Dream Comes True

Perlu beberapa menit untuk menenangkanku dari kekagetan. Tapi aku perlu waktu seharian untuk membuat Ilios mengerti tentang keadaanku sekarang. Dia sempat berteriak dan kemudian tertawa, lalu dia marah-marah dan kemudian dia diam. Untuk sekarang, at least, dia diam dan sedang mencoba untuk berpikir jernih.

"Kau bernama Aphrozeina," ucapnya membuatku menahan tawa.

"Ya."

"Jangan dijawab! Aku belum selesai," protesnya membuatku bungkam sambil tersenyum. "Kau datang ke dunia ini, maksudku, Eternalia, karena sebuah kalung dan kemudian aku menyelamatkanmu dan sampailah kita disini. . ." lanjutnya membuatku mengangguk membenarkan pernyataannya.

"Jadi?"

"Jadi. . . kita harus mencari tahu bagaimana caramu untuk pulang. Entah kenapa sepertinya hal ini pernah diramalkan sebelumnya," ujar Ilios kepada dirinya sendiri.

"Diramalkan?" tanyaku bingung.

Air muka Ilios berubah dari bingung menjadi serius, "Ya, beberapa tahun yang lalu, peramal kerajaan pernah mendapat pesan dari para dewa."

"Pesan?"

Ilios mengangguk, "Dia mengatakan bahwa pesan itu ditujukan kepada seluruh kerajaan Eternalia bahwa seseorang yang membawa cahaya akan bersatu dengan seseorang yang membawa benang kehidupan. Aku tidak mengerti maksudnya, tapi yang pasti aku tahu arti dari pesan selanjutnya. Seseorang yang membawa kehidupan datang dari dunia yang berbeda, dia datang tanpa tujuan, namun seseorang yang membawa kehidupan adalah seseorang yang akan menghancurkan Eternalia."

Semua hening. Aku hanya bisa mendengar hembusan angin yang menyusuri sekujur tubuhku dengan lembut. "B-bukankah itu menggambarkan seseorang dengan sangat jelas?" ucapku mencoba mencairkan suasana.

"Ya. . ." Aku menelan ludah, "Kau."

'Menghancurkan Eternalia? Apa orang sepertiku bahkan bisa menghancurkan sebuah kota?' Kepalaku pening mengingat kejadian tadi siang. Setiap perkataan Ilios terus-terusan bergema di dalam kepalaku.

Tiba-tiba sebuah suara angin yang berhembus terlalu kencang membuatku terhenyak, ". . . mengerikan. . ." ujarku kepada diri sendiri. Ketika aku mencoba menutup mata, sebuah suara langkah kaki mengagetkanku dan membuatku terduduk seketika.

Seorang lelaki berambut sebahu dengan wajah yang bersinar membuatku terdiam tak bersuara. "Zeina, kau sudah pulang?" tanyanya dengan suara yang berwibawa. Suaranya terdengar sangat familiar, membuatku sangat nyaman, seperti suara seorang. . . ayah.

"K-kau siapa?" tanyaku kepadanya membuatnya terlihat kaget dan bingung untuk sesaat. Namun beberapa detik kemudian dia kembali tenang.

"Ah, kau sudah lupa. . . ini akan menjadi sulit," ucapnya membuatku bingung, "Aku ini ayahmu, Zeina." Aku tidak salah dengarkan? Tidak mungkin secara tiba-tiba pendengaranku mengalami penurunan secara drastis.

"Aku ini yatim piatu, ayah ibuku sudah tidak ada. Aku tinggal bersama-" sebelum aku selesai, lelaki tua ini memotong pembicaraanku.

"Kau memang tidak punya ayah dan ibu di dunia manusia, kau punya ayah dan ibu di dunia para Dewa, Zeina."

"Jangan bercanda. . . kata-katamu sangat sulit untuk dipercaya! Lagipula, nama asliku adalah San Tomori! Bukan Aphrozeina! Nama itu hanya kugunakan karena-!"

Lagi-lagi dia memotong perkataanku, "Karena aku menyuruhmu. Kau mendengarku saat kau sampai disini. Itu adalah suatu bukti bahwa kau adalah anakku. Hanya Aphrozeina yang sebenarnya yang bisa melakukan telepati denganku. Semuanya tidak penting lagi sekarang, aku tidak peduli kau percaya atau tidak, namun kau punya satu tugas penting disini," jelasnya panjang lebar membuatku bungkam. "Kau perlu menemukan seseorang yang ingin menguasai Eternalia."

"Untuk apa?" tanyaku.

"Untuk mengembalikan kedamaian di Eternalia."

"Negara ini sudah cukup damai, tapi itu hanya sepenglihatanku."

"Dari luar, mungkin negara ini sangat damai dan tentram, namun pada kenyataannya, di dalam istana, kebusukan dan kedengkian sangat tercium dan bau! Bau itu bisa tercium dari Olym. Kau harus berhati-hati Zeina, kau harus melindungi sang Pangeran Mahkota. Kalau dia mati, semuanya akan hancur. Si Iblis menggunakan sihir hitam dalam menjalankan semua rencananya, kau harus berhati-hati, dia mengincarmu... aku tidak senang mengatakan ini, tapi kehidupan akan padam dan muncul kembali di saat krisis Eternalia"

"Siapa yang mengincarku? Kenapa dia mengincarku? Aku harus bagaimana? Apa maksudmu kehidupan akan padam?" aku terus-terusan bertanya dengan cepat ketika lelaki tua itu entah kenapa cahayanya mulai padam, seakan-akan kalau cahaya itu mati, lelaki tua itu akan menghilang dari pandanganku.

Lelaki tua itu tersenyum kepadaku dan berkata dengan tenang, "Lindungi saja, Pangeran Mahkota... untuk saat ini." Dan setelah dia mengatakan itu, ruanganku menjadi gelap karena cahaya dari lelaki tua itu sudah sepenuhnya padam.

'Apa maksudnya dengan melindungi Ilios? Siapa yang ingin membunuhnya? Tunggu, selain itu, kenapa ada seseorang yang mengincarku? Aku bahkan baru beberapa jam berada di dunia ini dan sudah ada seseorang yang ingin mengincarku, lalu apa arti kehidupan akan padam? Kehidupan siapa? Ada apa ini sebenarnya?!

"Zeina! Kau tidak apa-apa?" tanya Ilios sambil berlari sekencang mungkin ke arahku. "Astaga! Wajahmu pucat sekali! Kau kenapa?!" teriak Ilios sambil tersengal-sengal.

Jantungku serasa beku, dadaku sesak, mataku berat, kakiku. . . lemas. . . "Ilios. . ."

"Kau kenapa?!" Ilios terlihat sangat khawatir. Kalau ini memang akhir hidupku aku sangat senang karena berada di pelukannya. Mati di padang rumput yang hijau tidak begitu menyedihkan, benar, kan?

Sudah satu bulan aku berada di Eternalia, aku sudah mengerti apa yang sedang terjadi di masa ini. . . tapi aku tidak cukup kuat untuk melawan iblis yang dimaksudkan lelaki tua itu, aku harap aku bisa melakukan lebih baik, tapi aku yang sekarang tidak bisa melakukan itu. Apa yang harus kulakukan? Aku tidak ingin mati tanpa membantunya sama sekali. Aku harap di kehidupan selanjutnya aku bisa kembali ke dunia ini dan menyelamatkannya.

Aku tatap matanya yang biru, aku serasa dihisap oleh tatapannya itu, "Ilios, maafkan aku. Aku tidak bisa berbuat lebih-!" Aku terbatuk beberapa kali.

"Kau ini! Jangan berbicara dulu. Aku akan segera panggilkan penyembuh. Tunggu,"

Aku menarik lengan bajunya dengan lemah sebelum dia pergi, "Jangan tinggalkan aku sendiri. Jangan pergi, tinggallah untuk beberapa saat," pintaku sambil berusaha tidak terpejam.

Ilios memegang tanganku yang mulai terasa kaku dan dingin, "Aku hanya pergi sebentar," ucapnya dan dia melepaskan pegangannya pada tanganku.

Untuk beberapa detik setelahnya, aku hanya bisa merasakan air mata hangat mengalir menuruni wajahku. "Tidak ada waktu lagi. . . maafkan aku, Ilios. . ." dan akupun menghilang tanpa jejak di padang rumput yang indah itu.

"Kau tahu? Mimpi yang kualami tadi malam sangatlah indah! Tapi ada bagian yang menyedihkan juga. Seperti sebuah film yang kutonton tapi seakan-akan aku pemeran utamanya." Seorang murid perempuan berkata dengan semangat.

"Hmm, daripada kau terus-terusan daydreaming, mending kau belajar untuk ulangan hari ini," jawab temannya sambil terus membolak-balik halaman dari buku pelajaran matematika.

Murid perempuan itu hanya mengangkat bahu dan berkata, "Tidak berguna, aku belajar tidak belajar hasilnya sama saja. Tetap di bawah enam puluh. Tapi untuk pelajaran teori, aku jagonya. Lagipula, aku tidak ada cita-cita untuk menjadi dokter ataupun kawan-kawannya."

Temannya hanya bisa menatapnya sebentar, menggelengkan kepala, lalu berkata, "Kau tahu? Tahun ini kudengar mereka membuat peraturan baru. Kalau nilai rata-rata ulanganmu merah empat, kau akan dikeluarkan dari sekolah," ujar temannya yang kemudian tersenyum licik entah kenapa.

Murid perempuan itu pertama-tama tenang-tenang saja, tapi kemudian dia menggebrak meja dan berkata, "Apa?! Sejak kapan!? Aaagh! Aku butuh buku pelajaran! Mana bukunya!?" dan temannya langsung tertawa.

"San, San, kau ini memang paling gampang disemangati," ucap temannya sambil terus tertawa.

"Tumben sekali si guru killer telat," celetuk San ketika bel pelajaran sudah berbunyi sejak lima belas menit yang lalu. Anak murid yang lain bersyukur dengan adanya tambahan waktu untuk melanjutkan belajar sebelum ulangan.

"San, kau ini pintar tapi kok bodoh, sih?" ucap temannya dengan ketus.

San yang bingung hanya bisa berkata, "Hah? Apa maksudmu Shoko?"

"Tadi sepertinya kau bilang kalau kau belajar kau tidak akan mengerti apa-apa, tapi buktinya hanya dengan sedikit dorongan kau bisa menyelesaikan tiga bab dengan waktu kurang dari tiga puluh menit! Ini tidak adil!" protes Shoko sambil memasang tampang depresi.

San hanya mengangkat bahu dan kembali membenamkan wajahnya ke buku-buku yang sudah siap untuk pelajaran hari ini.

Tiba-tiba ketika para murid masih sibuk berkutat dengan matematika, guru mereka datang dengan tergesa-gesa, "Selamat pagi, semua," ucap sang guru killer yang langsung menatap satu persatu anak muridnya dengan tajam.

Sang ketua kelas memberikan perintah untuk memberi salam dan setelah memberi salam mereka semua kembali duduk dan berkutat dengan buku matematikanya.

Guru tersebut tidak menggubris anak-anak murid yang masih terus berkutat dengan buku matematikanya dan langsung berkata, "Bila sudah menerima kertas soal dan terlihat oleh saya masih memegang buku, nilai di rapot sudah pasti nol!" Dan barulah setelah itu para murid terburu-buru memasukkan buku pelajaran mereka.

"Hah! Hari ini melelahkan!" teriak Shoko sambil menguap.

"Biasa saja," jawab San dengan santai.

"Hari ini kau mau kemana, San? Seperti biasa?" tanya Shoko sambil menatap San yang entah kenapa sedang kebingungan.

"Hmm? Ah, ya, seperti biasa aku akan berada di perpustakaan dekat rumah. Aku harus terus bekerja untuk tetap hidup," jawab San sambil tertawa kecil.

"Hmm, sepertinya kau bisa mencari buku ini di bagian Non-fiksi A di baris C. Silent Weep of Mine masih ada dua buku yang belum dipinjam masih ada di bagian Fiksi baris E." Tidak henti-hentinya kalimat seperti itu keluar dari mulutku. Setiap hari sampai-sampai aku sudah ingat letak setiap buku yang ada di perpustakaan tua ini.

Namaku San, umur enam belas, yatim piatu, tinggal sendiri, sudah kerja sebagai pustakawan. Hidupku biasa saja, tidak ada yang luar biasa. Orang tua belum pernah aku lihat, belum pernah ada kenangan tentang mereka, sanak saudara juga tidak punya.

"Selamat datang!" ucapku kepada orang yang baru saja datang. 'Wah, keren sekali. Sepertinya aku belum pernah melihat orang ini," pikirku.

Lelaki yang baru saja datang itu langsung berjalan ke arahku dan berkata, "Apakah disini ada buku Dream Comes True?" Dia terlihat tergesa-gesa entah kenapa.

Aku mengangguk, "Siapakah penulisnya? Disini banyak judul seperti itu tapi dengan nama penulis berbeda," ujarku.

Dia terlihat ragu ketika ingin memberitahu nama penulisnya, "Aku tidak tahu siapa penulis buku tersebut. Tapi bisakah kau memberitahuku dimana buku-buku tersebut berada?" aksennya menjadi aneh ketika dia bertanya. Sepertinya dia bukan dari sekitar sini.

"Hmm. . . tapi mungkin mencari buku-buku tersebut tidak akan mudah. Liery! Tolong gantikan aku sebentar! Silahkan ikut denganku."

Kami berdua menyusuri bagian non-fiksi dan aku memberinya semua buku berjudul Dream Comes True. Dia terlihat kecewa karena di bagian non-fiksi tidak ada buku Dream Comes True yang dia cari.

Ketika berada di bagian Fiksi, dia terlihat khawatir entah kenapa. Dia terus-menerus melihat ke kanan dan ke kiri seakan-akan takut diikuti. Melihatnya seperti itu, aku malah takut dan ngeri melihatnya berkelakuan mencurigakan seperti itu.

Sekitar setengah jam kami berkeliling bagian Fiksi, kami berdua tidak berhasil menemukan buku yang dia inginkan. Aku hanya meminta maaf dan dia pergi dengan wajah kecewa.

"Aku masih penasaran dengan buku yang dia cari," ujarku kepada Liery ketika kami sudah siap-siap untuk tutup.

"Ya, mungkin karena ini pertama kalinya kau tidak berhasil menemukan buku yang diinginkan seseorang. Mungkin seharusnya orang itu pergi ke toko buku antik. Tapi kau tahu? Orang yang tadi kau bantu terlihat sangat keren! Dia tinggi dan masih muda! Sepertinya kalian seumuran. Mungkin sudah saatnya kau mencari pasangan San," canda Liery membuat wajahku memerah.

"Kau ini! Ngomong sembarangan! Padahal kau lebih tua daripada aku, tapi masih bersikap kekanak-kanakan," omelku kepadanya dan dia terus-terusan mengejekku.

Ini adalah pertama kalinya aku pulang terlalu malam. Jalanan terlihat sangat sepi dan mencekam, aku ngeri membayangkan kalau ada seseorang yang mabuk dan langsung menangkapku dari belakang, karena itulah aku membawa semprotan lada.

Karena terlalu lama mencari buku itu aku jadi pulang kemalaman! Agh! Kesal sekali. Aku masih belum mendapatkan buku Dream Comes True yang lain. Hanya buku-buku yang tadi sudah ditemukan saja.

Ketika aku berjalan, tiba-tiba aku melihat sosok seorang lelaki yang berjalan sempoyongan. Hal itu membuat aku langsung waspada dan mengeluarkan semprotan lada. Tapi kemudian ketika orang itu mendekat, orang itu malah jatuh pingsan tepat di hadapanku.

"H-hei, kau tidak apa-apa?" tanyaku. Aku baru sadar kalau orang ini adalah orang yang tadi mencari buku Dream Comes True, "K-kau tidak apa-apa? Bangunlah!" aku mulai panik ketika menyadari kala dia berdarah. 'Haruskah aku bawa ke rumah sakit? Tapi rumah sakit terlalu jauh. . . mungkin bawa ke rumah saja? Agh! Aku bingung!'

Pada akhirnya aku membawa dia ke rumah dan mulai merawatnya. Darah yang keluar tadi banyak sekali, tapi untuklah sudah berhenti, aku sempat panik kalau saja dia kehabisan darah, mungkin aku akan ditangkap karena dituduh membunuh seseorang!

"Zeina. . ." Hmm. . . dia sudah mengucapkan nama itu setidaknya sepuluh kali sejak sampai di rumahku. Aku tidak tahu siapa orang ini, aku sudah mencoba mencari dompetnya-bukan untuk mencuri-untuk mencari identitasnya, tapi dia tidak membawa kartu identitas sama sekali.

Selama dia tidur aku mencoba untuk memberinya sebuah sup yang kumasak. Aku berpikir kalau aku cukup bodoh karena memasak sup untuk seseorang yang pingsan. . . hah, bodoh sekali. Tapi bagaimanapun juga, sup ini harus dia makan! Karena itulah aku memaksanya menelan sup itu. Tidak akan mati, kan, ya?

"Bagaimana kalau besok dia belum bangun? Apakah aku harus meninggalkannya? Tapi kalau nanti dia bangun tidak ada orang. . . ah, sudahlah, masalah besok diselesaikan besok saja."

Whining tears on the leaf

Bringing fear through life

Changing colors like a thief

That's what you called strive

Dark and scary like a crow

Within it's heart there's a crack

Just a little more and you'll know

Time will cry and bring you back

Tears fall here, laugh falls there

Within the dream you'll go mad

Giving us the key to despair

Not a chance with the dead

Dancing with a heart of wolf bane

Running here and there with a scream

Smiling is insane, crying is sane

That's you Goddess of dream

'Buku ini tidak pernah kulihat sebelumnya,' pikirku.

Hari ini aku tidak masuk sekolah karena harus menjaga orang asing itu. Sebuah keputusan dengan alasan yang mulia, padahal aku memang tidak niat sekolah.

Ketika sedang membersihkan rak buku yang sudah sekitar beberapa bulan tidak kubersihkan, aku menemukan buku aneh ini. Baru kubaca depannya saja aku sudah malas membaca. Isinya terlalu penuh dengan teka-teki! Aku benci puisi! Tapi aku tidak merasa pernah membeli buku ini. . . ya sudahlah, anggap saja angin lalu.

"Buku itu." Sebuah suara mengagetkanku. Aku hampir saja terpeleset kalau bukan karena kursi yang berada di dekatku.

Saat aku melihat bahwa pemilik suara itu adalah orang asing yang kutolong kemarin, aku langsung menghela nafas, "Kau ini. Lain kali jangan mengagetkan begitu."

Dia hanya menunduk sedikit, tapi kemudian langsung kembali ke masalah buku yang sedang kupegang ini. "Buku itu adalah buku yang kucari," ujarnya sambil menunjuk buku tebal dan usang yang sedang kupegang.

Aku melirik ke arah buku ini dan melihat judulnya, 'Ah! Dream Comes True. Kenapa aku tidak menyadarinya?' pikirku. "Ini," ucapku dan langsung kuberikan kepadanya.

Ketika buku itu sudah sampai ke tangannya, dia langsung membuka buku itu. Tentu saja hal itu sangat biasa, tapi hal yang terjadi berikutnya membuatku berpikir kalau aku sudah tidak waras lagi. Lelaki itu menghilang bagaikan abu ditiup angin! Aku mengusap mata berkali-kali untuk membenarkan kejadian yang terjadi di depan mataku ini.

"D-dia hilang. . ." ucapku dengan nafas tertahan. "OH TUHAN! DIA HILANG BEGITU SAJA!?" teriakku mulai kehilangan akal sehat.

Ketika aku mulai tenang, aku berpikir kembali, 'Tadi malam aku melihat seorang lelaki di jalan, aku menyelamatkannya karena hatiku yang mulia ini,' sampai sini sudah benar. Otakku tidak rusak. 'Lalu esok paginya, ketika aku sedang membersihkan rak buku, aku menemukan sebuah buku berjudul Dream Comes True. . .' Aku menarik nafas sekali lagi. 'ternyata buku itu adalah buku yang dicari orang asing tersebut. . . aku memberikan buku itu kepadanya dan poof! Orang itu hilang. . .' AAAAH! Pasti ada yang salah dengan kejadian tadi!

(A/N: Ada orang. hilang di depan mata layaknya angin! HIIIIH! Serem banget, sih. Mimpi kali ya? Kalau ingin tahu, baca cerita selanjutnya ya!)