto," ucapnya.

Aku melotot, "Apa? Oh, astaga! Aku sudah tidak sopan kepadamu Yamamoto-sama!" ucapku sambil membungkuk minta maaf. Aku dari tadi menyebutnya bapak tua! Ryuu Yamamoto, penyumbang terbesar kota ini kusebut bapak tuaaa?! Aaaagghhh!

Dia mengibaskan tangannya dan berkata, "Sudah-sudah! Kau sudah berbicara terlalu sopan, gadis muda. Aku akan menyuruh petugas membuka kuncinya, tapi kau harus menggunakan sarung tangan untuk memegangnya."

Guruku sempat mengomeliku gara-gara aku ketinggalan rombongan, pada akhirnya dia memutuskan untuk menunggu sampai urusanku selesai. Sesi bebaspun dimulai, anak-anak murid bebas melihat-lihat sepuas mereka. Kaori dan Yukari pergi melihat-lihat sementara aku sibuk dengan urusan sarung tangan dan kalung itu.

Setelah dikeluarkan, aku menyentuh kalung yang kupikir berat ternyata sangatlah ringan! Aku melihat ke retakan tadi dan berkata, "Aku rasa yang asli memang ada disini," gumamku dan aku nekat mengupas retakan itu dan voila! Kalung batunya hancur! Tapi don't worry yang lebih berharga muncul!

"I-itu-!" Yamamoto menatap kalung itu dan aku dengan takjub, "Kau menemukannya!"

Aku tersenyum kepadanya, bangga. Tapi tiba-tiba, 'Mistress, kau menemukanku,' sebuah suara mendesis di pikiranku. Aku menatap kalung itu seakan-akan kalung itulah yang sedang berbicara denganku. Dengan sangat tiba-tiba kalung itu bersinar terang membutakan, permata kuning, merah, ungu, biru yang berada di kalung itu bersinar sangat terang dan hal itu membuat mataku panas.

Seketika itu aku sempat mencoba melihat sekeliling, tapi aku sudah tidak di museum! Tidak ada orang, semuanya putih! Tapi tidak lama setelah itu sekelilingku berubah menjadi air, aku tidak bisa berenang! Ah! Nafasku sesak, tidak bisa bernafas!

"Pangeran Ilios,"

Seorang lelaki yang mengenakan pakaian kuno tapi mewah menengok ke orang yang baru saja masuk ke ruangannya, "Apa?" tanyanya dengan nada yang berkuasa.

"Kapalmu sudah siap," jawab prajurit itu dengan mantap.

Ilios yang dari tadi sedang bersandar di dekat jendela langsung melompat dan sambil berlari keluar dia tersenyum lebar, "Bagus, Noir, aku sudah menunggu terlalu lama!" dan dia melesat pergi ke pelabuhan kerajaan.

Hari yang cerah di Eternalia, kerajaan yang sedang di masa kejayaannya. Rakyat hidup dengan damai dan sejahtera, tidak ada perbedaan derajat di kerajaan ini. Bangsawan tidak bersikap semena-mena, Raja Illitas II bersikap bijaksana dan adil. Semua kebutuhan bisa terpenuhi, sungguh sebuah kerajaan yang patut dicontoh.

Raja Illitas II adalah raja yang baik hati, dihormati dan juga selalu dicintai rakyatnya. Istrinya, Ratu Tiala sangat menjunjung tinggi rasa kasih dan dia sendiri tidak berpakaian berlebihan seperti ratu-ratu kerajaan lainnya.

Raja Illitas dikaruniai tiga orang anak, Savir, Reina, dan Ilios. Savir adalah anak tertua dan memiliki jabatan sebagai Jenderal Kedua yang selalu berada di barisan depan setiap kali ada perang, dia adalah anak dari Raja Illitas dan selir Mirva, selir yang paling disayangi Raja Illitas II. Reina, merupakan anak kedua dan adalah satu-satunya anak perempuan yang dimiliki Raja Illitas II, dia merupakan anak kedua dari Raja Illitas II dan selir Mirva. Yang terakhir adalah Ilios, anak ketiga Raja Illitas II tapi anak pertama dari Ratu Tiala, dia adalah Putra Mahkota yang sangat disayang oleh Raja, tapi walaupun dia dimanjakan, dia tidak manja dan memanfaatkan jabatannya sebagai Putra Mahkota untuk melakukan apapun yang dia suka, hanya saja, terkadang dia bisa sangat egois. Semua orang sayang kepadanya, tapi dia tahu, ada beberapa orang yang berniat membunuhnya. Karena itulah dia selalu diberi latihan intensif oleh Jenderal kepercayaan Raja Illitas II, Jenderal Torov.

Pangeran Ilios paling suka yang namanya berlayar, hampir seminggu sekali dia selalu menyiapkan waktu untuk berlayar ke lautan bebas. Walaupun dia tahu Kerajaan Eternalia dan Kerajaan Infita sedang ada masalah, dia tetap tenang-tenang saja.

Ilios menatap beberapa Dolva(Ikan yang mirip dengan lumba-lumba tapi tidak memakan ikan, ikan ini memakan rumput laut dan ukurannya kecil) yang sedang melompat-lompat keluar dari air dan berkata, "Aku harap suatu hari, aku bisa merasakan kebebasan seperti ikan-ikan Dolva itu. . ."

"Kau tidak cukup merasa bebas, Pangeran?" tanya Minav, Kapten dari kapal tersebut dan teman Ilios yang paling dipercaya.

Ilios tertawa sambil terus menatap lautan, "Aku? Cukup merasa bebas? Oh, Minav, kau seperti belum mengenal kerajaanmu sendiri, saja. Setiap keluar kamar, aku akan bertemu dua prajurit yang tidak aku kenal karena setiap hari bergilir, berbicara kepada ayahku sendiri saja kalau di ruang utama harus sopaaaan sekali, sampai-sampai aku sering bertanya apakah aku ini anaknya atau bukan."

"Pangeran! Kau ini! jangan berbicara sembarangan, kalau Jenderal Torov yang mendengar hal ini, kau akan dihukum habis-habisan!" omel Minav sambil menghela nafas panjaaang sekali. "Oh, iya! Bukankah, Yang Mulia Raja Illitas II sudah menyuruhmu mencari pasangan?" tanya Minav secara tiba-tiba.

Ilios kaget dan terbatuk-batuk lalu melotot kepadanya, "H-hey! Dari mana kau tahu hal itu?!" tanyanya dengan nada marah.

Minav tersenyum sambil menjentikkan jari, "Aku punya sumber terpercaya!"

Ilios kali ini menghela nafas lebih panjang dari pada Minav tadi, "Aku tidak percaya! Ayah menanyakan hal itu di ruangan utama, kau tahu!? Itu hal yang sangat memalukan!" omelnya dengan kesal.

Minav hanya tertawa kecil, "Tapi memang sudah saatnya, Pangeran Muda. Kau ini sudah dewasa, bukan anak kecil, lagi."

"Tch! Yang benar, saja. . ." gerutu Ilios sambil bersandar di tiang kapal.

"Tapi sepertinya dari yang aku lihat, belum ada yang menarik perhatianmu, benar, kan? Apa kau masih memikirkan 'dia'?" tanya Minav sambil ikut-ikutan bersandar di tiang kapal.

Ilios menggeleng, "Aku hanya merasa, orang itu masih belum kutemukan, tapi aku merasakannya, dia dekat, dia sudah dekat. Karena itulah aku sering berlayar ke laut, karena hampir setiap hari. . . mimpi itu terus menghantuiku," jawab Ilios sambil menatap lautan luas.

Minav baru saja ingin mengucapkan sesuatu, tapi seorang awak kapal meneriakkan sesuatu yang mengagetkan, "Ada sebuah tubuh! Tubuh mengambang di lautan!" teriak awak kapal itu dan semua awak kapal mendekati pinggiran kapal untuk melihat sosok yang mengambang di lautan.

Ilios berlari ke pinggir kapal untuk melihat tubuh itu, siapa tahu masih hidup, "Masih hidup?" tanyanya kepada Minav, Minav mengangkat bahu tidak tahu. Tapi saat dia melihat wajah orang tersebut, dia langsung melompat tanpa berpikir dua kali. Well, Pangeran satu ini bukanlah orang yang berpikir dahulu sebelum melakukan, melainkan melakukan dahulu baru berpikir!

"Pangeran Ilios! Oh, Demi Dewi Zeina! Dia benar-benar sudah tidak berpikir dengan benar! Cepat ambil tali! Apa saja! Yang penting bawa Pangeran Ilios kembali ke dalam kapal ini dengan selamat!" Perintah Minav dan seluruh awak kapal sibuk melakukan sesuatu yang entah apa itu.

Gadis itu, aku pernah melihatnya, dia familiar, aku harus menyelamatkannya! Sedikit lagi, tangannya sedikit lagi akan kudapatkan, dapat!

Mulutnya terbuka. Apa? Apa yang diucapkannya? I-L-I-O-S? Ilios? Namaku? Kenapa dia menyebutkan namaku? Siapa wanita ini? Ah! Tidak penting! Aku harus membawanya ke kapal.

"Pangeran Ilios! Oh! Itu! Itu! Lemparkan tali kepada Pangeran! Cepat! Ah! Dasar bodoh! Masa melemparkan saja tidak bisa, sini!" Dengan perasaan kesal, panik, dan amarah yang bercampur aduk, Minav melemparkan tali dan menarik Ilios dan seorang gadis yang tidak dikenal.

"Uhuk-uhuk-uhuk," Ilios terbatuk-batuk ketika sudah kembali ke dalam kapal. Dia memperhatikan gadis itu tidak bergerak sama sekali. Baju yang dipakai gadis itu aneh, asing, tidak pernah dia merasakan sebuah kain yang teksturnya lembut tapi kuat dan sepertinya tidak mudah sobek, ada beberapa batu aneh yang tersusun secara vertikal di tengah pakaiannya. Bawahannya adalah sebuah rok pendek yang sangat tidak mungkin dipakai oleh wanita di Kerajaan Eternalia, rok itu terlalu terbuka!

Minav menatap Ilios yang sedang menatap gadis aneh itu dengan kesal, "Pangeran! Oh, Pangeran Ilios yang ceroboh! Tidak bisakah sekali-sekali kau melakukan sesuatu dengan berpikir dahulu?! Kau bisa saja dimakan oleh seekor hiu, atau bahkan lebih parah seekor ThousandTooth!(Hiu berukuran seperti paus pembunuh tapi berwarna putih seperti batu, sudah termasuk langka di Eternalia)."

"Minav, baju yang dipakainya, aneh," ucap Ilios mengabaikan omelan Minav.

Minav yang sudah mulai tenang mengangguk setuju ketika melihat gadis itu, baju yang dipakainya aneh, kainnya sangat lembut dengan sesuatu seperti bola yang tersusun horizontal di bagian tengah baju tersebut, lalu rok pendek yang pastinya tidak berasal dari Eternalia. Sepatu dari bahan yang tidak diketahui, lalu dengan kain yang dipakai sampai kelutut dan sangat ketat. Aneh sekali.

Ilios mengecek nadi gadis itu, "Masih hidup! Dia masih hidup!" dan seperti biasa, tanpa berpikir dua kali, Ilios memberikan nafas buatan bagi seorang gadis berpakaian aneh dan tidak dia kenal.

Semua awak kapal kaget melihat hal itu, mereka langsung mengalihkan pandangan. Mereka melihat sekilas Pangeran mereka yang terhormat melakukan nafas buatan untuk seorang gadis yang tidak diketahui asal-muasalnya! Oh, tidak, Kapten Minav akan mati kalau hal ini ketahuan oleh Putri Reina. Secara, semua orang tahu kalau Putri Reina memiliki perasaan terhadap Pangeran Ilios. Padahal mereka berdua saudara!

"Uhuk-uhuk-uhuk," gadis itu memuntahkan air keluar dari mulutnya dan mulai bernafas. Dia membuka mata dan melihat orang di depannya yang terlihat khawatir dan well, basah kuyup. "Aku. . . dimana? Ah! Aku ada dimana!?" teriaknya kaget ketika menyadari, dia bukan berada di tempat yang seharusnya dia berada.